Sabtu, Desember 5, 2020

Giring ‘Nidji’ Berlabuh ke PSI: Betul Mau Bikin Seleb Politik Bertaji?

As-Saffah (Sang Penumpah Darah): Khalifah Pertama Abbasiyah

  Transisi kekuasaan dari Dinasti Umayyah ke Dinasti Abbasiyah terjadi lewat pertumpahan darah. Gonjang-ganjing kekuasaan mencapai puncaknya sehingga rezim lama digantikan oleh rezim yang baru. Apakah...

Ormas Radikal dan Demokrasi yang Tersandera

Demokrasi membuka ruang publik (public sphere) seluas-luasnya, termasuk kepada mereka yang menentangnya. Ini paradoks negeri Muslim yang baru memeluk demokrasi. Ketika keran kebebasan dibuka, yang...

Tragedi Mei dan Ahok

Sembilan belas tahun lalu, tepatnya pada 13-15 Mei 1998, terjadi kerusuhan massal bernuasa SARA yang diduga terjadi secara terorganisir dan sistematis dengan korban yang...

Ada Apa antara Istana dan GNPF MUI?

Di hari lebaran kemarin kita dikejutkan oleh sebuah pertemuan di istana. Sebuah pertemuan yang tampaknya tidak dipikirkan dan direncanakan dengan matang. Beberapa orang yang...
Avatar
Wahyu Aji
Penulis Lepas dan Peneliti Lepas, Kontak: kuprivata@gmail.com

Kabarnya, karena terinspirasi oleh keteladanan Presiden Jokowi, vokalis Nidji, Giring Ganesha, terjun ke dunia politik. Dan, hari ini, Rabu (6/09) Giring mendaftarkan diri sebagai calon anggota legislatif dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI) untuk Pemilu 2019.

Faktanya, Giring adalah selebriti. Memang, ada selebritis politik yang total memanfaatkan sisi keartisan. Namun, ada juga selebritis politik yang sebelumnya sudah memiliki pengalaman menekuni dunia sosial dan politik.

Giring termasuk punya cukup pengalaman dan aktivitas politiknya sering menyuarakan perdamaian dan kritis dalam menilai kebijakan. Begitulah posisi Giring sebelum maju menjadi caleg PSI; Giring sudah menggiring dirinya menekuni berbagai aktivitas sosial dan politik. Persisnya ketika Jokowi dan Ahok menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur DKI, dan juga ketika Giring kampanye dalam Pilkada DKI Jakarta.

Ceritanya, Giring memang dibesarkan dalam keluarga yang biasa membicarakan persoalan-persoalan politik di ruang keluarga. Ayah Giring, seorang jurnalis Kantor Berita Antara di masanya, rutin mengajak anak-anaknya bicara politik. Giring sendiri memilih jurusan Ilmu Hubungan Internasional di Universitas Paramadina, Jakarta.

Jadi, fenomena selebritis politik bukan hal baru dan terjadi di dunia politik belahan mana pun. Asal Giring tidak sekadar menjadi pemanis dalam dunia politik semata, seperti politisi seleb yang ada di partai-partai lainnya, menjadi “permen” saja tak ada suara. Walau bagaimanapun hak selebriti untuk mengandalkan popularitasnya untuk terjun ke dunia politik.

Maka, Pemilu 2019 akan menjadi garapan baru bagi sejumlah artis yang mencoba ikut berebut kursi di legislatif. Tak hanya Pileg, menjelang Pilkada 2018 selebritis politik juga ikut merambah pilkada. Menurut McTutu, dalam Celebrity Politics (2016), hal semacam ini mulai dikenal dalam terminologi ilmu politik setelah para bintang film, pemain sinetron, komedian, dan penyanyi terjun ke dunia politik, bukan sebagai penghibur panggung kampanye atau pengumpul suara. Tapi, mereka serius mengejar kursi jabatan publik.

