Jumat, Januari 22, 2021

Pintu-Pintu Menuju Buya

Benang Merah A’a Gatot, David Koresh, dan Shoko Asahara

"Menurut klien kami, ketika korban diajak berhubungan badan itu, selalu dikatakan bahwa di dalam diri Aa Gatot itu ada jin yang harus mendapatkan oksigen,...

Mengukur Kerukunan Umat Beragama

Sejumlah pemuka agama berdoa saat diskusi lintas agama di Gereja Kristen Indonesia, Sidoarjo, Jawa Timur, Selasa (9/2) malam. Diskusi bertujuan memperkuat silaturahmi dan membangun...

Rame-Rame Membaca Ulang Energi Terbarukan

Ocasio-Cortez, politisi di Amerika, melontarkan gagasan perlunya penggunaan energi terbarukan 100% pada tahun 2035 di Paman Sam. Bersama sejawatnya Ed Markey, mereka melontarkan proposal...

Aku Ingin: Obituari Sapardi Djoko Damono

“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana; dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu. Aku ingin mencintaimu dengan sederhana; dengan isyarat...
Avatar
David Krisna Alka
Penyuka kopi susu gula aren, Alumni INS, UIN Jakarta, dan Wall Street English, sedang belajar di Pascasarjana Departemen Ilmu Antropologi UI. Peneliti Senior MAARIF Institute for Culture and Humanity dan Wasekjen PP Pemuda Muhmamadiyah

Setelah menjalani operasi, kondisi kesehatan tokoh umat yang juga mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Ahmad Syafii Maarif, mulai membaik. Pasca operasi batu ginjal, Buya Syafii sudah bisa berjalan dan menulis pesan memberi kabar kepada koleganya. Saat tulisan ini dibikin, Buya masih dirawat di Bangsal Zaitun, RS PKU Muhammadiyah Gamping, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Ya, Buya Syafii masih sempat menulis kabar kepada sahabat-sahabatnya melalui pesan Whatsapp. Pesan Buya saya terima 26 Juli 2019, pukul 22.25 WIB:

“Para sahabat yg mulia, terima kasih atas segala do’a dan perhatian terhadap sakit yg saya alami sejak Selasa 23 Juli ini. Penembakan tiga batu ginjal bagian kanan sebanyak 3596 kali pada Jum’at mlm 26 Juli telah berhasil dg baik di RS AU Hardjo Lugito di bawah pimpinan urulog Dr Nur yg baik hati. Begitu juga terima kasih yg tulus dari saya sekeluarga atas kiriman karangan bunga dari Presiden Jokowi, Sultan Hamengkubuwono X, Jeffrie Geovanie, Relawan, Ir. BTP, dan PD Indonesia Tionghoa. Ada juga kiriman buah-buahan dari banyak pihak yg saya terima rasa syukur yg dalam. Semoga Allah membalas segala kebaikan para sahabat semua. Amin.” Ahmad Syafii Maarif dan isteri Ny. Nurkhalifah.

Ya, begitulah Buya Syafii, lapang hatinya. Jika tuan dan puan ingin berjumpa atau sekadar tegur sapa dan bercerita, tidaklah susah. Karena lapang hatinya banyak pintu menuju Buya.

Jika ingin bertemu Buya, tuan puan dan handai tolan bisa menemui Buya di Masjid Nogotirto, Perumahan Nogotirto Elok II, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta. Karena Buya sering salat di sana.

Selain di rumahnya yang biasa-biasa saja, tuan dan puan juga bisa jumpa Buya di apartemennya yang sederhana di Taman Rasuna, Jakarta. Asal Buya ada waktu, sesempit apa pun itu, jika tak ada rapat atau acara penting, Buya pastilah mencari celah untuk menerima kehadiran tuan dan puan para handai tolan.

Memang, sungguh lapang hati Buya, selapang kesempatan jika kita hendak berjumpa dengannya. Saat belum terlalu sehat kondisinya, Buya tetap membuka pintu hatinya untuk kita semua. Pintu-pintu kearifan dan keteladanan.

