in

Demam Erdogan di Indonesia


Sejak sekitar tahun 2012, setelah berkali-kali membuktikan diri dan partai yang dipimpinnya, Partai Pembangunan dan Keadilan, menjadi pemenang di tiga pemilu parlemen Turki 2002/2007/2011, Presiden Recep Tayyip Erdogan telah sempurna menjadi primadona bagi negara-negara berpenduduk Muslim, dari negara-negara Balkan hingga ke Asia dan Afrika.

Keterkesimaan mereka terhadap kepemimpinan Erdogan tentu saja karena faktor pembangunan ekonomi dan infrastruktur internal Turki yang berkembang pesat, seperti rumah sakit, transportasi publik, dan sektor militer. Faktor lain tentu karena alasan bahwa Erdogan berasal dari partai berideologi Islamis, di mana momentum gerakan Islam transnasional dan Islam politik setelah 11/9 hadir semakin pesat.

Di samping itu, meledaknya Arab Spring akhir 2010 di Tunis dan Syiria awal 2011, posisi Turki lewat Erdogan semakin muncul ke permukaan dengan langkah-langkah politik proaktif di kawasan. Khusus untuk konflik yang kemudian menjadi perang sipil berkepanjangan di Syiria, Turki mengambil bagian dan memainkan peran penting di kawasan dengan merujuk pada fondasi kebijakan komsularla sifir sorun (zero problem with neighbours) yang sudah dirancang dalam strategi kebijakan luar negeri mereka sejak 2009 (Bagci & Erdurmaz, 2017: 7), di bawah tangan mantan menteri luar negeri Ahmet Davutoglu.

Tiga poin di atas, tak pelak, semakin mengokohkan ketokohan Erdogan. Di waktu bersamaan, kekuatan politik mereka dalam internal Turki sudah tidak bisa terbendung. Setelah 2011, dengan menggunakan pendekatan demokrasi, bentuk-bentuk perlawanan terhadap warisan sekuler Turki seperti pelarangan jilbab di parlemen mulai dilabrak.

Salah satu puncak ledakan penting yang ditunjukkan PM Erdogan waktu itu adalah ketika pada Kamis, 31 Oktober 2013, menyambut empat anggota perlemen dari AKP yang mengenakan jilbab pada sidang umum di parlemen, Ankara. Empat anggota parlemen tersebut telah memecah ketabuan jilbab di lingkungan lembaga negara. Satu hari berikutnya, Canan Candemir, wakil rakyat AKP dari Bursa, datang berjilbab ke parlemen (Sujibto, 2014).

Baca Juga :   Bom Istanbul: Turki di Tengah Pusaran ISIS

Puncaknya adalah ketika tahun 2014 Erdogan memenangkan Pemilihan Presiden Turki. Komunitas Muslim dari negara-negara seperti Somalia, Negeria, Sudan, Pakistan, Yaman, Syiria, Afghanistan, Malaysia, Indonesia dan masyarakat Muslim di Balkan secara masif dan terbuka menunjukkan dukungan dan simpati kepada Presiden Erdogan.

Dengan berbagai bentuk klaim, Erdogan pun dinobatkan menjadi pemimpin dan role model bagi komunitas Islam yang mempunyai suporter dari banyak negara. Secara cultural capital nama dan citra Erdogan benar-benar hadi menjadi sosok kharismatik yang tak tertandingi. Di waktu bersamaan, kritik dan bahkan cercaan yang dialamatkan oleh negara-negara Barat kepada Erdogan—karena dianggap sebagai pemimpin yang otoritarian dan bahkan fasis—ternyata semakin merapatkan barisan kelompok Islam transnasional tersebut untuk menggalang dukungan mereka kepada Turki dan Erdogan.


Strategi jitu untuk mengembangkan pengaruh kepada publik Muslim internasional semakin dipoles dan dimanfaatkan oleh Turki dengan mempercantik kebijakan luar negeri dan political will yang terwujud ke dalam bentuk-bentuk diplomasi bilateral. Dalam aspek kebudayaan, mereka mendukung hadirnya budaya populer lewat drama-drama Turki yang menyebar di negara-negara Balkan, Asia Kecil, Amerika Latin, Indonesia dan negara-negara Arab.

Dari hari ke hari, pengaruh dan penyebaran budaya populer Turki pun tidak bisa dibendung, termasuk di Indonesia. Apalagi tahun ini Presiden Jokowi berkunjung ke Turki dan bertemu langsung dengan Erdogan untuk meningkatkan potensi kerja sama kedua negara. Kerja sama di bidang pendidikan dan militer, di samping relasi bisnis yang sudah berjalan sejak lama, semakin diperkuat.

