Jumat, Oktober 30, 2020

“Perang” Online Versus Offline, Duh!

Saat Air Mengalir Komersial (Hari Air Sedunia, 22 Maret)

Di Indonesia, khususnya Jakarta, air tidak mengalir dari tempat tinggi ke tempat rendah. Air mengalir ke tempat yang ada uangnya. Siapa yang berpunya, ia...

Masih Adakah Tepo Seliro?

Tepo seliro atau tenggang rasa merupakan nasehat bijak yang berasal dari kearifan lokal Jawa. Dalam khazanah budaya Jawa, tepo saliro didefinisikan sebagai sikap individu...

Urgensi Pendidikan Era Digital, Jalan Pendidikan Dasar Kita

Kemajuan teknologi dan arus informasi yang semakin cepat telah memunculkan realitas baru dalam persoalan yang semakin merumitkan dan memudahkan manusia dalam kehidupannya, yaitu era teknologi informasi...

Jokowi dan Kesenjangan Regulasi Transportasi [Catatan Transportasi 2016]

Indonesia dikenal sebagai Negara Kepulauan. Diperkirakan ada sekitar 17.000 pulau besar dan kecil (ada juga yang menyebut 13.000-an pulau). Logikanya, sebagai Negara Kepulauan, transportasi...
Avatar
Sayyed Fadel
Juragan buku, suka ngopi di KedaiSastra.com

aplikasionlineWarga mencari transportasi dengan aplikasi online di Jakarta, Kamis (17/3). ANTARA FOTO/M Agung Rajasa.

Ada banyak yang bisa dikaji dari ironi demonstrasi awak transportasi konvensional menentang transportasi online di Jakarta 22 Maret 2016 lalu. Pertama, tentang kita yang masih gagap dalam berdemokrasi. Kita yang masih gagal menafsir kebebasan, seperti seekor burung yang baru dilepas dari sangkarnya: ia bergerak manuver ke kanan, kiri, atas, bawah, ngalor-ngidul tak beraturan hingga mungkin sesekali mencelakakan dirinya sendiri atau burung lain. Kebebasan dimaknai serampangan hingga menabrak kebebasan pihak lain.

Demonstrasi yang sejatinya adalah ornamen demokrasi untuk mengekspresikan pendapat, justru menjadi panggung anarkisme. Sudah dikarunia nikmat, kok, malah diubah jadi celaka!

Kedua, tentang ironi kapitalisme. Seperti kita tahu, demonstrasi itu didukung perusahaan taksi konvensional yang pasarnya terus mengecil akibat fenomena taksi online. Dulu, mereka didemo karena dianggap mengancam, kini mereka yang mendemo karena merasa terancam. Mereka seolah tak sadar bahwa zaman terus bergerak. Mereka seolah menegaskan kerakusan pemilik modal.

Kapitalisme seolah tak puas dengan mencengkeram pasar, tapi juga zaman. Mereka menentang kemajuan dan kreasi teknologi yang jelas-jelas membawa kemudahan bagi masyarakat dalam mencari nafkah (bagi pengemudi) dan mendapat kemudahan serta kemurahan (bagi pengguna). Mengapa mereka malah berinisiatif berdemo, bukan mengintrospeksi diri?

Namun bukan, bukan itu yang hendak saya bahas tentang itu di sini. Saya akan bahas adalah tentang fenomena online–dalam berbagai ranah–vis a vis offline.

“Perang” online dan offline telah dimulai sejak hampir satu dekade ini. Bukan hanya dalam ranah transportasi. Yang juga populer dan dimulai lebih dulu adalah di dunia perbukuan. Inilah fenomena zaman yang terus bergerak, dan karenanya kita juga harus terus bergerak atau tergilas olehnya. Berdemo? Bukan solusi! Para petani di desa saja tak pernah membawa sapi dan kerbaunya berdemo ke kantor desa lantaran ada traktor.

Percetakan, penerbit, hingga toko buku dibuat bingung oleh gempuran zaman khas era digital ini. Bahkan, sekelas Encyclopedia Britannica yang sudah terbit sejak 1768 dan legendaris itu akhirnya menyerah pada tahun 2002. Mereka menghentikan edisi cetaknya dan bermigrasi ke online.

Penerbit digempur oleh kreasi teknologi bernama “self publishing”, di mana kini semua orang bisa menerbitkan bukunya secara online dan dicetak dengan teknologi print on demand (POD) sesuai pesanan. Walau hanya satu eksemplar, walau bukunya hanya tentang curhatan-nya sendiri yang baper tapi ia anggap sebagai karya sastra mirip Kahlil Gibran.

Membeli buku pun kini tak harus ke toko buku, bisa dengan sentuhan jari saja. Bahkan, buku-buku lawas fenomenal berusia puluhan tahun pun bisa Anda dapatkan di pasar online seperti @WarungSejarahRI di Twitter.

Sebenarnya fenomena offline dan online adalah fenomena zaman. Ia soal regenerasi. Menentang online berarti menentang zaman. Bagi saya, kerumunan orang berdemo di Jalan Sudirman itu terlihat sebagai demo menentang zaman. Lucu! Sedangkan demo menentang kebijakan saja di negeri ini kerap sia-sia, kok. Ia hanya jadi semacam seremoni, pelampiasan, media curhat. Mending update status BBM aja!

Bahkan, mereka bukan hanya salah karena anarkismenya, tapi juga lantaran memilih demo di jalanan. Padahal, kini yang efektif adalah berdemo di media sosial: “perang” hashtag, menggagas trending topic, twitwar, dan lain-lain. Toh, pada akhirnya arus demo di jalanan kemarin itu kalah dengan cuitan-cuitan di media sosial yang menentang dan mengutuk aksi tersebut?!

