Minggu, Oktober 25, 2020

Islam Bung Karno

Pilkada, Golput, dan si Anak Tiri Demokrasi

"Kalau tidak ada yang bisa dipercaya, ngapain repot-repot ke kotak suara? Daripada nanti kecewa." Perkataan Gus Dur ini direkam di buku Mengapa Kami Memilih...

Bukan Fundamentalisme yang Menguat

Setelah Pilkada DKI Jakarta 2017, muncul perbincangan publik mengenai dugaan semakin menguatkan kelompok anti-demokrasi berbasis agama. Demokrasi dianggap berada di dalam ancaman menyusul semakin...

Libya, Suriah, dan Keruntuhan Klaim Antikekerasan HTI

Pada 19 Juli lalu, pemerintah melalui Kementerian Hukum dan HAM resmi mencabut SK badan hukum Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Terlepas dari pro-kontra mengenai demokratis...

Gus Dur, Pak Harto, dan Gelar Pahlawan Nasional

Akhir-akhir ini terbersit wacana dari beberapa kelompok untuk mengangkat mantan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan mantan Presiden Soeharto (Pak Harto) sebagai pahlawan nasional....
Avatar
Tsamara Amanyhttp://perempuanpolitik.id/
Ketua Bidang Eksternal DPP PSI, Penulis buku "Curhat Perempuan: Tentang Jokowi, Ahok, dan Isu-isu Politik Kekinian".

islam-bung-karno

Bung Karno lahir dari kedua orang tua yang berbeda agama. Ibunya, Ida Ayu Nyoman Rai, adalah seorang bangsawan Hindu dari kasta Brahmana. Sementara ayahnya seorang Jawa Muslim. Bung Karno dalam buku biografinya, Penyambung Lidah Rakyat, yang ditulis oleh Cindy Adams menceritakan bagaimana sulitnya pernikahan kedua orang tuanya karena status ibunya sebagai bangsawan.

Perbedaan agama antara ibu dan ayah Bung Karno menunjukkan bahwa Bung Karno bukan sekadar orang yang menganut agama Islam karena terlahir dari keluarga Islam. Menjadi Islam bagi Bung Karno adalah pilihan. Bukan sekadar pilihan untuk mengikuti jejak ayahnya saja, tapi pilihan yang lahir dari pertimbangan matang setelah mempelajari apa itu Islam.

Apa yang disebut Mochamad Nur Arifin dalam bukunya, Bung Karno “Menerjemahkan” Al-Quran, bahwa Bung Karno adalah sosok nasionalis-religius sangat tepat jika tidak seratus persen benar. Bung Karno percaya dengan kekuatan doa. Dan dalam setiap doanya itu, ia selalu memohon kepada Allah SWT agar ia bisa bermanfaat bagi bangsa dan negerinya.

“Saya tidak tahu, akan diberi hidup oleh Tuhan sampai umur berapa. Tetapi permohonanku kepadaNya ialah, supaya hidupku itu hidup yang manfaat. Manfaat bagi Tanah Air dan Bangsa, manfaat bagi sesama manusia. Permohonanku ini saya panjatkan pada tiap-tiap sembahyang. Sebab Dialah Asal segala Asal, Dialah “Purwaning Dumadi” 

Begitulah doa seorang nasionalis yang memiliki sisi religius begitu dalam. Menurut Bung Karno, doa ini selalu dipanjatkan setiap sehabis salat.

Nasionalisme Bung Karno tak perlu diragukan. Bahwa ia Islam by choice adalah kenyataan. Dan bahwa kepercayaannya kepada Islam begitu kuat pun tak dapat dipungkiri. Namun, Islam seperti apa yang sesungguhnya diinginkan Bung Karno, khususnya dalam konteks Indonesia?

Bung Karno mengkritik keras orang-orang Islam yang gemar melontarkan kata kafir kepada kebaruan dan kepada mereka yang berbeda. “Kita royal sekali dengan perkataan “kafir”, kita gemar sekali mencap segala barang yang baru dengan cap “kafir”,” katanya.

Ketika itu, Bung Karno melihat bagaimana produk-produk yang hadir karena pesatnya perkembangan zaman dikafirkan. Dimulai dari pengetahuan Barat hingga sendok dan garpu sekalipun. “Bergaul dengan bangsa yang bukan Islam pun, kafir!”

Yang membuatnya semakin geram adalah orang-orang yang mudah mengkafirkan ini merasa paling Islam semata-mata karena penampilannya saja, tampak luarnya saja. Bagi Bung Karno, yang semacam ini sudah menghilangkan roh Islam yang sesungguhnya.

“Siapa yang mukanya angker, siapa yang tangannya bau kemenyan, siapa yang matanya dicelak dan jubahnya panjang dan menggengam tasbih yang selalu berputar, dia, dialah yang kita namakan Islam. Astagfirullah! Inikah Islam?”

Bung Karno, yang gemar menjadikan buku Spirit of Islam karya Sayid Amir Ali sebagai panutan itu, menilai Islam adalah motor kemajuan. Islam dinamis sebagaimana berkembangnya zaman. Jika tak dinamis, Islam tak akan mampu hidup selama ini. Hidupnya Islam hingga detik ini membuktikan bagaimana dinamisnya agama ini yang dengan mudah disesuaikan dalam konteks zaman dan masing-masing negara.

Kritik Bung Karno ini juga mencakup sistem pemerintahan. Jika membaca artikel-artikelnya tentang Islam, Bung Karno menolak sistem khilafah di Indonesia. Khilafah menurutnya adalah barang lama yang tak bisa diaplikasikan dalam sistem masyarakat masa kini. Ia melihat khilafah tak sesuai dengan keperluan zaman.

