OUR NETWORK

Pesan Terakhir tentang Ekonomi Berbagi

aplikasionlineWarga mencari transportasi dengan aplikasi online di Jakarta, Kamis (17/3). ANTARA FOTO/M Agung Rajasa.

Sebelum antusiasme dan kericuhan ekonomi berbagi berakhir sebagaimana nasib setiap isu yang diorbitkan media massa, satu-dua kebingungan nampaknya masih tersisa dan patut dijernihkan. Kita mulai dengan pertanyaan. Apakah ekonomi berbagi merupakan sesuatu yang baru sampai-sampai kita perlu menabuh dan menyambut, “selamat datang ekonomi berbagi?”

Apakah dia adalah revolusi kemarin sore berkat kemajuan pesat teknologi komunikasi belakangan dan sebelum itu kita hidup dalam gua ekonomi yang serba perhitungan, individualistis, transaksional?

Seharusnya, tidak. Berbagi adalah bentuk hubungan ekonomi yang mendasar—sangat mendasar. Dan saya kira, kesalahpahaman akibat upaya-upaya mengecer istilah ekonomi berbagi tak bisa dibiarkan berlarut-larut. Pelbagai studi antropologis menampakkan, berbagi adalah gagasan yang menguasai banyak masyarakat, dan kita seharusnya justru heran bila ia dianggap sesuatu yang asing.

Ambil orang-orang Gawa Desa Busama, Papua Nugini, yang diteliti Hobkins tahun 1940-an, pertama-tama. Di Busama, orang kuat adalah figur yang berlimpah daging dan hasil kebun namun, dalam ungkapan mereka, “memamah tulang dan mengemut lemon.” Mereka artinya menyantap makanan sisa. Daging terbaik bukanlah hak mereka. Seseorang hanya layak disebut pemimpin apabila ia membagi miliknya sebanyak-banyaknya kepada warga desa.

Kesaksian John Tanner yang pada tahun 1790-1820 hidup di antara warga Indian Ojibwa menceritakan kecenderungan serupa. Pada saat keluarga angkat Tanner tertimpa kemalangan dan membutuhkan daging, kepala suku sigap menanggapi kemelut mereka. Ia meminta bantuan para warga. Warga lain kontan sukarela membantu berburu daging.

Kejadian yang lebih-lebih berkesan adalah ketika musim dingin datang dan keluarga Tanner kekurangan makanan. Musim ini, cukup jelas, adalah saat-saat di mana cadangan makanan menjadi sangat krusial. Namun, alih-alih mementingkan kelangsungan hidup rumah tangga masing-masing, keluarga-keluarga lain memaksa keluarga Tanner untuk menerima makanan mereka. Mereka sudi persediaan makanan mereka ditukar dengan perhiasan keluarga Tanner yang tak terlalu berarti saat itu.

Tanner, yang menulis memoarnya untuk kawula kelas menengah Barat, sadar kultur berbagi ini mencengangkan pembacanya. Ia mengalokasikan cukup banyak bagian dari bukunya untuk menceritakan kebiasaan ini. Termasuk ketika dirinya dan seorang pemburu berhasil mendapatkan beruang. “Kami tak bisa memakan banyak-banyak daging binatang ini,” ujarnya. “Kami membawanya ke rumah dan membagikannya ke loji-loji berdasarkan jatah yang pantas.”

Tentu saja kecenderungan berbagi ini bukan tanpa kerepotannya. Sungguh galat apabila kita mengatakan ia semata mengekspresikan ketulusan menyentuh sebuah masyarakat yang masih polos dan bersahaja.

Obligasi berbagi terbukti memaksa orang-orang masyarakat “sederhana” memberi bahkan pada saat mereka tidak berkenan. Di antara orang-orang Maori, Selandia Baru, ada ungkapan menyindir, kerabat yang jauh pada musim tanam tiba-tiba menjadi anak pada musim panen. Kedatangan kerabat yang meminta makan tetapi tak membantu bercocok tanam, artinya, merupakan kegaliban di Maori. Dan, rumah tangga yang didatangi tak punya pilihan selain harus menerimanya.

Suku Bemba di Rhodesia, sekarang Zimbabwe, ketika diteliti Audrey Richards pada 1930-an, tak akan bisa menolak kerabat yang datang meminta makan. Sang kerabat, biasanya orang tua, lumrah akan memulai dengan basa-basi semacam ini. “Wah, betapa banyaknya daging yang kamu punyai hari ini ya.” Tak jarang pula, pertanyaan jauh lebih gamblang seperti, “Kapan kamu mulai memasak?”

Ibu rumah tangga di Bemba, karenanya, punya kebiasaan menyembunyikan makanan saat didatangi kerabat. Mereka juga biasa berdalih, “Kami ini keluarga papa, Pak. Kami tidak punya apa-apa untuk dimakan.”

