Kamis, Januari 28, 2021

Jokowi Bukan Ahok

Kekalahan Ahok Bukan Kekalahan Kemajemukan

Rabu, 19 April 2017. Berselang beberapa jam selepas pemilihan, warga sebuah kampung di Jakarta Utara berangkulan. Mereka riang bukan kepalang mendapati hasil hitung cepat...

Divide et Impera: Muslim vs Muslim di Pilkada Jakarta

Aspek paling runyam dalam pilkada di Jakarta adalah Islam. Agama yang diyakini penganutnya membawa rahmat bagi semesta ini digunakan para simpatisan Muslim untuk menyerang...

Kemiripan Anies dengan Trump: Rasisme dan Politik “Siulan Anjing”

  Ada dua tema besar yang mendominasi politik Indonesia hari-hari ini. Di garis depan, ada pertarungan politik atau kekuasaan dan di belakangnya ada suara-suara rasisme...

Surat Terbuka untuk Ahok, Batu Karang Kedewasaan Bangsa

Pak Ahok yang saya hormati, salam kenal. Perkenalkan saya Syaiful Arif, salah satu pengagum Anda. Selama Anda berada di jalan yang lurus, selama itu pula saya akan...
Avatar
Moh. Zahirul Alim
Sarjana Hubungan Internasional dari Universitas Brawijaya, Malang.

ANTARA FOTO/Widodo S. Jusuf/Rei

Pekan lalu ada lembaga survei yang merilis hasil temuannya terkait tingkat kepuasan masyarakat terhadap kinerja Presiden Joko Widodo. Tidak hanya itu, lembaga survei tersebut juga merilis tingkat elektabilitas sosok tokoh yang berpeluang menjadi calon presiden pada Pemilihan Presiden 2019. Dari hasil survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), kita dapat mengetahui fakta bahwa tingkat kepuasaan masyarakat terhadap tiga tahun kinerja pemerintahan Jokowi mencapai angka 68 persen. Sementara itu, tingkat elektabilitas atau tingkat keterpilihannya berada di angka 38,9 persen.

Bahkan jika diadakan simulasi pilpres saat survei dilakukan pada periode September 2017 lalu, Jokowi dinyatakan unggul atas Prabowo dengan suara 57 persen berbanding 31,8 persen. Temuan SMRC terakit peluang keterpilihan calon presiden potensial di atas menempatkan sosok Jokowi berada di atas Prabowo Subianto (12 persen), pesaing terdekatnya, yang diprediksi akan kembali bertarung dalam Pilpres 2019.

Merespons survei SMRC di atas, muncul beragam komentar minor dari tokoh partai oposisi pemerintah yang tidak terima dengan fakta bahwa Jokowi diprediksi bakal unggul dalam Pilpres 2019. Pentolan Partai Gerindra Fadli Zon, misalnya, menyebut bahwa tingkat elektabilitas Jokowi dengan angka 38,9 persen menurut SMRC sangatlah rendah, dan menurutnya hal tersebut menunjukkan masyarakat menginginkan adanya presiden baru.

Ia bahkan mencontohkan, seperti terjadi dalam Pilkada DKI Jakarta 2017, kepuasaan warga DKI terhadap kinerja Ahok tinggi pada ujungnya warga DKI menginginkan adanya gubernur baru. Hemat saya, boleh-boleh saja tidak terima dengan hasil survei. Pun demikian boleh juga mengharapkan Jokowi tumbang. Namun, yang harus diingat, menganalogikan Jokowi akan bernasib kalah sebagaimana tumbangnya Ahok dalam Pilkada Jakarta 2017 tidaklah tepat dan bisa jadi keliru besar.

Ingat! Jokowi bukan Ahok. Maknanya apa? Jokowi adalah sosok dengan segudang prestasi kerja yang membanggakan. Jokowi bukanlah sosok kontroversial yang mudah dicari-cari kesalahannya, kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan sekalipun menimbulkan pro dan kontra masih dalam batas wajar dan dapat dipertanggungjawabkan.

Seperti yang disampaikannya, “Anda tidak setuju dengan Perppu Ormas, tidak setuju dengan UU Pemilu 2019, silakan gugat di Mahkamah Konstitusi!” Semua ada jalurnya, semua ada koridornya, tidak perlu gaduh dan membuat instabilitas.

Belum lagi dengan capaian-capaian pemerintahannya di bidang infrastruktur yang kini satu persatu mulai dapat dinikmati warga, peningkatan kualitas layanan publik, kepastian hukum yang tegas memberangus praktik pungutan liar, dan stabilitas ekonomi makro. Semuanya menjadi justifikasi pembenar atas temuan SMRC bahwa memang politik kerja Jokowi benar-benar berbuah dan dapat dinikmati oleh masyarakat Indonesia.

Senada dengan survei terbaru SMRC, survei sebelumnya juga merilis temuan bahwa isu kebangkitan Partai Komunis Indonesia (PKI) dimobilisasi oleh satu dua partai tertentu untuk menyerang secara personal sosok Presiden Jokowi yang berpeluang besar akan berlaga dalam Pilpres 2019. Merujuk pada temuan tersebut, 86,8 persen warga Indonesia tidak setuju dengan anggapan bahwa PKI sekarang bangkit. Hanya sekitar 12,6 persen warga yang setuju.

Selain itu, ihwal keterkaitan Jokowi dengan PKI,  hasil survei juga menunjukkan 75,1 persen warga tidak percaya Jokowi terkait PKI, hanya 5,1 persen warga yang mempercayai. Yang patut menjadi perhatian dari survei tersebut, rupanya 19 persen pendukung Prabowo yang setuju dengan isu kebangkitan PKI. Hal ini beririsan juga dengan temuan bahwa partai-partai oposisi seperti Gerindra dan PKS cendrung setuju dengan isu kebangkitan PKI.

