Senin, Maret 1, 2021

Giring ‘Nidji’ Berlabuh ke PSI: Betul Mau Bikin Seleb Politik Bertaji?

Kasus Ahok dan Pemilihan Presiden 2019

Penistaan agama yang diduga dilakukan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok di tengah kontestasi Pilkada Jakarta telah menyedot energi publik yang luar biasa. Tidak hanya...

Isu 1965: Antara NU dan Muhammadiyah

  September baru separuh, namun isu tentang 1965 dan tragedi-tragedi berdarah di sekitarnya, telah beredar kencang. Yang terbaru, insiden di LBH Jakarta, menarik untuk ditelisik...

Memperkuat Peran Politik Masyarakat

Salah satu kegagalan konsolidasi demokrasi elektoral adalah tidak terwujudnya pemilih yang cerdas dalam membuat keputusan di hari pemilihan. Menghasilkan pemilih cerdas dalam pemilu tentu...

Menyikapi UU Ormas secara Proporsional

  Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 tahun 2017 tentang Perubahan Atas Undang Undang Nomor 17 tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan (Perppu Ormas)...
Avatar
Wahyu Aji
Penulis Lepas dan Peneliti Lepas, Kontak: kuprivata@gmail.com

Kabarnya, karena terinspirasi oleh keteladanan Presiden Jokowi, vokalis Nidji, Giring Ganesha, terjun ke dunia politik. Dan, hari ini, Rabu (6/09) Giring mendaftarkan diri sebagai calon anggota legislatif dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI) untuk Pemilu 2019.

Faktanya, Giring adalah selebriti. Memang, ada selebritis politik yang total memanfaatkan sisi keartisan. Namun, ada juga selebritis politik yang sebelumnya sudah memiliki pengalaman menekuni dunia sosial dan politik.

Giring termasuk punya cukup pengalaman dan aktivitas politiknya sering menyuarakan perdamaian dan kritis dalam menilai kebijakan. Begitulah posisi Giring sebelum maju menjadi caleg PSI; Giring sudah menggiring dirinya menekuni berbagai aktivitas sosial dan politik. Persisnya ketika Jokowi dan Ahok menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur DKI, dan juga ketika Giring kampanye dalam Pilkada DKI Jakarta.

Ceritanya, Giring memang dibesarkan dalam keluarga yang biasa membicarakan persoalan-persoalan politik di ruang keluarga. Ayah Giring, seorang jurnalis Kantor Berita Antara di masanya, rutin mengajak anak-anaknya bicara politik. Giring sendiri memilih jurusan Ilmu Hubungan Internasional di Universitas Paramadina, Jakarta.

Jadi, fenomena selebritis politik bukan hal baru dan terjadi di dunia politik belahan mana pun. Asal Giring tidak sekadar menjadi pemanis dalam dunia politik semata, seperti politisi seleb yang ada di partai-partai lainnya, menjadi “permen” saja tak ada suara. Walau bagaimanapun hak selebriti untuk mengandalkan popularitasnya untuk terjun ke dunia politik.

Maka, Pemilu 2019 akan menjadi garapan baru bagi sejumlah artis yang mencoba ikut berebut kursi di legislatif. Tak hanya Pileg, menjelang Pilkada 2018 selebritis politik juga ikut merambah pilkada. Menurut McTutu, dalam Celebrity Politics (2016), hal semacam ini mulai dikenal dalam terminologi ilmu politik setelah para bintang film, pemain sinetron, komedian, dan penyanyi terjun ke dunia politik, bukan sebagai penghibur panggung kampanye atau pengumpul suara. Tapi, mereka serius mengejar kursi jabatan publik.

Bukan hanya di negeri ini. Ambil saja contoh selebriti AS, Ronald Reagan dan Arnold Schwarzenegger, yang juga masuk arena politik serta berhasil menjadi presiden dan gubernur. Yang membedakan dari AS, mereka sejak awal aktif menjadi anggota partai politik dan terlibat dalam program dan kerja-kerja partai. Sementara di Indonesia, para selebriti tiba-tiba saja masuk arena pilihan, tanpa melalui proses perekrutan yang tertata oleh partai politik.

Mengapa artis atau selebriti masuk panggung politik? Masih mengutip McTutu, Darrell West, penulis Celebrity Politics, berpendapat, artis dan pelawak tergiur terjun ke jabatan publik akibat perkembangan media, khususnya televisi (juga media sosial), dan demokrasi. Televisi (juga media sosial) menjadi medium sempurna bagi selebiriti untuk mendulang kemasyhuran dan citra diri.

Popularitas seleb menjadi penguat untuk mendulang suara bagi partai politik. Namun tugas caleg ketika terpilih menjadi wakil rakyat adalah mewakili aspirasi dan kepentingan masyarakat. Ketika seorang seleb mau maju menjadi wakil rakyat, sudahkah dia memiliki kemampuan itu?

Tapi, bukan hanya seleb, anak pejabat, aktivis atau mantan aktivis, akademisi dan lain sebagainya, juga mesti memiliki kemampuan dan integritas untuk jadi wakil rakyat. Rasakan bermacam latar belakang wakil rakyat tak menjamin menyuarakan suara rakyat dan bekerja untuk rakyat.

Giring tak hanya bersuara indah lewat vokalnya, dan tak akan berhenti pada imbauan moral melalui lirik lagunya, tapi Giring betul-betul berjuang terjun bersama rakyat. Semoga Giring punya solidaritas kerakyatan yang asli bukan sekadar seorang seleb, tapi seorang politisi yang bertaji dan berisi, bukan lagi penyanyi.

Selamat berjuang Giring Ganesha!

Ingat pesan Sutan Syahrir: “Hanya semangat kebangsaan yang dipikul oleh perasaan keadilan dan kemanusiaan yang dapat mengantar kita maju dalam sejarah dunia.”

Avatar
Wahyu Aji
Penulis Lepas dan Peneliti Lepas, Kontak: kuprivata@gmail.com
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Kasus Khashoggi Makin Mendunia

Hari ini, 1 Maret 2021, Biden mau umumkan resmi di Washington keterlibatan MBS dalam pembunuhan Kashoggi. Menarik. KAS pasti meradang. Ini konflik pertama, yg sulit...

Jujur Itu Hebat, Artidjo Personifikasi dari Semua Itu

Satu demi satu orang tumbang dibekap covid, penyakit lain atau karena usia. Pagi ini saya kembali dikejutkan oleh berpulangnya Artidjo Alkostar, kawan lama yang...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

ARTIKEL TERPOPULER

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Jurnalisme Copy-Paste

Jurnalisme copy-paste adalah pekerjaan mengumpulkan, mencari dan menulis berita dengan menggunakan teknik salin menyalin saja. Seperti ambil berita di media lain atau dapat dari...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.