Banner Uhamka
Sabtu, September 19, 2020
Banner Uhamka

Pesan Natal dari Seorang Kristiani Anak Seorang Mukmin

Reshuffle, Jawaban Sense of Crisis Presiden Jokowi

Empat bulan berlalu sejak kasus COVID-19 mulai masuk ke Indonesia, hingga berkembang menjadi krisis kesehatan. Semi-lockdown atau pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang diberlakukan...

Gegenpressing Klopp: Misi Mengembalikan Gairah Sepakbola

Dalam sepakbola, kita mengenal tiga fase penting di dalamnya, yakni fase menyerang, fase bertahan, dan fase transisi. Fase transisi diyakini sebagai fase paling krusial...

Ketika Main Pokemon Go “Menjadi Yahudi”

Belum genap sebulan aplikasi permainan virtual reality ini beredar di Indonesia, Pokemon Go sudah dilabeli dengan arti "Aku Yahudi". Pokemon yang diambil dari kata...

Cara Pemimpin Menjawab Ujian

  Manusia, secara alami, merupakan makhluk yang punya kecenderungan suka mengeluh. Hanya orang-orang tertentu yang apabila dihadapkan pada suatu masalah mampu menghadapinya dengan tegar, dengan...
Avatar
Cania Citta Irlanie
Mahasiswi S1 Ilmu Politik Universitas Indonesia. Mengimani kebebasan individu dan kemanusiaan.

natal-muslim
Seorang perempuan Muslim membantu suster Katolik menghias altar jelang persiapan perayaan malam Natal di Gereja St. Ignasius Waibalun, Larantuka, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, 24 Desember 2016. [Foto: Dok. Tempo]

Setiap tahun, ada dua momen di mana keluarga saya pasti saling kunjung-mengunjungi, yaitu pada Hari Raya Idul Fitri dan Hari Raya Natal. Dibesarkan di dalam keluarga multiagama membuat saya terbiasa dengan perbedaan.

Natal dalam Keluarga Multiagama
Di hari Natal, setiap tahunnya, paman saya yang beragama Islam beserta keluarganya rutin mengunjungi saya dan keluarga. Mereka memberikan ucapan selamat dan turut merayakan perayaan kelahiran Tuhan Yesus bersama saya, ibu saya, kedua adik saya, serta anggota keluarga lain yang beragama Kristen dan Katolik. Kepercayaan mereka yang memandang Tuhan kami sebagai nabi tidak serta merta membuat mereka menjadi anti terhadap perayaan agama kami.

Begitu juga di saat Lebaran. Kami, umat yang memakan makanan yang mereka haramkan, tidak menjaga jarak dengan mereka dan turut merayakan Lebaran bersama mereka. Perbedaan agama di dalam keluarga kami, kami sikapi dengan pikiran terbuka. Demikian pula praktiknya di dalam keluarga inti saya, di mana terdapat ayah saya yang beragama Islam.

Keluarga saya ini dapat dilihat sebagai miniaturnya Indonesia. Bedanya, dalam konteks Indonesia, prinsip keterbukaan menyikapi perbedaan belum dapat diadopsi secara luas. Masih banyak dari kita yang belum cukup besar hati untuk menerima perbedaan. Keterpisahan antargolongan masih terlihat jelas, bahkan kita kerap membuat garis tegas di antara “kami” dan “mereka”.

Wajar memang karena Indonesia adalah negara multibangsa, yakni negara yang didirikan di atas banyak suku bangsa, di mana masing-masing suku bangsa mendiami wilayah tertentu dengan sistem sosial-politik, hukum atau norma, dan bahasa dan budaya komunikasinya sendiri (Kymlicka & Cohen-Almagor, 2000:90).

Negara multibangsa memiliki pemisah yang jelas antar kelompok dan tidak saling membaur. Ia tidak pernah dapat dengan mudah menciptakan sebuah tatanan yang mana tiap suku bangsa pembentuknya berbaur dan saling memperlakukan satu sama lain secara setara.

Idealnya, ketika sebuah negara kesatuan dibentuk di atas sebuah masyarakat multibangsa, maka masyarakatnya diarahkan untuk menjadi masyarakat multikultural. Masyarakat multikultural menjalankan prinsip politics of recognition (Kymlicka, 1995; Taylor, 1992), di mana identitas baru yang terbentuk dalam negara kesatuan tidak menghilangkan identitas suku bangsa pembentuknya, melainkan menaunginya dan melengkapinya dengan hak dan kewajiban sipil yang setara.

