Jumat, Februari 26, 2021

Ada Cerita di Balik Bhinneka

Tanggung Jawab Politik “Sang Pribumi” Anies Baswedan

Senin, 16 Oktober 2017, DKI Jakarta akhirnya resmi punya nakhoda baru. Setelah Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) digilas massa yang menggila-gila, Jakarta untuk lima tahun...

Khalifah Ketujuh Umayyah: Sulaiman yang Narsis

Sulaiman bin Abdul Malik berusia sekitar 40 tahun ketika akhirnya berhasil menggantikan kakaknya, al-Walid, sebagai Khalifah ketujuh dari Dinasti Umayyah. Al-Walid dan Sulaiman sebelumnya...

Selamat Bekerja, Pak Gub dan Pak Wagub!

Pak Gub dan Pak Wagub yang terhormat, Selamat atas pelantikan Bapak berdua menjadi gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta untuk periode 2017 – 2022. Mulai hari...

Negeri Sekarat Demokrasi

"Makin sedikit negara campur tangan dalam urusan masyarakat, makin baik jadinya fungsi negara itu." ~ Robert Nozick Saya sepakat bahwa negara (para pengurusnya) perlu kembali...
Emilia Tiurma Savira
S1 Ilmu Komunikasi UI, peminatan Kajian Media. Bekerja sebagai konsultan di bidang public affairs dan strategic communication. Aktif dalam kegiatan kerelawanan terutama di bidang politik dan pendidikan.

Sejumlah seniman membawa lambang Garuda Pancasila saat Kirab Grebeg Pancasila di Blitar, Jawa Timur, Rabu (31/5). Kirab yang diikuti oleh sejumlah seniman, siswa, dan masyarakat tersebut digelar dalam rangka memperingati hari lahir Pancasila pada 1 Juni. ANTARA FOTO/Irfan Anshori

Jauh sebelum kata “toleransi” masuk dalam kosakata resmi Bahasa Indonesia, seorang sepuh telah menerapkan gaya asyik ini pada masanya di bawah pemerintahan Rajasanagara. Adalah Mpu Tantular, seorang pujangga Jawa yang beragama Budha, yang mengekspresikan pentingnya hidup berdampingan dalam perbedaan lewat karya sastranya.

Meski sudah memantapkan hati pada satu keimanan, Mpu Tantular terbuka dengan kepercayaan-kepercayaan lain yang ada di Bumi Pertiwi pada masa itu, terutama dengan agama Hindu-Siwa.

Kitab Sutosoma yang beliau buat menceritakan tentang Budha dan Hindu-Siwa yang sepatutnya hidup berdampingan tanpa menduga hal-hal buruk rupa. Kata Bhinneka Tunggal Ika, semboyan Republik Indonesia, merupakan frasa yang diambil dari kitab Sutosoma tersebut. Ada latar belakang yang perlu dipahami dalam cerita tersebut hingga akhirnya kata-kata Bhinneka Tunggal Ika muncul dalam karya Mpu Tantular.

Dalam kitab Sutosoma, Mpu Tantular menuliskan bahwa kebenaran Budha adalah satu dan kebenaran Siwa adalah satu, dan ia melanjutkan dengan kalimat “siapa dapat mengenali?” Pada kalimat berikutnya, barulah Mpu Tantular menyatakan kalimat Bhinneka tunggal ika tan hana dharma mangrwa yang artinya “maka berbedalah itu tetapi satu juga, karena tidak ada kebenaran yang mendua”.

Walau terdengar kontradiktif, pemahaman mengenai pernyataan Mpu Tantular ini membutuhkan konteks yang holistik. Maksud kitab sastra Mpu Tantular di mana frasa bhinneka tunggal ika ini ditemukan adalah menegur bahwa tidak ada seorang manusia pun yang dapat menyatakan bahwa dirinya benar secara absolut.

Lebih lanjut, yang dimaksud dengan tidak ada kebenaran yang mendua adalah bahwa kedua agama yang disebut dalam kitab Sutosoma sama-sama berdiri dalam kebenaran dan memerangi hal yang jahat. Tetapi pertanyaannya akan berlanjut, sebenarnya di mana letak kebenaran dan kekuatan bhinneka tunggal ika?

Kekuatan dan kebenaran bhinneka tunggal ika baru bisa dirasakan ketika ada penerimaan. Bhinneka tunggal ika hanya akan menjadi semboyan bila tidak ada penerimaan dari masyrakat yang seharusnya menghidupi kata-kata tersebut. Penerimaan akan datang melalui pengertian akan fakta mengenai Indonesia. Faktanya, Indonesia adalah negara kepulauan dengan ragam etnis, ragam pemeluk agama, dan ragam budaya.

Tetapi dalam fakta yang sudah sebegitu jelasnya, pengertian dan penerimaan masih sulit untuk sebagian besar orang. Dalam hal seperti ini, sejarah memiliki peran yang kuat, untuk memperlihatkan bahwa satu sama lain—meski punya perbedaan—bukanlah orang asing yang patut dipandang curiga.

Sayangnya, sejarah masih kurang populer dalam masyarakat kita. Beberapa perlakuan terhadap sejarah yang cukup memerlukan perhatian dapat dilihat dari perlakuan terhadap tools penyampaian sejarah.

