Selasa, Januari 26, 2021

Perlukah Jokowi Kita Beri Pelajaran Sakitnya Kekecewaan dan Kekalahan?

Matinya Demokrasi

Pertemuan antara Prabowo dan Surya Paloh kemarin menyampaikan pesan bahwa mereka akan mendorong dilakukannya amandemen UU 1945 secara menyeluruh. Begitulah, kian lebar terbuka kotak...

Rocky Gerung, Ahok, dan Pesan Nestor

Pernyataan Rocky Gerung di Indonesia Lawyers Club (ILC) beberapa waktu lalu mengenai kitab suci dan fiksi, yang hingga kini masih menjadi bahan perdebatan, mengingatkan...

Belajar dari Kisah Akhilles dan Agamemnon

Cerita dimulai pada tahun ke-9, ketika suku-suku dalam wilayah Akhaia yang terletak di semenanjung Peloponesia menjalani perang Troya. Mereka terdiri dari klan-klan, kelompok-kelompok, dan...

Kipas-Kipas Agama, Islam Sontoloyo?

Upaya untuk melenyapkan Denny Siregar sudah dimulai sejak lama. Pelaporan atas dirinya sering dilakukan. Tapi karena laporan itu prematur, tidak memenuhi dua alat bukti,...
Avatar
Hanafi Mulyadi
Penulis penggandrung komedi dan politik

Belakangan ini, tiap kali melihat Jokowi saya teringat meme gunung es yang kerap berseliweran di beranda media sosial. Puncaknya kecil, tapi bongkahannya jauh lebih besar berada di bawah permukaan air. Ya, begitulah apa yang saya pahami dari Jokowi sekarang. Keputusannya menjadikan Ma’ruf Amin sebagai pasangannya, benar-benar penuh tanda tanya.

Beberapa spekulasi muncul di banyak media. Namun yang terutama dan sepertinya masuk akal buat saya hanya dua. Pertama, Ma’ruf Amin dipilih karena dianggap berpotensi mampu meredam gejolak kalangan Islam yang selama ini menganggap pemerintahan Jokowi sebagai pemerintahan yang anti-islam.

Kedua, Ma’ruf Amin dipilih karena koalisi memiliki ketakutan, bahwa jika menjadikan sosok selain Ma’ruf, akan berpotensi untuk menjadikannya sosok populer yang akan membuka jalan untuk 2024. Barangkali partai-partai tertentu sedang menyiapkan nama lain selain sosok itu.

Meskipun masuk akal, keduanya punya sumber yang sama: koalisi pengusungnya. Partai-partai koalisi adalah partai yang sedang menderita ketakutan dan ketegangan politik. Kedua spekulasi di atas adalah gejala dari penderitaan itu.

Sayangnya, Jokowi juga tidak terlihat memiliki posisi tawar yang dominan dalam penentuan pasangannya itu. Jokowi, seperti dikutip media, menyerahkan sepenuhnya pada pimpinan partai koalisi.

Dua ‘spekulasi masuk akal’ itu kemudian dibaca oleh mereka yang memang memiliki kepedulian pada demokrasi; yang tidak dan mau mengikuti jalan pikirnya sendiri, ya, tetap begitu-begitu saja. Pembacaan itu lalu menghadirkan celetukan-celetukan dan suara-suara untuk golput. Mereka yang berceletuk golput ini terutama berasal dari dua kalangan pula. Yang pertama tentu saja para golputers kawakan.

Mereka itu adalah orang-orang yang sejak 2014 beranggapan bahwa Jokowi dan Prabowo tak ubahnya dua capres yang sama: sama-sama akan mengakomodir para pelaku kajahatan HAM di masa lalu, sama-sama berpotensi melakukan kekerasan pada gerakan rakyat -dan ternyata terbukti pada pembiaran praktek penggusuran, pengekangan pers di Papua, pelaku pembangunan tak ramah lingkungan, dan sama-sama pro modal dan kaum pemodal.