Masyarakat multikultural mampu mengejawantahkan kemajemukan yang melebur, keberbedaan yang membaur, persis seperti apa yang dipraktikkan di dalam keluarga saya.

Harapan untuk Indonesia
Saya masih bermimpi, bahwa ada hari di mana Indonesia akhirnya bisa menjadi sebuah negara multikultural. Tidak hanya “kami membela kami”, tetapi juga “kami membela mereka”. Tidak hanya “Katolik membela Katolik”, tetapi juga “Katolik membela Ahmadiyah” atau “Katolik membela Syiah”.

Garis pemisah yang sudah ada menjadi semakin tegas ketika kita mulai memakainya untuk pragmatisme politik. Tidak masalah bagi saya ketika umat Kristiani mendukung Ahok, tetapi saya sangat kecewa ketika alasannya adalah karena Ahok beragama Kristen. Minoritas tidak suka didiskriminasi karena agamanya, tetapi memberikan dukungan terhadap politikus tertentu dengan dasar yang sama. Hal ini justru menunjukkan bahwa paradigma minoritas dan mayoritas sama saja diskriminatifnya.

Cara pandang seperti itu harus kita tinggalkan. Perayaan Natal tahun ini sebaiknya menjadi momen bagi umat Kristiani kembali merenungkan posisi kita di dalam menjadi promotor keberagaman dan persatuan. Sejak dari dalam pikiran, kita harus memegang teguh prinsip bhinneka tunggal ika. Jangan hanya ketika kepentingan kita yang diusik, baru kita pakai semboyan itu untuk perlindungan.

Apabila tahun ini kita kembali disuguhkan isu pengharaman ucapan Natal oleh kelompok Islam tertentu, jangan lagi kita menanggapinya dengan cibiran kepada umat Islam. Jangan biarkan perilaku satu-dua orang Islam membuat kita semakin berjarak dari umat Islam secara keseluruhan. Tidak ada kekekerasan tanpa kebencian, tidak ada kebencian tanpa keterpisahan.

Mulai hari ini, kita harus ambil bagian dengan segala upaya yang kita bisa untuk menggerus dinding pemisah antar kelompok agama dan kepercayaan yang menjadi kekayaan luhur bangsa ini.

Musuh kita bukanlah Saksi Yehuwa, Lia Eden, Gafatar, Kejawen atau Sunda Wiwitan dan Kaharingan sekalipun. Musuh kita adalah satu-dua orang yang anti persatuan dan mencintai perpecahan. Semoga renungan ini dapat menjadi inspirasi bagi kita semua. Selamat Natal!

  • Diterbitkan pertama kali di Media Matias Edisi Natal 2016, Gereja Katolik Santo Matias Cinere, 25 Desember 2016

Baca juga:

Apakah Muslim dan Kristen Menyembah Tuhan Yang Sama?

Umat Kristiani Itu Kaum Beriman, Bukan Kafir

Avatar
Cania Citta Irlanie
Mahasiswi S1 Ilmu Politik Universitas Indonesia. Mengimani kebebasan individu dan kemanusiaan.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Madilog Sekali Lagi

Gerakan modernisasi dan perkembangan teknologi terjadi begitu cepatnya saat ini, memunculkan berbagai dampak, baik positif maupun yang negatif, mulai dari dampak yang terlihat maupun...

Harmonisasi Agama, Negara dan Dakwah (I)

Agama (Islam) mengakui eksistensi ‘kabilah’, kaum, suku dan bangsa untuk saling mengenal dan bekerjasama demi kemanusiaan dan peradaban (surah al-Hujurat 9:13). Islam menekankan pentingnya semangat/cinta...

Solusi Bersama untuk PJJ

Gebrakan dari Mas Manteri Nadiem Makarim di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dalam memerdekan pendidikan di Indonesia patut diacungkan jempol. Berbagai konsep pendidikan seperti...

Kita Lengah Karena Syariatisasi Ternyata Masih Berjalan

Kebijakan Bupati Gowa yang akan memecat ASN (Aparatus Sipil Negara) yang bekerja di lingkungannya yang buta aksara al-Qur’an membuat kita sadar jika syariatisasi di...

Sepak Bola, Cara Gus Dur Menyederhanakan Politik

Tahun 1998 adalah masa pertama penulis mulai gemar menonton sepak bola. Kala itu, bersamaan dengan momentum Piala Dunia (World Cup) di Prancis. Ketika opening...

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.