in

As-Saffah (Sang Penumpah Darah): Khalifah Pertama Abbasiyah


[Ilustrasi]

Transisi kekuasaan dari Dinasti Umayyah ke Dinasti Abbasiyah terjadi lewat pertumpahan darah. Gonjang-ganjing kekuasaan mencapai puncaknya sehingga rezim lama digantikan oleh rezim yang baru. Apakah rezim baru akan membawa perubahan terhadap relasi rakyat dan penguasa? Mari kita Ikuti kisah Khalifah Abbasiyah pertama di bawah ini, dengan berdasarkan sejumlah kitab tarikh yang dijadikan rujukan utama dalam literatur Islam.

Imam Thabari mengisahkan Abul Abbas (721-754), yang dibai’at sebagai Khalifah pertama Dinasti Abbasiyah, naik mimbar Jum’at dan berpidato di depan penduduk Kufah. Berikut ini petikan pentingnya:

يا أهل الكوفة، أنتم محل محبتنا ومنزل مودتنا

أنتم الذين لم تتغيروا عن ذلك، ولم يثنكم عن ذلك تحامل أهل الجور عليكم، حتى أدركتم زماننا، وأتاكم الله بدولتنا، فأنتم أسعد الناس بنا، وأكرمهم علينا، وقد زدتكم في أعطياتكم مائة درهم، فاستعدوا، فأنا السفاح المبيح، والثائر المبير.

“Wahai penduduk Kufah, kalian adalah tempat berlabuh kecintaan kami, dan rumah idaman kasih sayang kami. Dan tidaklah kalian melakukan hal-hal yang bertentangan dengan itu, dan kalian tidak tergoda oleh tindakan para pembangkang sampai Allah mendatangkan kekuasaan kami. Kalian adalah orang yang paling berbahagia dengan adanya kekuasaan kami di tengah kalian. Kalian adalah orang yang paling mulia di mata kami. Dan kami telah menambah gaji kalian seratus dirham. Bersiaplah kalian, karena saya adalah penumpah darah yang halal (al-saffah al-mubih) dan pembalas dendam yang siap membinasakan siapa pun juga (al-tsa’ir al-mubir).”

Sejak itu, Abul Abbas dikenal dengan julukan al-Saffah. Padanya berkumpul dua hal: kedermawanan dan sang penjagal. Kepada penduduk Kufah, tak segan-segan dia meningkatkan pendapatan mereka untuk membeli loyalitas penduduk Kufah yang lebih dari 80 tahun di bawah kekuasaan Dinasti Umayyah. Pada saat yang sama, siapa saja yang berani melawan kekuasaan Abbasiyah, penguasa rezim baru, akan dibunuh dengan kejam.

Dalam awal pidatonya, Abul Abbas As-Saffah menyitir berbagai kezaliman dan kesewenang-wenangan Dinasti Umayyah, dan mengutip berbagai ayat Qur’an mengenai keluarga Nabi (QS 33:33 dan QS 42:23). Ini menggambarkan pijakan teologis yang jelas: pengambil-alihan kekuasaan terjadi untuk menegakkan keadilan dan sekaligus mengembalikan hak keluarga Nabi Muhammad SAW. Dengan kata lain, Abul Abbas berusaha memberi landasan teologis terhadap pengambil-alihan kekuasaan ini.

Baca Juga :   Politik Jalan Kebajikan

Abul Abbas memang memiliki nasab yang berasal dari Abbas, paman Nabi Muhammad. Ini berbeda dengan Syi’ah yang menjadikan keturunan Ali bin Abi Thalib dan Fatimah sebagai jalur nasab keluarga Nabi. Boleh saja secara umum dianggap kekuasaan Abbasiyah ini merupakan Ahlul Bait yang Sunni. Tapi problem teologis yang dialami Syi’ah mengenai legitimasi keimamahan mereka juga dihadapi oleh Abbasiyah: “Apa dasarnya keluarga Nabi mewarisi kekuasaan atas umat?”