Sementara kalangan kedua adalah para Ahokers, yakni orang-orang yang begitu mencintai Ahok dan menyayangkan Ahok dipenjara. Mereka ini tentu saja sangat kecewa dengan penunjukan Ma’ruf Amin yang nyata-nyata anti pluralisme, anti sekularisme, dan berpartisipasi dalam memenjarakan Ahok. Sebelum hari ini, mereka menjadi pendukung Jokowi karena Ahok bersama Jokowi.

Tapi sekarang sepertinya Jokowi mengkhianati mereka dengan memilih Ma’ruf Amin. Pendeknya, jika sebelumnya mereka mendukung Jokowi, kali ini mereka akan golput karena kekecewaan itu.

Kemungkinan Jokowi Kalah

Sembilan partai pendukung Jokowi sepertinya memiliki kepercayaan diri yang begitu tinggi akan dapat mengalahkan Prabowo dan empat partai pendukungnya. Akan tetapi kemungkinan itu bisa saja terbalik. Bukan hal yang mustahil pasangan Jokowi-Ma’ruf akan dapat dikalahkan oleh pasangan Prabowo-Sandi.

Prabowo-Sandi memiliki kemungkinan untuk menang jika angka golput semakin tinggi. Apalagi angka golput itu terutama berasal dari para pendukung Jokowi sebelumnya yang merasa dikhianati dan kecewa oleh keputusan memilih Ma’ruf Amin itu.

Hal itu masih ditambah dengan absennya lingkar-lingkar relawan yang pada pilpres sebelumnya, bahkan sebelum masa kampanye, menjadi mesin kampanye yang cukup signifikan buat Jokowi selain partai-partai pendukung. Jika hal ini bertahan dan makin menguat, maka kekalahan Jokowi sudah di depan mata.

Penentuan atas itu memang pada mereka, kalangan yang berpotensi untuk menjadi golputers ini. Mereka ini sedang menimbang: perlukah Jokowi (dan partai koalisinya) diberi pelajaran tentang bagaimana rasanya kalah dan kecewa. Mereka ini, para relawan, para ahokers, para aktivis pluralisme-sekularisme ini sedang berpikir keras dan menimbang perlu tidaknya Jokowi diberi pelajaran.

Jika Prabowo dapat dikatakan sudah sangat sering merasakan betapa pahitnya menjadi pecundang, maka Jokowi boleh dikatakan tak pernah merasakan betapa sakit dikecewakan dan dikalahkan.

Periksa saja, karir politiknya selalu penuh kemenangan, dan termasuk baik dan relatif lancar sejak dari walikota, gubernur, hingga Presiden. Jokowi sama sekali belum pernah merasakan pahitnya gagal-menang. Nah, mereka-mereka calon golputers ini sedang menimbang hal itu: inikah saatnya Jokowi diberi pelajaran?

Berapa Ongkos Pelajaran Kalah Untuk Jokowi

Ada banyak orang yang sudah memahami dan menyadari bahwa Jokowi bisa dibuat kalah kali ini. Dan hal itu berada di tangan para calon golputers potensial. Namun demikian, hal yang harus kita pikirkan adalah berapa ongkos pelajaran buat Jokowi itu? Lalu, sepadankah?

Perkiraan pertama, buat Jokowi secara personal barangkali hanya kekecewaan. Besar kemungkinan Jokowi hanya akan kembali meneruskan usaha meubelnya di Solo sambil meneruskan hobinya memelihara kodok. Kita juga tahu bahwa kecil kemungkinan seorang Jokowi akan menjadi seorang oposan yang gigih dan ulet sebagaimana Rocky Gerung; atau oposan yang syahdu sebagaimana SBY.

Akan tetapi partai-partai koalisi pendukungnya tentu akan tetap berada di DPR. Itu jika mereka tidak menyeberang. Jumlah koalisi mereka yang besar akan sangat membatasi pemerintahan Prabowo nantinya.

Prabowo tentu akan sangat kewalahan menghadapi sembilan partai itu di DPR jika sembilan partai itu menjadi partai oposisi. Hal itu tentu saja membatasi ruang gerak Prabowo kalau-kalau ia mengambil kebijakan-kebijakan yang tidak populis dan rawan kritik.

