OUR NETWORK

Ke Mana Suara Pendukung AHY Berlabuh?

Calon Gubernur DKI Jakarta Agus Harimurti Yudhoyono (kiri) bersama istri, Annisa Pohan (kanan) menunjukkan jari yang telah dicelup tinta usai mengikuti proses pencoblosan Pilkada DKI Jakarta di TPS 6, Rawa Barat, Jakarta, Rabu (15/2). ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay/ama/17
Agus Harimurti Yudhoyono bersama istri, Annisa Pohan, usai mengikuti proses pencoblosan Pilkada DKI Jakarta di Rawa Barat, Jakarta, Rabu (15/2). ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay

Putaran kedua Pilkada DKI Jakarta baru akan digelar pada 19 April mendatang. Namun, aroma panas persaingan dua pasangan calon tersisa (Basuki Tjahaja Purnama/Ahok-Djarot Saiful Hidayat dan Anies Baswedan-Sandiaga Uno) sudah sangat terasa. Masing-masing kubu tampaknya tengah mempersiapkan strateginya untuk menambah dukungan publik Jakarta guna meraih tiket gubernur dan wakil gubernur di ibu kota ini.

Salah satu yang gencar diperebutkan oleh kedua pasangan di atas adalah suara pendukung paslon Agus Harimurti Yudhoyono (AHY)-Sylviana Murni yang gagal di putaran pertama. Pendekatan dengan caranya masing-masing tampaknya mulai intensif dilakukan, baik oleh kubu Ahok maupun Anies. Meski sudah saling klaim, seperti diberitakan sejumlah media, agaknya secara formal belum ada pernyataan tegas dari kubu AHY akan dilabuhkan ke manakah suara mereka nanti.

Keberadaan Partai Demokrat sebagai pengusung utama AHY-Sylvi tentu merupakan pihak yang paling ditunggu-tunggu. Di bawah kendali Ketua Umum Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), suara Demokrat diyakni bakal memberikan perubahan yang signifikan terhadap dukungan kedua paslon. Hasil akhir pilkada putaran kedua pun bisa ditentukan oleh dukungan suara partai berlambang mercy tersebut.

Signifikansi suara Demokrat didasarkan pada asumsi bahwa para pemilih paslon AHY-Sylvi sebagian besar, kalau tidak boleh dikatakan semuanya, adalah suara para pendukung SBY. Meskipun di kubu Cikeas ada pula partai-partai politik pendukung lainnya, yakni PAN, PKB, dan PPP, pada kenyataannya Demokratlah yang paling banyak bergerak. Ketiga partai politik tersebut agaknya lebih berfungsi sebagai pelengkap saja.

Tiga Kemungkinan

Presiden ke-6 RI yang juga Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono memberikan keterangan pers di kediamannya di kawasan Mega Kuningan, Jakarta, Selasa (14/2). Dalam keterangannya SBY membantah ia terlibat dalam kasus Antasari Azhar. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A./kye/17
ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A

Setidaknya ada tiga kemungkinan pilihan yang bisa diambil Demokrat atau SBY dalam situasi seperti ini. Pertama, melabuhkan suaranya ke paslon Anies-Sandi. Pertimbangannya adalah pendukung kedua paslon ini dianggap memiliki orientasi yang sama, yakni sama-sama menyukai calon yang berasal dari satu keyakinan yang sama, yakni Islam.

Bagaimanapun, dengan sangat kentalnya isu SARA dalam Pilkada DKI, masalah kesamaan keyakinan ini masih cukup diperhitungkan.

Namun demikian, tidak mudah juga bagi Demokrat untuk mengambil tindakan tersebut. Hal ini karena terdapat pula hambatan psikologis di antara kedua belah pihak, di antaranya terkait dengan adanya taktik Anies yang dianggap menggembosi suara AHY. Sebagian ada yang menyebut bahwa Anies telah mengkhianati atau menikam dari belakang terhadap AHY. AHY yang bekerja keras, Anies yang memetik hasil.

Selain itu, menyerahkan suara ke Anies, bagi Demokrat, sebenarnya tidak akan banyak memberikan keuntungan politik, selain kepuasan emosional sesaat. Padahal dalam politik, ada istilah yang sangat populer, “tidak ada makan siang yang gratis”, karenanya, Demokrat tentu akan berpikir ulang jika ingin mendukung Anies. Dengan kata lain, buat apa mendukung Anies, tetapi Demokrat kemudian tidak mendapatkan apa-apa.

Kedua, Demokrat memiliki juga pilihan untuk melabuhkan suaranya ke paslon Ahok-Djarot. Memang terdapat hambatan psikologis juga, terutama karena antar dua kubu ini kerap terjadi saling serang yang sangat tajam. Apalagi secara personal, SBY, yang notabene orang paling berpengaruh di Demokrat, menjadi orang yang paling merasakan kendala psikologis tersebut. Hal ini, antara lain, terkait dengan “nyanyian” mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Antasari Azhar, sehari sebelum pencoblosan di putaran pertama.

