in

Emilia Lisa, Tsamara Amany, dan Suara Politik Perempuan


Tsamara Amany.

“Memang kita sebagai perempuan berbicara saja terkadang tidak didengar, apalagi kalau kita selalu diam. Maka katakan apa yang ingin kau katakan, akan tetapi tidak meninggalkan nilai-nilai atau norma-norma kebaikan.”

Pernyataan ini ditegaskan Stephanie Amir, seorang perempuan anggota parlemen di Darebin City, Australia, dalam diskusi panel yang saya ikuti pada “Shortcourse Leadership Development Course for Islamic Women Leaders” yang diselenggarakan oleh Australian Awards Indonesia (AAI), 21 September 2017 di Deakin University, Melbourne. Acara AAI ini berlangsung pada 15 September – 30 September 2017.

Pernyataan Stephanie Amir ini menggugah kaum perempuan untuk berani menyuarakan kebenaran, karena keberanian sangat penting dimiliki perempuan untuk membangun sebuah bangsa. Berani di sini bukanlah dalam arti perempuan ingin selalu berada “di atas”, melainkan wujud keteguhan perempuan untuk terlibat dalam berbagai kebijakan negara, apalagi kebijakan yang menyangkut perempuan.

Pernyataan ini membuat peserta AAI tergugah dan berpikir serius. Tetapi lebih tergugah lagi ketika hadir seorang perempuan yang pada tahun 2016 menjadi anggota parlemen pada usia 19 tahun di Whittlesea City. Namanya Emilia Lisa Sterjova. Ia adalah perempuan muda, energik dan cerdas, suka berbagi cerita tentang bagaimana tantangannya ketika memasuki gerbong perpolitikan.

Seperti halnya di Indonesia, dunia politik di Australia juga masih dikuasai laki-laki–bahkan laki-laki dengan kulit putih dan usia tua. Para politikus tersebut akan meragukan kinerja politikus muda, apalagi perempuan. Akan tetapi Emilia tetap berusaha keras untuk membuktikan bahwa dirinya mampu menjadi anggota parlemen yang amanah. Dia membuktikan dengan kemampuan yang dimilikinya, seperti salah satunya adalah dia pintar berbahasa Indonesia, yang jarang sekali politikus laki-laki memiliki kemampuan tersebut.

Australia memiliki Emilia, Indonesia pun memiliki politikus muda dan dia seorang perempuan, siapa lagi kala bukan Tsamara Amany. Tsamara lahir pada 24 Juni 1996. Saat ini usianya 21 tahun, dan masih kuliah di Jurusan Komunikasi Universitas Paramadina, Jakarta. Tsamara saat ini menjadi Ketua DPP Partai Solidaritas Indonesia (PSI) bidang Eksternal. Cita-citanya sangat menarik: menjadi Gubernur DKI Jakarta.

Baca Juga :   Dialektika Tsamara-Fahri, Sandiwara?

Untuk membuktikan bahwa ia serius dengan cita-citanya, Tsamara pernah menjadi staf magang staf magang Pak Ahok (Basuki Tjahaja Purnama) saat ia masih menjabat Gubernur DKI Jakarta di Balai Kota DKI. Selain itu, Tsamara juga menjadi Co-founder lembaga swadaya masyarakat yang memperjuangkan hak-hak peremuan, yakni Komunitas Perempuan Politik.


Keberanian Tsamara berpolitik ini sudah ia buktikan lewat diskusi yang alot pada Juli lalu. Diskusi alot antara Tsamara dengan Fahri Hamzah (FH), Wakil Ketua DPR RI yang juga politisi Partai Keadilam Sejahtera. Di media sosial, Tsamara menantang debat FH terkait hak angket terhadap Komisi Pemberantasan Korupsi. Tsamara juga membuat video yang ia buat dengan judul “5 Sesat Pikir Fahri Hamzah”.

Dari perang opini di media sosial antara Tsamara dan FH, jelas sekali bahwa Tsamara adalah sosok anak muda yang berani menyuarakan kebenaran dan kebaikan. Walaupun lawan debatnya adalah Wakil Ketua DPR, Tsamara tetap kritis dan tidak layu karena minder atau ragu.

Semangat yang sama juga ditunjukkan oleh Emilia, yang memiliki kemampuan berdialog secara baik dengan berbagai kalangan. Kemampuan berkomunikasi inilah yang dilihat oleh ibunya, sehingga kemudian ibunyalah orang pertama yang mendukung penuh Emilia untuk berkiprah di dunia politik, demi menyuarakan perempuan dan anak muda.

Pada tahun 2016, walau usianya baru menginjak 19 tahun, semangat Emilia untuk tampil berkiprah di parlemen sangat tinggi. Ia terus berjuang tanpa henti, tanpa lelah. Di dalam kelas perkuliahan AAI, saya dan para perempuan dari Indonesia menyaksikan langsung kuatnya etos perjuangan yang akan dilakukan Emilia.

