in ,

Pesan Natal dari Seorang Kristiani Anak Seorang Mukmin


natal-muslim
Seorang perempuan Muslim membantu suster Katolik menghias altar jelang persiapan perayaan malam Natal di Gereja St. Ignasius Waibalun, Larantuka, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, 24 Desember 2016. [Foto: Dok. Tempo]

Setiap tahun, ada dua momen di mana keluarga saya pasti saling kunjung-mengunjungi, yaitu pada Hari Raya Idul Fitri dan Hari Raya Natal. Dibesarkan di dalam keluarga multiagama membuat saya terbiasa dengan perbedaan.

Natal dalam Keluarga Multiagama
Di hari Natal, setiap tahunnya, paman saya yang beragama Islam beserta keluarganya rutin mengunjungi saya dan keluarga. Mereka memberikan ucapan selamat dan turut merayakan perayaan kelahiran Tuhan Yesus bersama saya, ibu saya, kedua adik saya, serta anggota keluarga lain yang beragama Kristen dan Katolik. Kepercayaan mereka yang memandang Tuhan kami sebagai nabi tidak serta merta membuat mereka menjadi anti terhadap perayaan agama kami.

Begitu juga di saat Lebaran. Kami, umat yang memakan makanan yang mereka haramkan, tidak menjaga jarak dengan mereka dan turut merayakan Lebaran bersama mereka. Perbedaan agama di dalam keluarga kami, kami sikapi dengan pikiran terbuka. Demikian pula praktiknya di dalam keluarga inti saya, di mana terdapat ayah saya yang beragama Islam.

Keluarga saya ini dapat dilihat sebagai miniaturnya Indonesia. Bedanya, dalam konteks Indonesia, prinsip keterbukaan menyikapi perbedaan belum dapat diadopsi secara luas. Masih banyak dari kita yang belum cukup besar hati untuk menerima perbedaan. Keterpisahan antargolongan masih terlihat jelas, bahkan kita kerap membuat garis tegas di antara “kami” dan “mereka”.

Baca Juga :   Benarkah Jessica Membunuh Mirna?

Wajar memang karena Indonesia adalah negara multibangsa, yakni negara yang didirikan di atas banyak suku bangsa, di mana masing-masing suku bangsa mendiami wilayah tertentu dengan sistem sosial-politik, hukum atau norma, dan bahasa dan budaya komunikasinya sendiri (Kymlicka & Cohen-Almagor, 2000:90).

Negara multibangsa memiliki pemisah yang jelas antar kelompok dan tidak saling membaur. Ia tidak pernah dapat dengan mudah menciptakan sebuah tatanan yang mana tiap suku bangsa pembentuknya berbaur dan saling memperlakukan satu sama lain secara setara.

Idealnya, ketika sebuah negara kesatuan dibentuk di atas sebuah masyarakat multibangsa, maka masyarakatnya diarahkan untuk menjadi masyarakat multikultural. Masyarakat multikultural menjalankan prinsip politics of recognition (Kymlicka, 1995; Taylor, 1992), di mana identitas baru yang terbentuk dalam negara kesatuan tidak menghilangkan identitas suku bangsa pembentuknya, melainkan menaunginya dan melengkapinya dengan hak dan kewajiban sipil yang setara.

Masyarakat multikultural mampu mengejawantahkan kemajemukan yang melebur, keberbedaan yang membaur, persis seperti apa yang dipraktikkan di dalam keluarga saya.

Harapan untuk Indonesia
Saya masih bermimpi, bahwa ada hari di mana Indonesia akhirnya bisa menjadi sebuah negara multikultural. Tidak hanya “kami membela kami”, tetapi juga “kami membela mereka”. Tidak hanya “Katolik membela Katolik”, tetapi juga “Katolik membela Ahmadiyah” atau “Katolik membela Syiah”.

Garis pemisah yang sudah ada menjadi semakin tegas ketika kita mulai memakainya untuk pragmatisme politik. Tidak masalah bagi saya ketika umat Kristiani mendukung Ahok, tetapi saya sangat kecewa ketika alasannya adalah karena Ahok beragama Kristen. Minoritas tidak suka didiskriminasi karena agamanya, tetapi memberikan dukungan terhadap politikus tertentu dengan dasar yang sama. Hal ini justru menunjukkan bahwa paradigma minoritas dan mayoritas sama saja diskriminatifnya.

Baca Juga :   Khilafah adalah Sebuah Kekhilafan

Cara pandang seperti itu harus kita tinggalkan. Perayaan Natal tahun ini sebaiknya menjadi momen bagi umat Kristiani kembali merenungkan posisi kita di dalam menjadi promotor keberagaman dan persatuan. Sejak dari dalam pikiran, kita harus memegang teguh prinsip bhinneka tunggal ika. Jangan hanya ketika kepentingan kita yang diusik, baru kita pakai semboyan itu untuk perlindungan.

Apabila tahun ini kita kembali disuguhkan isu pengharaman ucapan Natal oleh kelompok Islam tertentu, jangan lagi kita menanggapinya dengan cibiran kepada umat Islam. Jangan biarkan perilaku satu-dua orang Islam membuat kita semakin berjarak dari umat Islam secara keseluruhan. Tidak ada kekekerasan tanpa kebencian, tidak ada kebencian tanpa keterpisahan.

Mulai hari ini, kita harus ambil bagian dengan segala upaya yang kita bisa untuk menggerus dinding pemisah antar kelompok agama dan kepercayaan yang menjadi kekayaan luhur bangsa ini.

Musuh kita bukanlah Saksi Yehuwa, Lia Eden, Gafatar, Kejawen atau Sunda Wiwitan dan Kaharingan sekalipun. Musuh kita adalah satu-dua orang yang anti persatuan dan mencintai perpecahan. Semoga renungan ini dapat menjadi inspirasi bagi kita semua. Selamat Natal!

  • Diterbitkan pertama kali di Media Matias Edisi Natal 2016, Gereja Katolik Santo Matias Cinere, 25 Desember 2016

Baca juga:

Apakah Muslim dan Kristen Menyembah Tuhan Yang Sama?

Umat Kristiani Itu Kaum Beriman, Bukan Kafir


Baca Juga :   Yesus, Tuhan Kaum Muslim Juga? [Refleksi Natal dari Seorang Mukmin]

Mahasiswi S1 Ilmu Politik Universitas Indonesia. Mengimani kebebasan individu dan kemanusiaan.

Tinggalkan Balasan

Loading…

TINGGALKAN KOMENTAR