Rabu, Januari 27, 2021

Piala Dunia 1934: Mussolini, Oriundi, Hingga Hukuman Mati

Piala Dunia 1994: Duka Escobar, Piala Dunia Terakhir Maradona, dan Final Dua Tim Pragmatis

FIFA memilih Amerika Serikat sebagai tuan rumah Piala Dunia ke-15 pada 1994. Pemilihan ini sempat mengundang tanda tanya dari banya pihak. Bagaimana bisa ajang...

Tertawalah Sebelum Jerman Mentertawakanmu

Tak apa, tertawalah. Tertawakanlah Jerman. Itu kesempatan langka. Kapan lagi kita bisa melakukannya? Jika Anda pendukung Argentina, tertawalah dengan lega, sebab melihat pemain terbaik dunia...

Piala Dunia 1978: Konspirasi, Salah Kostum, Hilangnya Johan Cruyff

Setelah Jerman Barat pada 1974, Piala Dunia akhirnya kembali ke Benua Amerika. Kali ini, Argentina terpilih sebagai tuan rumah Piala Dunia 1978. Kejuaraan tersebut...

Piala Dunia 1966: Milik Pickles, Korea Utara, dan Geoff Hurst

Tiga bulan jelang digelarnya Piala Dunia 1966 di Inggris, FIFA dibuat kalang kabut. Trofi agung Jules Rimet hilang saat dipamerkan di Westminster. Beruntung ada...
LigaLaga.IDhttps://ligalaga.id
Website tentang berita laga liga liga dunia.

Selepas kesuksesan turnamen 1930, FIFA pun berinisiatif untuk menggelar turnamen serupa empat tahun berselang. Pada Oktober 1932, induk sepakbola dunia tersebut memutuskan Italia, yang ketika itu berada dalam pemerintahan fasisme milik Benito Mussolini, sebagai tuan rumah Piala Dunia 1934 atau edisi kedua.

Berbeda dengan edisi pertama, pada Piala Dunia 1934 ini diadakan babak kualifikasi untuk menentukan siapa saja yang berhak masuk ke putaran final. Tuan rumah Italia pun diharuskan untuk ikut. Jumlah peserta pun bertambah dari 13 menjadi 16.

Secara mengejutkan, juara bertahan Uruguay menolak ikut dalam turnamen kali ini. Perasaan dendam masih terasa mengingat empat tahun sebelumnya negara-negara kuat Eropa menolak ikut pada edisi pertama. Akan tetapi, dikutip dari buku berjudul Goooal, saat itu Uruguay memutuskan tidak ikut karena adanya masalah dalam liga profesional mereka. Tidak hanya Uruguay, negara-negara Britania pun juga absen karena masih berkonflik dengan FIFA.

Hal menarik dari pegelaran Piala Dunia 1934 adalah tersebarnya kota-kota penyelenggara dan tidak terpusat di satu tempat seperti empat tahun sebelumnya. Italia menunjuk delapan kota diantaranya Milan, Roma, Napoli, Trieste, Genoa, Bologna, Turin, dan Florence.

Dari 16 peserta yang hadir, hanya empat saja yang bukan dari Eropa. Salah satu di antaranya adalah Mesir yang menjadi wakil Afrika pertama di Piala Dunia. Sementara Amerika Latin diwakilkan Brasil dan Argentina. Satu peserta non Eropa lain adalah Amerika Serikat. Format penyisihan pun tidak memakai sistem grup melainkan sistem gugur.

Babak delapan besar hanya diisi oleh negara-negara asal Eropa. Salah satu pertandingan menarik adalah ketika Italia berhadapan dengan Spanyol. Laga ini tidak hanya dikenal karena mempertemukan dua pemain hebat dalam diri Giuseppe Meazza (Italia) dan Ricardo Zamora (Spanyol) melainkan karena kepemimpinan wasit asal Swiss, Rene Marcet, yang dianggap menguntungkan tuan rumah.

Laga itu sendiri menjadi satu-satunya pertandingan yang digelar sebanyak dua kali. Saat itu, belum ada adu penalti apabila skor kedua tim berlangsung imbang selama 120 menit. Jika skor kedua kesebelasan sama maka diadakan pertandingan ulang. Saat itu Italia berbagi angka 1-1 dalam duel pertama sebelum Giuseppe Meazza membawa Azurri menang 1-0 atas Spanyol.

