Senin, April 12, 2021

Politik “Usil” Kang Emil dan Bang Yusril

Senyum Ekonomi di Tengah Pandemi

Pandemi tak selamanya menyuguhkan berita sedih. Setidaknya, itulah yang disampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani. Berita apa itu? Sri Mulyani, menyatakan, kondisi ekonomi Indonesia tidak terlalu...

Sedikit Pengalaman Menjadi Caleg Kere

"Tujuan politik adalah melantangkan suara kaum marjinal. Supaya terdengar di telinga penguasa dan membangunkannya dari tidur nyenyak di istana megahnya lalu bekerja untuk rakyat". Saya...

Alienasi Guru dalam Ideologi Kompetisi

“Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan.” John Tylor Gatto memutuskan untuk menyudahi karier cemerlangnya sebagai guru pada tahun 1991. Ironis, di tahun ke-30 pengabdiannya sebagai...

Nasib Indonesia di Tengah Gelombang Populisme Politik

Bagaimana kita memahami munculnya gelombang populisme yang merata di berbagai negara dunia? Kemenangan Donald Trump di Amerika Serikat, munculnya Boris Johnson sebagai Perdana Menteri...
Avatar
David Krisna Alka
Penyuka kopi susu gula aren, Alumni INS, UIN Jakarta, dan Wall Street English, sedang belajar di Pascasarjana Departemen Ilmu Antropologi UI. Peneliti Senior MAARIF Institute for Culture and Humanity dan Wasekjen PP Pemuda Muhmamadiyah

 

Walikota Bandung Ridwan Kamil (kiri) bersama Ketua Dewan Pembina Yayasan Taman Lalu-lintas Yul Yunazwin Nazaruddin (kanan), pada peresmian proyek Revitalisasi Taman Lalu-lintas, di Bandung, Jawa Barat. ANTARA FOTO/Audy Alwi/16

Setelah kongkow bareng Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan Ganjar Pranowo di Balai Kota Jakarta, Jumat pekan lalu, Kang Emil “usil” mengatakan kemungkinan akan maju bertarung dalam pemilihan kepala daerah gubernur DKI Jakarta pada 2017 nanti. Bahkan Wali Kota Bandung bernama lengkap Ridwan Kamil itu tegas akan mengumumkan soal jadi atau tidaknya dia maju menuju kursi nomor 1 di DKI itu pada Senin ini.

Setelah itu, politik Jakarta ibarat proyek kereta cepat Bandung-Jakarta yang sudah kelar saja.  Betapa tidak, Minggu kemarin (28/2), di tengah warga Jakarta yang kedinginan diguyur hujan dan tak sedikit yang kebanjiran, Kang Emil melakukan safari politik untuk meminta masukan ke beberapa tokoh. Ia juga berkunjung menemui mantan Menteri Pemuda dan Olahraga Adhyaksa Dault, entah apa maksudnya.

Terang saja, dengan langkah politik Kang Emil yang brilian itu, “kereta cepat” media politiknya melesat menyebar ke jagat media sosial. Dalam suasana hujan deras dan merata di Jakarta, Kang Emil kembali menjadi topik yang banyak diperbincangkan. Apalagi sehari sebelumnya, dia sudah meminta pendapat khalayak di status halaman Facebook Ridwan Kamil. Tanpa penulis edit, begini kalimatnya:

Setelah 2 bulan intensif memenuhi undangan sana sini dan mendengarkan aspirasi dari tokoh2 lokal/nasional dan kelompok sana sini, sekarang saya dengan hormat meminta pendapat 1,6 juta warga Fanpage FB ini. Pertanyaannya: Perlukah saya pergi ke Jakarta untuk ikut pilkada gubernur DKI 2017 ? mhn alasannya. hatur nuhun.

Hamputen Kang Emil, alhasil ternyata banyak yang merespons tidak setuju bila Kang Emil maju sebagai calon gubernur DKI Jakarta pada Pilkada 2017 nanti. Ya, Kang Emil lebih baik mengurus Bandung saja dulu membuktikan kesuksesan besarnya sampai tuntas di kota Paris Van Java, lalu setelah itu pada Pemilu 2019 bertarung menuju kursi RI 1.