Berbeda dengan Syi’ah yang mengambil argumen yang ketat soal imamah, Abbasiyah tetap menggunakan jalur khilafah melanjutkan tradisi Sunni, tapi dengan tambahan justifikasi bahwa kekuasaan khilafah berada di tangan keluarga Nabi dari jalur Abbas. Maka, beredarlah sejumlah riwayat yang meneguhkan posisi teologis Abbaisyah ini. Dengan kata lain, sekali lagi, agama telah dijadikan sebagai alat politisasi kekuasaan. 


Imam Thabari memulai pembahasan tentang kekhalifahan Abbasiyah dengan mengutip riwayat ini:

وكان بدء ذلك- فيما ذكر عن رسول الله ص- انه اعلم العباس ابن عبد المطلب انه تؤول الخلافة إلى ولده، فلم يزل ولده يتوقعون ذلك، ويتحدثون به بينهم

“Awal mula kekhilafahan Bani Abbas adalah bahwa Rasulullah memberitahukan kepada Abbas, pamannya, bahwa khilafah akan ada di tangan anak cucunya. Sejak itulah Bani Abbas membayangkan datangnya khilafah tersebut, dan mereka menyampaikan riwayat ini di kalangan mereka.”

Tapi Imam Thabari, yang dikenal sebagai ahli sejarah, ahli tafsir dan ahli fiqh, tidak menyebutkan sanad dan matan Hadits yang dimaksud. Imam Suyuthi menyebutkan sejumlah riwayat yang berkenaan dengan ini tapi, seperti bisa kita duga, menurut Imam Suyuthi sendiri riwayat-riwayat tersebut cukup lemah.

Misalnya, riwayat dari Abu Hurairah bahwa Nabi bersabda kepada pamannya, Abbas: “Dari kalangan kamu ada kenabian dan kerajaan.” Namun dalam perawinya ada nama al-Amiri yang dianggap lemah oleh Imam Suyuthi.

Baca Juga :   Khalifah Sentris atau Ummah Sentris? [Bagian 3]

Atau beredar riwayat lain, Nabi bersabda kepada Abbas: “Sesungguhnya Allah membuka agama ini denganku dan menutupnya dengan keturunanmu.” Lagi-lagi Imam Suyuthi memandang riwayat ini lemah.

Serangan juga ditujukan terhadap legitimasi keluarga Nabi dari jalur Abbas. Ini dikarenakan jalur ini bukan keturunan Nabi Muhammad, tapi lebih pada keturunan paman Nabi. Maka, kita dapati berbagai riwayat di Sunan al-Tirmidzi, misalnya, “Abbas adalah bagian dariku dan aku (Nabi Muhmamad) adalah bagian darinya”; “Siapa pun yang menyakiti pamanku (Abbas) berarti dia telah menyakitiku”; dan “Paman seseorang adalah saudara kandung ayahnya atau termasuk dari bagian ayahnya”.

Imam Tirmidzi meriwayatkan berbagai keutamaan Abbas, dan dalam satu riwayat Nabi mendoakan agar Allah mengampuni keturunan Abbas. Riwayat ini seolah hendak melegitimasi bahwa apa pun kekejaman dan pertumpahan darah yang dilakukan Dinasti Abbasiyah akan diampuni Allah.

Hadits hasan gharib ini hanya satu-satunya yang diriwayatkan oleh Sunan al-Tirmidzi dan tidak dijumpai riwayat senada dalam kitab hadits utama lainnya. Toh, meski begitu, ada ulama yang menambahi riwayat doa Nabi di atas dengan kalimat tendensius: “… dan jadikanlah kekhilafahan tetap di pundak keturunan Abbas.” Luar biasa, bukan?