Pertama, museum kurang difungsikan sebagai medium pembelajaran yang menyenangkan. Ada beberapa kritik mengenai museum berdasarkan museum-museum yang saya kunjungi, yaitu museum di bilangan Kota Tua, Museum Nasional, Museum Sumpah Pemuda, Museum Djoeang ’45, Museum Pancasila Sakti, Museum Taman Prasasti, Museum Sangiran di Jawa Tengah, dan Museum Bukuran di Jawa Tengah.

Kritik pertama saya tujukan bagi museum yang kurang memperhatikan signifikansi menulis keterangan dengan baik. Setiap keterangan sepatutnya difungsikan sebagai medium untuk berbicara kepada pengunjung—dan bukan diperlakukan selayaknya teks membosankan.

Teks pada keterangan diorama atau benda di museum harusnya bisa menunjukan korelasi antara apa yang diabadikan di museum tersebut dengan kondisi masyarakat. Selalu ada pelajaran di setiap sejarah, mengapa mengurungnya dalam kemasan tak menarik?

Kritik kedua, museum kurang dibantu untuk hidup. Museum dapat dikembangkan dengan membuat konten pembelajaran interaktif. Selain hidup dari segi interaktif, museum juga perlu dibantu untuk dipromosikan, seperti Museum Bukuran dan Sangiran yang ada di daerah yang cukup jauh dari pusat kota namun informatif dan cara penyajiannya terbilang segar. Sungguh sangat disayangkan bila museum-museum seperti ini didiamkan.

Namun lagi-lagi, perjuangan mesti dua arah. Masyarakat tidak bisa dipaksa datang tanpa konten yang siap dipelajari, dan museum tidak bisa hidup tanpa didatangi—lebih dalam, disukai.

Hal ini juga berlaku untuk bangunan bersejarah seperti candi, patung, atau monumen. Jika memang jumlah tour guide terbatas, menuliskan keterangan pada bangunan bersejarah tersebut sungguh membantu. Candi, patung, atau monumen tersebut perlu dibantu untuk bercerita langsung dengan para pengunjung.

Kritik ketiga tak lain berkaitan dengan buku dan membaca. Saya mau menantang bahwa sejarah adalah mata pelajaran yang harus terus dibawakan secara kaku. Buku kumpulan cerita rakyat dan komik dapat membantu. Cerita mengenai tokoh-tokoh juga dapat menjadi alternatif mengenal sejarah lebih jauh. Semua argumen ini saya tumpahkan dalam satu basis, dari mana seseorang tahu kebenaran, jika ia tidak pernah mempelajarinya?

Kebhinnekaan kerap diteriakkan dengan lantang, pentingnya Pancasila kerap didiskusikan. Namun tanpa pengertian dan penerimaan oleh masyarakat yang hidup di dalamnya, bhinneka dan Pancasila akan sama-sama tidak berdaya. Keduanya hanya akan terperangkap dalam huruf-huruf ketikan dan ruh maknanya habis dimakan rasa tidak peduli.

Sejarah memainkan peran krusial untuk memperlihatkan bagaimana bangsa ini terbentuk, apa yang sudah dilalui bangsa ini bersama-sama dari zaman ke zaman, hingga pada akhirnya masyarakat sadar bahwa kita semua berdiri dalam satu lingkaran yang sama, yaitu kebenaran dan perdamaian.

Terkadang saya berpikir, jangan-jangan sejarah pun sudah menjadi hal yang eksklusif sehingga tidak semua orang merasa memilikinya, pada sejarah bangsa adalah milik semua. Dalam perenungan dalam hari-hari peringatan yang dibuat oleh negara, bahkan hingga diberi libur, kiranya ada cukup waktu bagi kita untuk merefleksikannya jauh lebih serius.

Emilia Tiurma Savira
S1 Ilmu Komunikasi UI, peminatan Kajian Media. Bekerja sebagai konsultan di bidang public affairs dan strategic communication. Aktif dalam kegiatan kerelawanan terutama di bidang politik dan pendidikan.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Kenapa Saya Mengkritik Mas Anies?

Dua hari yang lalu saya mengkritik Gubernur DKI Jakarta Mas Anies Baswedan melalui unggahan akun Instagram. Soalnya Mas Anies melempar kesalahan pada curah hujan dan...

Berpegangan Tangan dengan Leluhur

Oleh: Arlita Dea Indrianty, SMAN 36 Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Bicara tentang Indonesia tidak akan membawa seseorang pada titik...

Penguatan Kultur Demokrasi di Indonesia

Sebagian persoalan dalam praktik demokrasi di Indonesia muncul dari kalangan elite yang membajak sistem. Masyarakat sebagai pemilik sah kedaulatan tertinggi dalam demokrasi hanya dijadikan...

Buntara Kalis

Oleh: Queen Vega Latiefah, SMAN 76 Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Seperti cahaya rembulan di malam hari, seperti itu bayangan orang orang...

Sejarah Palestina dan Hubungannya dengan Kita

Usai Kekalahan Ottoman pada perang dunia 1 yakni pada (1914 - 1918) wilayah Palestina - Israel sejak 1922 berada di bawah mandat Inggris. Peluang...

ARTIKEL TERPOPULER

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Menilik Pencekalan Panglima Gatot

Insiden diplomatik antara Amerika Serikat dan Indonesia terjadi hari Sabtu lalu, (21/10/2017) di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Kejadiannya, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dicekal untuk...

Sejarah Palestina dan Hubungannya dengan Kita

Usai Kekalahan Ottoman pada perang dunia 1 yakni pada (1914 - 1918) wilayah Palestina - Israel sejak 1922 berada di bawah mandat Inggris. Peluang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.