OUR NETWORK

Gus Ipul dan Politik Dangdut di Jawa Timur

Dangdut sebagai hiburan tentu bersifat sementara untuk menghilangkan penatnya. Dangdut bukanlah kebutuhan pokok, hanya kebutuhan pelengkap saja. Di sinilah posisi politik berada, yakni jangan ditempatkan seperti dangdut, yang hanya sebatas tontonan bagi rakyat atas penatnya derita hidup.

Semakin ramai saja Pilkada Jawa Timur kali ini. Tak hanya dari sisi pemberitaan di jejaring media sosial, suasana duel antarpasangan calon juga kian gemuruh. Yang bikin tambah grengseng tentunya karena masing-masing pasangan telah menyiapkan strategi pilkadanya. Strategi di sini memang penting, demi menggapai tujuan, yakni memenangi pilkada. Tanpa strategi yang jitu, bisa-bisa kekalahan yang diraih.

Ngomong-ngomong soal strategi, ada yang baru lho di perhelatan Pilkada Jawa Timur. Di antaranya adalah pasangan Saifullah Yusuf alias Gus Ipul dan Puti Guntur Soekarno menggandeng duo pedangdut muda yang sedang ngehits di zaman now. Para penggemar dangdut tentu tak asing dengan mereka. Ya, siapa lagi kalau bukan Via Vallen dan Nella Kharisma. Mereka ini dikontrak khusus untuk menjadi model dan pengisi suara lagu kampanye berjudul Kabeh Sedulur, Kabeh Makmur.

Bikin jedag-jedug bukan, Via dan Nella akan diajak meramaikan kampanye Gus Ipul–Puti? Harapannya sih kedua pedangdut koplo tersebut bisa menarik generasi minenial. Siapa sih vianisty, sebutan bagi fans Via, yang tidak klepek-klepek ketika pujaan hatinya itu sedang bernyanyi? Siapa pula Nella Lovers, sebutan penggemar Nella, yang tidak berdecak kagum saat biduannya beraksi di panggung?

Faktor inilah sepertinya yang membuat pasangan Gus Ipul–Puti merekrut biduan-biduan cantik tersebut. Apalagi mereka berlaga di Jawa Timur, tempat para pencipta dan penggemar dangdut koplo berkreasi. Kalau sudah menyebut dangdut, warga di warung kopi hingga cafe-cafe langsung serrr turut bergoyang. Tentu ini menarik untuk konteks kampanye.

Di jagat dangdut nama Via Vallen jelas begitu moncer. Jejaring medsosnya saja penuh sesak dengan para fans. Facebook Via memiliki 477.000 followers, Twitter 117.000 followers, Instagram 4,7 juta followers, dan kanal Youtube memiliki 187.000 subscribers. Kondang jaya, bukan? Belum lagi singel lagu Sayang yang telah ditonton sebanyak 122.726.021 kali. Ini menjadi bukti bahwa pedangdut kelahiran Surabaya ini demikian famous di jagat milenial pengguna medsos.

Kompatriotnya, Nella Karisma, pun tak kalah cetar. Sebagai pedangdut generasi baru yang muncul setelah Via, Nella memiliki penggemar yang banyak juga. Jejaring Facebooknya memiliki 145.146 followers, Instagram 1,9 juta followers, kanal Youtube memiliki 23.000 subscribers. Keren, kan?

Wajar saja kalau Gus Ipul dan Puti pun ikut-ikutan klepek-klepek dan ingin menggandeng dua biduan tersebut. Daya tarik mereka jelas menjadi keuntungan tersendiri untuk mendulang suara.

Lalu, bagaimana dengan pasangan Khofifah Indar Parawansa–Emil Dardak? Apakah mereka juga ikut-ikutan merekrut musisi papan atas untuk menandingi lawan duel pilkadanya? Ternyata tidak. Pasangan Khofifah–Emil lebih memilih mendekati para seniman dan budayawan. Kabarnya, mereka merekrut Cak Lontong yang dikenal kocak dan kritis.