Kebijakan menggratiskan taksinya di tanggal 23 Maret 2016 pun kalah oleh hashtag #PercumaGratis di Twitter. Jatuh, ketiban tangga pula!

Menurut Don Tapscott, pakar cyber terkemuka dunia yang diakui Al Gore (Pemenang Nobel Perdamaian) dan dipuji Eric Schmidt (Chairman dan CEO Google), yang telah melakukan penelitian tentang dunia digital sejak pertengahan dekade 1970-an, pada tahun 2008 para Net Gener telah dewasa: paling tua berusia 32 tahun. Paradigma dan perilaku khas mereka telah memberi pengaruh besar bagi peradaban manusia pascamodern.

Bahkan, jumlahnya yang terus meningkat pesat dan kian mendominasi membuat paradigma dan perilaku mereka menjadi yang paling berpengaruh dalam peradaban manusia abad ini: dalam berbagai elemen, dari pendidikan, enterpreneurship, politik, media, transportasi, bahkan hingga pola asuh (parenting). Maka, tak lama lagi, sekitar kurang dari satu dekade ini, mereka diprediksi bukan lagi hanya menjadi sebuah generasi tersendiri, tapi akan menarik peradaban pada era baru yang sekaligus menjadi era mereka, yakni era digital (digital age).

Dalam catatan Mary Meeker dari Kleiner Perkins Caufield & Byers Meeker yang ia ungkapkan dalam D11 Conference, Net Gener di dunia telah mencapai angka 2,4 miliar orang atau sekitar 34% dari populasi penduduk dunia. Peningkatannya juga sangat pesat, yakni mencapai 8% dalam satu tahun terakhir.

Adapun Indonesia sendiri, bersama Cina, Amerika Serikat, India dan Rusia, termasuk dalam 10 negara dengan pengguna internet terbesar di dunia, dengan jumlah 55 juta orang dan peningkatan 58% dalam satu tahun terakhir.

Itulah sederet data yang mau dilawan oleh para pendemo di Jalan Sudirman kemarin. Tapi, mungkin para sopirnya tak tahu soal ini. Mereka ikut-ikutan saja. Makanya mau melakukan itu.

Tanpa kesadaran memandang zaman, ironi seperti kita lihat di Jalan Sudirman itu akan terus terjadi. Bahkan, agama pun berdamai dan berkontekstualisasi dengan zaman. Zaman adalah ketentuan, ia tak mungkin diperangi.

Namun, bisa jadi ini bukan soal kesadaran, tapi soal nafsu kapitalis. Entahlah. Yang jelas, yang harus dilakukan industri transportasi offline justru berintrospeksi dan meng-update diri. Apalagi, yang harus di-update hanya mediumnya. Toh mereka juga telah berkuasa lama di pasar. Bayangkan, jika mereka seperti teman saya, pemilik usaha wartel di kampung.

Begitu pula pemerintah, juga harus secara tegas membentuk aturan jelas tentang apa yang menjadi kodrat zaman ini. Apa sulitnya mengatur semua ini bagi pemerintah, bukan?!

Avatar
Sayyed Fadel
Juragan buku, suka ngopi di KedaiSastra.com
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Imajinasi Homo Sapiens Modern dalam Menguasai Dunia

  Foto diatas ini mewakili spesies lainnya yang bernasib sama, tentu bukan hanya Komodo, masih ada dan masih banyak lagi hewan yang bernasib sama sebut...

TBC Mencari Perhatian di Tengah Pandemi

Pada awal Maret, Indonesia melaporkan kasus Coronavirus Disease-2019 yang dikenal sebagai COVID-19, terkonfirmasi muncul setelah kejadian luar biasa di Wuhan, Cina. Penyakit ini disebabkan...

Pemuda dalam Pergerakan Nasional Pandemi Covid-19

Peringatan hari Sumpah Pemuda mempunyai makna yang khusus di masa Covid-19 saat ini. Tak bisa dipungkiri bahwa negara Indonesia adalah salah satu negara yang...

Pilu-Kasih di Medan Aksi

Malam itu menjadi momen yang tak terlupakan. Saya kira, saya hanya akan menghabiskan malam dengan makan atau nongkrong di kafe favorit bersama sang kekasih....

Pendidikan di Era Disrupsi (Catatan Karya Yudi Latif)

Yudi Latif lebih muda 10 tahun dari saya. Dan walau saya, tentunya, lebih awal menulis, Yudi jelas jauh lebih produktif. Dua bulan lalu, saya diminta...

ARTIKEL TERPOPULER

Sandiwara Dibalik Pernikahan Raja Majapahit Bali

Belakangan di Bali ramai pemberitaan mengenai acara pertunangan Raja Majapahit Bali bernama lengkap Abhiseka Ratu Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Pendidikan di Era Disrupsi (Catatan Karya Yudi Latif)

Yudi Latif lebih muda 10 tahun dari saya. Dan walau saya, tentunya, lebih awal menulis, Yudi jelas jauh lebih produktif. Dua bulan lalu, saya diminta...

Pemuda, Agama Sipil, dan Masa Depan Indonesia

Sejarah sangat berguna untuk mengetahui dan memahami masa lampau, dalam rangka menatap masa depan, ungkap Ibnu Khaldun (1332-1406 M). Semestinya tidak hanya dibaca sebagai...

Pandangan 2 Mazhab Hukum Terhadap Putusan MA Soal Eks Napi Koruptor

Pertengahan tahun 2018 ini publik dikagetkan dengan hadirnya PKPU No. 20/2018 yang dalam Pasal 4 ayat (3) menyatakan bahwa Pengajuan daftar bakal calon anggota...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.