Minggu, Oktober 25, 2020

Gubernur Anies Memang Beda

Pancasila, Kawah Candradimuka, dan Anti Absolutisme

Dalam pidatonya tentang Pancasila yang masyhur itu, Sukarno berbicara tentang Pancasila sebagai Weltanschauung, sebuah pandangan tentang dunia dan kehidupan. Di mata Bung Karno, Pancasila...

Kesaktian Setnov, Kerapuhan Pancasila

Akhir pekan lalu kita dikejutkan dengan status Setya Novanto (Setnov) yang bebas dari kasus dugaan korupsi e-KTP. Hakim tunggal Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Cepi...

Mau Apa dengan Rekonsiliasi?

Tujuan rekonsiliasi adalah mendamaikan individu, komunitas, ataupun masyarakat yang bertikai dan mengalami konflik. Selain memulihkan ikatan sosial, rekonsiliasi juga berupaya menyembuhkan luka dan trauma...

Kaleidoskop 2017: Perhelatan Politik Minus Literasi

Sepanjang tahun 2017 ini banyak perhelatan politik yang menarik dicermati. Selain karena menimbulkan sejumlah anomali politik atau bahkan kegaduhan politik, perhelatan itu juga mengakibatkan...
Arif Utama
Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran.

Wakil Presiden Jusuf Kalla disaksikan Ketua DPR Setya Novanto (kanan) memberikan ucapan selamat kepada Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan saat pelantikan di Istana Negara, Jakarta, Senin (16/10). ANTARA FOTO/Wahyu Putro A

Beda gubernur adalah ujian yang sama bagi masyarakat Jakarta. Itu adalah citra yang muncul usai pelantikan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur teranyar punya warga Jakarta. Dalam pidatonya, Anies mengungkapkan bahwa sebaiknya pribumi kini berjaya di tanahnya sendiri. Di jantung negara, di pusat pemerintahan, di daerah yang sungguh kaya dan beragam bernama Jakarta.

Adapun yang abai dalam kalimat tersebut, frasa “pribumi” adalah upaya kolonialisme melakukan politik ras. Belanda mengenal empat golongan: golongan mereka sendiri (yang tentu saja paling mulia), Arab, Tiongkok, dan pribumi, yang pemerintah Kolonial citrakan hina-dina.

Menyebut kata pribumi, alih-alih masyarakat Jakarta, jelas membuat situasi jadi tidak mengenakkan. Kata pribumi sendiri menjadi sensitif, seperti selayaknya pemerintahan Amerika era Trump dengan jargonnya, make America great again.

Dalam situasi semacam ini, jelas masyarakat lagi dan lagi diuji. Dahulu, pada masa Ahok-Djarot, kebersamaan masyarakat Jakarta untuk mengawal kinerja pemerintahan dapat dikatakan gagal. Mengapa saya katakan masyarakat Jakarta gagal? Ya, karena perihal “memilih pemimpin non-muslim.”

Kalimat dihilangkan konteks dan kemudian semua orang merasa hal itu menjadi hal yang paling penting. Orang-orang marah. Meminta ia dihukum. Seakan masalah reklamasi, penggusuran, relokasi ke rumah susun yang tak mulus, dan sejumlah masalah lainnya di Jakarta hanyalah remeh temeh. Padahal, kalau mau marah, okelah. Tapi marahlah pada yang tepat. Marahlah pada masyarakat yang terzalimi. Bukan marah pada masalah yang sebenarnya tak ada.

Dan kini, bukan tidak mungkin masalah sepele seperti frasa “pribumi” ini akan ditarik keluar konteks. Memperluas jarak antara pendukung pro dan kontra terhadap kepemimpinan Anies-Sandi. Bagi mereka yang kontra, mereka akan mengatakan bahwa Jakarta yang ini bukanlah Jakarta mereka. Ini Jakarta yang direbut paksa dari mereka, sehingga mereka akan menertawakan kegagalan pemerintahan Anies-Sandi.

Sementara kini, bagi mereka yang pro, mereka akan menunjuk bahwa mereka yang kontra sebenarnya tidak mencintai Jakarta.

Situasi ini, kalau dibiarkan, jelas takkan ke mana-mana. Politik yang tidak sehat ini jelas harus Anies-Sandi tebus dengan harga mahal. Karena, entah pro atau kontra, keduanya tetap butuh masyarakat Jakarta untuk bersatu. Sejago apa pun pemimpin, mereka butuh masyarakatnya. Mereka butuh masyarakat Jakarta untuk menilai secara fair kinerja mereka sebagai pemimpin Jakarta.