Ketidaknyamanan dengan keharusan berbagi ini tercermin sangat jelas pada sebuah petuah orang-orang Maori. Katanya, apabila kamu ingin makan tanpa diganggu, rebuslah tikus (makanan kesukaan di Maori) beserta bulu-bulunya. Tujuannya, agar orang-orang enggan meminta.

Saya kira, kerepotan semacam ini tidak seaneh itu bagi kita. Situasi ini biasanya menjadi sangat kasat mata pada hari-hari raya. Keluarga-keluarga masak sebanyak-banyaknya untuk para kerabat dan handai taulan yang bertandang. Makanan berlimpah ruah di rumah-rumah. Kebanjiran makanan menjadi situasi yang wajar karena jauh lebih baik demikian ketimbang habis pada saat satu kerabat datang. Berbagi menjadi tuntutan yang, bila tak diindahkan, akan mengganggu reputasi keluarga bersangkutan.

Angpao tentu saja sebuah contoh lain. Jumlah pemberian di sini menjadi sesuatu yang mencerminkan kedudukan sang pembagi. Bila jumlah pemberian tak setara dengan kedudukan, maka sang pemberi akan menjadi bahan gunjingan.

Dan berbagi pun bisa menjadi tindakan politis.

Menyadarinya atau tidak, kita sangat akrab dengan hal ini. Dengan berbagi, seseorang dapat membangun reputasi, mereproduksi otoritas, mengikat orang lain. Itulah mengapa orang kuat di Gawa acap mencari-cari cara memaksakan orang lain untuk menerima pemberiannya. Hanya dengan demikian, para warga terbeban mengingat diri sang orang kuat selain juga tak akan menolak untuk menokohkannya apabila sang figur membutuhkannya.

Itulah mengapa kemurahan hati tengkulak menyekolahkan anak petani, yang bisa kita temukan di desa-desa, tak akan pernah kita duga sebagai sebuah ketulusan tanpa maksud. Keinginan agar sang petani tidak terlepas darinya, sekurang-kurangnya, pasti pernah terbesit. Dan, tentu saja, tanpa membutuhkan penjelasan lagi, itulah mengapa gratifikasi dan pemberian-pemberian politik dilakukan.

Ungkapan bahwa “tidak ada makan siang gratis,” dengan demikian, memang tak keliru. Tetapi, kalau mau istilah yang lebih mengena lagi, ambil kata-kata antropolog James Laidlaw. Katanya: “Hadiah gratis tidak menghasilkan pertemanan.”

Apakah dengan demikian kita masih bisa mengatakan ekonomi berbagi merupakan satu hal yang benar-benar baru? Tidak. Dan juga, ia pun bukan hal yang baik atau buruk pada dirinya sendiri. Hanya saja saya pun mafhum mengapa selepas dibersitkan idiom ini disambut gegap gempita sebagai satu kebaruan yang menyegarkan. Hari-hari ini, saat kita memikirkan hubungan ekonomistis, apa yang langsung terlintas adalah transaksi dan maksimalisasi keuntungan pribadi.

Apakah yang paling pertama dipelajari murid-murid sekolah dalam mata pelajaran ekonomi? Verbatim dari buku IPS Terpadu yang dipelajari kelas VII: “Ekonomi adalah segala tindakan manusia dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya yang senantiasa dilandasi dengan prinsip ekonomi.”

Terlepas dari ketidaktepatan penggunaannya, artinya, ekonomi berbagi dikecapkan pada saat yang tepat—pada saat kita merasa jumud dengan hubungan sosial modern yang rasanya semakin saling memanfaatkan dan saling mengeksploitasi.

Tetapi, barangkali juga, persoalannya tidak serumit itu. Perkaranya, kita hanya sedang haus kata-kata pujian untuk membahasakan ketakjuban dengan kemudahan yang dibawakan kemajuan teknologi informasi beberapa tahun terakhir, dan kita akhirnya mendapatkannya dari mereka yang pekerjaannya memang mengecer konsep-konsep yang terkesan mutakhir, canggih, dan menyenangkan didengar.

Apa pun itu, saya kira ia tak seharusnya menyelewengkan makna berbagi yang selalu menyertai hubungan antarmanusia kapan pun, di mana pun. Semoga, sebelum isu bersangkutan masuk ke peristirahatannya, tulisan ini sedikit membantu memahamkan hal ini.

Kolom Terkait:

(Bukan) Ekonomi Berbagi: Catatan untuk Rhenald Kasali

Jokowi dan Problem Regulasi Ekonomi Berbagi

Geger Riyanto
Esais, sosiolog. Mahasiswa Ph.D. bidang Etnologi, Universitas Heidelberg, Jerman

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…