OUR NETWORK

Pindah Agama Demi Pacar? Kenapa Tidak

“Saya pindah agama karena hidayah,” kata Deddy. Bukan karena dan demi pacarmu, Sabrina? Akankah dia kelak menjadi lebih baik dan bermanfaat?

Jika benar berita Deddy Corbuzier pindah agama demi nikahi sang kekasih, tidak ada yang aneh dengan motif tersebut. Kaum beriman kerap mengaitkan pindah agama (religious conversion) dengan hidayah Ilahi, tapi ada beberapa faktor sosiologis dan psikologis yang ikut berperan. Dalam banyak studi terlihat pola-pola tertentu proses konversi, yang biasanya diawali dengan perjumpaan.

Jumpa dengan kekasih yang beda agama sering kali menjadi faktor dominan. Karin van Nieuwkerk, guru besar studi Islam kontemporer di Universitas Radboud, Belanda, meneliti sejumlah perempuan Eropa yang memutuskan memeluk Islam. Kenapa mereka pindah agama? Bagaimana menjelaskan proses konversi, latar belakang dan motifnya?

Metode yang digunakan Nieuwkerk ialah dengan menghimpun pengakuan orang-orang yang berpindah agama, sembari meneliti kisah hidup mereka. Metode ini dikenal dengan “narasi biografis”. Walaupun sumber informasi berasal dari perspektif orang dalam (insider), metode ini punya kelemahan. Yakni, dituturkan oleh orang yang sudah lama menjadi muallaf, sehingga lebih dibentuk oleh apa yang terjadi belakangan.

Masalahnya, “muallaf baru” cenderung sungkan bicara blakblakan terkait dimensi manusiawi. “Saya pindah agama karena hidayah,” kata Deddy. Sang pacar, Sabrina Chairunnisa, mengamininya.

Memeluk dan Meninggalkan Agama Karena Pasangan

Kita tak perlu menyangsikan keyakinan Deddy mendapatkan hidayah Ilahi. Tapi, bagi ilmuan sosial, fenomena konversi perlu dijelaskan melalui hal-hal yang bisa diobservasi. Di situlah menariknya kajian Nieuwkerk.

Dalam artikelnya, “Conversion to Islam and the Construction of a Pious Self” (2014), sarjana Belanda ini menuturkan kisah konversi Anneke, yang setelah masuk Islam mengganti nama menjadi Sakinah.

Menjadi Muslim pada 1991, Anneke awalnya bekerja di sebuah perusahaan internasional. Ketika menikmati liburannya di Tunisia, ia bertemu seorang pemuda yang dia sukai. Anneke bahkan mengunjunginya di Paris, tempat si pemuda kuliah matematika. Ia menuturkan kekagetannya bahwa seorang yang cukup cerdas ternyata juga Muslim beriman.

Perjumpaan dengan si pemuda itu mendorongnya untuk mempelajari agama, terutama Islam. Kisah Anneke dan pemuda Tunisia mengingatkan saya pada hubungan Deddy dan Sabrina, yang saya baca di media. Sabrina mengaku tak pernah memaksa Deddy untuk menjadi Muslim. “Lo pikir orang kayak gue bisa maksa-maksa gitu,” katanya.

Anneke juga tak pernah merasa dipaksa memeluk Islam. Namun demikian, berbeda dengan Deddy, ia mengaku menjadi muallaf karena meyakini watak logis dan saintifik Islam. Itulah keputusan rasional setelah melalui proses pencarian intelektual.

Menarik diamati konteks narasi konversi. Di Indonesia yang mayoritas penduduknya Muslim, kata “hidayah” merupakan simbol keberagamaan yang diridoi dan mendapat petunjuk Ilahi. Di Belanda, menjunjung rasionalitas adalah jantung modernitas dan memikat perspektif sekuler. Di sini tampak jelas bahwa ekspresi motif pindah agama dipengaruhi dan dibentuk oleh konteks tertentu di mana peristiwa itu terjadi.

Singkat cerita, Anneke dan pemuda Tunisia tersebut kawin, walaupun tidak bertahan lama karena ternyata tak seindah yang dibayangkan. Selain terus menganggur, laki-laki Tunisia itu tak pernah membantu pekerjaan rumah-tangga.

Anneke memang tak sampai meninggalkan Islam karena perceraiannya. Tapi, di negara di mana perempuan tak punya hak untuk bercerai, keluar dari Islam sebagai strategi untuk berpisah dari suami yang tidak lagi disukainya kerap terjadi. Muhammad Qasim Zaman, guru besar studi Islam di Universitas Princeton, Amerika Serikat, meneliti sejumlah kasus konversi dari Islam di kalangan perempuan Muslim di India zaman kolonial.

Zaman menemukan banyak kasus perempuan Muslim memilih keluar dari Islam karena tidak tahan hidup bersama suaminya. Dalam ketentuan fikih, perempuan tidak berhak menceraikan suami. Fikih klasik juga menentukan, bahwa murtad (keluar dari Islam) membatalkan perkawinan. Maka, jika istri bermaksud berpisah dari suaminya, jalan yang tersedia ialah menjadi murtad.

Konteks dan Pola Konversi

Dengan demikian, pindah ke dan/atau dari agama (Islam) selalui berada dalam konteks yang bisa dipahami secara sosio-kultural. Perlu segera ditambahkan, berbeda dari Nieuwkerk, tujuan Zaman bukan untuk menelisik pola-pola konversi dari Islam, melainkan menganalisis sejauhmana formalisasi syari’ah di India yang dilakukan oleh pemerintah kolonial justru berdampak buruk bagi Islam sendiri. Minimal, angka perempuan memilih menjadi murtad bertambah seiring dengan diundangkannya fikih klasik sebagai hukum positif.

