OUR NETWORK

Perjanjian dengan Setan Itu Sebaiknya Diakhiri

MU dan Mou sebaiknya berpisah.

Saat musim ketiganya tengah berjalan, sudah menjadi lebih jelas sekarang apa yang bisa dikatakan tentangnya: Jose Mourinho (rupa-rupanya) datang di saat yang tidak tepat, seperti semua yang datang sebelum dirinya, setelah mundurnya Alex Ferguson. Ya, sekarang bisa lebih mudah disimpulkan: adakah waktu yang lebih buruk lagi untuk datang ke sebuah klub yang baru saja melewati masa 27 musim yang bergelimang kejayaan?

Meski orangnya masih hidup, duduk gelisah di box VVIP-nya yang nyaman, dan masih terus memerah pipinya untuk setiap sorak-sorai pendukung MU yang didengarnya, hantu Fergie sudah bergentayangan di setiap sudut Old Trafford begitu ia menyatakan berhenti, lima musim lalu. Hantu itu mendiami setiap piala yang didapatnya; ia menggantung di langit-langit ruang ganti Old Traford; ia menjadi gaung di setiap kesunyian yang tercipta karena hasil-hasil buruk MU di kandang. Yang lebih buruk lagi, ia merasuki—sangat dalam—setiap kepala pemuja MU di mana saja, di seluruh dunia.

Hantu Fergie-lah yang dengan cepat mengusir Moyes, meskipun Fergie versi darah-dan-daging sendiri yang menunjuknya delapan bulan sebelumnya. Hantu yang sama membuat seorang filosof sepakbola yang terkemuka seperti Van Gaal jadi olok-olok. Dan kini Jose Mourinho yang jadi korbannya: ia diadili bukan semata karena apa yang bisa dilakukannya, tapi oleh apa yang sudah dilakukan Fergie (sebelumnya); ia mesti mengingatkan para wartawan, sambil mengacungkan tiga jari, bahwa ia adalah pelatih di Liga Inggris (yang masih melatih) dengan raihan juara terbanyak.

Para pandit sudah meramalkan masa-masa sulit ini di awal musim—dan memang tak sulit melakukan itu. Tapi siapakah yang meramalkan bahwa ia akan segagal ini tiga tahun lalu?

“… The Red Devils. Itu adalah satu-satunya tempat yang profilnya cocok dengan Mou,” tulis sejawat saya, Darmanto Simaepa, dalam bukunya Tamasya Bola, yang terdengar seperti seorang calon mertua yang menemukan mempelai istimewa untuk anak gadisnya.

Sedikit bercampur dengan harapan seorang penggemar, Darmanto lebih jauh menujum: “Apa rasanya, sebagai pendengki Mou, menemukan kenyataan, misalnya dalam dekade mendatang, Mou membangun rumahnya sendiri di samping istana yang telah dibangun Ferguson?”

***

Pada awal Mei 2013, di pengujung masa kerjanya di Real Madrid, Mou begitu putus asa menunggu teleponnya berdering. Ia berharap, seseorang di seberang, dengan aksen Glasgow-nya, bicara: “Jose, kuharap kau tidak keberatan menggantikanku.” Tapi panggilan itu tidak pernah sampai kepadanya.

(Boleh jadi, dari sinilah semua kerumitan yang terjadi lima tahun kemudian dimulai.)

David Moyes, orang Skotlandia yang lain, yang tak punya sebiji pun piala di CV-nya (kecuali trofi juara di liga level tiga bersama Preston North End), yang justru mendapatkannya. Beberapa pekan kemudian ia memang kembali ke Inggris. Tidak ke Manchester, melainkan ke London, tempat yang ia bilang disukai istri dan anak-anaknya. Ia bicara kepada pers Inggris yang selalu tertarik kepadanya: “Aku adalah orang yang berbahagia.” Sebenarnya, ia merasa dikhianati. Sebab, jika buku Diego Torres bisa dipercaya, ia merasa bahwa Fergie telah pernah berjanji kepadanya.

Tapi “tak akan lari gunung dikejar”, atau “kalau jodoh tak kan ke mana”, atau silakan pilih peribahasa Melayu apa yang lebih cocok untuk menggambarkannya. Klub yang ia rasa cocok untuknya itu, yang ia inginkan, dan jelas-jelas sedang sangat menginginkannya, akhirnya datang. Mereka telah tiga tahun absen dari persaingan Liga. Moyes, si “ Orang Terpilih”, hanya bisa mengulangi kesemenjanaannya bersama Everton. Van Gal ternyata sudah lupa kedigdayaan yang pernah ditunjukkannya di Ajax, Barca, dan Munchen, membuat seisi Old Trafford tertidur karena bosan, dan membuat seluruh dunia menertawakannya. Sementara, pada saat yang sama, Tetangga Berisik itu, Manchester City, klub baru kaya karena duit minyak milik para pangeran Arab, semakin mengancam.

