Rabu, Januari 27, 2021

Perkosaan dan ”Kebangkitan Nasional” Bangsa Patriarkis

Nyala Membara Aksi Kamisan

“Hidup Korban…” “Jangan Diam…” “Lawan…!” Aktivis mana yang tak tahu jargon ini? Ya, jargon yang selalu diteriakan pada setiap hari kamis di depan istana presiden....

Jokowi dan Nasionalisme Ketok Magic

Surat untuk Prof. Jeffrey Winters Are you sure Professor? Tuan Winters, saya membaca pernyataan anda di Wall Street journal tertanggal 23 Juli 2015, dalam sebuah artikel...

Blunder Fatal Mahkamah Konstitusi

Mahkamah Konstitusi memutuskan, pemeriksaan terhadap anggota Dewan Perwakilan Rakyat yang harus mendapat persetujuan Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) dinilai bertentangan dengan UUD 1945. Pertentangan tetap...

Mengenang Sahabat Karib Saya, Bahtiar Effendy

Tadi pagi dalam perjalanan dari bandara ke rumah duka ada seorang wartawan bertanya tentang Almarhum Bahtiar Effendy dan saya jawab ringkas: Almarhum Bahtiar Effendy adalah...
Merry Magdalena
Founder & CEO PoliTwika.Com

perkosaanBerita perkosaan kian jadi santapan sehari-hari kini. Masih hangat nasib miris Yuyun, menyusul berita bocah 2,5 tahun yang diperkosa hingga tewas. Tak lama, ada Eno yang diperkosa dan dibunuh 3 lelaki. Disusul hebohnya Sony Koko yang ketahuan sudah memperkosa 58 anak di Kediri. Ada apa dengan bangsa ini? Semakin biadabkah? Atau memang sejak dulu sama saja?

Jadi, muncul pertanyaan, apakah kita masih layak memperingati Hari Kebangkitan Nasional setiap 20 Mei? Terlalu jauhkah mengaitkan aneka kasus perkosaan dengan Harkitnas? Bisa ya, bisa tidak.

Yang pasti, nama Budi Utomo dipilih Dr Wahidin Sudirohusodo bukan tanpa alasan. Maknanya, kita harus mengutamakan budi pekerti. Kendati Budi Utomo digagas sebagai gerakan di bidang pendidikan dan kebudayaan, fokusnya bukan sekadar akademik, melainkan membangun budi pekerti luhur.

108 tahun sudah berlalu. Budi Utomo sudah lama tiada. Yang tersisa hanya beragam seremonial dan slogan-slogan absurd, dikumandangkan tiap kalender tiba di angka 20 Mei. Sementara bangsa ini belum jua mencapai keutamaan budi. Merdeka yang sekadar merdeka secara fisik, bangkit pun sekadar bangkit basa-basi.

Di mana keutamaan budi jika para pria, muda atau tua, masih menganggap wanita adalah obyek yang layak dipaksa melakukan sesuatu. Obyek yang boleh diperkosa. Entah jiwa atau raga. Perkosaan terhadap 58 anak oleh pengusaha asal Kediri berlangsung dalam periode panjang. Mustahil warga tidak tahu. Intimidasi, ancaman, membuat mereka bisu.

Ironis, di mana gerangan budi pekerti dan moral ketika begitu banyak orang kompak untuk membiarkan kejahatan seksual berlangsung bertahun-tahun lamanya? Sebuah persekongkolan kriminal yang luar biasa.

Tingginya kasus perkosaan di suatu negara merupakan hasil dari ketidakseimbangan peran pria dan wanita. Ketimpangan fungsi antar gender. Wanita masih diasumsikan sebagai subordinat pria.

Dalam paper bertajuk Rape: Social & Cultural Reasons, St. Rosemary Educational Institution menulis bahwa sejak awal pria dan wanita dikondisikan berbeda. Pria cenderung agresif, wanita cenderung pasif. Kita sudah terkondisikan untuk menerima nilai-nilai yang membenarkan pria untuk menggoda wanita, bertutur kata kasar. Sementara wanita harus sopan, bertutur kata halus. Kalau ada wanita agresif, akan dianggap kurang ajar, melanggar norma-norma.

Perkosaan, di satu sisi, merupakan isu kemanusiaan, tapi di sisi lain menjadi semacam propaganda patrarki. Sehebat-hebatnya wanita, tetap saja tidak akan berdaya jika sudah berhubungan dengan adu fisik dengan pria. Berita perkosaan yang belakangan begitu bertubi-tubi layak dicurigai, benarkah membawa misi kemanusiaan atau propaganda patrarkis? Sebab, pada akhirnya kaum wanitalah yang paling terancam dengan semua propaganda itu.

