OUR NETWORK

Perlukah Jokowi Kita Beri Pelajaran Sakitnya Kekecewaan dan Kekalahan?

Ya, begitulah apa yang saya pahami dari Jokowi sekarang. Keputusannya menjadikan Ma’ruf Amin sebagai pasangannya, benar-benar penuh tanda tanya.

Belakangan ini, tiap kali melihat Jokowi saya teringat meme gunung es yang kerap berseliweran di beranda media sosial. Puncaknya kecil, tapi bongkahannya jauh lebih besar berada di bawah permukaan air. Ya, begitulah apa yang saya pahami dari Jokowi sekarang. Keputusannya menjadikan Ma’ruf Amin sebagai pasangannya, benar-benar penuh tanda tanya.

Beberapa spekulasi muncul di banyak media. Namun yang terutama dan sepertinya masuk akal buat saya hanya dua. Pertama, Ma’ruf Amin dipilih karena dianggap berpotensi mampu meredam gejolak kalangan Islam yang selama ini menganggap pemerintahan Jokowi sebagai pemerintahan yang anti-islam.

Kedua, Ma’ruf Amin dipilih karena koalisi memiliki ketakutan, bahwa jika menjadikan sosok selain Ma’ruf, akan berpotensi untuk menjadikannya sosok populer yang akan membuka jalan untuk 2024. Barangkali partai-partai tertentu sedang menyiapkan nama lain selain sosok itu.

Meskipun masuk akal, keduanya punya sumber yang sama: koalisi pengusungnya. Partai-partai koalisi adalah partai yang sedang menderita ketakutan dan ketegangan politik. Kedua spekulasi di atas adalah gejala dari penderitaan itu.

Sayangnya, Jokowi juga tidak terlihat memiliki posisi tawar yang dominan dalam penentuan pasangannya itu. Jokowi, seperti dikutip media, menyerahkan sepenuhnya pada pimpinan partai koalisi.

Dua ‘spekulasi masuk akal’ itu kemudian dibaca oleh mereka yang memang memiliki kepedulian pada demokrasi; yang tidak dan mau mengikuti jalan pikirnya sendiri, ya, tetap begitu-begitu saja. Pembacaan itu lalu menghadirkan celetukan-celetukan dan suara-suara untuk golput. Mereka yang berceletuk golput ini terutama berasal dari dua kalangan pula. Yang pertama tentu saja para golputers kawakan.

Mereka itu adalah orang-orang yang sejak 2014 beranggapan bahwa Jokowi dan Prabowo tak ubahnya dua capres yang sama: sama-sama akan mengakomodir para pelaku kajahatan HAM di masa lalu, sama-sama berpotensi melakukan kekerasan pada gerakan rakyat -dan ternyata terbukti pada pembiaran praktek penggusuran, pengekangan pers di Papua, pelaku pembangunan tak ramah lingkungan, dan sama-sama pro modal dan kaum pemodal.

Sementara kalangan kedua adalah para Ahokers, yakni orang-orang yang begitu mencintai Ahok dan menyayangkan Ahok dipenjara. Mereka ini tentu saja sangat kecewa dengan penunjukan Ma’ruf Amin yang nyata-nyata anti pluralisme, anti sekularisme, dan berpartisipasi dalam memenjarakan Ahok. Sebelum hari ini, mereka menjadi pendukung Jokowi karena Ahok bersama Jokowi.

Tapi sekarang sepertinya Jokowi mengkhianati mereka dengan memilih Ma’ruf Amin. Pendeknya, jika sebelumnya mereka mendukung Jokowi, kali ini mereka akan golput karena kekecewaan itu.

Kemungkinan Jokowi Kalah

Sembilan partai pendukung Jokowi sepertinya memiliki kepercayaan diri yang begitu tinggi akan dapat mengalahkan Prabowo dan empat partai pendukungnya. Akan tetapi kemungkinan itu bisa saja terbalik. Bukan hal yang mustahil pasangan Jokowi-Ma’ruf akan dapat dikalahkan oleh pasangan Prabowo-Sandi.

Prabowo-Sandi memiliki kemungkinan untuk menang jika angka golput semakin tinggi. Apalagi angka golput itu terutama berasal dari para pendukung Jokowi sebelumnya yang merasa dikhianati dan kecewa oleh keputusan memilih Ma’ruf Amin itu.

Hal itu masih ditambah dengan absennya lingkar-lingkar relawan yang pada pilpres sebelumnya, bahkan sebelum masa kampanye, menjadi mesin kampanye yang cukup signifikan buat Jokowi selain partai-partai pendukung. Jika hal ini bertahan dan makin menguat, maka kekalahan Jokowi sudah di depan mata.