Baca Juga :   Tragedi 1965 dan Sejarah yang Kalah

Jangan Menjadi Ular, Jadilah Merpati

Kisah Emilia dan Tsamara menjadi inspirasi kaum perempuan muda di Indonesia untuk berani bersuara. Tentu saja mereka tidak sendirian, masih ada kisah perempuan lain yang berjuang selaras dalam gerak politik.

Dunia politik bisa menjadi salah satu jalan perempuan untuk berbicara bahkan berteriak untuk memperjuangkan kebaikan. Memasuki gerbong perpolitikan tidak lepas dari etika politik yang bisa menentukan arah masa depan suatu bangsa. Filsuf Immanuel Kant pernah mengingatkan bahwa ada dua watak binatang terselip di setiap “insan politik”: watak merpati dan watak ular.

Politisi kadang memiliki watak merpati yang lemah lembut dan penuh kemuliaan dalam memperjuangkan idealisme. Tetapi, di sisi lain, kadang ia juga mempunyai watak ular yang licik dan jahat, serta selalu berupaya untuk memangsa merpati. Celakanya, yang sering menonjol dimiliki oleh insan politik adalah “watak ular” ketimbang watak “sisi merpati”-nya.

Sebenarnya, perempuan memiliki kecenderungan watak merpati daripada watak ular. Karena sisi sifat penuh kasih sayang dan empati menjadikannya melihat sesuatu hanya untuk kebaikan. Namun, walapun sisi watak merpati yang cenderung melekat pada perempuan, watak ular bisa saja tiba-tiba memangsa merpati. Jebakan korupsi kapan saja bisa menghampiri mereka.

Karena itu, baik Emilia, Tsamara atau politikus perempuan muda lainnya harus tetap waspada dengan karakter merpati dan ular ini.

Perempuan juga bisa belajar dari Rabi’ah al-Adawiyah, ulama sufi perempuan. Parasnya yang cantik dan menawan membuatknya didekati banyak laki-laki, apalagi sesaat setelah kematian suaminya. Salah satunya adalah Hasan Al-Basri, ulama terkenal di masanya. Hasan al-Basri datang hendak melamar Rabi’ah dan dia diberi beberapa pertanyaan yang harus bisa dijawabnya sehingga Rabi’ah mau menerima lamarannya.

Baca Juga :   Fahri, Bau Kencur Tsamara, dan Dialektika Politik Indonesia

Pertanyaan dari Rabi’ah, “Kapankah saya akan meninggal? Ketika di alam kubur apakah saya mendapatkan nikmat kubur atau siksa kubur? Ketika saya menerima buku amal perbuatan, apakah saya menerima dengan tangan kanan atau tangan kiri? Dan apakah setelah amal saya dihisab, saya masuk neraka atau masuk surga?”

Begitu pertanyaan disampaikan, Hasan al-Basri tidak mampu menjawab keseluruhan pertanyaan Rabi’ah. Kemudian Rabi’ah berkata, “Akal saya cuma satu, akan tetapi saya mampu menjaga sembilan nafsu saya. Sedangkan akal Anda sembilan, akan tetapi kenapa tidak mampu menjaga nafsu Anda yang hanya satu?”

Memang, seringkali stereotipe yang melekat pada perempuan adalah mereka lebih bodoh dari laki-laki karena hanya memiliki akal satu, dan mereka banyak menjadi penghuni neraka karena memiliki sembilan nafsu. Dialog antara Rabi’ah dan Hasan al-Basri menjadikan kita berfikir, bahwa bukan karena jumlah nafsu atau akal yang dimiliki seseorang yang menjadikannya yang terbaik, akan tetapi usaha menjaga nafsu dan menggunakan akal untuk selalu berbuat kebaikanlah yang bisa kita ukur. Atau dengan kata lain adalah menjaga akhlak.

Emilia dan Tsamara, juga para perempuan muda lainnya, masih memiliki jalan panjang dalam memperjuangkan suara politik perempuan. Jebakan kuasa ular selalu bisa menerjang kapan saja, sebagaimana melanda para politisi yang terjerat kasus korupsi dan sekarang mendekam di penjara. Kuasa watak merpati akan tetap lestari jika perempuan selalu menjalankan politiknya dengan hati nurani.

Kolom terkait:

Fahri, Bau Kencur Tsamara, dan Dialektika Politik Indonesia

Politik Kita di Tengah “Tsamaraisasi Milenial”

Dialektika Tsamara-Fahri, Sandiwara?

Grace dan Eksperimen Politik PSI

Tantangan Berat Grace Natalie


Aktif di Litbang PW Fatayat NU DIY. Alumni Australia Award Indonesia (AAI) Progam Shortcourse Leadership Development Course for Islamic Women Leader, Deakin University, Melbourne, 2017.

Tinggalkan Balasan

Loading…

TINGGALKAN KOMENTAR