Banner Uhamka
Kamis, Oktober 1, 2020
Banner Uhamka

Islam, Komunisme, dan Bencana Ingatan Kolektif 65

Berebut Umat Islam di Perang Dunia II

Sepanjang Perang Dunia II (PD II), di antara umat agama yang diperebutkan oleh negara-negara kolonial adalah umat Islam. Pada waktu itu, negara-negara raksasa yang...

Jadikan Politik Sarana Ibadah Terbaik

Banyak kalangan mengeluh dengan realitas politik saat ini, dianggap tidak menentu ke mana arahnya dan tidak jelas polanya. Politik seperti teater yang dipentaskan di...

Gubernur Djarot dan Ide Pilgub Jakarta yang Tak Langsung

Melalui revisi UU No. 29/2007 tentang Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta, Pemerintah DKI Jakarta menawarkan perubahan mekanisme pemilihan gubernur DKI Jakarta. Saya yang mendengar...

Mau Apa dengan Rekonsiliasi?

Tujuan rekonsiliasi adalah mendamaikan individu, komunitas, ataupun masyarakat yang bertikai dan mengalami konflik. Selain memulihkan ikatan sosial, rekonsiliasi juga berupaya menyembuhkan luka dan trauma...
Avatar
Syahirul Alim
Magister Ilmu Politik Universitas Indonesia. Penulis lepas, pemerhati sosial, politik dan agama.

Satu-satunya tragedi kemanusian sepanjang sejarah republik ini yang sulit sekali dilupakan tampaknya adalah konflik berdarah antara umat Islam dan simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI). Banyaknya cerita yang tersebar mengenai pembantaian yang dilakukan oleh masing-masing kelompok, telah menancapkan ingatan kuat—baik sebagai pelaku maupun korban—yang belakangan ini justru menemukan momentumnya setelah marak isu soal kebangkitan kembali komunisme.

Sulit untuk dipungkiri, Islam dan komunisme tampaknya menjadi seteru abadi yang menjadi bencana sejarah ingatan kolektif atas suatu tragedi konflik. Rekonsiliasi nampaknya terlampau sulit dilakukan, karena masing-masing belum dapat diyakinkan bahwa tragedi kemanusiaan itu tak akan terulang lagi.

Tak hanya sebatas ingatan kolektif mengenai konflik, keberadaan komunisme sebagai sebuah ideologi politik seringkali dipertentangkan dengan agama, karena komunisme identik dengan atheisme yang menganggap agama adalah “musuh”. Entah apakah karena Karl Marx pernah menyatakan “agama adalah candu bagi masyarakat” sehingga komunisme kemudian dianggap memusuhi agama, dalam hal ini Islam.

Berbagai peristiwa sejarah kelam soal pembantaian umat Islam oleh simpatisan PKI digambarkan sedemikian mengerikan, sehingga bisa saja muncul semangat balas dendam yang selalu saja menguat kembali dari masa kemasa. Diakui maupun tidak, Islam dan komunisme di negeri ini sepertinya masih terpengaruh oleh dosa-dosa masa lalu yang sulit sekali dihapus, meski masing-masing telah saling meminta maaf.

Para eks PKI justru semakin tertekan. Padahal mereka bukanlah pelaku, tapi telanjur dianggap mewarisi dosa-dosa pendahulunya yang dicitrakan tetap “komunis” yang memusuhi agama, walau kenyataannya mereka sesungguhnya juga beragama. Belakangan muncul isu demonstrasi oleh umat Muslim, di antaranya menegaskan penolakan atas isu kebangkitan komunisme yang dipersoalkan melalui pemberlakuan Perppu Ormas.

Mempertentangkan Islam dengan komunisme untuk kasus Indonesia nampaknya berangkat dari sebuah ingatan kolektif tragedi kemanusiaan tahun 1965-1966,  di mana persepsi komunis adalah “musuh agama” sehingga keberadaannya tak boleh hidup kembali. Ingatan kolektif atas peristiwa konflik yang memicu kebencian dan permusuhan ini justru menjadi bencana kebangsaan jika tak dapat diselesaikan. Kita sepertinya terus memelihara bencana itu, tanpa ada keinginan untuk mengantisipasi, bahkan menanggulanginya.

Upaya-upaya konstruktif ke arah rekonsiliasi, dengan membuka fakta sejarah soal kebenaran sesungguhnya terhadap tragedi 52 tahun yang lalu atau berdamai, sepertinya tak akan pernah terwujud. Padahal, memaafkan setiap kesalahan, terlebih mendamaikan akibat konflik-konflik masa lalu, pernah ditunjukkan Rasulullah Muhammad ketika peristiwa Fathu Mekkah.

Ingatan kolektif soal tragedi kemanusiaan antara umat Islam dan PKI memang berhasil dipropagandakan oleh rezim Orde Baru. Bahkan secara nyata penguasa “memanfaatkan” umat Islam pada waktu itu untuk “membereskan” siapa saja yang mendukung PKI. Pembantaian massal para pendukung PKI bukanlah isapan jempol, termasuk keterlibatan partai pimpinan D.N Aidit ini mengeksekusi umat Muslim, khususnya para santri dan ulama yang tercatat dalam bingkai sejarah.