Imam Ahmad dalam kitab Musnad-nya (Hadits Nomor 11333) juga meriwayatkan seolah kehadiran kekuasaan as-Saffah sudah dinubuwatkan oleh Nabi: “Di penghujung zaman dan tersebarnya fitnah akan keluar seorang lelaki yang disebut dengan as-Saffah. Dia akan memberikan harta dengan dermawannya.” Riwayat yang tercantum dalam Musnad Ahmad ini tidak terdapat dalam kitab hadits utama lainnya (kutubut tis’ah).

Ibn Katsir dalam al-Bidayah juga mencantumkan sejumlah riwayat lemah mengenai kekuasaan Dinasti Abbasiyah ini, utamanya berdasarkan riwayat dari Baihaqi. Sekali lagi kita melihat upaya luar biasa untuk melegitimasi kekuasan politik lewat penampakan berbagai riwayat hadits. Dan luar biasanya riwayat-riwayat berbau politik ini terus beredar dan ada saja, bahkan banyak, yang mudah percaya dengan hal-hal semacam ini.

Di atas telah saya kisahkan bagaimana Abul Abbas mendapatkan legitimasi sebagai keluarga Nabi. Lalu, bagaimana dengan kelompok Syi’ah? Semula Syi’ah mendukung Abbasiyah menyingkirkan Dinasti Umayyah. Tragedi kekalahan politik Syi’ah di masa Umayyah seolah menemukan harapan untuk kembali bangkit dengan datangnya pemerintahan Abbasiyah, sebagai sesama keluarga Nabi. Namun, ternyata Abul Abbas berpaling dari mereka. Nasib Syi’ah tidak berubah. Tetap marjinal.

Baca Juga :   Dia Sudah Terlalu Lelah

Salah satu bentuk kekejaman Abul Abbas adalah dengan mengundang jamuan makan kepada keluarga Bani Umayyah yang tersisa. Abul Abbas membunuh Sulaiman bin Hisyam bin Abdul Malik dengan tangannya sendiri, dengan cara menariknya keluar dari meja makan. Ini juga dilakukan terhadap 90 orang Bani Umayyah lainnya: dijamu makan, lantas dibantai habis. Bahkan tubuh mereka yang masih menggelepar ditutup dengan permadani, dan as-Saffah dan keluarganya melanjutkan makan malam di atas permadani. Begitu Ibn al-Atsir dalam al-Kamil fit Tarikh menceritakan kekejian ini.

Gubernur Madinah yang diangkat Khalifah Abul Abbas, yaitu Dawud bin Ali, juga membantai semua keluarga Umayyah yang masih tersisa di Mekkah dan Madinah. Politik balas dendam dan pertumpahan darah menjadi ciri dari pemerintahan Abul Abbas.

Abul Abbas as-Saffah hanya berkuasa 4 tahun. Pada 10 Juni tahun 954 Masehi, dia wafat saat masih berusia cukup muda, yaitu 33 tahun. Sebelum wafat, Abul Abbas telah menunjuk saudaranya, Abu Ja’far, dan keponakannya, Isa bin Musa, sebagai satu paket penerus kekhilafahan Abbasiyah.

Ini artinya kekuasaan boleh berganti rezim, namun metode pemilihan khalifah tetap tidak berubah: suara umat tetap tidak berarti. Kekhilafahan hanya berputar di keluarga elite tertentu saja, lewat wasiat penunjukan khalifah sebelumnya.

Insya Allah, kita akan lanjutkan mengaji sejarah politik Islam pada Jum’at berikutnya dengan membahas kisah Khalifah kedua Abbasiyah: Abu Ja’far al-Manshur.

Kolom terkait:

Khalifah Marwan II: Sang Keledai Penguasa Terakhir Umayyah

Khalifah Yazid Bin al-Walid: Fitnah Ketiga dalam Sejarah Islam

Khalifah Al-Walid bin Yazid: Fir’aunnya Umat Islam

Khalifah Yazid bin Abdul Malik: Instabilitas dan Pertumpahan Darah


Written by Nadirsyah Hosen

Nadirsyah Hosen

Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia – New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School, Australia.

Tinggalkan Balasan

Loading…

TINGGALKAN KOMENTAR