Perjumpaan yang tertunda tiga tahun itu akhirnya terjadi. Di awal musim 2016, MU dan Mou akhirnya bertemu. “Perjodohan” ideal yang diharapkan teman saya Darmanto itu pun terwujud. Penggemar MU yang romantik yang sekaligus seorang penonton film India pasti akan memikirkan frasa “rab ne bana di jodi”, atau “(pasangan yang) dijodohkan Tuhan”, meski para pandit lebih menyukai tamsil tentang perjanjian Dr. Faust dengan Iblis.

Tapi, diakui atau tidak, perjodohan ini tak sesempurna yang awalnya dibayangkan.

Dalam tiga tahun (keterlambatan) itu, banyak hal sudah terjadi. MU tidak seperti terakhir ditinggal Sir Alex, dan Mou sudah berjarak dari predikat dua kali juara Liga Champions seperti saat ia pindah dari Inter ke Madrid pada 2010. MU sedang limbung, tersuruk-suruk melewati masa transisinya, sementara para pesaingnya justru sedang melambung. Sementara itu, lebih buruk lagi, Mou belum lama menganggur setelah dipecat Chelsea; pemecatan paling pantas yang pernah diterima di sepanjang kariernya, setelah kalah sembilan kali dari 16 pertandingan di awal musim sekaligus merusak kohesifitas timnya sendiri.

Dengan kata lain, siapa pun Dr. Faust dan Iblis-nya (di antara MU dan Mou), si Dr. Faust sedang dilanda penat, sementara si Iblis telah kehilangan sebagian kesaktiannya. Dan “perjanjian dengan setan” ini, dengan demikian, tidak menjaminkan kejayaan di ujungnya.

“Treble” yang diisyaratkan oleh acungan jari Mourinho ketika MU memenangkan final Europa Cup edisi 2016-2017 memang tidak mengada-ada. Tapi, jelas benar, ia terlihat dilebih-lebihkan. Lebih-lebih jika yang menghitungnya adalah pemain dan penggemar MU. Mereka bisa merayakan piala apa pun di depan pendukung Liverpool (yang saat itu sedang sangat membanggakan pelatih barunya yang Rock ‘n Roll, tapi tetap nirgelar), tapi MU bersama Sir Alex jelas tak pernah memasukkan Community Shield dalam hitungan.

Lagi pula, sebuah “treble” tanpa gelar Liga adalah “treble”-nya Liverpool (di musim 2001). Dan, siapa pun pendukung MU yang cukup berpengetahuan, sebaiknya mesti khawatir jika sudah mulai melihat kemiripan klubnya dengan Liverpool.

MU-nya Mou sebenarnya jauh lebih kuat di musim keduanya, terutama setelah ia bisa memaksa MU belanja besar-besaran di awal musim. Nahasnya, ada yang lebih kuat dibanding mereka. Jauh lebih kuat, lebih tepatnya. Berjarak 19 poin (yang berarti 9 kemenangan dan 1 imbang), lebih jelasnya. Mou mengklaim tempat kedua sebagai lompatan besar bagi MU dibanding musim sebelumnya (di peringkat ke-6), tapi itu jelas terdengar sumbang di depan rekor-rekor liga yang dicetak Manchester City di musim lalu.

Untuk Mou pribadi, ada kenahasan tambahan. Sebab, di balik kemegahan City adalah Pep Guardiola. Pep adalah bekas sejawatnya di Barcelona (foto mereka yang akrab dan bersahabat, terlihat berbincang serius, sering ditafsirkan sebagai gambaran tentang dua wajah sepakbola dunia di masa depan), tapi beriring waktu berubah menjadi musuh yang selalu ingin dikalahkannya, debu di mata yang mesti diseka, duri di jalan yang harus disingkirkan.

Tapi, kenahasan-kenahasan lain menunggunya di musim ketiga: 1) manajemen MU malas-malasan di pasar transfer, dengan alasan bahwa skuat mereka sudah cukup untuk bersaing; 2) tim-tim lain semakin menguat, dan; 3) ini musim ketiga, musim yang tak pernah dilewati dengan mulus oleh Mou di sepanjang kariernya.

Dua kenahasan pertama sudah menggulung MU di awal musim. Tak membutuhkan waktu terlalu lama untuk melihat MU dan Mou sedang dalam masalah. Ini baru pekan ke-8, mereka sudah kalah tiga kali, dengan dua di antaranya datang dari tim yang seharusnya dengan mudah mereka kalahkan. Padahal, untuk juara Liga, Mou paling banyak hanya boleh kalah lima kali, seperti yang dialaminya di musim keduanya bersama Chelsea. Sudah begitu, dari semua tim yang berpotensi bersaing dengannya, baru Spurs yang sudah dihadapi MU. (Bagaimana pertandingan itu berlangsung dan kemudian berujung sangat buruk bagi MU memberi gambaran ada di mana daya saing tim yang diasuh Mou.) Mungkin karena kelahan 0-3 di Old Trafford itu, tampaknya semua penggemar MU sudah bersepakat untuk tak bicara tentang gelar Liga di musim ini.

