in

Dia Sudah Terlalu Lelah

Massa pro Ahok menggelar aksi unjuk rasa di luar ruang sidang vonis kasus dugaan penistaan agama dengan terdakwa Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama di Auditorium Kementerian Pertanian, Jakarta, Selasa (9/5). ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay/foc/17.

Batu karang itu pun akhirnya terbelah, bukan hanya menjadi dua bagian, tetapi hancur menjadi kepingan-kepingan kecil, berserakan ke segala arah. Setelah semua tenaga yang tercurah sampai bulir-bulir keringat mengering, sampai kata-kata telah penuh di udara, beberapa hari lalu, dia memilih untuk berlutut di tanah kelahirannya ini, melepas semua rasa dan emosi kepada debu yang beterbangan di sekelilingnya.

Dia sudah terlalu lelah, bahkan terlalu lelah untuk menerima tangan-tangan yang setia mendukungnya, terlalu lelah untuk melihat nyala lilin yang senantiasa masih menyala di sudut-sudut kota negeri ini.

Tulang-tulangnya telah remuk satu persatu sejak berbulan-bulan lalu. Sejak sedikit kalimatnya ditafsirkan beramai-ramai dan dibengkokkan ke arah yang salah. Sejak lawan terbesarnya bukan lagi hanya politik, tetapi juga bercampur etnis dan agama. Sampai kepada keputusan pengadilan yang menetapkannya bersalah dan harus menjalani hukuman penjara selama dua tahun, sudah tidak tersisa lagi tulang di punggungnya.

Keputusan yang telah mencabut pita suara di tenggorokannya. Suara yang telah lama hilang bunyinya ditelan tujuh juta orang yang berkumpul di ibu kota. Beberapa hari lalu semua orang telah melihat wujud kelelahan itu, ketika dia akhirnya memutuskan untuk tidak melakuan banding dan menerima hukumannya.

Sayup-sayup kita bisa mendengar suaranya, melalui surat yang ditulisnya dari balik dinginnya jeruji penjara, dibacakan oleh istrinya dengan senandung isak tangis.

Wanita yang membaca surat itu dulu tidak pernah kelihatan rapuh. Wanita itu dulu sering kelihatan tersenyum, walaupun di tengah beratnya cobaan. Tetapi kini dia sudah tidak mampu lagi memakai topeng, berpura-pura tegar. Dari kelopak matanya, bercucuran air mata yang dengan sekuat tenaga ditahannya. Air mata dari seorang istri yang harus merelakan suaminya dipermainkan oleh ketidakadilan.

Baca Juga :   Momentum Menjaga "Jakarta Baru"

Air mata itu memorak-porandakan keteguhan hati siapa pun yang melihatnya. Orang-orang bukan hanya telah “membunuh” suaminya tetapi juga ikut menikam batin wanita di sisinya. Air mata itu, mencoba menyelinap, mengetuk nurani yang tersisa dari seorang manusia. Air mata itu, di tengah senandungnya, ingin berkata “cukuplah sudah, dia sudah terlalu lelah.”

Hari itu pun berlalu. Hari baru datang menjumpainya lagi, tetapi lelahnya masih belum hilang juga. Hari ini, tanpa bersuara lagi, dia meminta sebuah pena. Dia menggoreskan pena itu membentuk tanda tangannya, di atas sebuah surat pengunduran diri dari jabatannya.

Sejak dulu, ketika dia masih berseragam, tidak sekalipun dia ingin keluar sebelum habis masanya. Dia orang yang setia. Tetapi orang-orang di luar sana sudah tidak menginginkannya lagi. Orang-orang di luar sana tidak ingin dia menggunakan seragamnya lagi.

Surat itu dikirimkannya kepada sang kepala negara, orang yang dulu mengajaknya bersama-sama menggunakan seragam itu, bersama-sama mengucap janji untuk mengabdi kepada negara. Dia tahu hati kepala negara itu. Dia tahu kepala negara itu juga sering menangis di balik kamarnya melihat nasib sahabatnya yang tak bisa ditolongnya.

Kepala negara itu yang dulu membawanya ke ibu kota, dia jugalah yang akhirnya memberhentikannya melalui permohonan surat yang telah datang kepadanya.

Setelah semua yang telah dilepaskannya, masih ada satu hal yang masih berdiri teguh bersamanya, satu hal yang bernama kehormatan. Dia adalah si penista agama, dia adalah kafir penghuni neraka, tetapi kehormatannya wangi beraroma surga. Dia membawa dan membesarkan kehormatan itu mulai dari awal, sejak sidang berkali-kali di depan pengadilan sampai kepada keputusan bersalah oleh hakim, dihadapinya dan diterimanya tanpa perlu menebar banyak alasan.

Baca Juga :   Kampanye Hitam dalam Pilkada Jakarta

Konon, di negeri itu juga ada seorang ulama yang mendapat panggilan hukum atas suatu kasus, di waktu yang sama dengan si penista agama. Ulama itu adalah orang mulia, pengikutnya berjuta-juta, di tubuhnya mengalir darah yang sama dengan darah seorang nabi besar pembawa agama. Tetapi darah itu akhinya menjadi sia-sia ketika keberaniannnya ternyata hanya sebatas omongan belaka.

Alih-alih menghadapi panggilan hukum itu dengan berani, sang ulama malah memilih bersembunyi di negara orang. Bersembunyi dari hukum, kebenaran dan kenyataan. Si penista agama ternyata masih lebih terhormat.

Sejak manusia mengenal aksara, kata-kata “mengalah bukan berarti kalah” telah bergaung di mana-mana. Mengalah hanyalah mengorbankan diri untuk suatu kepentingan yang lebih besar, seperti lilin yang membakar sumbunya sendiri demi mengusir kegelapan. Sejak awal dia sadar, kasus ini bahkan tidak seharusnya masuk pintu pengadilan. Tetapi suara tujuh juta orang itu terus mengguncang dan mengusik pemerintahan atas nama keadilan bagi rakyat mayoritas.

Akhirnya dia pun menyerah. Atas nama demokrasi dan kesucian agama, dia rela untuk ditumbalkan. Tumbal untuk memberi makan ego akan kebenaran orang-orang yang selalu berteriak itu. Tumbal untuk memberikan kedamaian bagi jiwa-jiwa pendukungnya yang selama ini mencoba bangkit dan melawan. Tumbal untuk mengindari perpecahan dan dikotomi bangsa yang lebih dalam lagi.

Kini dia sudah terlalu lelah. Otot-otot wajahnya juga telah lama mengendur. Dia telah kehilangan semuanya, hak merdeka dan memimpin, hak dianggap sebagai warga negara Indonesia, bahkan kebahagiaan keluarganya perlahan-lahan digantikan air mata. Bangsa ini adalah semua yang dimilikinya, kepada bangsa ini juga telah dicurahkan semua keringat dan tenaganya, namun akhirnya bangsa ini jugalah yang membuangnya dan membungkam suaranya.

Written by Adi Perwira Purba

Adi Perwira Purba

Mahasiswa Jurusan Teknik Elektro ITB

Leave a Reply

Loading…

TINGGALKAN KOMENTAR