Entah kenapa sulit sekali membereskan bencana ingatan kolektif ini, karena masing-masing memang diklaim sebagai “korban” sekaligus “pelaku”. Kedua indikator ini memang sulit dipertemukan, terlebih di alam demokrasi yang masing-masing menuntut keadilan ditegakkan.
Mempertentangkan Islam dan komunisme bukan berarti tak menganggap ada pihak-pihak lain yang ikut terlibat dalam pertentangan ini. Namun, yang sangat dirasakan, sedemikian viral pengungkitan sejarah masa lalu soal PKI yang sedemikian “memusuhi” kalangan Islam, pun sebaliknya, membuat propaganda agar umat Muslim “membenci” dan “memusuhi” PKI serta isu kebangkitannya.

Dominasi pertentangan PKI dan umat Muslim pada tragedi 1965-1966 justru menghiasi setiap lembar gelap sejarah, direkonstruksi terus menerus, sehingga kebencian demi kebencian tetap tumbuh subur tak lapuk dimakan perjalanan usia. Entah dengan cara apa menutup dan melupakan setiap catatan kelam sejarah gelap bangsa ini. Padahal, ishlah (mendamaikan) merupakan perintah agama agar kita keluar dari jeratan konflik antarkelompok sosial.

Rekonsiliasi sepertinya hanya mimpi di siang bolong. Sulit menjadi kenyataan bahwa bangsa ini terbebas dari ingatan kolektif yang membelenggu secara turun-temurun, baik umat Muslim maupun eks-PKI yang masing-masing terus menuntut keadilan. Sepertinya kebanyakan di antara kita mudah sekali menciptakan “musuh”. Padahal, musuh abadi yang diajarkan oleh semua agama adalah setan, yang justru seringkali tanpa sadar mengalir senada dengan aliran darah kita sendiri.

Sungguh tak mudah mendamaikan antara Islam dan komunisme. Padahal, dalam sejarah Islam sendiri, berbagai tragedi kemanusiaan, baik akibat peperangan atau permusuhan, terbangun sebuah peradaban karena satu sama lain saling memaafkan dan melupakan.  Maka, agar ingatan kolektif soal tragedi 1965 ini tidak menuai bencana lebih besar, kita memang perlu sama-sama saling menyadari, enough is enough, mengakhiri bencana sejarah ini dengan, sekali lagi, rekonsiliasi!

Kolom terkait:

Ongkos-Ongkos “Aksi Bela Islam”

Ada Apa dengan Aksi Bela Islam?

Ingatan Kolektif 1965

Menjadi Indonesia Pasca-1965

Islam dan “Hantu” Komunis-Ateis

Avatar
Syahirul Alim
Magister Ilmu Politik Universitas Indonesia. Penulis lepas, pemerhati sosial, politik dan agama.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pilkada dan Jerat Klientelisme

Perhelatan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2020 mulai semarak. Kurang lebih 270 daerah (Kota/Kabupaten dan Provinsi) akan menyelenggarakan pesta demokrasi elektoral ini. Tentunya Pilkada tahun...

Pancasila dan Demokrasi Kita Hari Ini

Perjalanan demokrasi di Indonesia tidak selamanya sejalan dengan ideologi negara kita, Pancasila. Legitimasi Pancasila secara tegas tercermin dalam Undang-Undang Dasar 1945, dan difungsikan sebagai...

PKI, HMI, dan NU

Saya pernah membuka kliping koran Kedaulatan Rakyat (KR) tahun 1965-an, dari Januari sampai 30 September di Perpus DIY, Malioboro, tahun 2018. Waktu itu saya...

Dua Perwira di Bawah Pohon Pisang (Kenangan Kekejaman PKI di Yogya)

Yogya menangis. Langit di atas Kentungan muram. Nyanyian burung kutilang di sepanjang selokan Mataram terdengar sedih. What's wrong? Ono opo kui? Rakyat Ngayogyakarta risau, karena sudah...

Pilkada dan Pergulatan Idealisme

Invasi Covid-19 memang tak henti-hentinya memborbardir aspek kehidupan manusia secara komprehensif. Belum usai kegamangan pemerintah terkait preferensi mitigasi utama yang harus didahulukan antara keselamatan...

ARTIKEL TERPOPULER

Lebih Baik Dituduh PKI daripada PKS

Ini sebenarnya pilihan yang konyol. Tetapi, ketika harus memilih antara dituduh sebagai (kader, pendukung/simpatisan) Partai Komunis Indonesia (PKI) atau Partai Keadilan Sejahtera (PKS), maka...

Pengakuan Pak Harto: Malam Jahanam itu Bernama Kudeta

RAUT wajah Presiden Sukarno tampak menahan kesal teramat sangat. Sambil duduk, ia dihadapkan pada selembar kertas yang harus ditandatangani. Di sisi kanan Bung Besar,...

PKI, HMI, dan NU

Saya pernah membuka kliping koran Kedaulatan Rakyat (KR) tahun 1965-an, dari Januari sampai 30 September di Perpus DIY, Malioboro, tahun 2018. Waktu itu saya...

Narasi – Narasi Seputar G-30S 1965

Hingga hari ini, masih banyak masyarakat awam yang percaya bahwa dalang utama dibalik peristiwa G30S adalah PKI. Kepercayaan tersebut tidak bisa dilepaskan dari kampanye...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.