Kamis, Oktober 29, 2020

Peta Baru Jaringan Teroris di Indonesia

Kerendahan Hati

Ketika seorang guru mengembangkan kuasanya yang besar, itu menjadi seperti samudera: aliran dan sungai mengalir ke dalamnya. Semakin berkuasa sang guru, semakin besar kebutuhan akan...

Ahok, Fasisme, dan Sampah Kota

ANTARA FOTO Sepotong kalimat di sebuah spanduk mengatakan, “Kami manusia. Ajak kami berdialog secara bermartabat. Jangan gusur kami seperti sampah!” Entah kerasukan pembangunanisme dari mana, Gubernur...

Setelah Palmyra Bebas dari ISIS

Di pengujung Mei 2015, tepat satu tahun lalu, mata dunia tertuju pada sebuah kota bernama Palmyra di Suriah. Perang berkecamuk di pinggiran sebuah kota...

Khalifah Sentris atau Ummah Sentris? [Bagian 3]

Di tulisan saya sebelumnya, saya menguraikan tentang realisme fikih siyasah yang lentur dan fleksibel. Dari perspektif fikih siyasah, kewajiban mendirikan khilafah tidaklah bersifat mutlak,...
Kardono Setyorakhmadi
Wartwan Jawapos, pernah meliput di Afghanistan dan sering melakukan investigasi terorisme di Indonesia.

Perbincangan terkait terorisme kembali hangat belakangan ini. Serangan sel-sel JAD di Surabaya membuat semua orang tersentak. Tanpa ada peringatan apa pun, dua keluarga pengikut kelompok yang berafiliasi ke ISIS itu melakukan serangan di empat titik dalam dua hari. Tiga gereja dihajar bom bunuh diri pada Minggu (13/5), dan Mapolrestabes Surabaya juga diserang dengan bom bunuh diri keesokan harinya.

Ini adalah serangan pertama teroris di Surabaya, dan juga aksi pertama di Indonesia yang melibatkan perempuan dan anak dalam serangan bom bunuh diri.

***

Tertembak matinya Noordin M. Top pada 17 September 2009 dan menguatnya ISIS di Timur Tengah, terutama setelah tewasnya Osama bin Laden pada 2011, membuka babak baru gerakan terorisme di Indonesia. Setelah vakum beberapa saat, dunia ikhwan jihadi di Indonesia mulai menggeliat. Terutama dipicu berubahnya mindset sejumlah pentolan Jamaah Islamiyah (JI) terhadap Indonesia. Setelah satu dekade menjadi tanzhim sirri yang melakukan teror di Indonesia, sejumlah pentolannya berubah arah. Mereka menganggap Indonesia bukan darul harbi (medan perang) dan justru kooperatif dengan aparat.

Itu membuat banyak ikhwan jihadi, terutama yang muda-muda dan belum banyak ikut pertempuran, menjadi kecewa. Frustrasi para darah muda tersebut semakin meningkat terutama ketika para dedengkotnya (yang rata-rata lulusan Afghanistan—atau paling sedikit kamp di Filipina Selatan) enggan mengajari mereka tadhrib (latihan perang). Terutama dalam dua hal: kemampuan meracik bom dan strategi perang.

Mereka kemudian berpaling ke sejumlah tanzhim, yang kebanyakan afiliasinya ke ISIS. Dari catatan saya, ada tiga kelompok utama yang awal-awal muncul. Yang pertama adalah Mujahidin Indonesia Timur (MIT), didirikan oleh Santoso (yang sudah tewas). Kemudian, ada Mujahidin Indonesia Barat (MIB) yang dipimpin Bachrun Naim (kabarnya sudah tewas di Syria). Lalu, ada faksi kelompok Makassar. Semua berbaiat ke ISIS. Sebenarnya, masih ada sejumlah kelompok kecil lagi, misalnya kelompok Bima. Namun, pada dasarnya, tiga faksi itulah yang terbesar.

Semua faksi pro-ISIS tersebut kemudian melebur ke sebuah tanzhim yang disebut Jamaah Ansharut Daulah (JAD) yang dipimpin Aman Abdurrahman. Nama terakhir mendekam di Lapas Nusakambangan dan terlibat dalam negosiasi saat penyanderaan yang berakhir penyerahan diri di Rutan Mako Brimob pekan lalu.

