in

Berpolitik dengan Passion


Ketua Umum PSI Grace Natalie (tengah) bersama Sekjen PSI Raja Juli Antoni (kedua kiri), Ketua DPP PSI Isyana Bagoes Oka (kedua kanan), Ketua DPP Bidang Eksternal Tsamara Amany (kanan) dan Caleg PSI Giring (kiri) menunjukkan berkas verifikasi di gedung KPU, Jakarta, Selasa (10/10). ANTARA FOTO/Rosa Panggabean

Banyaknya aktor politik yang terjerat kasus korupsi, lalu tersenyum lebar di televisi saat digelandang petugas Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dengan mengenakan jaket oranye, membuat nalar sehat kita bertanya-tanya, sudah sirnakah rasa malu di hati dan pikiran mereka? Seolah-olah menunjukkan ke publik, “mereka korupsi dengan senang hati.”

Saya belum melihat ada koruptor yang menutup wajah, seperti para pengguna narkoba yang terciduk aparat. Atau seperti para teroris yang digelandang pasukan Densus 88. Maka, jangan heran jika suatu saat mungkin akan ada anak yang bercita-cita menjadi koruptor. Karena tampak di layar kaca, wajah-wajah koruptor tampil dengan gembira.

Padahal, kegembiraan para koruptor adalah derita ribuan atau bahkan jutaan rakyat Indonesia. Karena ulah koruptor, negara kehilangan banyak daya dalam menjalankan tugas-tugasnya untuk menyejahterakan rakyat. Kejayaan koruptor adalah kesengsaraan rakyat.

Fenomena inilah yang membuat sebagian kalangan merasa jijik dengan partai politik. Karena ada di antara aktor-aktornya yang sedemikian memuakkan, membuat wajah partai politik bak dewa Janus. Hipokrit. Di satu sisi membawa kabar baik (pada saat musim kampanye) dan di sisi lain bisa menyebabkan kehancuran (karena melakukan kejahatan korupsi).

Dengan begitu, siapa pun yang ingin berkhidmat untuk kemajuan bangsanya melalui jalur politik, berada di jalan terjal yang penuh onak dan duri. Kalau tidak dicap munafik, setidaknya dianggap naif. Kalau tampil baik dianggap pencitraan. Kalau jahat malah dianggap wajar. Ya, namanya juga dunia politik. Jadi, untuk menjadi aktor politik, memiliki keinginan dan niat baik saja tidak cukup, butuh stamina dan mental baja.

Kalau kita menyadari akan peran dan fungsinya yang sangat vital, politik adalah lahan yang paling pas untuk yang beramal secara maksimal. Karena politik merupakan hulu dari semua kebijakan. Berkiprah di dunia politik berarti berupaya memperbaiki kondisi masyarakat dari hulunya.


Baca Juga :   Grace Natalie dan Jawaban Politik Generasi “Y”

Kalau melihat kondisi masyarakat dengan permasalahan yang begitu kompleks, maka sekompleks itu pulalah masalah yang dihadapi para aktivis politik. Tapi dengan modal cara pandang, dan cara berpikir yang sistematis, hal yang kompleks bisa dihadapi dengan mudah. Kita dekati dunia politik sesuai minat dan bakat yang kita miliki. Pada saat kita bisa berpolitik seperti manjalani hobi, maka pada saat itulah siapa pun bisa berpolitik dengan riang, dengan penuh kegembiraan. Itulah yang saya maksud berpolitik dengan passion.

Passion dalam pengertian bebas adalah sesuatu yang menyenangkan, yang membuat pelakunya tidak merasa bosan. Bagaimana berpolitik dengan passion, inilah yang tengah dilakukan teman-teman muda kita yang tergabung dalam Partai Solidaritas Indonesia (PSI). 

Kepada anak-anak muda kita gantungkan masa depan bangsa. Rasanya kita sudah bosan dengan semboyan semacam ini. Karena, pada faktanya, yang meneriakkan semboyan  seperti ini pun banyak yang bersikap feodal. Anak-anak muda sekadar dijadikan isu politik, sama seperti isu-isu lain yang kerap dijadikan alat politik. PSI tidak menjadikan kemudaan sekadar isu politik. PSI dijalankan anak-anak muda itu nyata. 

Kita sadar betul, menghadirkan politik di tengah-tengah masyarakat saat ini mungkin sama seperti menghadirkan pelajaran matematika atau fisika di hadapan anak-anak. Membosankan kalau tidak memuakkan.

Bagaimana menghadirkan matematika dan fisika secara menyenangkan itulah yang menjadi tugas para pendidik. Dan, sejauh ini, sudah ada beberapa pendidik yang bisa melakukannya, sekadar menyebut contoh, seperti Prof Dr Yohanes Suryo yang berhasil menjadikan anak-anak didiknya menyintai matematika dan fisika sehingga beberapa di antaranya ada yang berhasil mengukir prestasi di olimpiade matematika atau fisika.

Sesuatu yang rumit dan membosankan bisa menjadi mudah dan menyenangkan jika dilakukan dengan cara yang tepat. Untuk menjadikan anak-anak muda menyadari akan tugas dan tanggung jawabnya sebagai kader bangsa, yang di pundak mereka terdapat raut wajah masa depan kehidupan masyarakat kita, dibutuhkan metode yang tepat.

Partai politik pada dasarnya merupakan sarana untuk menghimpun dan menyalurkan kepentingan. Karena kepentingan rakyat sangat beragam, maka dibutuhkan objektifikasi. Seberagam apa pun kepentingannya, pasti ada ruang yang menjadi simpul dari semua kepentingan. Inilah yang bisa kita sebut dengan ruang agregasi. Titik temu dari semua kepentingan itulah yang menjadi ruang objektifikasi.

Bagaimana mentransformasikan kepentingan-kepentingan subjektif yang beragam menjadi kepentingan-kepentingan yang objektif, yang manfaatnya bisa dirasakan semua orang, itulah fungsi partai politik. Dan, dengan cara-cara yang menyenangkan, anak-anak muda bisa menjalankan fungsi itu dengan suka cita. Itulah fungsi kehadiran PSI!

Kolom terkait:

Perilaku Korupsi dan Politik Kebajikan

Baca Juga :   Memaknai Kekalahan Politik dalam Lintasan Sejarah Islam

Tantangan Berat Grace Natalie

Politik Giring “Nidji” dan Kemudaan

Politik Kita di Tengah “Tsamaraisasi Milenial” 

Dari Aida Hadzialic hingga Grace Natalie


Written by Jeffrie Geovanie

Jeffrie Geovanie

Anggota MPR RI 2014-2019

Tinggalkan Balasan

Loading…

TINGGALKAN KOMENTAR