Di mata generasi zaman now yang doyan nonton televisi dan Youtube, Cak Lontong tentu tidak asing. Gaya lawaknya bukan pada gerakan tubuh, tapi pada permainan kata yang penuh ide dan kreasi. Ia juga sering menyentil situasi sosial–politik dengan nada humor yang menyegarkan. Maka, pantas jika Khofifah–Emil ingin menggandengnya untuk kampanye.

Tak cukup sampai di sini, generasi milenial kabarnya juga akan dijaring dengan kelincahan dan pengalaman istri Emil. Siapa lagi kalau bukan si cantik Arumi Bachsin. Mantan pesinetron yang dikenal memiliki pesona wajah yang aduhai itu, dikatakan oleh kubu Khofifah–Emil sudah paham bagaimana mengakomodiasi suara milenial. Hal inilah yang ingin mereka tekankan. Harapannya tentu saja bisa mendulang suara dari masyarakat.

Tak Sebatas Dangdut

Menarik memang mencermati strategi masing-masing pasangan calon di atas, dan itu tentu sah-sah saja dilakukan. Dengan catatan, tidak saling melukai dan menjatuhkan antarkontestan pilkada. Strategi hanyalah sebuah upaya, soal menang dan kalah di ujung perjuangan nanti, biar waktu yang menjawab. Tentu yang siap menang juga harus siap kalah. Dua hal ini merupakan perkara wajar dalam konteks berdemokrasi.

Yang perlu menjadi permenungan bersama adalah ihwal menempatkan posisi politik agar tak sebatas rasa dangdut atau kesenian. Sifat dangdut atau kesenian, selain sebuah kreativitas yang patut diapresiasi, juga dijadikan ajang hiburan. Dangdut sebagai hiburan tentu sifatnya sementara untuk menghilangkan penatnya aktivitas. Dangdut bukanlah kebutuhan pokok, hanya kebutuhan pelengkap saja.

Di sinilah posisi politik berada, yakni jangan ditempatkan seperti dangdut, yang hanya sebatas tontonan bagi rakyat atas penatnya derita hidup. Politik itu bukan semata ajang untuk menghibur rakyat agar lupa akan nasibnya, tetapi benar-benar menjadi ajang untuk mewujudkan kemaslahatan bersama. Politik itu alat, sedangkan keadilan, kesejahteraan, dan ketentraman hidup, itu tujuannya.

Rakyat sudah jenuh dengan obral dan janji-janji manis, semacam manisnya senyum Via dan Nella saat bergoyang. Rakyat juga sudah penat dengan tarian politikus yang menggunakan jabatan untuk kepentingannya sendiri. Tugas politikus tak seringan Via atau Nella yang mengajak fans bernyanyi dan bergembira, tetapi menciptakan negeri ini makmur dan sejahtera.

Politik dangdut inilah yang tidak kita inginkan dalam kontenstasi pilkada kali ini. Tentu tidak sebatas pilkada di Jawa Timur, tetapi di semua tempat. Ada 171 pilkada di seluruh Indonesia yang akan berlangsung di 2018 berdasarkan data Komisi Pemiihan Umum (KPU). Rinciannya adalah 17 provinsi, 39 kota, dan 115 kabupaten. Itu artinya akan banyak pemimpin bermunculan baik bupati, wali kota, hingga gubernur. Pemimpin-pemimpin tersebut itulah yang akan merias wajah Indonesia ke depan.

Kita berharap betul pemimpin-pemimpin yang lahir di pilkada tersebut nanti menjadi sosok yang berkualitas. Pemimpin yang memperjuangkan nasib rakyat, bukan hanya pemimpin yang membutuhkan suara rakyat jelang pilkada atau pilpres, misalnya. Pemimpin yang menjadikan rakyat bisa tersenyum karena kebijakan yang berpihak, bukan semata tersenyum karena dihibur oleh dangdut dan lawak.

Kolom terkait:

Langkah Ciamik Gus Ipul Menggandeng Via Vallen-Nella Kharisma

Jalan Terjal Khofifah di Pilkada Jatim 2018

NU yang “Nothing To Lose” di Jawa Timur

Pengurus LTN PWNU DIY. Analis Studi Politik di Lembaga Pengkajian Teknologi dan Informasi (LPTI) Pelataran Mataram.

TINGGALKAN KOMENTAR

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…