Jumat, Oktober 30, 2020

Efek Streisand, Repdem, dan Jenderal Gatot

Kita Masih Indonesia (Bagian 1)

Aksi 212 Yang Akan Dikenang Sejarah Banyak orang, termasuk saya, kecele dengan gerakan Presiden Republik Indonesia Joko Widodo dalam Aksi Bela Islam III atau dikenal...

Mengelola Isu Ahok?

Aksi 1.000 lilin untuk Ahok hingga kemarin sudah berlangsung di lebih 40 wilayah di Indonesia dan lebih di 20 kota mancanegara, baik di Asia,...

Penjara dan Spiritualitas Seorang Pemimpin

Setiap pemimpin mengalami masa-masa keterasingan, kesepian, bahkan kepedihan penjara. Setidaknya penjara kegelisahan dalam memikirkan rakyat. Maka, bukan seorang pemimpin kalau jiwa dan fikirannya bebas...

Umat Islam dan Peta Politik Jelang 2019

Banyak kalangan berpendapat bahwa peristiwa politik yang terjadi pada 2018 dan 2019 akan menjadi momentum bagi umat Islam untuk menunjukkan jati dirinya di pentas...
Avatar
Dandhy Dwi Laksono
Jurnalis, penulis, dan Pendiri Watchdoc, perusahaan film dokumenter. Pada 2015, selama 365 hari, bersama "Ucok" Suparta Arz, Dandhy bersepeda motor mengelilingi Indonesia di bawah bendera Ekspedisi Indonesia Biru.

Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo.

Tahun 2003, seorang fotografer (Kenneth Adelman) digugat oleh bintang Hollywood, Barbra Streisand (pemeran Bu Focker dalam film komedi Meet the Fockers). Nilai gugatannya mencapai 50 juta dollar atau setara 650 miliar rupiah!

Gara-garanya ia membuat foto udara pembangunan properti di sepanjang pantai Malibu (California) dan rumah Streisand tentu saja ikut terfoto. Foto-foto itu lalu diunggah ke situs Pictopia.com untuk memberi masukan kepada pemerintah terkait pembangunan tata ruang pesisir California menghadapi ancaman erosi.

Sang Artis yang rumahnya ikut terpotret, tak terima karena alasan mengganggu privasinya. Maka ia pun mengajukan gugatan dan ramailah pemberitaan.

Sebelum digugat, foto-foto yang berjudul “Image 3860” itu hanya diunduh sebanyak 6 kali. Dua di antaranya oleh pengacara Streisand sendiri!

Namun setelah gugatan itu ramai.. Abrakadabra!

Foto itu ditonton 420.000 pengunjung! Maka apa yang ditakutkan Streisand soal hak privasinya, justru mengundang hal sebaliknya.

Setelah artikel Suu Kyi dan Megawati yang dipolisikan Relawan Perjuangan Demokrasi/Repdem (organisasi sayap PDIP), sebuah situs akademik yang tersohor milik Australian National University, newmandala.org, justru ikut mempublikasikannya dalam bahasa Inggris dengan judul Daw Suu and Ibu Mega.

Selain itu, juga diterjemahkan dalam bahasa Jerman oleh kawan-kawan Watch Indonesia yang berbasis di Berlin (http://www.watchindonesia.org/19376/gesetz-elektronische-information-meinungsfreiheit?lang=de)

Ini pernah terjadi pada film Samin vs Semen. Ada sekelompok orang yang membuat film tandingannya. Tentu ini tindakan yang terhormat dan demokratis daripada main lapor atau membubarkan nobar-nobarnya seperti yang dilakukan Fakultas Ilmu Administrasi, Universitas Brawijaya pada Mei 2016.

Namun karena film tandingan itu sibuk membantah Samin vs Semen, (dan terus mengulang-ulang kata “Samin vs Semen” sepanjang adegan) maka orang yang tadinya belum menonton, justru mencarinya karena penasaran. Akibatnya, jumlah views Samin vs Semen di youtube yang tadinya di bawah 50.000 views dalam 3 bulan, setelahnya, langsung melonjak di atas 100.000 views hanya dalam beberapa hari saja.