Tokoh-tokoh kedua partai juga tidak canggung untuk menyatakan bahwa PKI sedang bangkit. Bahkan beberapa waktu lalu ada seorang oknum fungsionaris Partai Gerindra terang-terangan menuduh PDI-P, kendaraan politik Jokowi, sebagai sarangnya PKI. Inilah realitas politik mutakhir Indonesia, menggunakan sentimen SARA dan cara-cara fitnah untuk menjatuhkan lawan.

Jika dalam Pilkada Jakarta 2017 isu SARA laris dijual dan dijadikan senjata guna melumpuhkan lawan politik di mana pasangan petahana Ahok-Djarot berhasil disingkirkan dan ditenggelamkan, maka cara yang sama akan coba dipakai menyongsong pagelaran Pilpres 2019. Kalau sebelumnya Ahok diserang karena dia berasal dari etnis China, Kristen, dianggap temperamental, arogan, kontroversial, dan hal-hal sensitif lainnya, kini giliran Jokowi coba diserang dengan isu PKI dan beberapa isu SARA.

Terhadap hal tersebut, saya berkeyakinan dan berani memastikan bahwa modus tak beradab itu sangatlah tidak mujarab digunakan untuk menjatuhkan Jokowi. Sia-sia belaka menyerang Jokowi dengan fitnah buta, malah Jokowi yang akan beruntung, ia semakin leluasa untuk membuktikan bahwa dirinya adalah sosok yang apa adanya, bukan agen komunis seperti yang dituduhkan para pembenci, mampu memberikan dedikasi terbaik dengan prestasi-prestasi kerja.

Singkatnya, jangan pernah menyamakan sosok Jokowi dengan Ahok. Mereka berbeda satu sama lain. Kalaupun keduanya pernah terlibat kerjasama politik saat berhasil terpilih sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DKI 2012, itu pun dalam nafas politik kerja, politik pengabdian bagi negara, bukan politik kotor untuk memperkaya diri dan golongan. Dan kini keduanya memiliki takdirnya masing-masing.

Seiring kekalahan telak dan kasus hukum yang menjeratnya, Ahok sudah menyatakan pensiun dari panggung politik. Sementara itu, Jokowi dengan rasa optimismenya siap untuk terus mengabdi, memberikan dedikasi terbaik dengan kerja-kerja nyata yang terukur. Jokowi adalah Jokowi, sosok yang susah dicari padanannya. Sekali lagi, Jokowi bukanlah Ahok! Stop mobilisasi persepsi dan politik fitnah yang memecah belah bangsa!

Kolom terkait:

Politik dan Desakralisasi Agama

Jokowi dalam Pusaran Isu Sensitif dan Kontroversial

Isu Anti-Cina dan Nasionalisme Kaum Muda

Keluar dari Jebakan Politik tanpa Identitas

Ada Apa dengan Identitas dan Kebhinekaan? 

Avatar
Moh. Zahirul Alim
Sarjana Hubungan Internasional dari Universitas Brawijaya, Malang.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Ayat-Ayat Ekosistem dan Dakwah Politik Lingkungan

Postingan saya tentang ayat-ayat ekosistem di status akun Facebook perlu saya jelaskan. Walaupun sebagian besar pemberi komen di status tersebut bersuara mendukung, satu atau...

Mencermati Dampak Kebijakan Kendaraan Listrik di AS

Amerika Serikat (AS) baru saja menjalani transisi pemerintahan dari Presiden Donald Trump dari partai Republik kepada Joseph (Joe) Biden yang didukung partai Demokrat. Saat...

Mengapa Pancasila?

Oleh: Alif  Raya Zulkarnaen SMAN 70 Jakarta Pemenang Lomba Menulis Esai “Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita”. Sahabat Khatulistiwa. Desember 2020 Rumusan-Rumusan Staatsidee 29 Mei-1 Juni 1945 “Ketuhanan yang Maha...

Kritik Jamaluddin al-Afghani Atas Khilafah Islamiyah

Sejak abad ke-9 M hingga memasuki abad ke-14 M menjadi masa keemasan Islam dalam panggung peradaban dan ilmu pengetahuan. Ternyata uforia ilmu pengetahuan terhenti...

Roman Abramovich, Alexei Navalny, dan Premier League

Industri olahraga, khususnya sepakbola, telah mengalami perkembangan pesat. Mulai dari segi teknis maupun non-teknis. Mulai dari aktor dalam lapangan hingga pemain-pemain di belakang layar....

ARTIKEL TERPOPULER

Larry King, Wawancara dengan Sejarah

Oriana Fallaci beruntung. Ia seakan mendapat wangsit mendadak untuk menjuduli bukunya dengan cemerlang, "Intervista con la storia", himpunan interviunya dengan para pemimpin dunia yang...

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Ada Apa Di Balik Pembangunan Jalan Tol Kita?

Dua catatan tentang jalan tol ini saya tulis lebaran tahun sebelumnya, saat terjadi tragedi di pintu keluar tol Brebes Timur (Brebes Exit/Brexit) yang menewaskan...

Pandji yang Sedikit Tahu, tapi Sudah Sok Tahu

Siniar (podcast) komedian Pandji Pragiwaksono kian menegaskan bahwa budaya kita adalah sedikit tahu, tapi sudah merasa sok tahu. Sedikit saja tahu tentang gambaran FPI...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.