OUR NETWORK

Pintu-Pintu Menuju Buya

Membaca pesan Pak Jokowi, spontanitas terlintas di alam pikir saya: bisa jadi Jokowi sedikit banyak belajar dari Buya soal blusukan dan kesederhanaan. Gak percaya?
Ketum PP Muhammadiyah Haedar Nasir (kanan) saat membesuk Buya Syafii Maarif di RS PKU Muhammadiyah Gamping, Yogyakarta. [Suara.com/Putu Ayu]

Setelah menjalani operasi, kondisi kesehatan tokoh umat yang juga mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Ahmad Syafii Maarif, mulai membaik. Pasca operasi batu ginjal, Buya Syafii sudah bisa berjalan dan menulis pesan memberi kabar kepada koleganya. Saat tulisan ini dibikin, Buya masih dirawat di Bangsal Zaitun, RS PKU Muhammadiyah Gamping, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Ya, Buya Syafii masih sempat menulis kabar kepada sahabat-sahabatnya melalui pesan Whatsapp. Pesan Buya saya terima 26 Juli 2019, pukul 22.25 WIB:

“Para sahabat yg mulia, terima kasih atas segala do’a dan perhatian terhadap sakit yg saya alami sejak Selasa 23 Juli ini. Penembakan tiga batu ginjal bagian kanan sebanyak 3596 kali pada Jum’at mlm 26 Juli telah berhasil dg baik di RS AU Hardjo Lugito di bawah pimpinan urulog Dr Nur yg baik hati. Begitu juga terima kasih yg tulus dari saya sekeluarga atas kiriman karangan bunga dari Presiden Jokowi, Sultan Hamengkubuwono X, Jeffrie Geovanie, Relawan, Ir. BTP, dan PD Indonesia Tionghoa. Ada juga kiriman buah-buahan dari banyak pihak yg saya terima rasa syukur yg dalam. Semoga Allah membalas segala kebaikan para sahabat semua. Amin.” Ahmad Syafii Maarif dan isteri Ny. Nurkhalifah.

Ya, begitulah Buya Syafii, lapang hatinya. Jika tuan dan puan ingin berjumpa atau sekadar tegur sapa dan bercerita, tidaklah susah. Karena lapang hatinya banyak pintu menuju Buya.

Jika ingin bertemu Buya, tuan puan dan handai tolan bisa menemui Buya di Masjid Nogotirto, Perumahan Nogotirto Elok II, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta. Karena Buya sering salat di sana.

Selain di rumahnya yang biasa-biasa saja, tuan dan puan juga bisa jumpa Buya di apartemennya yang sederhana di Taman Rasuna, Jakarta. Asal Buya ada waktu, sesempit apa pun itu, jika tak ada rapat atau acara penting, Buya pastilah mencari celah untuk menerima kehadiran tuan dan puan para handai tolan.

Memang, sungguh lapang hati Buya, selapang kesempatan jika kita hendak berjumpa dengannya. Saat belum terlalu sehat kondisinya, Buya tetap membuka pintu hatinya untuk kita semua. Pintu-pintu kearifan dan keteladanan.

Pintu-pintu kearifan Buya untuk bangsa tercermin dari pesan Pak Presiden Joko Widodo ketika merasa tak enak belum sempat menjenguk dan menyapa Buya dalam status twitternya @jokowi. Kata Pak Jokowi:

“Saya dengar Buya Ahmad Syafii Maarif sakit di Yogyakarta, tapi saya belum sempat membesuk. Alhamdulillah, tadi Pak Pratikno yang saya utus untuk memantau keadaan beliau menyampaikan keadaan Buya yang semakin membaik. Bangsa ini butuh keteladanan dan pencerahan Buya (27 Juli 2019, Pukul 17.23).”

Saat membaca pesan Pak Jokowi ini spontanitas terlintas di alam pikir saya. Barangkali dan bisa jadi Jokowi sedikit banyak belajar dari Buya soal blusukan dan kesederhanaan. Soal ini memang perlu dilakukan riset sosio-antro-politis untuk menjelaskannya supaya lebih komprehensif, akurat, dan presisi. Kalau tidak begitu, nanti diserang para pembuli.

Baiklah duhai tuan puan dan handai tolan semua. Cerita soal lapang hati dan pemikiran Buya begitu banyak tersebar di media. Silakan saja mencarinya. Banyak jalan menuju Buya Syafii dan banyak pula kisah saya dengan Buya yang tak mungkin disajikan kepada tuan puan dan handai tolan semua.

Selamat kembali sehat Buya Syafii. Terangilah jalan manusia politik Indonesia supaya tidak seperti ikan lele, makin keruh, makin banyak makannya. Ampun.

Komuter Cakung-Gondangdia,

29 Juli 2019 siang

Baca juga

Buya Syafii dalam Keberbagaian

Belajar Meneguhkan Toleransi dari Buya Syafii

Jalan Terjal Buya Syafii Maarif

Tentang Gus Mus, Quraish Shihab, dan Buya Syafii

Buya Syafii Maarif, Gejala Ateisme, dan Hoax

David Krisna Alka
Penyuka kopi susu gula aren, Alumni INS, UIN Jakarta, dan Wall Street English, sedang belajar di Pascasarjana Departemen Ilmu Antropologi UI. Peneliti Senior MAARIF Institute for Culture and Humanity dan Wasekjen PP Pemuda Muhmamadiyah

TINGGALKAN KOMENTAR

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.