Sabtu, Maret 6, 2021

Pesan PKI untuk Ustadz Abdul Somad tentang Bom Bunuh Diri

Ketidaklayakan Fit and Proper Test Calon Anggota KY

Belum lama ini Komisi III DPR RI selesai menyelenggarakan proses uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) calon anggota Komisi Yudisial. Hasilnya, dua...

Dari Aida Hadzialic hingga Grace Natalie

Sebagian publik Indonesia dibuat terpukau dengan kabar bahwa Aida Hadzialic, seorang muslimah keturunan Bosnia Herzegovina, menjadi menteri pendidikan termuda di Swedia. Ia dielukan karena...

Sihir Medsos dan Kesalehan Berinformasi

Media sosial (medsos) telah menyihir sebagian besar umat manusia. Berdasarkan penelitian Hootsuite, sampai tahun 2019, ada sekitar 4,3 miliar manusia sudah terhubung dengan internet,...

Ibu-Ibu Rembang dan Kematian Marhaenisme

Ibu-ibu petani asal Jawa Tengah menggelar unjuk rasa di depan Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (12/4). Kesembilan Kartini Pegunungan Kendeng ini menyemen kaki mereka untuk...
Avatar
Arman Dhanihttp://www.kandhani.net
Penulis. Menggemari sepatu, buku, dan piringan hitam.

Beberapa hari terakhir, khususnya usai peledakan bom bunuh diri di Surabaya, beredar rekaman ceramah Ustadz Abdul Somad tentang hukum bom bunuh diri. Dalam rekaman itu, beliau menyebut bahwa selama ini pers Barat dan Yahudi telah salah melabeli  pelaku bom bunuh diri. Gerakan bom bunuh diri di Palestina bukan gerakan mati konyol, melainkan gerakan mati syahid.

Menurutnya, berdasarkan narasi tentang sahabat Nabi yang seorang diri menyerbu pasukan Quraish dalam Perang Uhud, bom bunuh diri bisa disebut jihad. Karena dalam kisah sahabat Nabi tersebut, ia sadar akan mati jika masuk dalam barisan pasukan musuh. Karena itu, hukum bom bunuh diri menjadi jihad.

Masalahnya video itu tersebar (atau disebar?) ulang saat masyarakat mengutuk tindakan bom bunuh diri oleh teroris yang membunuh anak-anak dan polisi di Surabaya. Ustadz Abdul Somad lantas melakukan klarifikasi, bahwa video itu telah dicabut dari konteksnya, dimutilasi dan dibuat seolah-olah ia mendukung terorisme yang baru terjadi.

Ia menyebut orang-orang yang menyebarkan video dan mencabut konteks perjuangan masyarakat Palestina itu sebagai orang yang goblok bin bahlul. “Jangan melepaskan teks dari konteks,” kata Ustadz Somad.

Tentu beliau benar. Goblok bin bahlul adalah mereka yang percaya begitu saja sebuah video yang beredar, dipotong, tanpa menjelaskan konteks pembicaraan secara jelas. Kecuali untuk Ahok, dia sudah jelas penista agama.

Tapi mari lupakan Ahok. Kita dengarkan sekali penjelasan Ustadz Abdul Somad. Beliau menyebut bahwa ceramahnya itu ditujukan untuk para pejuang Palestina yang melakukan bom bunuh diri, jadi ia tidak sedang bicara terorisme di Indonesia.

Di sini masalah muncul lagi. Ustadz Abdul Somad mencontohkan musuh Islam adalah PKI. PKI mana yang dimaksud? Partai Komunis Indonesia? Sudah jelas bubar. Maka saya berasumsi PKI yang dimaksud adalah Partai Komunis Israel alias The Communist Party of Israel (CPI).

Lho, sudah benar itu. Sudah komunis, Israel pula.

Masalahnya di mana?

Masalahnya, Partai Komunis Israel (PKI) adalah partai progresif Israel yang punya tujuan memperjuangkan kemerdekaan Palestina, mengakhiri pendudukan, dan menghentikan kekerasan terhadap warga Palestina.

Sekjen PKI Mohammed Nafa’h menyatakan, “Mendukung hak warga Palestina untuk menentukan nasib sendiri adalah tugas suci setiap komunis Israel,”

Yang kaya gini masa mau dibunuh pak?

Tidak hanya itu, pada 2009, sebulan setelah pembantaian warga sipil Palestina oleh Israel di Gaza,  PKI dan underbow-nya Hadash (Democratic Front for Peace and Equality) melakukan protes keras terhadap pasukan Israel yang melakukan pembantaian. Di kota Sakhnin 130.000 orang melakukan protes keras.

Setelah itu 20.000 demonstran kembali melakukan protes dan demonstrasi di Tel Aviv memprotes kebiadaban Pasukan Israel. Sebagian besar dari mereka membawa bendera merah dan simbol komunisme. Sejak 1947, Partai Komunis Israel mendesak negara mereka menghentikan pendudukan, penjajahan, mengakui kemerdekaan Palestina, menarik pasukan militer, menghentikan pencaplokan tanah, dan memberikan hak warga Palestina untuk menentukan nasib sendiri.

