Jumat, Februari 26, 2021

Ambisi Mengadili (Mantan) Pemimpin

Kearifan Politik dalam Menyikapi Perbedaan

Panggung politik kita saat ini dipenuhi dengan pertentangan yang tak kunjung berujung, antara yang mendukung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan yang berusaha menihilkannya; antara...

Pertimbangkan ini Sebelum Pilih Anies-Sandi

Debat Cagub-Cawagub DKI Jakarta putaran terakhir pada Jumat lalu (10/2) menjadi suguhan penutup yang sudah sepantasnya memantapkan hati para pemilih untuk memilih salah satu pasangan...

Susi Susanti, Ahok, dan Kita

Lagu Indonesia Raya bergema di Stadion Indoor Pavelló de la Mar Bella, tempat laga final cabang olahraga Badminton berlangsung, pada Olympiade Barcelona tahun 1992. Saat...

Pengakuan Pak Harto: Malam Jahanam itu Bernama Kudeta

RAUT wajah Presiden Sukarno tampak menahan kesal teramat sangat. Sambil duduk, ia dihadapkan pada selembar kertas yang harus ditandatangani. Di sisi kanan Bung Besar,...
Avatar
Ali Romdhoni
Pengajar FAI Universitas Wahid Hasyim, Semarang. Saat ini sedang studi doktoral di Heilongjiang University, China. Pengurus Cabang Istimewa NU Tiongkok.

Massa melakukan aksi unjuk rasa di luar ruang persidangan kasus dugaan penistaan agama dengan terdakwa Gubernur nonaktif DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama di depan Kementerian Pertanian, Jakarta, Selasa (3/1). ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay

Siang itu, kami satu meja di salah satu restoran Muslim di kampus Heilongjiang University, China. Seorang teman berkebangsaan Rusia menunjukkan pemberitaan di media sosial tentang kejadian terkini di Indonesia. Berita itu tentang lautan manusia dan pengadilan bagi para (mantan) pemimpin.

Seperti baru disadarkan, saya ingat bahwa di mana pun berada kita ini diperhatikan orang lain. Hari ini kita tidak bisa mengelak dari sorotan dunia. Baik dan buruk, jujur atau curang, kokoh atau ambruk, maka saat itu juga ada jutaan mata yang menonton.

Apakah kita juga menikmati tontonan berita di media sosial seorang (mantan) pemimpin seperti Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok duduk tertunduk lesu di meja persidangan? Atau lebih dari itu, kita sudah lama menantikan dia dipenjarakan, sebagaimana dulu publik juga pernah menantikan berita seorang mantan presiden bisa dihadirkan di meja sidang.

Sebenarnya apa yang membuat kita berambisi ingin memenjarakan mereka, para pemimpin kita. Apakah kita ingin memberi pelajaran kepada mereka, atau ingin membalas dendam karena dengki. Apakah di mata kita, mereka keliru, atau karena kita merasa lebih bisa. Apa pun motifnya, apa kita lupa bahwa para pemimpin kita itu adalah pilihan kita sendiri, atau setidaknya para wakil kita yang memilihkan.

Apakah seterusnya kita akan mengulangi permainan seperti ini. Tadinya secara ramai-ramai kita mengangkat pemimpin, kemudian kita kritik mereka kapan saja, dan setelah itu kita dengan ramai-ramai pula menghukum mereka. Kepada siapa tontonan yang seperti ini kita suguhkan. Apa tidak malu mencampakkan para mantan idola yang dulu kita puja ke meja pengadilan.

Memang benar bahwa hukum harus ditegakkan, agar kelak perilaku keliru tidak diulangi lagi oleh pemimpin berikutnya. Tetapi bila hal itu ditumpangi rasa benci dan ambisi untuk menggilas lawan, lalu kita ini bangsa apa. Tidak adakah cara untuk mengingatkan para pemimpin yang lebih humanis. Misalnya, dengan cara memberi label hitam kepada sang tokoh untuk tidak memilihnya kembali, selamanya. Atau menolak mendukung partai gagal yang mengusungnya. Selamanya.

Saya kemudian teringat dengan nasihat bijak dari para filsuf. Biasanya, muda-mudi pemabuk cinta yang kemudian patah hati adalah mereka yang memiliki ekspektasi terlalu tingggi (tidak masuk akal) terhadap pujaan hati. Berbeda dengan para dewasa yang mencintai belahan jiwanya dengan segenap kesadaran, termasuk kesiapan mengetahui sisi gagal-kurang.

Apakah kita semua, masyarakat bangsa Indonesia ini, masih dalam masa-masa labil sebagaimana muda-mudi. Manusia yang emosional dan irasional. Memilih sendiri para calon pemimpin, percaya dengan iming-iming mereka yang tidak masuk akal. Tetapi ketika yang tidak masuk akal tadi sulit terwujud, kita kaget setengah mati, patah hati dan kemudian memaki. Padahal, bagi orang waras, sejak awal janji-janji yang ditawarkan para juru kampanye itu memang tidak mungkin bisa dilaksanakan.

Kita juga tidak mau belajar untuk melihat kegagalan dan keberhasilan seseorang secara proporsional. Menyadari bahwa setiap dari kita memiliki dua sisi sekaligus, prestasi dan kegagalan. Kebencian kepada orang lain telah membuat sedikit noda yang menempel pada baju menutupi seluruh warna-warni indahnya.

Bila memang demikian, maka mengertilah bahwa kita ini masih dalam kondisi labil. Kita belum pantas menentukan pilihan, apalagi menghukum atas kesalahan orang lain.