Dampak kekalahan Jokowi itu tentu akan membuat sembilan partai belajar menjadi oposan. Bukankah hal itu akan jadi pelajaran dan tontonan menarik buat publik. Ya, apakah partai-partai itu memang partai-partai yang bisa menjalankan fungsi oposisi dengan baik? Ataukah partai-partai itu cuma partai manja yang bisanya cuma menetek pemerintah, minta jatah menteri, dan partai penyokong eksekutif selalu?

Sementara, di kubu koalisi Prabowo sendiri, kita juga akan dapat melihat bagaimana polah mereka jika menjadi partai yang menyokong sebuah pemerintahan. Akankah sama polahnya dengan partai-partai lawannya yang selama ini mereka kritisi?

Selama ini, kekhawatiran utama yang kerap didengar jika Prabowo berkuasa adalah kembalinya militerisme dalam kehidupan sipil. Meskipun ada, kemungkinan itu sangat kecil. Kontrol atas itu tentu saja ada di DPR.

Saya pikir, jika sembilan partai pendukung Jokowi yang nantinya akan menjadi oposan, fungsi kontrol atas itu dapat dilakukan. Jika tidak, kita akhirnya tahu bahwa partai-partai yang ada itu memang tak dapat diharapkan untuk meluaskan dan melanjutkan upaya demokratisasi yang telah dicapai selama ini. Sembilan partai itu adalah partai yang cemen kalau tak mau disebut tolol. Segampang itu.

Sampai di sini, sepertinya ongkos memberi pelajaran tidak terlalu mahal, bukan? Bagaimana, para relawan dan calon golputers potensial? Apakah tertarik memberi pelajaran kecewa dan kalah pada Jokowi setelah ia berkali-kali memberimu kekecewaan? Untuk melakukannya kau bahkan tak perlu bersusah payah berlumur tinta seperti kubu sebelah yang memang ngebet mengalahkannya sejak 2014.

Avatar
Hanafi Mulyadi
Penulis penggandrung komedi dan politik
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pengalaman Mantan Pasien Wisma Atlet

Ibu Mawar ingin memberi cerita pengalamannya yang dialami ia dan keluarga dalam menghadapi karena mengidap Covid 19 yang sempat dirawat di Wisma Atlet serta...

95% Keluarga Muda Terancam Menjadi Gelandangan Masa Depan

Pernikahan menjadi salah satu momen yang istimewa bagi siapa saja. Namun siapa sangka, pernikahan yang tidak dilakukan dengan pertimbangan dan perencanaan matang, justru akan...

Utang, Literasi, dan Investasi

Belakangan ini, belantara media sosial diriuhkan oleh suatu kasus yang menarik perhatian publik. Yakni investasi saham dengan menggunakan uang hasil ngutang ke sejumlah kreditur. Alih-alih...

Warna, Nada, dan Keberagaman Bangsa

Rifa Rosydiana Ratal SMAN 24 Jakarta Pemenang Lomba Menulis Esai “Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita”. Sahabat Khatulistiwa. Desember 2020 Berbagai kontras yang dimiliki warna dan berbagai...

Kebiri Kimia Amputasi HAM

Pada 7 Desember 2020 lalu, Presiden Jokowi menandatangani Peraturan Pemerintah No. 70 Tahun 2020 tentang Tata Cara Pelaksanaan Tindakan Kebiri Kimia, Pemasangan Alat Pendeteksi...

ARTIKEL TERPOPULER

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Larry King, Wawancara dengan Sejarah

Oriana Fallaci beruntung. Ia seakan mendapat wangsit mendadak untuk menjuduli bukunya dengan cemerlang, "Intervista con la storia", himpunan interviunya dengan para pemimpin dunia yang...

Towards Success: Re-evaluating Indonesia Ecological Development

Indonesia has long been an active participant of the environmental policy formation and promotion. Ever since 1970, as Dr Emil Salim appointed as the...

Pandji yang Sedikit Tahu, tapi Sudah Sok Tahu

Siniar (podcast) komedian Pandji Pragiwaksono kian menegaskan bahwa budaya kita adalah sedikit tahu, tapi sudah merasa sok tahu. Sedikit saja tahu tentang gambaran FPI...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.