Lalu beberapa hari lalu, partai secara resmi merespons pembantaian 60 orang Palestina di saat yang bersamaan dengan pembukaan Kedutaan Besar Amerika di Israel. PKI menyatakan sikap mengutuk pembunuhan itu. Mereka menyatakan bersolidaritas dan mendukung perjuangan rakyat Palestina untuk memperoleh kemerdekaan dan kemakmura serta berjanji akan berjuang lebih keras di parlemen untuk mewujudkan itu.

Banyak sebenarnya sikap terpuji PKI dalam usaha membela rakyat Palestina. Mereka mengakui Yerusalem Timur sebagai ibukota Palestina dan mendesak pemerintah Israel mengembalikan tanah sesuai kesepakatan perbatasan yang dibuat pada 1967. Tidak hanya itu, mereka telah melakukan demonstrasi, menyeruka solidaritas warga baik Yahudi maupun Arab untuk mengakhiri tindakan militer Israel di tanah Palestina.

Nah, kalau misalnya ajaran Ustadz Abdul Somad ini untuk membunuh Yahudi, antek Amerika, Israel, tapi kok yang disebut cuma PKI? Padahal, kalau mau jujur, satu-satunya partai Politik yang bicara soal perjuangan kemerdekaan Palestina di Israel sejak 1947 ya cuma Partai Komunis Israel.

Itu partainya lho ya, belum kader-kadernya. Tamar Peleg-Sryck, misalnya, pengacara hak asasi manusia (Iya, HAM-HEM-HOM yang enggak penting itu) berdarah Yahudi asal Polandia, seorang pengacara publik yang paling banyak membela orang Palestina di Pengadilan Israel: mulai dari penangkapan tanpa bukti, penculikan karena dituduh teroris, sampai hak-hak mendapatkan perlakuan layak di penjara Israel (udah enggak usah dibayangkan di Indonesia, nanti dibilang SJW).

Perjuangan pengacara HAM ini telah membuat banyak polisi, militer, dan politisi Israel geram. Dia dianggap sebagai pendukung teroris, pembela teroris, lebih membela pelaku teroris daripada masyarakat Israel. Bagi Tamar Peleg-Sryck, memutus mata rantai kekerasan bisa dilakukan jika kita mau mengakui hak orang lain.

Mau bukti lain? Tamar Peleg-Sryck menyebut bahwa anak yang dibesarkan sebagai komunis tidak akan jadi rasis, apalagi menyebut Asing Aseng, Gantung Ahok, sampai menolak menyalatkan jenazah karena dia teroris atau nyoblos pemimpin kafir.

Lah, kok ngelantur ke kader komunis Israel? Ya biar kita tahu komunis itu ada banyak, bukan cuma yang kader partai setan.

Nah, kalau sudah seperti ini. Jihad bom bunuh dirinya mau ditujukan kepada siapa, Ustadz Somad?

Avatar
Arman Dhanihttp://www.kandhani.net
Penulis. Menggemari sepatu, buku, dan piringan hitam.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Apa Hubungannya Toleransi dan Kearifan Lokal?

“Hai seluruh manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya...

Lubang Hitam Narasi Teroris Selama Pandemi

Sudah lima hari sejak saya terkonfirmasi positif Covid-19. Rasanya begitu berat, alih-alih sekedar menyerang fisik, rupanya virus ini juga menyerang mental. Untuk itu, saya...

Pendidikan yang Berkebudayaan, Mencipatakan Manusia Kreatif dan Otonom

Review Buku: Yudi Latif, Pendidikan yang Berkebudayaan: Histori, Konsepsi dan Aktualisasi Pendidikan Transformatif, (Jakarta: Gramedia Pustaka, 2020). Pendidikan nasional sudah seharusnya tidak meninggalkan akar-akar...

Tanah dan Transmigrasi

Peliknya urusan pertanahan dipadukan dengan samarnya transmigrasi di Indonesia menjadikan perpaduan masalah yang sulit diurai. Pasalnya permasalahan terkait tanah bukan sekedar konflik kepemilikan dan...

Idealisme Mati Sejak Mahasiswa, Apa Jadinya Bangsa?

Hidup mahasiswa! Hidup rakyat Indonesia! Tampaknya sudah sangat sering mahasiswa mendengar slogan perjuangan tersebut. Apalagi mahasiswa dengan cap "organisatoris" dan "aktivis". Organisatoris dan aktivis adalah...

ARTIKEL TERPOPULER

Pendidikan yang Berkebudayaan, Mencipatakan Manusia Kreatif dan Otonom

Review Buku: Yudi Latif, Pendidikan yang Berkebudayaan: Histori, Konsepsi dan Aktualisasi Pendidikan Transformatif, (Jakarta: Gramedia Pustaka, 2020). Pendidikan nasional sudah seharusnya tidak meninggalkan akar-akar...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.