in ,

Ahok dan Para Presiden yang Pernah Dipenjara


twitter
twitter

Mulutmu harimaumu. Sejatinya tidak semua auman dari mulut seekor harimau itu berbahaya. Namun, sayangnya, auman kata-kata yang keluar dari mulut Gubernur DKI Jakarta non-aktif Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dianggap terlampau mengancam sekelompok orang.

Dimulai dari penyebutan surat al-Maidah ayat 51 saat dirinya berbicara kepada masyarakat Kepulauan Seribu, Ahok dilaporkan karena ucapannya dianggap melecehkan al-Qur’an. Pada 16 November 2016, ia pun ditetapkan sebagai tersangka oleh kepolisian dengan dalih penistaan agama.

Meski penetapan ini mencoreng karir politiknya, Ahok terkesan santai saja. Ahok, dan mungkin kita semua yang dapat berpikir jernih, pasti memahami bahwa ada sebuah skema konyol dari sebagian elite dan kelompok Islam radikal untuk menjegal dirinya mengikuti Pilkada DKI Jakarta 2017.

Ia bahkan melontarkan lelucon: “Mandela dipenjara 30 tahun bisa jadi presiden. Siapa tahu gue jadi presiden, kan enak. Ngapain pusing,” kata Ahok tertawa seperti dikutip kompas.com (16/11).

Memang, dari sekian banyak kisah “dari penjara ke istana” dalam sejarah, mungkin kisah Nelson Mandela di Afrika Selatan yang paling terkenal dan sering dibicarakan orang. Setelah melihat kejamnya politik apartheid, sistem segrerasi dan diskriminasi rasial yang mengistimewakan hak orang-orang kulit putih atas orang-orang kulit hitam, Mandela menanggalkan profesinya sebagai pengacara untuk melawan pemerintah secara politis dan radikal.

Pada 5 Agustus 1962, Mandela ditangkap dengan tuduhan konspirasi makar dan ia pun dipenjara seumur hidup. Baru pada 11 Februari 1990, 27 tahun kemudian, Mandela dibebaskan setelah publik internasional menekan pemerintah Afrika Selatan. Kehidupan Mandela berubah setelah ia bebas. Kini namanya bersinonim dengan semangat perjuangan keseteraan antar manusia di dunia. Rezim Apartheid pun tutup buku kala Mandela terpilih secara demokratis sebagai Presiden Afrika Selatan pada 10 Mei 1994.


Namun, kisah yang seperti ini bukan hanya milik Mandela seorang. Setidaknya masih ada belasan presiden lain yang merupakan seorang pesakitan sebelum mereka menjabat.

Masih di Afrika. Di Ghana, ada Kwame Nkrumah (menjabat 1960-1966) yang sempat dipenjara selama 1 tahun (1950-1951) oleh pemerintah kolonial Inggris karena menyerukan Aksi Positif, gerakan non-kooperatif dan anti-imperialisme Inggris. Di Nigeria, Olusegun Obasanjo (1999-2007) juga mencicipi bilik penjara selama 3 tahun (1995-1998) setelah dituduh terlibat dalam upaya kudeta terhadap pemerintahan diktator Jendral Sani Abacha.

Dari Amerika, setidaknya dapat kita temukan beberapa nama: Carlos Menem (Argentina, menjabat 1989-1999), Daniel Ortega (Nikaragua, 2007-sekarang), Jose Mujica (Uruguay, 2010-2015), Dilma Rousseff (Brazil, 2011-2016), dan Michelle Bachelet (Chili, 2014-sekarang).

Pada 1976, Menem tengah menjabat sebagai Gubernur La Rioja kala militer mengkudeta Presiden Isabel Peron, dan akibat pandangan politik populisnya (Peronisme), ia pun menjadi tahanan politik selama 5 tahun (1976-1981). Ortega, seorang sosialis Sandinista, merasakan bilik tahanan selama 7 tahun (1967-1974) setelah tertangkap merampok bank di Managua, ibukota Nikaragua, untuk kebutuhan aksi revolusionernya. Sedangkan Jose Mujica dipenjara selama 13 tahun (1972-1985) akibat aktivitas gerilyanya melawan rezim militer di Uruguay.

Rousseff dan Bachelet juga mendekam di penjara atas perintah rezim diktator militer di negaranya masing-masing. Rousseff, yang juga seorang gerilyawan sosialis tersebut, ditangkap dan dipenjara selama 3 tahun (1970-1972). Sedangkan Bachelet ditangkap karena sang ayah, Alberto Bachelet, menentang gerakan kudeta Augusto Pinochet pada 1973. Bachelet dipenjara selama 1 bulan (1975). Kedua presiden perempuan pertama di Brazil dan Chili itu juga mengaku disiksa dalam masa tahanannya.

Di Eropa, Nicolae Ceausescu, Presiden dan diktator Romania (1974-1989), sudah akrab dengan penjara sejak masa muda karena aktivitas komunisnya yang radikal. Ia pertama kali dipenjara pada usia 15 tahun (1933) setelah terlibat perkelahian dalam sebuah aksi mogok. Sampai pertengahan dekade 1940-an, ia masih keluar masuk penjara akibat aksi-aksi subversifnya. Sebab utamanya karena Romania dikuasai Perdana Menteri Ion Antonescu yang bersekutu dengan Nazi Jerman selama Perang Dunia II.

Sedangkan di Asia, Ho Chi Minh (Vietnam, 1945-1969), Sukarno (Indonesia, 1945-1967), dan Syngman Rhee (Korea Selatan, 1948-1960) tercatat sebagai presiden pertama di negaranya masing-masing yang pernah mencicipi jeruji besi.

Minh sempat dipenjara selama 2 tahun (1931-1933) di Hong Kong akibat aktivitas komunisnya. Sukarno ditahan oleh Belanda di Bandung (1929-1931) dan diasingkan ke Flores, Bengkulu, dan Padang (1933-1942) untuk meredam gerakan politiknya sebelum dibebaskan tentara Jepang. Sedangkan Rhee ditahan selama 7 tahun pada masa Kekaisaran Korea (1897-1904) akibat menuntut reformasi pemerintahan.

Selain itu, ada nama Mohamed Nasheed (Maladewa, 2008-2012), yang sempat ditahan selama 13 kali oleh rezim otokratik Maumoon Abdul Gayoom pada dekade 1990-an dan 2000-an. Shimon Peres (Israel, 2007-2014), sempat ditahan selama 2 minggu (1944) oleh pemerintahan mandat Inggris kala memimpin ekspedisi ilegal ke gurun Negev di selatan Israel. Bahkan Recep Tayyip Erdogan (Turki, 2014-sekarang) juga pernah dipenjara selama 4 bulan (1999) setelah ia mengutip bait puisi yang oleh pemerintah dianggap memicu kebencian terhadap keberagaman agama.

Merujuk pada fakta-fakta sejarah ini, memang bukan mustahil kalau Ahok, jika ia dipenjara dan keluar nanti, bisa saja melangkah mulus ke kursi kepresidenan. Terlebih masyarakat banyak masih menganggapnya sebagai tokoh protagonis dalam skema perpolitikan nasional. Tampaknya, bagi sebagian orang, singgah sementara ke hotel prodeo adalah sebuah langkah yang manjur untuk merasakan nikmatnya singgasana kepresidenan.

Yakin ingin ikut mencobanya, Ahok?


Written by Rahadian Rundjan

Penulis dan peneliti sejarah. Berdomisili di Bogor.

Tinggalkan Balasan

Loading…

TINGGALKAN KOMENTAR