Pintu-pintu kearifan Buya untuk bangsa tercermin dari pesan Pak Presiden Joko Widodo ketika merasa tak enak belum sempat menjenguk dan menyapa Buya dalam status twitternya @jokowi. Kata Pak Jokowi:

“Saya dengar Buya Ahmad Syafii Maarif sakit di Yogyakarta, tapi saya belum sempat membesuk. Alhamdulillah, tadi Pak Pratikno yang saya utus untuk memantau keadaan beliau menyampaikan keadaan Buya yang semakin membaik. Bangsa ini butuh keteladanan dan pencerahan Buya (27 Juli 2019, Pukul 17.23).”

Saat membaca pesan Pak Jokowi ini spontanitas terlintas di alam pikir saya. Barangkali dan bisa jadi Jokowi sedikit banyak belajar dari Buya soal blusukan dan kesederhanaan. Soal ini memang perlu dilakukan riset sosio-antro-politis untuk menjelaskannya supaya lebih komprehensif, akurat, dan presisi. Kalau tidak begitu, nanti diserang para pembuli.

Baiklah duhai tuan puan dan handai tolan semua. Cerita soal lapang hati dan pemikiran Buya begitu banyak tersebar di media. Silakan saja mencarinya. Banyak jalan menuju Buya Syafii dan banyak pula kisah saya dengan Buya yang tak mungkin disajikan kepada tuan puan dan handai tolan semua.

Selamat kembali sehat Buya Syafii. Terangilah jalan manusia politik Indonesia supaya tidak seperti ikan lele, makin keruh, makin banyak makannya. Ampun.

Komuter Cakung-Gondangdia,

29 Juli 2019 siang

Baca juga

Buya Syafii dalam Keberbagaian

Belajar Meneguhkan Toleransi dari Buya Syafii

Jalan Terjal Buya Syafii Maarif

Tentang Gus Mus, Quraish Shihab, dan Buya Syafii

Buya Syafii Maarif, Gejala Ateisme, dan Hoax

Avatar
David Krisna Alka
Penyuka kopi susu gula aren, Alumni INS, UIN Jakarta, dan Wall Street English, sedang belajar di Pascasarjana Departemen Ilmu Antropologi UI. Peneliti Senior MAARIF Institute for Culture and Humanity dan Wasekjen PP Pemuda Muhmamadiyah
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Proyeksi OPEC, Konsumsi Migas Dunia akan Meningkat

Senin (18/1) penulis berkesempatan untuk memberikan kuliah umum secara daring dengan adik-adik di Politeknik Akamigas Cepu, Jawa Tengah. Maraknya pemberitaan mengenai kendaraan listrik dan...

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Towards Success: Re-evaluating Indonesia Ecological Development

Indonesia has long been an active participant of the environmental policy formation and promotion. Ever since 1970, as Dr Emil Salim appointed as the...

Apa Itu Teo Demokrasi dan Nasionalisme?

Apa itu Konsep Teo Demokrasi? Teo demokrasi terdiri dari gabungan kata yaitu teologi yang berarti agama dan demokrasi yang terdiri dari kata demos berarti rakyat dan...

Menilik Superioritas Ras dalam Film Imperium

Film Imperium yang ditulis dan disutradarai oleh Daniel Ragussis adalah sebuah film thriller yang menampilkan usaha seorang karakter utama yang mencoba untuk “masuk” ke...

ARTIKEL TERPOPULER

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Pandangan Mochtar Lubis Terhadap Kemunafikan Manusia Indonesia

Pernyataan Mochtar Lubis dalam naskah pidato Manusia Indonesia (kemudian diterbitkan menjadi buku) sampai sekarang pidato ini masih relevan untuk dibahas, baik kalangan awam maupun...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Menyerupai Suatu Kaum: Hadits, Konteks Budaya, dan Tahun Baru 2018

Hanya dengan satu hadits ini, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Daud dan Ahmad), banyak ustaz yang lantang...

Apa Itu Tasalsul? Mengapa Tasalsul Mustahil?

Berbeda halnya dengan para teolog (al-Mutakallimun) yang bersandar pada dalil al-Huduts (dalam kebaruan alam), para filsuf Muslim pada umumnya menggunakan dalil al-Imkan (dalil kemungkinan...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.