Rabu, Januari 27, 2021

Jokowi, Indonesia, dan Dilema Perjuangan Palestina

Di Balik Kampanye Bagi-bagi “Rumah Gratis” ala Anies

Banyak orang sejak masih muda telah mulai menabung sebagian penghasilan demi cita-cita "setelah berkeluarga bisa memiliki rumah sendiri". Memiliki sebuah rumah yang layak dalam...

Siasat Golkar Merangkul Kang Emil, “Mendepak” Kang Dedi

Jalan Ridwan Kamil untuk ikut berkontestasi pada Pilkada Provinsi Jawa Barat 2018 ibarat jalan tol saja. Setelah diusung Partai NasDem, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB),...

Gonjang Ganjing Golkar dan Kepemimpinan Airlangga

Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) Partai Golkar akhirnya secara resmi mengukuhkan Airlangga Hartarto sebagai nahkoda partai berlambang pohon beringin.  Airlangga mendapatkan dukungan penuh dari...

Kekuasaan itu Meninabobokan [Tentang Khalifah Abdul Malik dan Al-Walid]

Saya kisahkan sebelumnya saat Khalifah Marwan bin Hakam dibai’at menjadi khalifah, ada kesepakatan bahwa setelah periode beliau yang akan menjadi khalifah adalah Khalid bin...
Avatar
Ibnu Burdah
Pemerhati Timur Tengah dan Dunia Islam, Dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Indonesia adalah negara paling konsisten dan tegas dalam mendukung perjuangan Palestina untuk merdeka. Selain dukungan politik, peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) calon negara Palestina, dan bentuk-bentuk dukungan lain, hal itu juga tercermin dalam konsistensi Indonesia untuk tidak membuka hubungan resmi baik dagang maupun diplomatik dengan Israel.

Konsistensi itu juga terlihat dari respons Indonesia terhadap kebijakan Presiden AS Donald Trump yang memberikan pengakuan terhadap Yerusalem sebagai ibu kota Israel (6/12). Pemerintah Indonesia juga merespons dengan sangat cepat, tegas, dan bahkan keras dengan mengeluarkan statemen kecaman dan dengan sigap menggalang kekuatan melalui berbagai saluran, termasuk melalui organisasi kerja sama Islam. Pemerintah Indonesia mendorong segera digelar sidang khusus masalah ini.

Dalam pidatonya di Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Luar Biasa Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) di Istanbul, Turki, Presiden Joko Widodo menegaskan dukungannya untuk kesejahteraan dan kedamaian di Palestina. Presiden Jokowi juga menyebut selalu ada Palestina di setiap hela napas diplomasi Indonesia.

“Dalam setiap helaan napas diplomasi Indonesia, di situ terdapat keberpihakan terhadap Palestina,” kata Jokowi dikutip dari rilis Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden, Rabu (13/12).

Selain dari pemerintah, dukungan dari masyarakat Indonesia bagi perjuangan Palestina juga tidak kalah kuat yang tercermin dalam berbagai bentuk dan aksi solidaritas. Bagi saya, itu adalah kebanggaan Indonesia sebagai bangsa yang bermartabat yang menghormati hak kemerdekaan setiap bangsa.

Faktanya, dukungan besar dan konsisten itu sepertinya tidak berpengaruh banyak di lapangan, khususnya dalam proses perdamaian. Sikap Indonesia dalam isu Palestina memang mencerminkan sikap yang tegas sebagaimana dituntut oleh konstitusi kita. Bangsa ini dituntut untuk memperjuangkan kemerdekaan sebagai hak segala bangsa dan harus aktif menciptakan perdamaian dunia. Sikap konsisten Indonesia tentu juga melegakan lapisan luas masyarakat Indonesia.

Namun, ada dilema serius dalam sikap Indonesia itu selama ini. Dilemanya terletak pada efektivitas dalam mencapai tujuan. Tujuan dari dukungan bangsa Indonesia untuk Palestina sebagaimana tuntutan konstitusi adalah terciptanya perdamaian dan kemerdekaan. Yaitu, kemerdekaan untuk rakyat Palestina dan perdamaian antara Israel dan Palestina sebagai dua negara berdaulat yang bertetangga baik.

Faktanya, sikap konservatif ini membuat Indonesia tidak banyak membantu menciptakan terobosan penting dalam usaha menciptakan kemerdekaan Palestina dan perdamaian Palestina-Israel. Padahal, di tengah macetnya perundingan dan jauhnya posisi kedua pihak, yang paling dibutuhkan sebenarnya adalah terobosan-terobosan yang kreatif dan berani. Kedua hal  di atas, kemerdekaan Palestina dan perdamaian, idealnya bisa tercapai secara bersamaan.

Kunci untuk tercapainya perdamaian ada di tangan Palestina. Dan kunci bagi tercapainya kemerdekaan Palestina ada di tangan Israel. Dua hal ini tak bisa dipisahkan. Israel akan memperoleh perdamaian sebagaimana keinginan mereka selama ini bahkan normalisasi hubungan dengan semua negara Muslim jika Palestina telah menyetujui perdamaian final dan menyeluruh. Demikian pula Palestina bisa menjadi negara merdeka dan berdaulat jika Israel menyetujuinya. Titik, sesederhana itu saja.

Dilemanya, Indonesia tidak memiliki saluran secara langsung untuk berbicara kepada Israel. Indonesia memang bisa berbicara dengan Palestina secara leluasa, tetapi untuk apa? Jika tujuannya adalah untuk membela kepentingan Israel melalui proses perdamaian, maka saluran Indonesia dengan Palestina itu sangat bermanfaat. Tetapi, jika kita hendak memperjuangkan kemerdekaan Palestina melalui proses perdamaian, yang sangat penting adalah saluran kita kepada Israel. Tapi kita tidak memilikinya. Itu dilema lapis pertama.

