OUR NETWORK

Karma Kekuasaan: Mendapat Mahkota tapi Kehilangan Kepala

Jika diminta memilih antara kemenangan dan kebahagiaan, kira-kira para politisi akan memilih yang mana ya? Memang ada kebahagiaan dalam berpolitik?
[ilustrasi/kompasiana]

TIBA dari Surabaya dengan demam tinggi, Sabtu sore, semula saya ragu sanggup pergi ke Wisma Sangha Theravada, di Pondok Labu, Jakarta Selatan, Minggu kemarin. Tapi, karena Bhikku Dhammosubho sendiri yang mengundang, saya berusaha tetap bangkit dan berangkat.

Terlebih lagi, kami sudah lama tak bersua. Tiga empat tahun lalu, saya diundang ke Vihara Adhi Maitreya di Palmerah untuk bertutur kata di hadapan umat Buddha. Kali ini, saya banyak diam, tertegun demi mendengar doa mereka, ”Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta, semoga semua makhluk hidup berbahagia.”

Bukan maksud saya menginterupsi Puja Bakti yang sedang berlangsung. Tapi, barangkali Bhante Dhammosubho telah berpesan kepada orang-orang bahwa akan datang seorang berpeci dengan rambut gondrong. Begitu memasuki pelataran wisma, saya disambut dan diarahkan melalui jalan samping dan dipersilakan duduk di deretan bhikku.

Setelah menyalami para bhikku, saya duduk di samping seorang bhikku yang masih muda: Bhikku Ratanadhiro, 29 tahun. Sejak lulus dari Vihara Mendut dan ditahbiskan Juni 2014, bhikku didikan Bhikku Cattamano ini mengabdi di Vihara Dhammacakka, Sunter.

“Kita hidup untuk mencapai bahagia. Saya memilih menjadi bhikku karena saya merasa menemukan kebahagiaan yang lebih tinggi lagi,” ungkap Bhikku Ratanadhiro. Saya melihat langsung dan dari dekat betapa umat Buddha menuang nasi ke patta yang dibawa setiap bhikku dengan roman bahagia.

Bhante Dhammasubho, bhikku paling senior pada siang itu, mengatakan, ”Bhikku takkan mengambil lebih, tapi hanya secukupnya dan sepantasnya.” Beliau juga berpetuah: mengambil lebih, bahkan sekadar menginginkan lebih, ialah awal mula penderitaan yang bisa menjauhkan kita dari kebahagiaan.

Tentu saja, kebahagiaan menjadi cita-cita setiap manusia, siapa pun, baik ia percaya Tuhan atau tidak, beragama atau tidak. Bukankah tak ada manusia yang menginginkan penderitaan? Tapi, manusia kemudian menjadi berbeda kedudukannya di hadapan Allah dan kemanusiaan dalam menempuh cara untuk mencapai kebahagiaan.

Ada orang yang rela dirinya menderita untuk kebahagiaan orang banyak, tapi ada pula orang yang tega menjadikan orang banyak menderita demi kebahagiaan pribadi atau kelompoknya sendiri. Dan, agama acap juga dijadikan alat untuk mereguk kebahagiaan duniawi itu.

Sesungguhnya, lebih tepat jika disebut kepuasan, bukan kebahagiaan. Sebab, kebahagiaan yang kita rasakan di dunia pun sebenarnya kebahagiaan ukhrawi, bukan duniawi. Itulah bedanya senang dan bahagia, mungkin. Jika menyentuh rasa ingin bersyukur atas nikmat yang telah Allah anugerahkan, itu bahagia. Kalau tidak, itu masih sebatas senang. Setidaknya, itu menurut saya.

Bila kita menempuh cara-cara yang salah dan buruk untuk mencapai tujuan tertentu, kita takkan merasakan kebahagiaan sejati meski sukses. Kita senang, atau puas, tapi tidak bahagia. Selalu ada sisi pada diri kita yang tak bisa kita dustai.