Di samping itu, selain akan melawan Ahok yang sudah tersohor di Jakarta ini, Kang Emil juga akan menghadapi pesohor lain di Republik ini, yakni Bang Yusril. Tak ada yang meragukan pengalaman politik Yusril Ihza Mahendra. Pengalaman Bang Yusril di dunia politik dan pemerintahan begitu berjubel.

Rekam jejak Bang Yusril dalam politik elite di Republik ini, mau memakai kaca mata politik apa pun, Kang Emil tentu jauh di bawah Bang Yusril. Kalau Kang Emil jadi juga berhadapan dengan Bang Yusril, meminjam istilah para aktivis pergerakan zaman dulu, seperti yunior melawan senior.

Pertanyaannya, apakah pantas Yusril Ihza Mahendra berhadapan dengan Basuki Tjahaja Purnama dan Ridwan Kamil bersaing memperebutkan kursi gubernur DKI Jakarta pada Pilkada 2017 nanti? Akhirnya, Senin (29/2), setelah Jakarta didera hujan deras, Kang Emil mengumumkan urung maju dalam Pilkada DKI 2017 nanti. Nah, bagaimana dengan Bang Yusril?

Kita tunggu saja ke mana arah politik pemilihan gubernur DKI Jakarta ini akan berlabuh. Meminjam kata-kata keren anak-anak Ibu Kota Jakarta, only god knows. Kalau kata anak-anak kota yang biasa, itu artinya entah. Entahnya mereka bisa jadi karena tak peduli soal siapa yang bakal jadi gubernur Jakarta nanti.

Bagi mereka, yang penting si gubernur bisa bikin warga sehat, sejahtera, dan Jakarta gak macet-macet banget dan banjirnya ketulungan (baca: tidak terus-menerus). Pendeknya, kalau macet dan banjir sedikit, itu bisa dimaklumi.  Namanya juga Ibu Kota. Entahlah…

Avatar
David Krisna Alka
Penyuka kopi susu gula aren, Alumni INS, UIN Jakarta, dan Wall Street English, sedang belajar di Pascasarjana Departemen Ilmu Antropologi UI. Peneliti Senior MAARIF Institute for Culture and Humanity dan Wasekjen PP Pemuda Muhmamadiyah
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Bertahan Disegala Kondisi

Pandemi COVID-19 membawa beragam nilai positif. Bagi dunia pendidikan, selain orangtua mengetahui betapa susahnya Pendidik (guru/dosen) mengajar anak didik, pendidik juga bisa belajar secara...

Bagaimana Cara Mengatasi Limbah di Sekitar Lahan Pertanian?

Indonesia merupakan negara agraris yang mayoritas warganya bermata pencaharian sebagai petani. Pada bidang pertanian terutama pertanian konvensional terdapat banyak proses dari penanaman hingga pemanenan,...

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Kebebasan Berpendapat Masih Rancu

Kebebasan berpendapat merupakan sebuah bentuk kebebasan yang mutlak bagi setiap manusia. Tapi belakangan ini kebebasan itu sering menjadi penyebab perpecahan. Bagaimana bisa kebebasan yang...

Laporan Keuangan? Basi?

Berbicara soal laporan keuangan, tentu sudah tidak asing lagi di telinga orang ekonomi, apalagi yang bergelut dalam dunia akuntansi. Secara singkat, laporan keuangan adalah...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Jihad Versi Kristen?

Kamus Besar Bahasa Indonesia menuliskan arti kata jihad sebagai usaha dengan segala upaya untuk mencapai kebaikan. Mengamati definisi ini paling tidak kita memiliki pengertian...

Umat Kristiani Bukan Nashara [Kaum Nasrani]

Dalam bahasa Arab, kata "nashara" merupakan bentuk jamak dari "nashrani". Sebutan "umat Nasrani" secara salah-kaprah digunakan untuk merujuk pada umat Kristiani, penganut agama Kristen....

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Mengenang Hans Küng (1928-2021), Tokoh Dialog Antar Agama

Bagi para pegiat dialog antar agama, sosok dan pemikiran Hans Küng tak asing lagi. Namanya kerap disebut seiring dengan pemikirannya tentang upaya mewujudkan perdamaian...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.