Dilema lapis kedua adalah jika kita membuka saluran komunikasi langsung dengan Israel, maka logikanya kita memang memiliki hubungan dengan negara itu, baik di level dagang saja sebagaimana kebanyakan negara Arab atau sampai pada level diplomatik sebagaimana Mesir, Yordania, Turki, dan lainnya.

Tetapi, jika kita membuka hubungan dengan Israel, apa itu bukan berarti pelanggaran terhadap konstitusi kita. Sebab, Israel masih menjajah Tepi Barat yang seharusnya menjadi tempat berdirinya negara Palestina merdeka. Perlu kajian konstitusi yang sungguh-sungguh mengenai hal ini dan tentu juga seberapa jalan itu kemungkinan akan memberi dampak efektif. Tapi, yang hampir pasti, gejolak domestik akan sangat kuat dalam merespons perubahan strategi pemerintah dalam mendukung perjuangan Palestina.

Dilema lapis lain tentu terkait dengan pihak Palestina sendiri dan negara-negara Arab yang lebih berdekatan dengan Israel secara geografis. Penyatuan Palestina saat ini seperti basa-basi saja. Di lapangan, keterpecahan pemerintahan yang paling dominan terlihat, kendati rekonsiliasi di depan kamera telah tercapai.

Perpecahan HAMAS-Fatah mungkin justru menguntungkan bagi sebagian elite kedua sayap politik utama Palestina ini. Tapi, itu jelas sangat kontroproduktif dalam upaya mencapai kemerdekaan. Sementara kita terus menjadi supporter yang gegap gempita tak lelah memberi dukungan, para pemain klub yang didukung justru tidak kompak dalam permainan dan bikin permainan sendiri dengan tujuan lain.

Hal yang sama juga terjadi pada negara-negara Arab atau Timur Tengah di sekitarnya. Mereka lebih banyak terlibat baku hantam. Isu Palestina sepertinya sudah masuk kotak, yang terpenting bagi elit-elite diktaktor di kawasan itu adalah mempertahankan kekuasaan atau menghancurkan lawan. Urusan Palestina hanya urusan di bibir saja, itu pun saat disorot oleh kamera. Setiap kali ada musibah di Palestina, mereka ikut jadi suporter, ikut berteriak di depan media, lalu setelah itu selesailah semuanya.

Dengan begitu, tekanan domestik akibat masalah Palestina pasti akan berkurang atau bahkan terhindarkan, kendati tak membawa efek apa-apa bagi perjuangan Palestina merdeka. Menyebalkan.

Kolom terkait:

Menakar Komitmen Erdogan dalam Krisis Yerusalem

Trump dan Status Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel

Yerusalem, Pembuka Jalan Negara Palestina?

Urat Cinta Palestina-Indonesia

Konflik Israel Palestina, Siapa Musuh Bersama Sebenarnya?

Avatar
Ibnu Burdah
Pemerhati Timur Tengah dan Dunia Islam, Dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Roman Abramovich, Alexei Navalny, dan Premier League

Industri olahraga, khususnya sepakbola, telah mengalami perkembangan pesat. Mulai dari segi teknis maupun non-teknis. Mulai dari aktor dalam lapangan hingga pemain-pemain di belakang layar....

Perempuan dan Politik

Politik selalu identik dengan dunia laki-laki, dengan dunia kotor, tidak pantas untuk perempuan masuk kedalam ranah tersebut. Politik selalu identik dengan sesuatu yang aneh...

Karakteristik Milenial di Era Disrupsi

Dewasa ini, pemakaian istilah Disrupsi masih terdengar asing oleh kaum muda atau generasi milenial sekarang. Lalu apa sebenarnya yang dimaksud dengan disrupsi?. Jika kita...

Hak Cipta dan Perlindungan Kekayaan Intelektual

Hak atas Kekayaan Intelektual (HAKI) merupakan terjemahan dari Intellectual Property Right (IPR), sebagaimana diatur dalam undang-undang No. 7 Tahun 1994 tentang pengesahan Agreement Establishing...

Pengalaman Mantan Pasien Wisma Atlet

Ibu Mawar ingin memberi cerita pengalamannya yang dialami ia dan keluarga dalam menghadapi karena mengidap Covid 19 yang sempat dirawat di Wisma Atlet serta...

ARTIKEL TERPOPULER

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Larry King, Wawancara dengan Sejarah

Oriana Fallaci beruntung. Ia seakan mendapat wangsit mendadak untuk menjuduli bukunya dengan cemerlang, "Intervista con la storia", himpunan interviunya dengan para pemimpin dunia yang...

Pandji yang Sedikit Tahu, tapi Sudah Sok Tahu

Siniar (podcast) komedian Pandji Pragiwaksono kian menegaskan bahwa budaya kita adalah sedikit tahu, tapi sudah merasa sok tahu. Sedikit saja tahu tentang gambaran FPI...

Towards Success: Re-evaluating Indonesia Ecological Development

Indonesia has long been an active participant of the environmental policy formation and promotion. Ever since 1970, as Dr Emil Salim appointed as the...

Hukum Tata Cara Mengendus Kuasa, Kuliah Gratis untuk Refly Harun

Semoga Saudara Refly Harun dalam keadan sehat akal wal afiat!! Awalnya saya merasa tidak begitu penting untuk memberi tanggapan akademis terhadap saudara Refly Harun. Kendati...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.