OUR NETWORK

Habib Rizieq, Gus Nadir, dan Sukacita untuk Sekalian Alam

Sebelum festival bela Islam berjilid-jilid berlangsung, Rizieq adalah ulama pinggiran. Meminjam istilah Najib Burhani (2016), dalam konteks akademik HRS disebut low-brow ulama dan sering dikontraskan dengan high-brow ulama semisal Quraish Shihab atau Kiai Ma’ruf Amin.

Habib Rizieq Shihab (HRS) yang batal pulang setelah dikabarkan hendak mendarat pada 21 Februari 2018 di Jakarta menyisakan beragam spekulasi. Beragam komentar warganet memenuhi linimasa media sosial. Ada yang pro dan tidak sedikit juga yang kontra.

Prof. Nadirsyah Hosen alias Gus Nadir, misalnya, sempat kebanjiran mention di akun twitternya @na_dirs sesaat setelah dia menyoroti perihal HRS. Bahkan ada yang sampai memblokir akunnya.

Bagi saya, ini sangat menyedihkan. Bukan soal kicauan atau akun Prof. Nadir yang kehilanggan followers karena kena blokir, tetapi soal asbabul blokir yang sungguh teramat absurd. Pasalnya, ada sebuah akun yang menjadikan hadits tentang keturunan Kanjeng Nabi sebagai legitimasi bahwa umat tidak boleh mengkritik HRS.

Namun, naas, ternyata hal itu ditanggapi betul oleh Prof Nadir dengan menyampaikan pandangan dari sejumlah ulama tentang kelemahan sanad dari hadits tersebut. Terang saja Prof. Nadir diblokir oleh akun yang entah ke mana gerangannya itu.

Sebelumnya, kepergian HRS ke Arab Saudi ditengarai melaksanakan ibadah umrah. Akan tetapi pada saat yang sama, dia tengah menyandang status sebagai tersangka chat mesum dengan salah satu rekanita dari simpatisan aksi damai 212 yang dia inisiasi.

Bagi kubu pendukung HRS, kasus yang mendera pemimpinnya itu merupakan rekayasa belaka dan oleh sebab itu pihak berwenang bahkan rezim pemerintah dianggap sebagai aktor kriminalisasi ulama. Namun, pada saat yang sama kepulangan HRS justru mengharap disambut oleh Presiden.

Bahkan, beredar juga kabar jika HRS akan sudi balik ke Tanah Air jika dijemput oleh Gubernur Jakarta Anies Baswedan. Ini sebagai bentuk moral balas budi karena HRS dianggap telah berkontribusi memenangkannya dalam pemilihan gubernur paling fenomenal 2017 lalu.

Sementara, di mata mereka yang berseberangan terhadap manuver HRS, kepergiannya itu adalah pelarian alias mangkir dari kursi peradilan. Sebab itulah salah satu founding Presidium Alumni (PA) 212, Faisal Assegaf turut menyatakan bahwa HRS perlu meneladani sikap ksataria dari sang rival, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Sontak, statement itu pun dinilai telah mencemari nama HRS dan burujung pada penonaktifan Faisal dari PA 212 (detik.com, 20/02/2018).

Lepas dari segala prasangka itu, harus saya akui bahwa HRS merupakan representasi pendakwah milenial yang cukup moncer, bahkan tanpa musti memenangkan pildacil terlebih dahulu.

Betapa tidak, bermodal mimik yang cukup sangar, didukung orasi yang berapi-api, dan lalu ditambah dengan penyedap amar ma’ruf nahi munkar meniscayakan pendengarnya terhipnotis, sehingga tidak sedikit yang menelan mentah-mentah apa yang dia sampaikan tanpa sempat menelaah terlebih dulu apa dan bagaimana setiap persoalan itu mesti didudukkan sesuai konteksnya.

Kendati dianggap sebagai ulama, sebelum festival bela Islam yang berjilid-jilid itu berlangsung, HRS adalah ulama pinggiran. Meminjam istilah Ahmad Najib Burhani (2016), dalam konteks akademik HRS biasanya disebut low-brow ulama dan sering dikontraskan dengan high-brow ulama semisal Prof. Quraish Shihab atau Kiai Ma’ruf Amin.