Anies dan Sandi kini perlu usaha keras agar kejadian di suatu negeri nun jauh di sana tidak tereplikasi di Jakarta. Anda tahu Donald Trump? Itulah yang saya maksud. Kalau Anda memperhatikan media di Amerika, Anda akan mengerti bahwa hanya sedikit sekali porsi pemerintahan Amerika yang membahas tentang kebijakan Trump.

Alih-alih demikian, perangnya hanya di seputaran ini: apakah Trump tolol? Atau seberapa heroiknya Trump? Sikap ignorant-nya Trump pula bikin situasi makin tidak mengenakkan. Kini, sekat antara pembenci dan pendukung Trump sudah mustahil untuk disatukan.

Ini tentu tidak diinginkan oleh Anies-Sandi. Pertanyaannya bagi masyarakat Jakarta kini: bagaimana kita bersatu dengan situasi macam ini? Karena, jika gagal, yang gagal tak hanya pemilih Anies-Sandi, namun seluruh masyarakat Jakarta. Satu sengasara, kita semua sengsara.

Sementara, jika berhasil, ya kita semua merasakan enaknya. Sayangnya, untuk sekarang, semua itu tampak sulit. Anies-Sandi patut berusaha ekstra keras, bahkan di awal masa kepemimpinan mereka, untuk memenangkan hati kedua belah pihak jika visi dan misi mereka selama masa kampanye tak hanya sekadar angan-angan.

Mungkin benar kata pepatah, karena nila setitik, rusak susu sebelanga.

Tulisan terkait:

“Pribumi” Anies, 2019, dan Politik Sentrifugal

Tanggung Jawab Politik “Sang Pribumi” Anies Baswedan

Ihwal Pribumi dalam Pidato Anies Baswedan

Ihwal Pribumi

Gubernur Anies, Pribumi, dan Homo Sapiens

Arif Utama
Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Refleksi Bulan Bahasa: Apa Kabar Perpres 63/2019?

Oktober adalah bulan yang sangat bersejarah dalam kehidupan bangsa Indonesia. Pada bulan inilah, 92 tahun silam terjadi peristiwa Sumpah Pemuda yang menjadi tonggak lahirnya...

Berlindung di Balik Topeng Kaca, Public Figure juga Manusia

Ketika Candil lewat Grup Band Seurieus, salah satu Band Rock Kenamaan tahun 2000-an awal ini menyuarakan pendapatnya lewat lagu Rocker juga Manusia, saya seratus...

Lelaki Dilarang Pakai Skin Care, Kata Siapa?

Kamu tahu penyakit lelaki: mau menunjukkan kegagahan! (Ayu Utami, Maya) Sering kali, drama dari negeri ginseng menampilkan para aktor maskulin dengan wajah glowing (bersinar) yang menggunakan skin care (perawatan kulit...

Digitalisasi Bisnis Saat Pandemi

Pandemi Covid-19 telah mengubah secara drastis dunia usaha. Dari pasar, proses bisnis, sumber pendanaan, konsumen, tenaga kerja, tempat kerja, hingga cara bekerja, semuanya berubah...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Sektor Bisnis di Indonesia

Sejak COVID-19 memasuki wilayah Indonesia pada Maret 2020, pemerintah mencanangkan regulasi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) alih-alih menerapkan lockdown. PSBB itu sendiri berlangsung selama...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Memperkuat Peran Politik Masyarakat

Salah satu kegagalan konsolidasi demokrasi elektoral adalah tidak terwujudnya pemilih yang cerdas dalam membuat keputusan di hari pemilihan. Menghasilkan pemilih cerdas dalam pemilu tentu...

10 Profesi Keren di Sektor Pertanian

Saudara saya tinggal di sebuah desa lereng Gunung Sindoro. Dari hasil pertanian, dia sukses menyekolahkan salah satu anaknya hingga lulus paska-sarjana (S2) dalam bidang...

Tanggapan Orang Biasa terhadap Demo Mahasiswa dan Rakyat 2019

Sudah dua hari televisi dihiasi headline berita demonstrasi mahasiswa, hal yang seolah mengulang berita di TV-TV pada tahun 1998. Saya teringat kala itu hanya...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.