Italia kemudian melaju ke semifinal dan berhadapan dengan Austria. Satu gol dari Enrique Guaita membawa Azurri melangkah ke babak final dan akan berhadapan dengan Cekoslovakia yang mengalahkan Jermain 3-1. Der Panzer kemudian menjadi juara ketiga setelah menang atas Austria yang ketika itu dijagokan menjadi juara karena memiliki tim yang disebut Wunderteam.

Di partai puncak, Italia asuhan Vittorio Pozzo menang tipis 2-1. Tertinggal terlebih dahulu melalui Antonin Puc, Italia berbalik unggul melalui gol Raimundo Orsi dan Angelo Schiavio. Kemenangan ini menjadikan mereka sebagai negara Eropa pertama yang memenangi Piala Dunia. Gelar ini juga menyelamatkan mereka dari ancaman kematian yang diberikan Mussolini.

Mussolini di balik keberhasilan Italia di Piala DUnia 1934

Sosok yang meninggal pada 1945 ini sebenarnya bukanlah penggemar sepakbola. Akan tetapi ketika Italia ditunjuk menjadi tuan rumah, Mussolini sadar kalau sepakbola khususnya Piala Dunia bisa mengangkat citra dirinya di mata dunia. Beberapa kebijakan pun terpaksa harus dilakukan agar Italia bisa mengangkat tropi Jules Rimet.

Salah satu proyek keberhasilan Italia saat itu adalah penggunaan Oriundi. Mussolini meminta kepada Jenderal Giorgio Vaccaro selaku komite Olimpiade Italia untuk mengizinkan pemain-pemain yang memiliki garis keturunan Italia bisa memperkuat Italia di Piala Dunia. Maka dari itu diambilah nama-nama semisal Luis Monti, Raimundo Orsi, Enrico Guaita, Anfilogino Guarisi, dan Atilio Demaria. Peran mereka pun sangat besar dalam keberhasilan Italia memenangi Piala Dunia.

Ada yang senang maka ada juga yang berang. Dan pihak yang menyesalkan penggunaan Oriundi adalah Argentina. Saat itu, Argentina dikenal sebagai tanah pelarian bagi orang Italia yang mengalami kesulitan politik dan ekonomi di negaranya. Kedekatannya ini yang kemudian dimanfaatkan Mussolini untuk meraih Piala Dunia.

“Kalau mereka bisa mati demi Italia, maka mereka pun bisa bermain untuk Italia,” ujarnya ketika itu.

Tidak hanya dengan Oriundi, Mussolini pun menggunakan ancaman agar Italia bisa memenuhi hasratnya memenangi Piala Dunia. Tidak tanggung-tanggung Mussolini mengancam akan menggantung semua pemain Italia apabila kalah di semifinal melawan Austria. Ancaman tersebut kemudian diucapkannya lagi semalam sebelum final.

Dilansir dari These Football Times, Mussolini saat itu berujat, “Tuan-tuan, jika Cekoslovakia bermain fair, maka kita juga akan bermain fair. Tapi jika mereka bermain kotor maka kita juga akan kotor. Dan jangan lupa Crash.”

Crash disini berarti symbol kepala terpenggal dan menggelinding. Beruntung mereka bisa melewati ancaman tersebut.

Satu pemain Italia yang paling bersyukur tentu adalah Luis Monti. Bagaimana tidak? Dalam dua piala dunia berturut-turut dia selalu mendapat ancaman hukuman mati. Empat tahun sebelumnya saat Monti masih membela Argentina, ancaman mati datang dari penggemar Uruguay. Empat tahun setelahnya, ancaman datang dari pemimpin negara. Beruntung ia melewati dua ancaman tersebut dengan selamat.

