Kamis, Februari 25, 2021

Hoaks Baik bagi Demokrasi? Tunggu Dulu!

Mengapa Nara Rakhmatia?

Keputusan Indonesia memerintahkan diplomat junior membacakan tanggapan resmi atas pernyataan enam kepala negara Pasifik menuai sejumlah tanggapan negatif. Kata mereka, diturunkannya Nara menunjukkan bahwa...

Andaikan Aku Anies Baswedan

Judul ini menyontek tulisan legenda Soewardi Soerjaningrat yang kelak menukar namanya menjadi KH Dewantara: “Andai Aku Seorang Belanda”. Judul aslinya adalah "Als Ik een...

Habib Rizieq, Gus Nadir, dan Sukacita untuk Sekalian Alam

Habib Rizieq Shihab (HRS) yang batal pulang setelah dikabarkan hendak mendarat pada 21 Februari 2018 di Jakarta menyisakan beragam spekulasi. Beragam komentar warganet memenuhi...

Teror #2019GantiPresiden, dari Tagar hingga Intimidasi

Gerakan dengan tagar #2019GantiPresiden bukan hanya di media sosial seperti Twitter dan Facebook, bukan pula sebatas kaos, ia merangsek ke ruang publik Car Free...
Avatar
Husni Mubarok
Peneliti Pusat Studi Agama dan Demokrasi (PUSAD), Yayasan Paramadina, Jakarta. Graduate Student Center for Religious and cross-Cultural Studies (CRCS), UGM. Beberapa hasil risetnya terbit dalam "Kontroversi Gereja di Jakarta" (2011) dan "Pemolisian Konflik Keagamaan di Indonesia" (2014).

“Ini adalah upaya untuk mematikan demokrasi,” begitu komentar Fadli Zon mengomentari pengungkapan the Family Muslim Cyber Army, jaringan di grup Whatsapp, yang selama ini menyusun, membuat, dan merangkai berita bohong, oleh kepolisian.

Komentar yang keluar dari anggota parlemen ini keliru dan menyesatkan. Hoaks tidak bisa dilihat sebagai berdiri sendiri, terisolasi dari hal-hal lainnya. Hoaks hidup dalam ruang politik tertentu. Hoaks dibuat untuk tujuan lebih besar dari sekadar merekayasa berita. Hoaks adalah alat propaganda politik.

Untuk menjelaskannya, mari sejenak menengok temuan riset Cherian George dalam buku, yang telah diterjemahkan PUSAD Paramadina, Pelintiran Kebencian: Rekayasa Ketersinggungan Agama dan Ancamannya bagi Demokrasi (2017). George membedakan antara ujaran kebencian (hate speech) dan pelintiran kebencian (hate spin).

Keduanya sama-sama berkaitan dengan kebencian. Jika ujaran kebencian menyerang pihak lain secara langsung, pelintiran kebencian menggabungkan ujaran kebencian dengan kemarahan akibat ketersinggungan.

Pada ujaran kebencian, dengan atau tanpa hoaks, si pengujar akan dengan terang-terangan mengajak untuk menghakimi atau merusak pihak yang dibenci. Contoh paling lantang adalah ajakan pemuka agama untuk menjelek-jelekkan atau menista mereka yang menganut aliran yang dianggap sesat. Bisa jadi ada berita bohong, bisa juga tidak, pada ajakan tersebut. Tetapi ajakan tersebut berbentuk ajakan langsung menghasut atas nama kebencian kepada pihak lain.

Sementara itu, pelintiran kebencian tidak secara langsung mengajak massa menyerang pihak lain. Menurut Cherian George, pelintiran kebencian memerlukan dua sisi: sisi hasutan dan sisi keterhasutan. Agar bisa menghasut, pemelintir perlu isu. Namanya hasutan, isu yang diangkat mesti perkara yang tidak jelas atau bila perlu bohong. Dalam konteks ini, berita palsu adalah barang paling pas untuk menghasut.

Ketika hasutan melalui hoaks sudah sampai ke masyarakat, pada gilirannya mereka akan menimbulkan kemarahan, alias mereka terhasut. Semakin banyak orang terhasut, semakin berhasil ia sebagai pemelintir kebencian. Dengan demikian, semakin besar pula peluang mereka memobilisasi untuk gerakan massa yang lebih luas.

Mari kita lihat salah satu contoh hoaks yang baru saja terbongkar. Berita palsu yang beredar berbunyi “15 juta anggota PKI dipersenjatai untuk bantai ulama”. Pernyataan ini disertai foto ratusan orang berpakaian ala militer yang sedang berlatih dan pada pakaiannya itu ada simbol PKI, palu dan arit. Berita ini bukan ujaran kebencian karena tidak ada ajakan langsung untuk menyerang PKI, dan yang anggota PKI yang mungkin diserang juga tidak ada.

Hoaks di atas lebih tepat dibaca sebagai bagian dari pelintiran kebencian yang lebih luas. “15 juta anggota PKI”, misalnya, adalah hasutan si pembuat hoaks bahwa anggota PKI kini sudah melebihi penduduk Jakarta, 10-an juta jiwa. Hasutan lainnya mereka tengah berlatih senjata. Jika digabungkan, bunyi hasutannya: anggota PKI yang sudah melebihi jumlah penduduk Jakarta tengah mempersiapkan diri berperang.

Hasutan ini tidak berhenti di berita palsu ini. Mereka membagikan ke akun media sosial dengan menyertakan bumbu, misalnya, “pantas saja penganiaya ulama dibiarkan. Siapa coba di belakang pasukan ini kalau bukan penguasa dzalim.” Di sinilah propaganda politik masuk: Penguasa adalah pihak di balik pasukan PKI. Propaganda ini adalah pintu masuk untuk membangkitkan keterhasutan masyarakat.

