Selasa, Maret 2, 2021

Islam Bung Karno

HTI dan Khilafah itu Produk Politik

Jika Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) melembagakan ide khilafahnya dengan membentuk organisasi massa, maka jelas khilafah merupakan sebuah produk politik. Sebuah produk politik tentu harus...

Peta Politik Pilgub Jatim dan Pilgub Jateng

Beberapa hari lalu, tepatnya Rabu (20/6), suasana di lingkungan makam Bung Karno, Blitar, Jawa Tengah, terasa berbeda. Megawati Soekarnoputri berziarah memperingati haul ke-48 Presiden...

Dalam Nyala Lilin Tuhan Mengetuk

Ribuan lilin menyala. Menghadirkan cahaya. Di banyak kota. Tak ada teriakan. Apalagi sumpah serapah. Doa cukup dilantunkan dalam diam. Karena Tuhan tak perlu dipanggil...

Fadli Zon dan Pahitnya Gula Belanda

Tahun politik di Indonesia dan atmosfirnya yang kian panas menjadi ajang bagi para simpatisan, baik pemerintah maupun oposisi, untuk melakukan manuver pelemparan isu kepada...
Avatar
Tsamara Amanyhttp://perempuanpolitik.id/
Ketua Bidang Eksternal DPP PSI, Penulis buku "Curhat Perempuan: Tentang Jokowi, Ahok, dan Isu-isu Politik Kekinian".

islam-bung-karno

Bung Karno lahir dari kedua orang tua yang berbeda agama. Ibunya, Ida Ayu Nyoman Rai, adalah seorang bangsawan Hindu dari kasta Brahmana. Sementara ayahnya seorang Jawa Muslim. Bung Karno dalam buku biografinya, Penyambung Lidah Rakyat, yang ditulis oleh Cindy Adams menceritakan bagaimana sulitnya pernikahan kedua orang tuanya karena status ibunya sebagai bangsawan.

Perbedaan agama antara ibu dan ayah Bung Karno menunjukkan bahwa Bung Karno bukan sekadar orang yang menganut agama Islam karena terlahir dari keluarga Islam. Menjadi Islam bagi Bung Karno adalah pilihan. Bukan sekadar pilihan untuk mengikuti jejak ayahnya saja, tapi pilihan yang lahir dari pertimbangan matang setelah mempelajari apa itu Islam.

Apa yang disebut Mochamad Nur Arifin dalam bukunya, Bung Karno “Menerjemahkan” Al-Quran, bahwa Bung Karno adalah sosok nasionalis-religius sangat tepat jika tidak seratus persen benar. Bung Karno percaya dengan kekuatan doa. Dan dalam setiap doanya itu, ia selalu memohon kepada Allah SWT agar ia bisa bermanfaat bagi bangsa dan negerinya.

“Saya tidak tahu, akan diberi hidup oleh Tuhan sampai umur berapa. Tetapi permohonanku kepadaNya ialah, supaya hidupku itu hidup yang manfaat. Manfaat bagi Tanah Air dan Bangsa, manfaat bagi sesama manusia. Permohonanku ini saya panjatkan pada tiap-tiap sembahyang. Sebab Dialah Asal segala Asal, Dialah “Purwaning Dumadi” 

Begitulah doa seorang nasionalis yang memiliki sisi religius begitu dalam. Menurut Bung Karno, doa ini selalu dipanjatkan setiap sehabis salat.

Nasionalisme Bung Karno tak perlu diragukan. Bahwa ia Islam by choice adalah kenyataan. Dan bahwa kepercayaannya kepada Islam begitu kuat pun tak dapat dipungkiri. Namun, Islam seperti apa yang sesungguhnya diinginkan Bung Karno, khususnya dalam konteks Indonesia?

Bung Karno mengkritik keras orang-orang Islam yang gemar melontarkan kata kafir kepada kebaruan dan kepada mereka yang berbeda. “Kita royal sekali dengan perkataan “kafir”, kita gemar sekali mencap segala barang yang baru dengan cap “kafir”,” katanya.

Ketika itu, Bung Karno melihat bagaimana produk-produk yang hadir karena pesatnya perkembangan zaman dikafirkan. Dimulai dari pengetahuan Barat hingga sendok dan garpu sekalipun. “Bergaul dengan bangsa yang bukan Islam pun, kafir!”

Yang membuatnya semakin geram adalah orang-orang yang mudah mengkafirkan ini merasa paling Islam semata-mata karena penampilannya saja, tampak luarnya saja. Bagi Bung Karno, yang semacam ini sudah menghilangkan roh Islam yang sesungguhnya.

“Siapa yang mukanya angker, siapa yang tangannya bau kemenyan, siapa yang matanya dicelak dan jubahnya panjang dan menggengam tasbih yang selalu berputar, dia, dialah yang kita namakan Islam. Astagfirullah! Inikah Islam?”