Dalam konteks ini, ada bahan renungan menarik dari salah satu adegan dalam film berjudul Perempuan Berkalung Sorban (2009) yang diangkat dari novel berjudul sama yang ditulis oleh Abidah El Khalieqy. Dalam film itu diceritakan, Annisa (Reva S. Temat), putri Kiai Hanan, hampir saja mati karena dihukum rajam oleh kerumunan massa.

Annisa didakwa telah berbuat dosa oleh suaminya yang cemburu, yang kemudian memanggil orang-orang. Dalam kondisi genting itu ibundanya datang menghadang. Dengan suara bergetar khas seorang ibu, perempuan tua itu berteriak kepada massa yang telah bernafsu untuk menghabisi putrinya, Annisa. “Hanya mereka yang tidak pernah berbuat dosa, boleh melempar batu kepada Annisa…,” tegas wanita tua itu.

Mengadili orang lain harus berangkat dari motivasi mulia. Namanya saja “mengadili”, dari akar kata “adil”. Secara sederhana, target yang hendak dicapai adalah memperlakukan pihak-pihak terkait dengan adil, bijaksana. Karena itu, sebelum memutuskan untuk mengadili orang lain, kita terlebih dulu harus memiliki kompetensi khusus. Atau, setidaknya kita telah melakukan beberapa tindakan, sebelum memutuskan mengadili orang lain.

Pertama, kita terlebih dulu harus berempati kepada pihak terdakwa. Maksudnya, bagaimana kejadian sebenarnya, dan apa yang terjadi seandainya kita yang berada pada pihak terdakwa. Dengan menimbang-nimbang hal ini, maka kita tidak akan mudah menjatuhkan vonis hukuman kepada pihak yang kita anggap keliru.

Kedua, pastikan bahwa kita adalah orang yang lebih baik, katimbang mereka yang akan kita adili. Bagaimana mungkin kita menuding orang lain bersalah, sementara itu kita sendiri tidak lebih benar. Bagaimana bisa pembohong ingin mengadili pembohong, sebelum dirinya sendiri diperlakukan dengan “adil”.

Ketiga, kita harus memiliki solusi atas kesalahan yang dibebankan kepada terdakwa. Tanpa menawarkan solusi yang lebih baik dan teruji, kita tidak lebih pantas menggantikan mereka yang “keliru”.

Tanpa ketiga hal di atas, kita hanya akan menjadi bagian dari kerumunan massa beringas, yang puas ketika melihat orang lain tersungkur dalam jurang kehancuran. Lantang meneriakkan orang lain bersalah, tetapi tidak pernah melihat kepada diri sendiri yang tidak juga lebih baik.

Lazim terjadi di tengah masyarakat, kita berani menyalahkan para pemimpin. Padahal, kita juga tahu bahwa diri ini tidak lebih bisa mengatasi persoalan yang ada. Bukankah kita percaya bahwa menjadi pemimpin itu ada campur tangan kehendak Tuhan. Artinya, mereka yang telah “terpilih” itu tidak lepas dari campur tangan semesta. Mereka itu orang-orang yang setingkat lebih baik, meskipun akhirnya ada yang gagal. Sementara kita belum mencapai kilometer, sebagaimana yang sudah dilalui para pemimpin itu.

Belajarlah dari kejadian demi kejadian di masa lalu. Berhentilah memaki para petinggi di negeri ini. Kalaupun merasa harus memberikan kritik, sampaikan dengan elegan. Saatnya merajut solidaritas yang terkoyak.

Avatar
Ali Romdhoni
Pengajar FAI Universitas Wahid Hasyim, Semarang. Saat ini sedang studi doktoral di Heilongjiang University, China. Pengurus Cabang Istimewa NU Tiongkok.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Kenapa Saya Mengkritik Mas Anies?

Dua hari yang lalu saya mengkritik Gubernur DKI Jakarta Mas Anies Baswedan melalui unggahan akun Instagram. Soalnya Mas Anies melempar kesalahan pada curah hujan dan...

Berpegangan Tangan dengan Leluhur

Oleh: Arlita Dea Indrianty, SMAN 36 Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Bicara tentang Indonesia tidak akan membawa seseorang pada titik...

Penguatan Kultur Demokrasi di Indonesia

Sebagian persoalan dalam praktik demokrasi di Indonesia muncul dari kalangan elite yang membajak sistem. Masyarakat sebagai pemilik sah kedaulatan tertinggi dalam demokrasi hanya dijadikan...

Buntara Kalis

Oleh: Queen Vega Latiefah, SMAN 76 Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Seperti cahaya rembulan di malam hari, seperti itu bayangan orang orang...

Sejarah Palestina dan Hubungannya dengan Kita

Usai Kekalahan Ottoman pada perang dunia 1 yakni pada (1914 - 1918) wilayah Palestina - Israel sejak 1922 berada di bawah mandat Inggris. Peluang...

ARTIKEL TERPOPULER

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Menilik Pencekalan Panglima Gatot

Insiden diplomatik antara Amerika Serikat dan Indonesia terjadi hari Sabtu lalu, (21/10/2017) di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Kejadiannya, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dicekal untuk...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Sejarah Palestina dan Hubungannya dengan Kita

Usai Kekalahan Ottoman pada perang dunia 1 yakni pada (1914 - 1918) wilayah Palestina - Israel sejak 1922 berada di bawah mandat Inggris. Peluang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.