Artinya, lanjut Najib, HRS adalah ulama yang kurang didukung oleh penguasaan ilmu keagamaan yang luas dan pendidikan keagamaan yang panjang. Meski tentu saja bila dibandingkan dengan para dai selebritis, HRS jauh lebih otoritatif.

Walau dan bagaimanapun orang memandang HRS, pecahnya aksi bela Islam yang kemudian spesifik membentuk aliansi 212 senyatanya telah mengubah dia dari yang marjinal menjadi salah satu tokoh di kancah nasional.

Namun, pada titik ini, saya kira pengertian ulama bagi mereka telah mengalami reduksi dan eksklusivitas definisi. Dipikirnya ulama adalah yang berjubah dan gemar memberi khotbah an sich. Dengan begitu, mengadaptasi istilah Aa’ Gym di ulang tahun TV swasta belum lama ini, tidak sedikit orang kemudian tertipu dengan tampilan/wadah sementara mengabaikan isi yang sesungguhnya jauh lebih penting.

Di lain pihak, ulama jika merujuk pada sabda Kanjeng Nabi Muhammad memang secara redaksional disebut sebagai pewaris para Nabi. Meski jika ditinjau secara gramatikal dengan bahasa orinya sabda Nabi (Arab), ulama merupakan bentuk plural dari kata alim (seorang ilmuan).

Dalam pengertian itulah, saya kira tepat sekali ketika Prof Mahfud MD (2018) mengartikan ulama dengan seorang ilmuan. Kendati saat itu yang dibahas bukanlah ulama sebagai pewaris para Nabi, melainkan perkataan Imam Ghazali yang menyebut bahwa kadang rusaknya pemerintah bisa jadi disebabkan oleh rusaknya ulama.

Sayangnya, dalam tradisi kebahasaan kita, ulama lebih akrab disematkan kepada seseorang yang ahli agama Islam. Memang, hal itu tidaklah keliru. Akan tetapi jika ada orang yang tiba-tiba vokal membincang Islam seolah paling tahu, padahal hanya bermodal sabda “ballighuu ‘annii walau aayat” (sampaikanlah walau satu ayat), dan lalu merasa pantas disebut ulama, itu saya kira soal lain.

Lebih ngehek lagi, jika ulama-ulama seperti yang terakhir itu kian diikuti banyak orang. Kontan mereka dengan begitu ajaibnya menebar permusuhan bermotif kecurigaan berupa propaganda kafir,  munafik, sesat-menyesatkan, meski atas nama pembelaannya terhadap agama bahkan Tuhan—yang sejatinya tidak membutuhkan pembelaan dari seorang yang beragama secara amatiran sekalipun.

Padahal, agama itu ada untuk mendamaikan bukan mencerai-beraikan. Kalau dalam istilah Islam adalah sebagai sukacita untuk sekalian alam. Watak keagamaan seperti itulah yang diajar-wariskan oleh Kanjeng Nabi Muhammad melalui para ulama masa lalu yang tidak antiperbedaan.

Praktis, meminjam bahasa Prof. Mahfud MD dalam Indonesia Lawyers Club (ILC) saat membahas topik ‘Teror ke Pemuka Agama’ beberapa waktu lalu, bahwa umat yang beragama itu mestinya tidur pun nyenyak, makannya enak, selalu senyum, disenangi oleh orang lain dan menyenangi orang lain.

Dan sepertinya hampir sulit sekali membayangkan bahwa mereka yang beragama tapi masih gemar menebar kebencian dan narasi permusuhan akan menjadi damai nan sentausa hidupnya.

Kolom terkait:

Ulama dalam Pusaran Politik

Ulama Sejati dan Ulama Penebar Kebencian

Kaleidoskop 2017: Tahun Keprihatinan Beragama

Gus Mus dan Akhlak yang Hilang dari Kita

Khutbah: Antara Kebebasan dan Ujaran Kebencian

Alumnus STAI Sunan Pandanaran Yogyakarta

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…