Baca Juga :   Jejak Langkah George J. Aditjondro dan Papua

Erdogan di Indonesia

Deskripsi di atas saya kira sudah cukup untuk mengantarkan bagaimana euforia Erdogan dan Turki dari hari ke hari semakin besar di Tanah Air. Pesan Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Sohibul Iman (25/7) kepada Gubernur DKI Jakarta terpilih Anies Baswedan-Sandiaga Uno, tentang keinginannya menjadikan Jakarta seperti Istanbul, bisa dijadikan renungan bahwa Turki sudah akrab ke sebagian banyak Muslim Indonesia.

Yang paling menarik dari pesan tersebut adalah pencatutan nama Erdogan yang diniatkan untuk kepentingan politik yang diandaikan terjadi juga di Jakarta dan Indonesia: “Bahwa di sana ada kepemimpinan Erdogan yang memulainya dari Istanbul. Sukses di sana dan kemudian bisa memimpin negara Turki yang hari ini menjadi negara Muslim yang dibanggakan.”

Anadolu Ajansi (AA, 24/8) yang telah resmi membuka kantor perwakilan di Indonesia melaporkan sebuah reportase menarik berjudul Endonezya’da ‘Erdogan Dostu’ sosyal medya hesabina buyuk ilgi (Perhatian besar media sosial terhadap akun Sahabat Erdogan di Indonesia). Mereka mewawancarai pendiri dan pengelola akun Sahabat Erdogan. Kemunculan akun tersebut, menurut salah satu dari mereka, karena adanya motivasi sebagai sesama Muslim dan berpikir bahwa apa yang dilakukan Erdogan sebagai pemimpin sudah benar.

Dalam rentang waktu lima tahun terakhir, Erdogan mempunyai fans fanatik yang secara fastastik menambah eskalasi berita-berita yang cenderung menjadi glorifikasi kepada tokoh yang juga mantan Wali Kota Istanbul itu. Di Indonesia, kita mempunyai dua akun fanpage Facebook paling banyak like, yaitu Sahabat Erdogan dengan like berjumlah nyaris 250 ribu dan Sultan Erdogan dengan like 150 ribu lebih.

Baca Juga :   Erdogan dan Misi Militer Turki di Irak

Akun Sahabat Erdogan saya lihat lebih moderat menyajikan konten-konten tentang Turki, yang bukan melulu soal Erdogan, meski pernah melakukan plagiat terhadap akun fanpage Turkish Spirit, akun yang sama-sama memuat konten hal-ihwal Turki.

Meski Sahabat Erdogan coba menyajikan konten yang lebih luas, para liker dan mereka yang share masih banyak memakai kacamata kuda dengan secara mentah-mentah menelan framing informasi yang dibangun oleh mereka. Tak jarang pula komentar-komentar di kolom mereka secara terbuka menjelek-jelekkan pemerintah dan negara Indonesia sendiri. Saya kerap menemukan umpatan dan olok-olok dari para komentator yang ditujukan kepada presiden dengan menglorifikasi Erdogan.

Sementara itu, akun Sultan Erdogan secara kasat mata sudah bisa kita tebak ke arah mana akun mereka akan berlabuh. Postingan-postingan dalam Sultan Erdogan lebih keras dengan mengultuskan sedemikian rupa sosok Erdogan. Meski awal-awal saya mencermati banyak konten yang tidak terverifikasi dengan baik soal ketepatan dengan fakta dan konteks, dalam perjalanannya mereka lumayan hati-hati terhadap hoax dengan tetap secara maksimal menghadirkan Erdogan sebagai the only man to praise.

Namun begitu, melihat fenomena di atas, ada hal sangat krusial yang nanti akan saya ulas dalam kesempatan lain, yaitu pentingnya “menempatkan Erdogan pada tempatnya”. Akhir-akhir ini saya mencermati sosok Erdogan di publik Indonesia—dengan keterbatasan pengetahuan dan informasi yang komprehensif tentangnya—telah dimanfaatkan oleh sebagian kelompok untuk menyerang kelompok lain dengan mendistorsi makna Erdogan itu sendiri: kapan menjadi politikus dan kapan pula menjadi “tokoh agama”.

Setahun Kudeta Berdarah di Turki

Ekonomi-Politik Turki Pasca Kudeta

Erdogan dan Satu Tahun Kudeta di Turki


Meraih Master Sosiologi di Universitas Selcuk, Turki. Kini mengajar di UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

Tinggalkan Balasan

Loading…

TINGGALKAN KOMENTAR