Bung Karno mengajak masyarakat berpikir tentang bagaimana Islam seharusnya tak sekadar copy-paste saja dari zaman kekhalifahan dahulu. Harus ada sistem politik yang dapat mengatur masyarakat yang sesuai dengan setiap zamannya.

Pemikiran Bung Karno ini selaras dengan pernyataan Sayyidina Ali bin Abi Thalib, “Didiklah anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup bukan di zamanmu.”
Beda zaman, beda pula caranya. Karena itu, Bung Karno tak mau masyarakat Indonesia menjadi masyarakat yang kuno. Dirinya menekankan bahwa kita bukan masyarakat onta, kita adalah masyarakat kapal udara.

Meski Bung Karno selalu saja mengaitkan Islam dengan perkembangan zaman, sebenarnya esensi Islam bagi dirinya sama seperti esensi nasionalisme baginya pula. Bung Karno sepakat dengan Gandhi bahwa nasionalismenya adalah kemanusiaan. Begitupun dengan Islam yang bagi dirinya adalah soal kemanusiaan.

Hal ini bisa dilihat dari ceritanya soal tranfusi darah. Bung Karno sering membantu korban perang dengan memberikan donor darah kepada mereka. Namun oleh sebagian kalangan Islam, ini dikritik karena seharusnya seorang Muslim yang “suci” tidak boleh memberikan darahnya kepada seorang kafir yang “tidak suci” dan sebaliknya.

Bung Karno marah besar! Ia menilai ini cara pikir yang biadab. Dan Islam tak pernah mengajarkan kebiadaban semacam itu. Menurut Bung Karno, memberi bantuan darah kepada korban perang seharusnya sudah tidak melihat lagi apa suku, ras, dan agamanya. Ketika seseorang begitu membutuhkan bantuan darah, ia hanyalah seorang manusia biasa yang tak berdaya di hadapan Tuhannya. Lalu, mengapa sebagai manusia kita masih harus memikirkan siapa orang itu dan apakah pantas menerima darah kita?

Bung Karno mungkin ingin menatap masa depan Indonesia sebagai negara dengan penduduk Islam terbesar di dunia yang lebih sibuk membahas tentang sains. Tentang bagaimana Indonesia bisa mengembangkan berbagai macam teknologi terbarukan.

Bung Karno sudah pasti tak ingin kritik-kritiknya soal kafir-mengkafirkan masih relevan saat ini. Ia pasti berharap masalah Islam dan nasionalisme sudah tak lagi jadi perdebatan. Apalagi soal kemanusiaan yang menjadi esensi kita beragama dan bernegara.

Tapi bagaimana Islam di Indonesia hari ini? Apakah sudah sesuai dengan Islam yang diharapkan Sang Bapak Bangsa?

Baca juga:

Siapakah Orang Kafir Itu? [Telaah Kronologi dan Semantik Al-Qur’an]

Avatar
Tsamara Amanyhttp://perempuanpolitik.id/
Ketua Bidang Eksternal DPP PSI, Penulis buku "Curhat Perempuan: Tentang Jokowi, Ahok, dan Isu-isu Politik Kekinian".
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Refleksi Bulan Bahasa: Apa Kabar Perpres 63/2019?

Oktober adalah bulan yang sangat bersejarah dalam kehidupan bangsa Indonesia. Pada bulan inilah, 92 tahun silam terjadi peristiwa Sumpah Pemuda yang menjadi tonggak lahirnya...

Berlindung di Balik Topeng Kaca, Public Figure juga Manusia

Ketika Candil lewat Grup Band Seurieus, salah satu Band Rock Kenamaan tahun 2000-an awal ini menyuarakan pendapatnya lewat lagu Rocker juga Manusia, saya seratus...

Lelaki Dilarang Pakai Skin Care, Kata Siapa?

Kamu tahu penyakit lelaki: mau menunjukkan kegagahan! (Ayu Utami, Maya) Sering kali, drama dari negeri ginseng menampilkan para aktor maskulin dengan wajah glowing (bersinar) yang menggunakan skin care (perawatan kulit...

Digitalisasi Bisnis Saat Pandemi

Pandemi Covid-19 telah mengubah secara drastis dunia usaha. Dari pasar, proses bisnis, sumber pendanaan, konsumen, tenaga kerja, tempat kerja, hingga cara bekerja, semuanya berubah...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Sektor Bisnis di Indonesia

Sejak COVID-19 memasuki wilayah Indonesia pada Maret 2020, pemerintah mencanangkan regulasi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) alih-alih menerapkan lockdown. PSBB itu sendiri berlangsung selama...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Memperkuat Peran Politik Masyarakat

Salah satu kegagalan konsolidasi demokrasi elektoral adalah tidak terwujudnya pemilih yang cerdas dalam membuat keputusan di hari pemilihan. Menghasilkan pemilih cerdas dalam pemilu tentu...

10 Profesi Keren di Sektor Pertanian

Saudara saya tinggal di sebuah desa lereng Gunung Sindoro. Dari hasil pertanian, dia sukses menyekolahkan salah satu anaknya hingga lulus paska-sarjana (S2) dalam bidang...

Tanggapan Orang Biasa terhadap Demo Mahasiswa dan Rakyat 2019

Sudah dua hari televisi dihiasi headline berita demonstrasi mahasiswa, hal yang seolah mengulang berita di TV-TV pada tahun 1998. Saya teringat kala itu hanya...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.