Maka tak mengherankan, sindrom musim ketiga, yang sebagian besarnya berujung dengan “kesepakatan bersama”, sudah mendenguskan hidungnya di tengkuk Mou.

***

Di tengah melejitnya City, menguatnya Liverpool, dan mapannya Spurs, juga transisi yang sepertinya berjalan jauh lebih baik dari yang sebelumnya diperkirakan di Chelsea dan Arsenal, sulit membayangkan MU akan memberi Mou waktu sepanjang Fergie di awal waktunya dulu. Bahkan untuk musim ini, dengan melihat papan klasemen, juga kondisi tim yang berantakan, yang persoalan ruang gantinya terpampang gamblang ke khalayak sepakbola dunia, ditambah permainan yang tak enak dipandang, sulit memikirkan Mou akan bertahan hingga akhir musim. Apa yang terjadi di MU hari ini sama persis dengan apa yang terjadi di Chelsea musim 2016 dan di Madrid musim 2013. Dan semua berujung sama.

Mungkin empat besar atau trofi Liga Champions (siapa tahu?) di akhir musim bisa membuat Mou bisa melanjutkan masa kerjanya di MU. Tapi, apa pun hasil tiga tahun “perjanjian dengan setan” ini, inilah waktu yang tepat bagi pengemar MU untuk mempertanyakan tujuan dari perjanjian ini.

Jika MU menginginkan trofi Liga sesegera mungkin, dan itulah yang dilihat semua orang ketika Mou (dan pemain-pemain mahal yang dibelinya) didatangkan ke Old Trafford, maka tiga musim jelas waktu yang lebih dari cukup untuk menunggu.

Jika mereka menghendaki membangun tim kembali, pelan-pelan dan sabar mengembalikan MU ke dalam persaingan, seperti yang dulu dilakukan Alex Ferguson muda, maka mereka sejak awal salah pilih pelatih. Selain dua klub pertamanya, Mou selalu memberikan piala kepada tim yang dilatihnya. Namun, ia jelas bukan pembangun tim. Apa yang dilakukannya di dua periodenya di Chelsea dan kini di MU mempertegas hal itu.

Di sisi Mou, ia mesti mulai melihat kembali apakah MU adalah klub yang cocok untuknya. Dibanding seorang penegak imperium, ia jauh lebih dikenal sebagai seorang penghancur dominasi. Di tataran lokal mungkin ia dianggap berjasa mengembalikan marwah Porto di Eropa, tapi sejarah sepakbola lebih tebal menggarisbawahi kemenangannya (juga selebrasinya) yang sensasional atas MU di 16 besar Liga Champions 2003-2004. Dan fungsi itu jelas ditegaskannya saat melatih Chelsea, sebuah klub yang sebelumnya miskin sejarah. (Jika ada orang lain yang bertanggung jawab membuat Arsenal-nya Wenger tak bisa juara lagi, maka ia adalah Mourinho!). Dan tak ada hal yang lebih mencolok yang dilakukannya ketika di Inter dan Madrid selain “menghentikan Barcelona”.

Mou, dengan segala hormat, adalah gambaran sempurna tentang seorang bajak laut ganas yang menyatroni sebuah kerajaan kaya di pesisir: ia datang dalam gelap, merampok dan merusak, kemudian menghilang kembali ke tengah samudera. Dan seorang bajak laut tak akan cocok jadi putera mahkota. Itulah kenapa, ia tak diterima di Barcelona dan terpental dari Madrid. Dan hal yang sama sedang dan akan terjadi di MU.

Maka, jika saya ditanya super agen Jorge Mendes, apa yang mesti dilakukan Mou setelah MU (yang tampaknya hanya soal waktu), saya akan bilang: segeralah cari kapal pembajak baru, kumpulkan awak-awak paling brutal dan menjengkelkan, dan rampoklah kerajaan kaya di pesisir seberang. Tapi, sebelum itu, ia mesti mengakui satu hal: ia tak sespesial sebelumnya. Ia mesti membangun reputasinya kembali. Dan itu tak akan berhasil di MU.

Pekan depan, MU akan menghadapi Chelsea dan Juventus, dua klub yang jelas jauh lebih kuat dibanding West Ham dan Newcastle. Apa pun hasilnya, MU dan Mou sebaiknya berpisah. Atau keduanya akan saling menghancurkan. Dan, sebagaimana yang sejauh ini terjadi, mereka akan terus memberikan dunia (di luar pendukung MU) rasa gembira dengan cara yang tak seharusnya.

Penulis Novel "Dawuk: Kisah Kelabu dari Rumbuk Randu"; Pengelola Blog Belakanggawang.

TINGGALKAN KOMENTAR

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

    Processing files…