Jujur, saya jadi takut dengan fenomena gempuran pemberitaan soal perkosaan di banyak media. Takut kalau-kalau para pembacanya menjadi kebal, merasa bahwa perkosaan itu hal rutin dan biasa. Takut mereka justru jadi terangsang dan termotivasi untuk memperkosa. Terlebih beberapa media menuliskannya dengan gaya main-main, seperti penggunaan kata “digilir” dan sejenisnya.

Apakah dengan maraknya berita perkosaan di media, maka negara akan makin peduli dan membuka mata?

Kita tidak bisa berharap negara bisa adil menghukum pemerkosa, selama pengambil keputusan masih didominasi pola pikir patriarkis, baik yang dianut wanita atau pria. Pria, dalam hal ini, akan berusaha berargumen. Mereka bisa saja berujar, “Lho, kami juga anti-pemerkosaan, kami memikirkan istri, anak perempuan, adik perempuan, teman-teman perempuan kami.” Atau ada yang bersuara nyinyir, “Wanita kan juga bisa memperkosa pria, memangnya cuma wanita aja yang bisa jadi korban perkosaan?”

Belum lagi celotehan pejabat-pejabat atau figur publik yang terkesan menggampangkan isu perkosaan. “Ah, kan, korbannya menikmati”, atau “Salah korban kenapa jalan di tempat sepi sendirian.”

Perkosaan semestinya dipandang sebagai isu politik, bukan sekadar pelanggaran moral dan kejahatan semata. Semua wanita, setinggi apa pun pendidikannya, sesukses apa pun kariernya, tetap berpotensi untuk jadi korban perkosaan. Perkosaan bukan masalah wanita belaka, bukan masalah mereka yang tinggal di lingkungan terpencil, miskin, atau kumuh saja. Perkosaan merupakan problem bangsa yang katanya sudah mengalami “Hari Kebangkitan Nasional”, tapi faktanya budi pekerti dan moralnya masih dipertanyakan.

Melawan kebrutalan perkosaan adalah perjuangan melawan dominasi patriarki yang tak ada habisnya.

Kolom Terkait:

Siapa Mengajari Mereka Memperkosa?

Korban Perkosaan: Diam dalam Dendam

Merry Magdalena
Founder & CEO PoliTwika.Com
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Roman Abramovich, Alexei Navalny, dan Premier League

Industri olahraga, khususnya sepakbola, telah mengalami perkembangan pesat. Mulai dari segi teknis maupun non-teknis. Mulai dari aktor dalam lapangan hingga pemain-pemain di belakang layar....

Perempuan dan Politik

Politik selalu identik dengan dunia laki-laki, dengan dunia kotor, tidak pantas untuk perempuan masuk kedalam ranah tersebut. Politik selalu identik dengan sesuatu yang aneh...

Karakteristik Milenial di Era Disrupsi

Dewasa ini, pemakaian istilah Disrupsi masih terdengar asing oleh kaum muda atau generasi milenial sekarang. Lalu apa sebenarnya yang dimaksud dengan disrupsi?. Jika kita...

Hak Cipta dan Perlindungan Kekayaan Intelektual

Hak atas Kekayaan Intelektual (HAKI) merupakan terjemahan dari Intellectual Property Right (IPR), sebagaimana diatur dalam undang-undang No. 7 Tahun 1994 tentang pengesahan Agreement Establishing...

Pengalaman Mantan Pasien Wisma Atlet

Ibu Mawar ingin memberi cerita pengalamannya yang dialami ia dan keluarga dalam menghadapi karena mengidap Covid 19 yang sempat dirawat di Wisma Atlet serta...

ARTIKEL TERPOPULER

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Larry King, Wawancara dengan Sejarah

Oriana Fallaci beruntung. Ia seakan mendapat wangsit mendadak untuk menjuduli bukunya dengan cemerlang, "Intervista con la storia", himpunan interviunya dengan para pemimpin dunia yang...

Towards Success: Re-evaluating Indonesia Ecological Development

Indonesia has long been an active participant of the environmental policy formation and promotion. Ever since 1970, as Dr Emil Salim appointed as the...

Hukum Tata Cara Mengendus Kuasa, Kuliah Gratis untuk Refly Harun

Semoga Saudara Refly Harun dalam keadan sehat akal wal afiat!! Awalnya saya merasa tidak begitu penting untuk memberi tanggapan akademis terhadap saudara Refly Harun. Kendati...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.