Bung Karno, yang gemar menjadikan buku Spirit of Islam karya Sayid Amir Ali sebagai panutan itu, menilai Islam adalah motor kemajuan. Islam dinamis sebagaimana berkembangnya zaman. Jika tak dinamis, Islam tak akan mampu hidup selama ini. Hidupnya Islam hingga detik ini membuktikan bagaimana dinamisnya agama ini yang dengan mudah disesuaikan dalam konteks zaman dan masing-masing negara.

Kritik Bung Karno ini juga mencakup sistem pemerintahan. Jika membaca artikel-artikelnya tentang Islam, Bung Karno menolak sistem khilafah di Indonesia. Khilafah menurutnya adalah barang lama yang tak bisa diaplikasikan dalam sistem masyarakat masa kini. Ia melihat khilafah tak sesuai dengan keperluan zaman.

Bung Karno mengajak masyarakat berpikir tentang bagaimana Islam seharusnya tak sekadar copy-paste saja dari zaman kekhalifahan dahulu. Harus ada sistem politik yang dapat mengatur masyarakat yang sesuai dengan setiap zamannya.

Pemikiran Bung Karno ini selaras dengan pernyataan Sayyidina Ali bin Abi Thalib, “Didiklah anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup bukan di zamanmu.”
Beda zaman, beda pula caranya. Karena itu, Bung Karno tak mau masyarakat Indonesia menjadi masyarakat yang kuno. Dirinya menekankan bahwa kita bukan masyarakat onta, kita adalah masyarakat kapal udara.

Meski Bung Karno selalu saja mengaitkan Islam dengan perkembangan zaman, sebenarnya esensi Islam bagi dirinya sama seperti esensi nasionalisme baginya pula. Bung Karno sepakat dengan Gandhi bahwa nasionalismenya adalah kemanusiaan. Begitupun dengan Islam yang bagi dirinya adalah soal kemanusiaan.

Hal ini bisa dilihat dari ceritanya soal tranfusi darah. Bung Karno sering membantu korban perang dengan memberikan donor darah kepada mereka. Namun oleh sebagian kalangan Islam, ini dikritik karena seharusnya seorang Muslim yang “suci” tidak boleh memberikan darahnya kepada seorang kafir yang “tidak suci” dan sebaliknya.

Bung Karno marah besar! Ia menilai ini cara pikir yang biadab. Dan Islam tak pernah mengajarkan kebiadaban semacam itu. Menurut Bung Karno, memberi bantuan darah kepada korban perang seharusnya sudah tidak melihat lagi apa suku, ras, dan agamanya. Ketika seseorang begitu membutuhkan bantuan darah, ia hanyalah seorang manusia biasa yang tak berdaya di hadapan Tuhannya. Lalu, mengapa sebagai manusia kita masih harus memikirkan siapa orang itu dan apakah pantas menerima darah kita?

Bung Karno mungkin ingin menatap masa depan Indonesia sebagai negara dengan penduduk Islam terbesar di dunia yang lebih sibuk membahas tentang sains. Tentang bagaimana Indonesia bisa mengembangkan berbagai macam teknologi terbarukan.

Bung Karno sudah pasti tak ingin kritik-kritiknya soal kafir-mengkafirkan masih relevan saat ini. Ia pasti berharap masalah Islam dan nasionalisme sudah tak lagi jadi perdebatan. Apalagi soal kemanusiaan yang menjadi esensi kita beragama dan bernegara.

Tapi bagaimana Islam di Indonesia hari ini? Apakah sudah sesuai dengan Islam yang diharapkan Sang Bapak Bangsa?

Baca juga:

Siapakah Orang Kafir Itu? [Telaah Kronologi dan Semantik Al-Qur’an]

Avatar
Tsamara Amanyhttp://perempuanpolitik.id/
Ketua Bidang Eksternal DPP PSI, Penulis buku "Curhat Perempuan: Tentang Jokowi, Ahok, dan Isu-isu Politik Kekinian".
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Kasus Khashoggi Makin Mendunia

Hari ini, 1 Maret 2021, Biden mau umumkan resmi di Washington keterlibatan MBS dalam pembunuhan Kashoggi. Menarik. KAS pasti meradang. Ini konflik pertama, yg sulit...

Jujur Itu Hebat, Artidjo Personifikasi dari Semua Itu

Satu demi satu orang tumbang dibekap covid, penyakit lain atau karena usia. Pagi ini saya kembali dikejutkan oleh berpulangnya Artidjo Alkostar, kawan lama yang...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

ARTIKEL TERPOPULER

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Jurnalisme Copy-Paste

Jurnalisme copy-paste adalah pekerjaan mengumpulkan, mencari dan menulis berita dengan menggunakan teknik salin menyalin saja. Seperti ambil berita di media lain atau dapat dari...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.