in ,

Jejak Langkah George J. Aditjondro dan Papua


george-adijondtro_20161210_150236
George Junus Aditjondro [Dok. Kompas/Wisnu Nugroho]
Jejak langkah George J. Aditjondro (GJA) di Papua sungguh begitu panjang. Dalam untaian jejak langkah itu terdapat sekian banyak karya tulis GJA serta buah tangannya dalam membentuk kawan-kawan di Papua untuk membangun komunitas intelektual kritis.

GJA mulai berkarya di Papua di awal tahun 1980-an. Bahkan di tahun 2000-an GJA tetap masih datang ke Papua. Bahkan dalam beberapa pertemuan yang diadakan oleh Presidium Dewan Papua (PDP), Dewan Adat Papua (DAP) bahkan LSM, setelah tahun 2000 GJA tetap masih datang menjadi pembicara. Boleh dikatakan dari 1982 sampai akhir hayatnya GJA tetap akrab dengan Papua.

Saya termasuk orang yang beruntung bertemu GJA dalam beberapa diskusi mengenai Papua sejak pertengahan tahun 1990-an. Awal jumpa dengan GJA di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Salatiga (1993), kala itu saya masih mahasiswa. Kemudian kami jumpa lagi di KWI Jakarta akhir tahun 1995 dalam diskusi tentang terjadinya penembakan terhadap penduduk kampung Wea, Banti dan Kwamki Lama, Timika, oleh tentara.

Peristiwa penembakan penduduk di kampung-kampung suku Amungme di areal perusahaan tambang PT Freeport Indonesia itu begitu heboh, karena laporannya pertama kali dibuka oleh ACFOA, NGO Australia. Namun, yang paling menghebohkan adalah laporan penembakan yang memakan korban jiwa itu ditulis atas nama Uskup Jayapura.

Jakarta meradang dan mencak-mencak. GJA beberapa kali ikut pertemuan bersama beberpa senior LSM Jakarta untuk menyusun advokasi peristiwa itu.

Baca Juga :   Gebrakan Ridwan Menata Pedagang Kaki Lima

Namun, yang lebih menarik bukan soal aktivitas GJA itu bagi saya. Gagasan-gagasan GJA tentang Papua lebih menggetarkan hati saya. Saya membaca beberapa artikel GJA, baik yang terbit dalam Jurnal Prisma maupun artikel-artikel lepasnya yang dijadikan bahan diskusi di berbagai forum. Artikel macam itu saya dapat dari Stanley, aktivis jagoan UKSW.


Membaca artikel-artikel atau makalah ilmiah GJA tentang Papua, Anda seperti diajak jalan-jalan mengelilingi Papua untuk mengenal lekuk bukit, hamparan lembah, dan deburan ombaknya serta arus pasang surut sungai dan rawa-rawa. Dalam perjalanan yang menakjubkan itu, GJA seperti berbisik mengenai perih-pedih yang dialami orang-orang Papua akibat tangan-tangan kotor kekuasaan.

Setelah saya membaca dan mencerna cukup banyak tulisan-tulisan GJA tentang Papua, ketika jumpa kembali dengannya di tahun 1999 di Elsam—ketika itu GJA berkunjung untuk mendiskusi penerbitan bukunya tentang Timor Leste—saya kemukakan niat saya bahwa saya akan menerbitkan artikel-artikelnya tentang Papua menjadi sebuah buku. GJA langsung menyambut dengan senang. Dan GJA langsung menyanggupi akan mengirim beberapa copy artikel yang menurutnya saya harus baca.

Setelah hampir setahun, tahun 2000 buku yang kami rencanakan terbit. Sebgai editor, saya memberikan judul buku itu Cahaya Bintang Kejora: Papua Barat dalam Kajian Sejarah, Budaya, Ekonomi dan Hak Asasi Manusia“.

cahaya-bintang-kjoraGJA mendapat judul buku seperti itu cukup terkejut, namun menunjukkan raut muka yang cerah. Saya jelaskan bahwa judul itu diambil dari makna artikelnya yang berjudul “Bintang Kejora di Tengah Kegelapan Malam”. Jika malam yang tampak dari bintang, kan, cahayanya. GJA terkekeh sambil berkata, “ah, nakal juga kau.”

Baca Juga :   Papua 2017: Kenyang Wacana, Haus Tindakan

Tulisan-tulisan GJA memang tajam dan lirih. Bayangkan GJA menggugat historiografi Indonesia yang mengelapkan nasionalisme Papua.GJA memaparkan bahwa nasionalisme di Papua berkembang dalam tiga lapisan, yaitu etno-nasionalisme, nasinalisme merah-putih, dan nasionalisme kepapuaan yang berkehendak mandiri. Dalam perebutan hegemoni nasionalisme itu berbagai gerakan politik dan kekerasan terjadi di Papua. Namun semua itu hilang dalam historigrafi Indonesia, karena digelapkan.

Begitu pula ketika GJA mengupas persoalan bercocok tanam di pegunungan tengah Papua. GJA mengupas dengan tajam cara pandang yang merendahkan perkembangan teknologi bercocok tanam suku-suku pegunungan yang selama ini ada. Ubi atau petatas adalah hasil karya cocok tanam Papua yang hebat karena mampu merawat dan mengembangkan 57 varietas ubi jalar. Bahkan juga mampu berternak babi secara baik.

Tentang perlakuan aparat negara terhadap orang asli Papua, pisau analisa GJA jauh lebih tajam, tanpa tedeng aling-aling. Hal ini ia kupas dengan menyajikan bagaimana tindak-tanduk aparat negara terhadap grup musik Mambesak yang diawaki oleh Arnold Ap.

Mambesak merupakan grup musik dan kebudayaan yang mengangkat lagu-lagu dengan tema-tema kerakyatan. Hal itu dicurigai aparat karena Arnold yang seorang antropolog sedang menyusun gerakan budaya untuk melawan pemerintah. Alhasil, Arnold disekap dan kemudian ditemukan terbunuh. GJA menuliskan hal ini dengan tingkat emosi yang mendalam.

Sesungguhnya banyak sekali topik tulisan GJA tentang Papua. Namun, belum semua terhimpun. Jika memungkinkan tulisan-tulisan GJA tentang Papua bisa dihimpun dan diterbitkan menjadi buku.

Baca Juga :   Presiden Bentuk Sekretariat Bersama RANHAM

Karya tulis GJA tentang Papua bisa begitu kaya, karena GJA masuk langsung ke dalam riak dan gelombang masyarakat Papua. Ia bergaul mulai dari kalangan intelektual Papua yang ada di lingkungan gereja, universitas dan LSM, serta terjun langsung bergaul dengan orang-orang di kampung.

GJA memulai jejaknya di Papua sebagai direktur dan sekaligus peneliti di The Irian Jaya Development and Information Service (Irja Disc) tahun 1982. Kemudian berubah menjadi Yayasan Pembangunan Masyarakat Desa (YPMD) hingga tahun 1987. YPMD masih ada sampai sekarang, walau perannya sudah berkurang. Di lembaga inilah GJA memproduksi terbitan “Jurnal Dari Kampung” yang menampung gagasan-gagasan brilian mereka.

Dengan jejak langkah yang begitu panjang di Papua, GJA pantas dikenang untuk terus melanjutkan sikap kritisnya yang tajam dan empatinya yang dalam untuk Papua.

Selamat jalan GJA. Karya engkau abadi…


Pemerhati masalah sejarah politik. Saat ini aktif di INRISE dan Papua Resource Center - YLBHI.

Tinggalkan Balasan

Loading…

TINGGALKAN KOMENTAR