Itulah kelompok-kelompok yang menjadi pelaku teror sejak 2011. Punya nyali, tapi daya demolisi (hancur)-nya tidak seberapa. Maksudnya, relatif terhadap skala aksi mereka. Aksi-aksi mereka kerap berakhir dengan lebih banyak tewasnya teroris ketimbang warga sipil. Sebut saja teror Sarinah pada Januari 2016. Termasuk yang terakhir ini, yang beraksi di Surabaya.

Masih ada lagi satu kelompok yang patut diwaspadai, tapi belum pernah bermain, yakni Neo JI. Itu adalah kalangan muda di internal JI yang mendapat pelatihan langsung dari para senior mereka. Sebab, kemampuan kombatan mereka dua–tiga kali lipat lebih dahsyat ketimbang kelompok-kelompok pro-ISIS.

Uniknya, kelompok JI dan ISIS tak pernah akur. Di bawah tanah, tanpa banyak diketahui publik, kelompok JI dan ISIS ini sering berkonflik, hingga fisik, meski tak sampai dalam skala muncul di permukaan.

***

Pengkategorian ini juga bisa dilihat dari sasarannya. Aksi teror yang dilakukan JI antara 2001 – 2011 sasarannya adalah far enemy. Yakni, musuh-musuh yang jauh, sesuai dengan seruan jihad global Osama bin Laden. Maka, yang menjadi target adalah AS dan negara-negara Barat. Pengejawantahannya adalah Kedutaan-Kedutaan, gereja, tempat-tempat yang sering menjadi tongkrongan, dan simbol-simbol Barat dan gaya hidupnya.

Sejarah membuktikannya. Gereja-gereja di kawasan Mojokerto, Kedutaan Australia, JW Marriott, dan yang paling terkenal adalah Bom Bali 2002, kena hajar pentolan-pentolan JI seperti Ali Ghufron, Imam Samudera, Amrozi, Ali Imron, Dr. Azahari, Noordin Mohd Top, dan Ali Fauzi. Mereka juga melatih lebih dari 5.000 muslim yang berangkat ke konflik Poso.

Namun, setelah masa transisi sekitar dua-tiga tahun, pola serangan pelaku teror berubah. Karena aksi teror kini dilakukan oleh kelompok-kelompok kecil yang berafiliasi ke ISIS, mereka menyesuaikannya sesuai kemampuan. Yang disasar kini adalah near enemy. Maka sasaran utamanya adalah polisi.

Kenapa polisi? Ada beberapa alasan. Pertama, polisi adalah piranti negara thaghut. Maka, wajib dimusuhi, sebagaimana halnya tentara. Yang kedua, polisi banyak membunuhi ikhwan-ikhwan jihadi dalam upaya pemberantasan terorisme. Dan yang terakhir, polisi yang paling dekat yang bisa dijangkau. Ia ada di mana-mana. Maka, pada 2012 – 2013, polisi lalu lintas paling banyak menjadi sasaran. Di Jakarta sendiri selama setahun, setidaknya ada lebih dari empat kasus penyerangan terhadap polisi.

Namun, itu bukan berarti kelompok teror ini murni mengincar polisi. Mereka tak mengharamkan sasaran kafir lainnya. Termasuk gereja. Sebab, pada intinya, yang utama adalah yang paling bisa dijangkau.

Oya, ada satu hal lagi kenapa serangan sel ISIS meningkat beberapa waktu terakhir. Ini tak lepas dari fatwa yang dikeluarkan pada Desember 2016 lalu. Ketika itu, Aman Abdurrahman dari balik Lapas Nusakambangan menyerahkan mandat kepemimpinan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) ke Zainal Anshori, ketua JAD Jawa Timur. Ritual penyerahan mandat itu kemudian diresmikan dengan mengundang perwakilan pimpinan sel JAD di seluruh Indonesia, di Malang.

Dalam pertemuan itu, Zainal meneruskan amanat yang diterimanya dari Al-Baghdadi, amir ISIS pusat. Yakni, meminta semua sel ISIS di seluruh dunia untuk melakukan amaliah. Tentu saja, semua sel ISIS pun langsung bergerak.

Namun, banyak plot tersebut yang kemudian digagalkan polisi. Termasuk dua kali rencana serangan di Surabaya. Bahkan, Zainal Anshori sendiri dicokok polisi dengan plot hendak menyerang Polsek Paciran, Lamongan. Penangkapan ini sempat menimbulkan satu-satunya aksi terorisme di Jawa Timur pada tahun itu. Yakni, serangan polantas oleh empat orang teroris di Tuban. Bisa ditebak, tidak ada polisi yang mati, sementara keempat-empatnya tewas diberondong setelah adu tembak di kebun jagung di Tuban.