Terlalu naif jika saya menuduh pemain-pemain politik kekuasaan tidak pernah memohon kebahagiaan pada Tuhannya. Dalam doa, niscaya setiap kita minta dipisahkan dari derita dan disatukan dengan bahagia. Saya juga tidak yakin mereka tidak rajin berderma. Mulai dari membantu fakir miskin dan yatim piatu, membangun rumah ibadah, sampai mendirikan yayasan untuk berbagai kegiatan kemanusiaan.

Namun, entah mengapa, sejak memainkan kekuasaan, sepertinya justru merekalah yang lantas dipermainkan oleh kekuasaan. Boleh jadi, kekuasaan memberi mahkota, tapi ternyata disertai meminta kepala—dengan seluruh akal sehat kita. Bisa jadi, kekuasaan menyematkam tanda-tanda kebesaran di dada, namun diikuti dengan merampas hati nurani kita.

Siddarta Gautama mengingatkan saya pada kemelekatan dan kemelaratan. Ia seorang pangeran yang lekat dengan kebangsawanan dan kekayaan namun kemudian memilih kemelaratan. Bukan karena skeptis pada kekuasaan, namun lebih dari itu: ia tak lagi percaya pada kebahagiaan yang semu.

Di luar istana, ia melihat orang letih, sakit, tua, dan mati. Disaksikannya betapa hidup ialah samsara, penderitaan. Demi mencapai kebahagiaan sejati, apakah manusia harus terlebih dahulu berkuasa? Lebih berkuasa dari liyan? Tidak. Di dalam ajaran Siddharta, untuk hidup bahagia, manusia harus menempuh jalan darma.

Menempuh jalan darma artinya hidup dengan budi pekerti yang luhur. Dalam konteks politik kebangsaan hari-hari ini, apakah terlalu berlebihan jika berharap akan lahir lagi negarawan-negarawan di negeri ini? Karena politik kekuasaan yang lebih dominan di dalam politik kebangsaan, apakah sewajarnya jika yang kemudian bermunculan hanyalah para pemburu kekuasaan?

Jika tanpa darma, pun dalam politik kekuasaan, tak pelak yang kita dapati dari periode ke periode, dari masa ke masa, adalah karma demi karma politik kekuasaan, yang ujung-ujungnya rakyatlah yang akan menderita dan makin menderita.

Saya masih meyakini politik kekuasaan di Indonesia masih bisa lebih baik dari hari-hari ini dan masa-masa yang telah silam. Sesungguhnya, agama sangat bagus digunakan dalam segala segi kehidupan, termasuk dalam berbangsa dan bernegara, jika tak ada malpraktik di dalamnya, yaitu hanya sekadar untuk mencapai kesenangan dan kepuasan pribadi dan golongannya sendiri dalam politik kekuasaan, bukan kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Tapi, yang perlu selalu diingat, Indonesia bukan negara agama. Para pendiri bangsa telah menetapkan Pancasila sebagai ideologi negara dan Bhinneka Tunggal Ika yang menjadi semboyan. Dari agama masing-masing, kita tentu telah menerima ajaran kebenaran dan kebaikan. Pancasila pun membekali kita dengan nilai-nilai luhur budi pekerti.

Tahun ini, konon kita memasuki tahun politik, yang ditandai dengan Pemilihan Kepala Daerah serentak pada 2018 dan Pemilihan Presiden pada 2019. Padahal, ada satu kata yang tidak ditulis, yaitu kekuasaan. Ya, politik kekuasaan. Pilih mana antara politik yang berkuasa dan kekuasaan yang berpolitik? Barangkali, kita masih punya sedikit waktu untuk merenungkannya.

Namun, jika diminta memilih antara kemenangan dan kebahagiaan, kira-kira para politisi akan memilih yang mana ya? Alih-alih memperoleh jawaban, saya justru khawatir akan ditanya-balik: memang ada kebahagiaan dalam berpolitik?

Kolom terkait:

Keragaman Agama Itu Sunnatullah

Ada Cerita di Balik Bhinneka

Islam, Pancasila, dan Fitrah Keindonesiaan Kita

Fiksi Politik, Mitos Kekuasaan, dan Pak Tua

Kekuasaan itu Meninabobokan [Tentang Khalifah Abdul Malik dan Al-Walid]

Candra Malik
Budayawan sufi yang bergiat di bidang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, dan spiritualitas.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…