FILM “G30S/PKI”

Karena itulah kita tak perlu risau jika TNI (Angkatan Darat) hendak memobilisasi orang untuk menonton kembali film Pengkhianatan Gerakan 30 September (judul aslinya bahkan tanpa “PKI”)

Kita bukanlah golongan reaksioner yang gemar melarang pemutaran film atau menyerbu tempat-tempat nobar. Yang terbiasa melakukan itulah yang barangkali merasa perlu melibatkan tentara agar tak ada yang berani membubarkan.

“Itu perintah saya. Mau apa?” tantang Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo soal mobilisasi nobar.

Pernyataan Jenderal Gatot ini biarlah jadi urusan Panglima Tertingginya atau koleganya sesama jenderal dari angkatan lain yang selama tiga dekade, sebagian dari mereka merasa film itu mendiskreditkan kesatuannya.

Kita sendiri akan melawan film dengan film, atau film dengan tulisan. Biarlah masyarakat menonton kembali film warisan Orde Baru itu. Bagi generasi milenial yang belum menonton, biarkan mereka menontonnya.

Di sinilah efek Streisand akan mulai bekerja. Pulang dari nobar, orang akan penasaran dan mencari tahu mengapa film ini diributkan. Saat itulah mereka akan berjumpa dengan informasi-informasi baru tentang bagaimana film itu dibuat secara tidak akurat, sarat propaganda, bahkan mengejutkan keluarga pahlawan revolusi sendiri. 

Para orangtua akan mulai memperbanyak bacaan sumber-sumber yang jelas untuk menghadapi pertanyaan anak-anaknya. Gara-gara seruan nobar TNI AD itu, pemerintah bahkan akan membuat film versi baru.

Saat itulah, kita bisa menyebutnya sebagai “Efek Repdem” atau “Efek Gatot”.

Kolom terkait:

Surat Buat Dandhy Dwi Laksono

Mengapa Saya Ikut Simposium Tragedi 1965

Ingatan Kolektif 1965

Menjadi Indonesia Pasca-1965

Avatar
Dandhy Dwi Laksono
Jurnalis, penulis, dan Pendiri Watchdoc, perusahaan film dokumenter. Pada 2015, selama 365 hari, bersama "Ucok" Suparta Arz, Dandhy bersepeda motor mengelilingi Indonesia di bawah bendera Ekspedisi Indonesia Biru.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pemuda dalam Pergerakan Nasional Pandemi Covid-19

Peringatan hari Sumpah Pemuda mempunyai makna yang khusus di masa Covid-19 saat ini. Tak bisa dipungkiri bahwa negara Indonesia adalah salah satu negara yang...

Pilu-Kasih di Medan Aksi

Malam itu menjadi momen yang tak terlupakan. Saya kira, saya hanya akan menghabiskan malam dengan makan atau nongkrong di kafe favorit bersama sang kekasih....

Pendidikan di Era Disrupsi (Catatan Karya Yudi Latif)

Yudi Latif lebih muda 10 tahun dari saya. Dan walau saya, tentunya, lebih awal menulis, Yudi jelas jauh lebih produktif. Dua bulan lalu, saya diminta...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Kelamnya Dunia Politik di Thailand

Apa yang kalian bayangkan tentang negara Thaiand? Ya, negara gajah putih tersebut sangat dikenal dengan keindahannya. Apalagi keindahan pantai yang berada di Krabi dan...

ARTIKEL TERPOPULER

Sandiwara Dibalik Pernikahan Raja Majapahit Bali

Belakangan di Bali ramai pemberitaan mengenai acara pertunangan Raja Majapahit Bali bernama lengkap Abhiseka Ratu Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Pendidikan di Era Disrupsi (Catatan Karya Yudi Latif)

Yudi Latif lebih muda 10 tahun dari saya. Dan walau saya, tentunya, lebih awal menulis, Yudi jelas jauh lebih produktif. Dua bulan lalu, saya diminta...

Pemuda, Agama Sipil, dan Masa Depan Indonesia

Sejarah sangat berguna untuk mengetahui dan memahami masa lampau, dalam rangka menatap masa depan, ungkap Ibnu Khaldun (1332-1406 M). Semestinya tidak hanya dibaca sebagai...

Pandangan 2 Mazhab Hukum Terhadap Putusan MA Soal Eks Napi Koruptor

Pertengahan tahun 2018 ini publik dikagetkan dengan hadirnya PKPU No. 20/2018 yang dalam Pasal 4 ayat (3) menyatakan bahwa Pengajuan daftar bakal calon anggota...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.