Baca juga:
Piala Dunia 1930: Rumit, Perjalanan Jauh, serta Final Dua Bola
Piala Dunia 1938: Diundi Cucu, Debut Indonesia, dan Sensasi Leonidas
Piala Dunia 1950: Aksi WO, Tumbangnya Raja Sepakbola, dan Kesombongan Brasil
Piala Dunia 1954: Banyak Gol, Pertarungan Bern, dan Sepatu Adidas
Piala Dunia 1958: Anti Israel, Berkah Sepatu Pinjaman, dan Sinar Pele
Piala Dunia 1962: Pertempuran Santiago, Kemunculan Garrincha, Takhayul Cile
Piala Dunia 1966: Milik Pickles, Korea Utara, dan Geoff Hurst
Piala Dunia 1970: Perang, Skandal, dan Sejarah Brasil
Piala Dunia 1974: Aksi Mwepu, Sejarah Dua Jerman, dan Menguapnya Total Football
Piala Dunia 1978: Konspirasi, Salah Kostum, Hilangnya Johan Cruyff
Piala Dunia 1982: Kontroversi, Kalahnya Jogo Bonito, dan Gelar Ketiga Italia
Piala Dunia 1986: Kejutan Denmark dan Maroko, Rekor Batista, Piala Dunia Maradona
Piala Dunia 1990: Dongeng Kamerun, Insiden Ludah, dan Air Mata Gazza
Piala Dunia 1994: Duka Escobar, Piala Dunia Terakhir Maradona, dan Final Dua Tim Pragmatis
Piala Dunia 1998: Sepakbola Kalahkan Politik, Sensasi Kroasia, dan Misteri Ronaldo
Piala Dunia 2002: Kejutan, Kontroversi, dan Kamerun yang Tanpa Lengan

Artikel ini pertama kali terbit di: LigaLaga.ID

LigaLaga.IDhttps://ligalaga.id
Website tentang berita laga liga liga dunia.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Roman Abramovich, Alexei Navalny, dan Premier League

Industri olahraga, khususnya sepakbola, telah mengalami perkembangan pesat. Mulai dari segi teknis maupun non-teknis. Mulai dari aktor dalam lapangan hingga pemain-pemain di belakang layar....

Perempuan dan Politik

Politik selalu identik dengan dunia laki-laki, dengan dunia kotor, tidak pantas untuk perempuan masuk kedalam ranah tersebut. Politik selalu identik dengan sesuatu yang aneh...

Karakteristik Milenial di Era Disrupsi

Dewasa ini, pemakaian istilah Disrupsi masih terdengar asing oleh kaum muda atau generasi milenial sekarang. Lalu apa sebenarnya yang dimaksud dengan disrupsi?. Jika kita...

Hak Cipta dan Perlindungan Kekayaan Intelektual

Hak atas Kekayaan Intelektual (HAKI) merupakan terjemahan dari Intellectual Property Right (IPR), sebagaimana diatur dalam undang-undang No. 7 Tahun 1994 tentang pengesahan Agreement Establishing...

Pengalaman Mantan Pasien Wisma Atlet

Ibu Mawar ingin memberi cerita pengalamannya yang dialami ia dan keluarga dalam menghadapi karena mengidap Covid 19 yang sempat dirawat di Wisma Atlet serta...

ARTIKEL TERPOPULER

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Larry King, Wawancara dengan Sejarah

Oriana Fallaci beruntung. Ia seakan mendapat wangsit mendadak untuk menjuduli bukunya dengan cemerlang, "Intervista con la storia", himpunan interviunya dengan para pemimpin dunia yang...

Pandji yang Sedikit Tahu, tapi Sudah Sok Tahu

Siniar (podcast) komedian Pandji Pragiwaksono kian menegaskan bahwa budaya kita adalah sedikit tahu, tapi sudah merasa sok tahu. Sedikit saja tahu tentang gambaran FPI...

Towards Success: Re-evaluating Indonesia Ecological Development

Indonesia has long been an active participant of the environmental policy formation and promotion. Ever since 1970, as Dr Emil Salim appointed as the...

Hukum Tata Cara Mengendus Kuasa, Kuliah Gratis untuk Refly Harun

Semoga Saudara Refly Harun dalam keadan sehat akal wal afiat!! Awalnya saya merasa tidak begitu penting untuk memberi tanggapan akademis terhadap saudara Refly Harun. Kendati...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.