Sabtu, Oktober 31, 2020

Joker Politik

Khalifah Harun Ar-Rasyid: Masa Keemasan Abbasiyah

  Sesaat setelah wafatnya Khalifah keempat Abbasiyah, Musa al-Hadi, maka adiknya yang bernama Harun, yang berusia 22 tahun, dibaiat sebagai khalifah. Inilah Khalifah Abbasiyah yang...

Misteri 1965, Cornell Paper, dan Generasi Strawberry

  Limapuluh dua tahun pasca peristiwa 30 September 1965, bangsa ini masih terus becermin pada masa lalu. Partai Komunis Indonesia (PKI) yang sudah dibubarkan Soeharto...

Mari Gus, Rebut Kembali!

"Bapak mau ketemu..". Pesan itu datang. Oke, siap-siap. Aku pun meluncur ke Jalan Medan Merdeka. Sampai di sana waktu masih ada setengah jam, sampai...

Ada Apa di Balik Pensiun Dini Jenderal Tito?

Di tengah semarak dan khidmat HUT Bhayangkara ke-71 dua hari lalu, Kepala Polri Jenderal Tito Karnavian menyampaikan keinginannya untuk pensiun dini. Pernyataan itu mengandung...
Avatar
Budi Setiawan
Pengamat Sosial dan Hubungan Internasional, tinggal di Jakarta

Fahri Hamzah.

Ketika Fahri Hamzah atau Fadli Zon berkicau di Twitter dengan komentar aneh dan provokatif, dalam sekejap seribuan orang menanggapi dengan aneka cacian, hinaan lengkap dengan kata-kata pedasnya. Dua politisi inilah yang kerap disergap oleh aneka hujatan, setelah seorang petinggi MUI yang gemar juga berkicau nyeleneh.

Jika kita perhatikan, dua politisi itu tidak menanggapi aneka hujatan yang muncul. Hanya sesekali saja Fahri Hamzah menanggapi. Itu pun yang terbatas pada dua tiga orang yang dia anggap pantas untuk ditanggapi seperti Prof Mahfud MD atau Tsamara. Dan komentarnya pun sekadar “colek-colek dikit.” Setelah itu, mereka menggembara lagi dengan komentar-komentar barunya. Ada apa ini?

Politik Joker

Ada kabar bahwa Fahri Hamzah dan Fadli Zon mengamati dengan seksama sambil kadang tertawa-tawa melihat perjalanan komentar Twitternya. Fahri diketahui memasang TV LCD 32 inch yang khusus memantau perkembangan Twitternya. Jadi, mereka bukan orang bodoh seperti yang disangka banyak orang. Mereka ini adalah pemegang kartu joker dalam permainan politik.

Bagi penjudi, joker adalah kartu yang ditunggu-tunggu karena menjadi penentu kemenangan. Kartu ini bisa dipakai apa saja yang mempermudah pemain memenangkan taruhan. Dalam konteks ini, Fahri Hamzah dan Fadli Zon pemegang kartu joker dalam abad digital yang telah menciptakan revolusi dalam berpolitik.

Hanya dengan 140 karakter, kedua politisi ini bisa menyetir opini publik ke mana pun dia mau sesuai agenda politik mereka. Media sosial telah menciptakan cara-cara sederhana untuk menjaring pendukung hanya dengan sederet kata singkat yang provokatif tanpa perlu keluar banyak duit.

John Parmelee, penulis Politics and Twitter Revolution, berujar bahwa media ciutan ini mampu menyetrir agenda pemberitaan media arus utama tentang topik apa saja yang harus diliput. Tambahnya, Twitter telah digunakan oleh politisi untuk mempengaruhi pihak-pihak yang berpengaruh.

Donald Trump secara nyata menyetir agenda peliputan media di seluruh Amerika. Dia menciptakan diskursus yang masif, namun sekalipun dia tidak pernah terpengaruh untuk mengubah kebijakannya. Bahkan ada yang tadinya menentang jadi terpengaruh dan akhirnya mendukung, paling tidak menyetujui, kebijakannya. Tidak heran jika di tengah hujatan, pendukung Trump tidak pernah berkurang malahan kemungkinan bertambah.

Trump tahu persis bahwa dunia media sosial seperti pasar yang hiruk pikuk, semua orang bicara tapi tidak ada akhirnya. Lenyap begitu saja dan semua orang berjalan dengan agenda mereka masing-masing.

Kondisi inilah yang diinginkan oleh para joker politik. Merekalah yang tahu apa agenda di balik semua komentarnya. Mereka membalikkan pandangan bahwa komentar “bodoh” yang terus menerus dikeluarkan membuat mereka tidak akan terpilih lagi. Mereka tidak takut dengan pandangan netizen bahwa ulah itu hanya mempermalukan dan merendahkan harkat martabat mereka sendiri.

Nyatanya, para joker politik ini tengah menghimpun massa lewat kekuatan dan kharisma primordial yang sangat kental dalam perpolitikan di Indonesia di konstituennya dan di kalangan mereka yang berseberangan dengan pemerintah.

Block Vote

Sampai sekarang tidak ada bukti komentar nyeleneh di media sosial berdampak buruk pada elektabilitas seorang anggota Parlemen. Di alam nyata, masyarakat menganggap apa yang media sosial hanyalah main-main saja.