Ketika itu, Antasari meminta SBY untuk bersikap jujur terhadap kasus adanya dugaan kriminalisasi yang menimpa dirinya karena Presiden Keenam Republik Indonesia tersebut ditengarai mengetahui persis kasusnya. SBY yang mengganggap bahwa apa yang dilakukan Antasari tersebut atas restu kekuasaan (baca: pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla) yang juga dianggapnya “pelindung” Ahok, tentu sangat tersinggung. Karenanya, akan terasa sulit jika Demokrat kemudian sekarang bermesraan dengan Ahok.

Ketiga, bersikap netral atau tidak melimpahkan suaranya ke paslon mana pun. Pilihan ini juga bukan tidak mungkin dilakukan, apalagi kalau melihat kecenderungan sebagian pendukung AHY yang kecewa, baik terhadap Ahok maupun Anies. Di media-media sosial, terutama Twitter, suara-suara pendukung AHY yang seperti itu banyak sekali ditemukan.

Kepada Ahok, para pendukung AHY sejak awal memang sudah tidak suka, bukan hanya karena dianggap penista agama, tetapi juga karena dianggap gaya komunikasinya tidak etis, kasar, dan seterusnya. Sedangkan ke Anies, mereka juga sangat kecewa karena dipandangnya sebagai orang yang tidak setia atau malah suka mengadu domba antara Ahok-Djarot dan AHY-Sylvi, misalnya seperti yang terjadi pada debat kedua. Oleh karena itu, pilihan netral sangat mungkin mereka lakukan.

Barter Politik?
Manakah yang paling mungkin dilakukan Demokrat atau SBY? Jika Demokrat adalah SBY dan SBY adalah Demokrat, maka hemat penulis, langkah yang akan diambil partai ini akan sangat berporos pada kepentingan SBY itu sendiri. SBY yang kini mulai banyak diungkit-ungkit terkait sejumlah kasus pada pemerintahannya tentu merasa harus berusaha menyelamatkan diri dan keluarganya.

Salah satu cara untuk menyelamatkan diri itu adalah kekuasaan. SBY sendiri tampaknya memandang kekuasaan sebagai yang sangat penting, seperti tersirat dalam sejumlah pernyataannya ketika merespons kasusnya. Demikianlah memang kekuasaan, ia bisa memberikan “perlindungan” kepada seseorang dari berbagai kasus yang menjeratnya. Kencenderungan seperti ini bisa terjadi di mana saja, baik di negara demokrasi terlebih lagi di negara otoriter dan totaliter.

Sebagai yang pernah menjadi orang nomor satu di republik ini, SBY tentu tidak ingin dipermalukan di hadapan rakyat. Jika ia dihadapkan dengan berbagai kasus, apalagi kalau sampai dilakukan dalam proses pengadilan secara terbuka, sekalipun misalnya dinyatakan tidak bersalah, tetap saja akan mencoreng kredibilitasnya. Apalagi kalau sampai ia kemudian dianggap bersalah oleh pengadilan, jelas habis semua kepercayaan masyarakat terhadapnya.

Yang memprihatinkan, yang menyerang SBY ternyata bukan hanya Antasari, bahkan yang berada di balik jeruji besi pun ikut bersuara. Anas Urbaningrum, misalnya, yang kerap memposting cuitan-cuitan ternyata juga berisi serangan terhadap SBY. Bahkan dalam salah sebuah cuitannya, ia menyebut langsung nama SBY. Misalnya, “Pak Presiden SBY (saat itu) yang mencintai hukum dan keadilan. Tahukah Bapak brp kali demonstran dikirim ke rumah saya?*abah”. Ini artinya, SBY menghadapi serangan lebih dari satu pihak yang sama-sama merasa dikriminalisasi pada zamannya.

Dalam konteks ini, SBY agaknya tidak akan terburu-buru untuk memutuskan akan ke kubu manakah suara pendukungnya dilabuhkan. Mungkin ia akan menunggu sampai situasinya betul-betul bisa dikondisikan untuk kepentingan politik dirinya dan Demokrat. Bagaimanapun, ia dan partainya akan terus diperebutkan oleh kedua paslon yang akan bertarung. Pada titik ini, SBY bisa memainkan kartunya, antara lain dengan barter politik atas kasusnya itu.
Dengan demikian, keputusan SBY atau Demokrat agaknya belum akan terlihat dalam waktu dekat.

Iding Rosyidin
Ketua Program Studi Ilmu Politik FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Penggila sepakbola.

TINGGALKAN KOMENTAR

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…