Rabu, Oktober 21, 2020

Golkar Pasca Setya Novanto

Fiksi Politik, Mitos Kekuasaan, dan Pak Tua

Saya punya satu pertanyaan kecil yang niscaya memerlukan jawaban besar. Siapa sesungguhnya the king maker di negeri ini? Menurut saya yang awam politik ini,...

Demokrasi yang Terbajak [Catatan Politik 2016]

Marguerite A. Peeters pernah mengintroduksikan sebuah istilah “pembajakan demokrasi” dalam salah sebuah karyanya, Hijacking Democracy: The Power Shift to the Unelected (2004). Istilah pembajakan...

Stok Pemimpin di Pilkada 

Komisi Pemilihan Umum (KPU) sudah menetapkan tanggal pencoblosan Pilkada Serentak 2018, yaitu pada 27 Juni 2018. Ada 171 daerah yang mengikuti Pilkada 2018. Tahapan...

Demokrasi Mengembalikan Politik Islam ke Jalur yang Benar

Politik dinasti dalam sejarah Islam dimulai setelah berakhirnya era khilafah, yaitu 30 tahun setelah wafatnya Nabi Muhammad. Sejak mundurnya Sayyidina Hasan sebagai khalifah kelima,...
Avatar
Iding Rosyidin
Ketua Program Studi Ilmu Politik FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Penggila sepakbola.

Drama perlawanan Setya Novanto terhadap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tampaknya sudah menemukan ujungnya. Meski ia masih melakukan perlawanan hukum, misalnya dengan menambahkan pengacara Otto Hasibuan ke dalam barisan tim pembela hukumnya, namun hampir pasti karir politiknya sebagai Ketua Umum Partai Golkar dan DPR akan berakhir.

Di internal Partai Beringin sendiri kini sudah mulai muncul bursa nama calon pengganti Novanto. Ada sejumlah nama yang disebut-sebut, yakni Airlangga Hartarto yang sekarang menjabat Menteri Perindustrian, Siti Hediati Hariyadi alias Titiek Soeharto, Wakil Ketua Dewan Pakar Golkar, dan Ade Komaruddin Hidayat, mantan pesaing Novanto pada perebutan Ketum Golkar di Bali sekaligus pengganti Novanto sebagai Ketua DPR sewaktu yang terakhir ini terkena kasus “papa minta saham”.

Oleh karena itu, meski cerita Novanto akan segera tutup buku, Golkar yang ditinggalkannya justru akan membuka lembaran baru. Pertanyaannya adalah kira-kira siapakah yang layak menjadi Ketum Golkar pengganti Novanto, dan bagaimana nasib partai ini di tangan nakhoda baru tersebut?

Tersangka kasus korupsi KTP elektronik Setya Novanto bersiap menjalani pemeriksaan di gedung KPK, Jakarta, Selasa (21/11). Ketua DPR tersebut menjalani pemeriksaan perdana usai ditahan oleh KPK terkait dugaan korupsi proek KTP elektronik. ANTARA FOTO/Wahyu Putro A/foc/17.

Tantangan Nakhoda Baru

Pasti tidak mudah untuk menjadi orang nomor satu di tubuh Golkar setelah citranya kini porak poranda akibat kasus dugaan korupsi e-KTP (KTP elektronik) yang membut Novanto kini menjadi tahanan KPK. Sulit dihindari jika publik Indonesia punya persepsi yang negatif terhadap partai ini sebagaimana persepsi negatif mereka terhadap DPR yang juga dipimpin Novanto.

Karena itu, ada beberapa tantangan yang akan dihadapi oleh calon Ketua Umum Golkar pasca Novanto. Pertama, memulihkan citra partai yang anjlok akibat kasus yang membelit ketua umumnya. Padahal, citra yang baik sangat diperlukan oleh semua partai politik di Indonesia, apalagi menjelang pemilu serentak pada 2019. Kalau citranya hancur, jelas partai akan sulit menjadi kompetitif. Dalam konteks ini, calon ketua umum mesti seorang yang tidak memiliki rekam jejak yang buruk, terutama terkait kasus korupsi.