Saya pernah beberapa kali hadir dalam acara kunjungan wakil rakyat ketika reses . Beberapa di antara mereka dari partai yang kontroversial di media sosial. Nyatanya mereka disukai dan dicintai konstituennya. Masyarakat memandang anggota parlemen ini selalu bagi-bagi rejeki.

Dalam kunjungan tersebut, para wakil rakyat menyodorkan aneka fasilitas yang diberikan secara langsung dan janji-janji masa depan yang bisa ditagih oleh massa pendukungnya. Misalnya saja, langsung meminta stafnya mencatat nama-nama warga yang belum punya BPJS untuk mendapatkan KJS gratis. Atau langsung memberikan santunan dan bea siswa di hadapan warga.

Mereka juga mengajarkan trik-trik untuk memaksa pemerintah membayar atau mengerjakan sesuatu dengan memanfaatkan celah undang-undang. Jika mentok, para anggota Dewan itu berkata, “Jika ada masalah dengan lurah, camat atau pejabat Rumah Sakit, telepon saya langsung. Ini nomor HP saya dan temui saya di jam-jam ini di rumah. Saya akan melayani Anda.”

Semua orang tepuk tangan dan memuji-muji. Wajah rakyat yang diundang makin cerah karena di akhir acara ada bingkisan berupa uang dan sembako lengkap dengan kartu nama anggota Dewan itu.

Cara-cara demikian ini telah menciptakan blok pemilih solid yang pasti akan memilih mereka kembali. Harap juga diingat, para wakil rakyat itu juga punya tim lapangan tangguh yang mampu menangkap aspirasi masyarakat. Mereka memakai falsafah sederhana, “Ada gula, ada semut .”

Jadi, jangan heran jika ada seorang yang terpilih menjadi anggota parlemen daerah dari partai gurem karena berhasil menyakinkan masyarakat jika terpilih, dia akan membuat jalan-jalan mulus di sekitar kompleks perumahan warga. Dan memang jalan itu dibuat setelah dia terpilih.

Cara-cara demikian ini pastinya akan berulang pada Pemilu 2019, terlepas anggota parlemen atau partainya kontroversial di media sosial. Jadi, sekali lagi, jangan heran, misalnya, Fahri Hamzah masih bercokol di Senayan di 2019 karena didapuk oleh partai politik dan bahkan PKS merangkulnya kembali karena dia punya massa yang sangat besar.

Atau Fadli Zon terpilih kembali dan tersenyum mengejek para penghujatnya. Dan Anda.. ya Anda.. yang berharap mereka hancur, pasti “gondoknya” setengah mati…

Kolom terkait:

Fahri Hamzah dan Rontoknya Narasi Besar Status Quo Politik

Ahok, Fahri Hamzah, dan PKS: Antara Moral dan Citra

Tragedi Politik Fahri Hamzah

Dialektika Tsamara-Fahri, Sandiwara?

Avatar
Budi Setiawan
Pengamat Sosial dan Hubungan Internasional, tinggal di Jakarta
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Menjaga Kesehatan Tubuh dari Covid-19

Menjaga kesehatan menjadi hal yang penting dilakukan semua kalangan. Apalagi dengan kondisi alam yang semakin merabahnya virus covid 19. Terkadang hal sederhana yang rutin...

Kesehatan Mental dan Buruh

Kerja adalah cerminan kesehatan jiwa. Semakin baik tempat kerja, semakin kecil kemungkinan kita mengalami masalah kejiwaan. Adam Smith dalam bukunya Wealth of Nation secara...

Charlie Hebdo, Emmanuel Macron, dan Kartun Nabi Muhammad

Majalah satir Charlie Hebdo (CH) yang berkantor di Paris kembali membuat panas dunia. CH merilis kartun Nabi Muhammad untuk edisi awal September 2020. Padahal...

Imajinasi Homo Sapiens Modern dalam Menguasai Dunia

  Foto diatas ini mewakili spesies lainnya yang bernasib sama, tentu bukan hanya Komodo, masih ada dan masih banyak lagi hewan yang bernasib sama sebut...

TBC Mencari Perhatian di Tengah Pandemi

Pada awal Maret, Indonesia melaporkan kasus Coronavirus Disease-2019 yang dikenal sebagai COVID-19, terkonfirmasi muncul setelah kejadian luar biasa di Wuhan, Cina. Penyakit ini disebabkan...

ARTIKEL TERPOPULER

Sandiwara Dibalik Pernikahan Raja Majapahit Bali

Belakangan di Bali ramai pemberitaan mengenai acara pertunangan Raja Majapahit Bali bernama lengkap Abhiseka Ratu Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Pandangan 2 Mazhab Hukum Terhadap Putusan MA Soal Eks Napi Koruptor

Pertengahan tahun 2018 ini publik dikagetkan dengan hadirnya PKPU No. 20/2018 yang dalam Pasal 4 ayat (3) menyatakan bahwa Pengajuan daftar bakal calon anggota...

KDRT Saat Pandemi

Severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) atau yang lebih dikenal dengan nama COVID-19 adalah jenis baru dari coronavirus yang menular ke manusia. Virus ini...

Menyerupai Suatu Kaum: Hadits, Konteks Budaya, dan Tahun Baru 2018

Hanya dengan satu hadits ini, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Daud dan Ahmad), banyak ustaz yang lantang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.