Penentuan atas itu memang pada mereka, kalangan yang berpotensi untuk menjadi golputers ini. Mereka ini sedang menimbang: perlukah Jokowi (dan partai koalisinya) diberi pelajaran tentang bagaimana rasanya kalah dan kecewa. Mereka ini, para relawan, para ahokers, para aktivis pluralisme-sekularisme ini sedang berpikir keras dan menimbang perlu tidaknya Jokowi diberi pelajaran.

Jika Prabowo dapat dikatakan sudah sangat sering merasakan betapa pahitnya menjadi pecundang, maka Jokowi boleh dikatakan tak pernah merasakan betapa sakit dikecewakan dan dikalahkan.

Periksa saja, karir politiknya selalu penuh kemenangan, dan termasuk baik dan relatif lancar sejak dari walikota, gubernur, hingga Presiden. Jokowi sama sekali belum pernah merasakan pahitnya gagal-menang. Nah, mereka-mereka calon golputers ini sedang menimbang hal itu: inikah saatnya Jokowi diberi pelajaran?

Berapa Ongkos Pelajaran Kalah Untuk Jokowi

Ada banyak orang yang sudah memahami dan menyadari bahwa Jokowi bisa dibuat kalah kali ini. Dan hal itu berada di tangan para calon golputers potensial. Namun demikian, hal yang harus kita pikirkan adalah berapa ongkos pelajaran buat Jokowi itu? Lalu, sepadankah?

Perkiraan pertama, buat Jokowi secara personal barangkali hanya kekecewaan. Besar kemungkinan Jokowi hanya akan kembali meneruskan usaha meubelnya di Solo sambil meneruskan hobinya memelihara kodok. Kita juga tahu bahwa kecil kemungkinan seorang Jokowi akan menjadi seorang oposan yang gigih dan ulet sebagaimana Rocky Gerung; atau oposan yang syahdu sebagaimana SBY.

Akan tetapi partai-partai koalisi pendukungnya tentu akan tetap berada di DPR. Itu jika mereka tidak menyeberang. Jumlah koalisi mereka yang besar akan sangat membatasi pemerintahan Prabowo nantinya.

Prabowo tentu akan sangat kewalahan menghadapi sembilan partai itu di DPR jika sembilan partai itu menjadi partai oposisi. Hal itu tentu saja membatasi ruang gerak Prabowo kalau-kalau ia mengambil kebijakan-kebijakan yang tidak populis dan rawan kritik.

Dampak kekalahan Jokowi itu tentu akan membuat sembilan partai belajar menjadi oposan. Bukankah hal itu akan jadi pelajaran dan tontonan menarik buat publik. Ya, apakah partai-partai itu memang partai-partai yang bisa menjalankan fungsi oposisi dengan baik? Ataukah partai-partai itu cuma partai manja yang bisanya cuma menetek pemerintah, minta jatah menteri, dan partai penyokong eksekutif selalu?

Sementara, di kubu koalisi Prabowo sendiri, kita juga akan dapat melihat bagaimana polah mereka jika menjadi partai yang menyokong sebuah pemerintahan. Akankah sama polahnya dengan partai-partai lawannya yang selama ini mereka kritisi?

Selama ini, kekhawatiran utama yang kerap didengar jika Prabowo berkuasa adalah kembalinya militerisme dalam kehidupan sipil. Meskipun ada, kemungkinan itu sangat kecil. Kontrol atas itu tentu saja ada di DPR.

Saya pikir, jika sembilan partai pendukung Jokowi yang nantinya akan menjadi oposan, fungsi kontrol atas itu dapat dilakukan. Jika tidak, kita akhirnya tahu bahwa partai-partai yang ada itu memang tak dapat diharapkan untuk meluaskan dan melanjutkan upaya demokratisasi yang telah dicapai selama ini. Sembilan partai itu adalah partai yang cemen kalau tak mau disebut tolol. Segampang itu.

Sampai di sini, sepertinya ongkos memberi pelajaran tidak terlalu mahal, bukan? Bagaimana, para relawan dan calon golputers potensial? Apakah tertarik memberi pelajaran kecewa dan kalah pada Jokowi setelah ia berkali-kali memberimu kekecewaan? Untuk melakukannya kau bahkan tak perlu bersusah payah berlumur tinta seperti kubu sebelah yang memang ngebet mengalahkannya sejak 2014.

Hanafi Mulyadi
Penulis penggandrung komedi dan politik

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

    Processing files…