Hoaks, dengan demikian, adalah unsur yang merusak, alih-alih memperkuat, demokrasi. Keterlibatan warga negara untuk turut memantau pemerintah dengan cara propaganda politik melalui menyebarkan berita bohong tidak memberi manfaat apa-apa. Hoaks justru memperburuk hubungan antara warga dengan pemerintah karena materi yang menghubungkan keduanya kebohongan, alias berita yang dibuat-buat.

Dengan hoaks “15 juta pasukan PKI”, misalnya, tidak bisa menjadi kritik kepada pemerintah karena 15 juta itu tidak pernah ada. 15 juta, sebagaimana telah ditunjukkan di atas, membuat hati penerima beritanya panas dan benci kepada pemerintah karena dianggap membiarkannya. Kebencian dan keterhasutan ini sama sekali tidak mengoreksi kebijakan pemerintah yang, misalnya, masih lemah dalam bidang pendidikan atau pelayanan kesehatan.

Siapa sesungguhnya pembuat hoaks? George menyebut ada wirausahawan politik sebagai yang paling berkepentingan dengan hate spin yang menggunakan hoaks sebagai alatnya. Mereka ini wirausahawan yang mengambil untung dari ketegangan politik. Semakin tegang, semakin terbelah, semakin mereka untung. Sementara itu, pihak yang paling berkepentingan dengan jasa pembuat hoaks, dalam konteks ini, adalah para pemain di dunia politik.

Lalu, siapa distributornya? Distributor utamanya adalah mereka yang percaya dan dengan mudah membagikannya di media sosial. Orang sering kali tidak sadar bahwa dirinya sudah menjadi distributor hoaks. Setiap hari berita palsu beredar di berbagai media, khususnya media sosial, di mana kita akses melalui telepon genggam setiap saat. Sekali membagikannya, para pembuat hoaks bersuka cita karena mereka telah resmi mempunyai distributor secara gratis. Apalagi jika berkali-kali.

Saya, Anda, dan kita semua harus waspada terhadap berita hoaks. Jika tidak hati-hati dan terjebak menjadi distributor hoaks, kita bisa berurusan dengan pihak berwajib. Seorang guru baru-baru ini mendekam di penjara karena mengedarkan berita palsu tentang 15 juta PKI di atas. Selain tidak bisa bekerja, menjadi pesakitan adalah beban tersendiri secara moral di masyarakat. Menurut polisi, di antara jaringan yang terbongkar pada Muslim Cyber Army, ada seorang yang berprofesi sebagai dosen, pengajar di tingkat perguruan tinggi!

Karenanya, sudah saatnya kita melawan penyebaran hoaks. Caranya sederhana: Ketika berita yang tidak jelas sumbernya dengan gambar yang mencurigakan masuk ke Whatsapp pribadi atau grup, atau melewati di timeline Facebook, atau muncul di layar Instagram, segera hapus. Dengan begitu, kita telah turut serta menghentikan penyebaran hoaks.

Kolom terkait?

Facebook: Ladang Dakwah atau Medan Ujaran Kebencian?

Hoaks dan Nalar Kita

Membangun Hoaks ala Amerika

Menjaga Kewarasan di Era Pasca Kebenaran

Melawan Politik Kebencian

Avatar
Husni Mubarok
Peneliti Pusat Studi Agama dan Demokrasi (PUSAD), Yayasan Paramadina, Jakarta. Graduate Student Center for Religious and cross-Cultural Studies (CRCS), UGM. Beberapa hasil risetnya terbit dalam "Kontroversi Gereja di Jakarta" (2011) dan "Pemolisian Konflik Keagamaan di Indonesia" (2014).
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Sejarah Palestina dan Hubungannya dengan Kita

Usai Kekalahan Ottoman pada perang dunia 1 yakni pada (1914 - 1918) wilayah Palestina - Israel sejak 1922 berada di bawah mandat Inggris. Peluang...

Asesmen dan Metode Wawancara dalam Psikologi Klinis

Seperti yang kita tahu, bahwa psikologi merupakan sesuatu yang sangat identik dengan kehidupan manusia, karena psikologi berpengaruh terhadap kehidupan seseorang. Psikologi yang kurang baik...

Kajian Anak Muda Perspektif Indonesia

Sejak awal, perkembangan kajian anak muda dalam perspektif Indonesia telah menjadi agenda penting dan strategis. Sebagai bidang penelitian yang relatif baru, tidak dapat dipungkiri...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Polemik Pernikahan Dini Masa Pandemi

Menyebarnya virus covid 19 di Indonesia sangat cepat dan menyeluruh ke berbagai wilayah dari kota besar sampai daerah pelosok desa. Virus ini terjadi mulai...

ARTIKEL TERPOPULER

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Kajian Anak Muda Perspektif Indonesia

Sejak awal, perkembangan kajian anak muda dalam perspektif Indonesia telah menjadi agenda penting dan strategis. Sebagai bidang penelitian yang relatif baru, tidak dapat dipungkiri...

Revitalisasi Bahasa Daerah Melalui Tradisi Santri

Bahasa daerah merupakan bahasa awal yang digunakan manusia dalam berkomunikasi. Melihat bahasa daerah di Indonesia sangat banyak ragamnya dan merupakan kekayaan budaya Indonesia, seiring...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Menilik Pencekalan Panglima Gatot

Insiden diplomatik antara Amerika Serikat dan Indonesia terjadi hari Sabtu lalu, (21/10/2017) di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Kejadiannya, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dicekal untuk...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.