Selepas itu, sel ISIS di Jawa Timur tiarap betul. Bahkan, ketika Densus memberikan laporan pergerakan sel usai kerusuhan di rutan Mako Brimob, Jawa Timur terlihat tidak banyak aktivitas. Hanya, sel di Probolinggo yang terdeteksi. Surabaya tidak. Inilah yang kemudian membuat sel Surabaya bisa melakukan serangan di empat titik dalam dua hari yang membuat heboh belakangan ini.

***

Seorang teman bertanya kapan aksi teror di Indonesia berakhir. Saya selalu menjawab tidak bisa dalam waktu dekat. Menyedihkan memang. Tapi, melihat situasi di internal Indonesia sekarang, memang hanya itu jawabannya. Aksi terorisme muncul sporadis di beberapa titik dan beberapa kota, lalu kemudian senyap selama beberapa saat, lantas muncul sejumlah aksi penangkapan, terus muncul aksi lagi.

Disadari atau tidak, Indonesia belum punya semua infrastruktur untuk bisa melakukan deradikalisasi dengan baik. Memang sudah ada Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), tapi sifatnya terbatas. Pertanda baik sebenarnya ketika muncul Yayasan Lingkar Perdamaian yang didirikan Ali Fauzi, mantan kombatan yang juga adik Amrozi.

Namun, karena tidak mendapat cukup dukungan, sampai seberapa banyak napi kasus terorisme yang berhasil dijangkau dan ”disembuhkan” yayasan tersebut? Sebab, menyembuhkan itu sama dengan memberikan kesempatan hidup kedua bagi para napi kasus terorisme.

Jangankan infrastruktur, wong undang-undang tentang pemberantasan terorisme saja masih tersendat setahun pembahasannya. Dengan situasi seperti itu, meski saya sangat tak berharap, tampaknya kita masih akan menyaksikan aksi-aksi teror dalam waktu-waktu mendatang di Indonesia.

Kardono Setyorakhmadi
Wartwan Jawapos, pernah meliput di Afghanistan dan sering melakukan investigasi terorisme di Indonesia.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pendidikan di Era Disrupsi (Catatan Karya Yudi Latif)

Yudi Latif lebih muda 10 tahun dari saya. Dan walau saya, tentunya, lebih awal menulis, Yudi jelas jauh lebih produktif. Dua bulan lalu, saya diminta...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Kelamnya Dunia Politik di Thailand

Apa yang kalian bayangkan tentang negara Thaiand? Ya, negara gajah putih tersebut sangat dikenal dengan keindahannya. Apalagi keindahan pantai yang berada di Krabi dan...

Anak Muda dan Partai Politik

Tak dapat disangkal, gelombang demokratisasi seiring dengan gerakan reformasi 1998 telah mengantarkan kita pada suatu elan kehidupan publik yang terbuka, egaliter, dan demokratis. Reformasi...

Machiavelli: Pemikir yang Banyak Disalah Pahami

Dalam kajian Ilmu Politik, nama Nicollo Machiavelli dipandang sebagai penggagas teori politik modern. Tentu hal tersebut sangat beralasan, mengingat posisi Machiavelli yang secara tegas...

ARTIKEL TERPOPULER

Sandiwara Dibalik Pernikahan Raja Majapahit Bali

Belakangan di Bali ramai pemberitaan mengenai acara pertunangan Raja Majapahit Bali bernama lengkap Abhiseka Ratu Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Pendidikan di Era Disrupsi (Catatan Karya Yudi Latif)

Yudi Latif lebih muda 10 tahun dari saya. Dan walau saya, tentunya, lebih awal menulis, Yudi jelas jauh lebih produktif. Dua bulan lalu, saya diminta...

Dialog Sang Penyemangat

Ketika Sang Penyemangat datang kepadaku untuk memberikan tausiyah yang membarakan kalbu, Jiwaku begitu menggebu-gebu. Setiap kudengar tausiyah suci itu rangkai katanya merona dikalbu dan...

Pandangan 2 Mazhab Hukum Terhadap Putusan MA Soal Eks Napi Koruptor

Pertengahan tahun 2018 ini publik dikagetkan dengan hadirnya PKPU No. 20/2018 yang dalam Pasal 4 ayat (3) menyatakan bahwa Pengajuan daftar bakal calon anggota...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.