Kedua, membangun soliditas internal partai. Seperti diketahui, di internal Partai Beringin banyak terdapat faksi, seperti faksi Aburizal Bakrie (ARB) dan Agung Laksono yang sempat berseteru sampai kemudian melakukan rekonsiliasi di Munaslub Bali. Harus diakui bahwa Novanto yang notabene merupakan produk Munaslub Bali mampu merekatkan hubungan kedua faksi tersebut sehingga soliditas partai terbangun cukup kuat.

Selain kedua faksi di atas, yang tidak dapat diabaikan adalah Wakil Presiden Jusuf Kalla. Diyakini bahwa JK masih memiliki loyalis-loyalisnya di tubuh Beringin. Demikian pula dengan tokoh senior Golkar yang lain, yakni Akbar Tanjung (AT). Komentar keras kedua tokoh senior tersebut, yang notabene merupakan mantan Ketua Umum Golkar, agar Novanto mematuhi proses hukum menunjukkan bahwa mereka masih tetap memiliki perhatian besar terhadap Golkar.

Dengan faksi internal partai yang cukup beragam tersebut, tentu calon Ketua Umum Golkar harus merupakan orang yang relatif dapat diterima oleh semua pihak. Kalau tidak, soliditas partai tentu akan sulit dilakukan padahal waktu perhelatan hajat nasional tidak lama lagi.

Relasi dengan Pemerintah

Isu lain yang akan menjadi pertimbangan suksesi kepemimpinan di tubuh Golkar pasca Novanto adalah relasi partai tersebut dengan pemerintah. Selama di bawah kendali Novanto, Golkar langsung dibawanya untuk mendekat ke pemerintahan Joko Widodo (Jokowi)-JK. Golkar bahkan mendeklarasikan dukungannya terhadap Jokowi untuk maju lagi sebagai calon presiden di 2019.

Ketua Harian Partai Golkar Nurdin Halid (tengah) bersama Sekjen Idrus Marham (ketiga kanan) dan sejumlah ketua koordinator bidang melaksanakan rapat pleno di kantor DPP Partai Golkar, Jakarta, Selasa (21/11). Rapat tersebut membahas posisi Setya Novanto baik sebagai ketua umum Partai Golkar maupun anggota DPR pasca ditahan KPK atas kasus korupsi proyek KTP Elektronik. ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/aww/17.

Mudah diduga bahwa langkah Golkar di bawah Novanto mendukung Jokowi adalah dalam rangka meningkatkan citranya di mata publik. Setelah Golkar dilanda kemelut internal yang cukup lama antara kubu ARB dan AL, citranya langsung merosot di mata publik. Karena itu, mendukung Jokowi yang elektabilitasnya selalu tinggi merupakan strategi Golkar untuk menaikkan citranya kembali.

Yang menarik, kini di antara nama-nama calon Ketua Umum Golkar, ada dua nama yang merepresentasikan dua kubu yang saling bertentangan. Pertama, Airlangga Hartarto, mewakili kubu yang menjalin hubungan baik dengan pemerintah, dan kedua, Titiek, mantan isteri Prabowo Subianto, yang merepresentasikan kubu yang berseberangan dengan pemerintah.

Munculnya dua nama tersebut tentu akan meramaikan persaingan untuk memperebutkan pucuk pimpinan Partai Beringin. Jika Airlangga Hartarto yang terpilih, Golkar tentu akan terus mendukung pemerintah. Tetapi, jika Titiek yang terpilih, kemungkinan besar Golkar akan menarik dukungannya dari pemerintah. Seperti diketahui, Titiek dan keluarga Cendana lainnya merupakan pengkritik keras pemerintah seperti yang terlihat dalam kasus pemutaran film G 30 S PKI.