Bukan hanya di negeri ini. Ambil saja contoh selebriti AS, Ronald Reagan dan Arnold Schwarzenegger, yang juga masuk arena politik serta berhasil menjadi presiden dan gubernur. Yang membedakan dari AS, mereka sejak awal aktif menjadi anggota partai politik dan terlibat dalam program dan kerja-kerja partai. Sementara di Indonesia, para selebriti tiba-tiba saja masuk arena pilihan, tanpa melalui proses perekrutan yang tertata oleh partai politik.

Mengapa artis atau selebriti masuk panggung politik? Masih mengutip McTutu, Darrell West, penulis Celebrity Politics, berpendapat, artis dan pelawak tergiur terjun ke jabatan publik akibat perkembangan media, khususnya televisi (juga media sosial), dan demokrasi. Televisi (juga media sosial) menjadi medium sempurna bagi selebiriti untuk mendulang kemasyhuran dan citra diri.

Popularitas seleb menjadi penguat untuk mendulang suara bagi partai politik. Namun tugas caleg ketika terpilih menjadi wakil rakyat adalah mewakili aspirasi dan kepentingan masyarakat. Ketika seorang seleb mau maju menjadi wakil rakyat, sudahkah dia memiliki kemampuan itu?

Tapi, bukan hanya seleb, anak pejabat, aktivis atau mantan aktivis, akademisi dan lain sebagainya, juga mesti memiliki kemampuan dan integritas untuk jadi wakil rakyat. Rasakan bermacam latar belakang wakil rakyat tak menjamin menyuarakan suara rakyat dan bekerja untuk rakyat.

Giring tak hanya bersuara indah lewat vokalnya, dan tak akan berhenti pada imbauan moral melalui lirik lagunya, tapi Giring betul-betul berjuang terjun bersama rakyat. Semoga Giring punya solidaritas kerakyatan yang asli bukan sekadar seorang seleb, tapi seorang politisi yang bertaji dan berisi, bukan lagi penyanyi.

Selamat berjuang Giring Ganesha!

Ingat pesan Sutan Syahrir: “Hanya semangat kebangsaan yang dipikul oleh perasaan keadilan dan kemanusiaan yang dapat mengantar kita maju dalam sejarah dunia.”

Avatar
Wahyu Aji
Penulis Lepas dan Peneliti Lepas, Kontak: kuprivata@gmail.com
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Kerusakan Lingkungan Kita yang Mencemaskan

Menurut data dari BPS, pada tahun 2018 jumlah kendaraan bermotor di Indonesia mencapai 146.858.759 unit, jumlah tersebut meliputi mobil pribadi, mobil barang, bis dan...

Pilkada yang Demokratis

Tidak terasa pergelaran pemilihan kepada daerah yang akan dilaksankan pada 9 Desember mendatang sebentar lagi akan dijalankan. Pilkada serentak dilaksanakan di 270 daerah di...

DPRD DKI; Kembalilah Menjadi Wakil Rakyat!

Saya terhenyak ketika mendapat informasi perihal naiknya pendapatan langsung dan tidak langsung anggota DPRD DKI Jakarta tahun anggaran 2021. Berdasarkan dokumen Rencana Kerja Tahunan...

Meneguhkan Keindonesiaan di Tengah Pandemi

Sejak diumumkannya kasus pertama covid 19 di Indonesia pada bulan Maret 2019 silam, perjalanan kasus ini tidak pernah surut. Memasuki bulan Oktober 2020 justru...

Upah Minimum atau Upah Maksimum?

Belakangan ini demo buruh tentang upah minimum mulai sering terdengar. Kenaikan upah minimum memang selalu menjadi topik panas di akhir tahun. Kini menjadi semakin...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Luasnya Kekuasaan Eksekutif Menurut Undang-Undang

Proses demokrasi di Indonesia telah memasuki tahap perkembangan yang sangat penting. Perkembangan itu ditandai dengan berbagai perubahan dan pembentukan institusi atau lembaga baru dalam...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

“Pilkada Pandemi” dan Pertanyaan Soal Substansi Demokrasi

Pilkada sebagai sebuah proses politik di negara demokrasi adalah salah satu wujud terpenuhinya hak politik warga negara, selain terjadinya sirkulasi elite penguasa. Namun di...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.