Kembali ke konteks perjumpaan, apa yang dialami Anneke dan Deddy selaras dengan pola-pola konversi yang dirumuskan Lewis R. Rambo. Dalam karyanya yang banyak dibaca, Understanding Religious Conversion (1993), guru besar bidang psikologi dan agama ini menguraikan tahapan-tahapan yang dilalui seseorang yang pindah agama. Yakni, dari konteks, krisis, pencarian, pertemuan, interaksi, komitmen dan konsekuensi.

Terkait kasus Deddy, perjumpaan dengan sang kekasih memunculkan keingintahuan tentang agama calon pasangannya. Sayang sekali kita tidak banyak tahu seberapa kuat dorongan psikologisnya sehingga ia menemui seorang ustaz untuk belajar Islam (encounter). Yang jelas, dengan belajar bersama ustaz, ada semacam pencarian (quest).

Juga, tidak sulit membayangkan adanya kebimbangan dalam dirinya. Apa yang akan terjadi jika saya menjadi Muslim? Kenapa Islam? Sanggupkah saya mengamalkan praktik ibadah Islam yang cukup berat di tengah pekerjaan saya yang cukup padat? Bagaimana dengan kebiasaan saya yang berseberangan dengan ajaran Islam? Apakah saya juga harus disunat? Ngeri, ah!

Kebimbangan ini dibahasakan Rambo sebagai “krisis’ (crisis). Sebagaimana terlihat dalam Tabel 2, terdapat keterkaitan dinamis antara context, crisis, quest, dan encounter. Sebab, pola konversi itu tidak tunggal. Ada orang yang mengaku mengalami krisis dulu, baru berusaha mencari dan berjumpa orang yang membimbingnya. Ada juga yang memang mencari tahu, dan baru mengalami krisis setelah bertemu orang yang mengajarinya.

Dalam buku Called from Islam to Christ (1999), Jean-Marie Gaudeul mengumpulkan kesaksian orang-orang Muslim, termasuk di India dan Pakistan, yang mengaku berjumpa Yesus dan akhirnya memilih masuk Kristen. Perjumpaan itu mengambil banyak bentuk. Ada yang bermimpi bertemu Yesus. Ada lagi yang tiba-tiba mendengar suara memanggilnya. Yang lain lagi menyaksikan penampakan Yesus dalam diri seorang tua-renta.

Beberapa kasus yang didiskusikan Gaudeul dapat menggiring pada kesimpulan bahwa perjumpaan spiritual menjadi awal konversi Kristen. Ini memunculkan pertanyaan, kenapa konversi ke Kristen kerap dikaitkan dengan faktor psikologis-spiritual? Dalam “Towards an Integrative Theory of Religious Conversion”, Ines J. Jendra mencatat pola konversi dengan keheranan: “While the conversions to Islam (in the West, at least) seem to be influenced by social and cultural factors, the conversions to Christianity are traced back largely to mystical and psychological factors” (2016:333).

Saya ingin mengajukan dua perjelasan. Pertama, tanpa bermaksud mempertanyakan keotentikan perjumpaan dengan Yesus, tidak tertutup kemungkinan mereka yang bermimpi atau mendengar atau melihat penampakan itu sebenarnya berada dalam situasi yang digambarkan Rambo sebagai “crisis”.

Kedua, baik orang Muslim yang masuk Kristen di Pakistan atau Kristiani yang pindah ke Islam di Barat, keduanya sama-sama mengaitkan dengan pengalaman yang dianggap otoritatif di lingkungannya.

Di Barat, misalnya, kalau seorang mengaku menemukan kebenaran berdasarkan mimpi atau mendengar suara, kemungkinan orang tersebut akan dirujukkan ke rumah sakit jiwa. Sebaliknya, di dunia Muslim secara umum, keyakinan tentang kekuatan mimpi dan suara-suara ajaib masih kuat. Konversi para Sufi selalu dikaitkan dengan peristiwa supernatural itu. Sufi terkemuka Ibnu ‘Arabi, misalnya, mengaku menulis buku Fushush al-Hikam setelah bermimpi bertemu Nabi Muhammad, yang mendiktekan sendiri kepadanya.

Apa pun konteks “menemukan” agama baru, aspek lain yang menarik diteliti adalah apa yang terjadi setelah pindah agama. Bukan saja soal “komitmen” dan “konsekuensi”, seperti yang disebutkan Lewis Rambo, tapi juga apakah ia menjadi lebih baik dan bermanfaat. Pertanyaan semacam ini perlu direnungkan oleh Deddy dan orang lain yang pindah agama.

Kolom terkait

Tak Ada Dalil Hukuman Pindah Agama

Pindah Agama dan Kebebalan Deddy Corbuzier

Umat Kristiani Itu Kaum Beriman, Bukan Kafir

Yesus, Tuhan Kaum Muslim Juga? [Refleksi Natal dari Seorang Mukmin]

Yesus, Tuhan Kaum Muslim Juga? [Tanggapan untuk Mun’im Sirry]

Mun'im Sirry
Assistant Professor di Fakultas Teologi Universitas Notre Dame, USA, Owner KEPITING++. Beberapa karyanya: "Islam Revisionis: Kontestasi Agama Zaman Radikal" (Suka Press, 2018), "Polemik Kitab Suci: Tafsir Reformis atas Kritik Al-Quran terhadap Agama Lain" (Gramedia, 2013), "Kontroversi Islam Awal: Antara Mazhab Tradisionalis dan Revisionis" (Mizan, 2015), dan "Scriptural Polemics: The Qur’an and Other Religions" (Oxford University Press, 2014).

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…