Namun, jika dilihat dari karakteristik Golkar, menurut saya, partai ini akan lebih memilih untuk tetap menjalin hubungan mesra dengan pemerintah. Selain karena secara genealogisnya adalah partai yang lahir dari rahim pemerintah dan sepanjang perjalanannya selalu menyusu pada pemerintah, Partai Beringin juga sangat berkepentingan dengan pemerintah, terutama untuk menaikkan citranya di mata publik.

Pada sisi lain, pemerintah juga memiliki kepentingan terhadap Partai Golkar. Bagaimana pun dengan tambahan dukungan Golkar di barisan Koalisi Indonesai Hebat (KIH), yang merupakan partai pendukung pemerintah, kedudukan Jokowi akan semakin kuat. Apalagi Jokowi kian banyak mendapat serangan politik dari lawan-lawan politiknya.

Karenanya, bukan tidak mungkin pemerintah juga akan ikut “bermain” dalam perebutan Ketua Umum Golkar. Jika itu yang terjadi, maka suksesi di tubuh Beringin pasca Novanto kemungkinan akan berpihak kepada Airlangga Hartarto. Tetapi dinamika politik di Golkar mungkin saja menyajikan sesuatu yang berbeda. Siapa tahu.

Kolom terkait:

Setya Novanto dan 3 Kir (Mangkir, Mungkir, Terjungkir)

Tiga Kolom “Maut” Setelah Setya Novanto Tersangka

Papa Setnov, Jack Sparrow, dan Patah Hati KPK

Pesan Keras Putusan Praperadilan

Pemain Drama dan Segala Kelicinannya

Avatar
Iding Rosyidin
Ketua Program Studi Ilmu Politik FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Penggila sepakbola.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Mengapa Banyak Abdi Negara Muda Pamer di Media Sosial?

Apakah kamu pengguna Twitter yang aktif? Jika iya, pasti kamu pernah melihat akun @txtdrberseragam berseliweran di timeline kamu. Sebagaimana tercantum di bio akun ini,...

Flu Indonesia

“Indonesia sedang sakit, tapi cuma flu biasa....” Di pojok gemerlapnya kota metropolitan, jauh dari bising suara knalpot kendaraan, dan bingar-bingar musik dugem, tentu ada masyarakat...

K-Pop dalam Bingkai Industri Budaya

Budaya musik Korea atau yang biasa kita sebut K-Pop selalu punya sisi menarik di setiap pembahasannya. Banyak stigma beredar di masyarakat kita yang menyebut...

Hitam Putih Gemerlap Media Sosial

“Komunikasi adalah inti dari masyarakat kita. Itulah yang menjadikan kita manusia.” Setidaknya begitulah yang dikatakan Jan Koum, pendiri aplikasi Whatsapp yang kini telah mencapai...

Mahasiswa Dibutakan Doktrin Aktivisme Semu?

Aktivisme di satu sisi merupakan “alat” yang bisa digunakan oleh sekelompok orang untuk melakukan reformasi atau perbaikan ke arah baru dan mengganti gagasan lama...

ARTIKEL TERPOPULER

Tanggapan Orang Biasa terhadap Demo Mahasiswa dan Rakyat 2019

Sudah dua hari televisi dihiasi headline berita demonstrasi mahasiswa, hal yang seolah mengulang berita di TV-TV pada tahun 1998. Saya teringat kala itu hanya...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Hitam Putih Gemerlap Media Sosial

“Komunikasi adalah inti dari masyarakat kita. Itulah yang menjadikan kita manusia.” Setidaknya begitulah yang dikatakan Jan Koum, pendiri aplikasi Whatsapp yang kini telah mencapai...

Jangan Bully Ustazah Nani Handayani

Ya, jangan lagi mem-bully Ustazah Nani Handayani “hanya” karena dia salah menulis ayat Al-Qur’an dan tak fasih membacakannya (dalam pengajian “Syiar Kemuliaan” di MetroTV...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.