Rabu, Oktober 28, 2020

Fitnah PEPES di Karawang, Bumerang untuk Prabowo-Sandiaga

Dua Jurus Kungfu Ahok, Satu Tujuan

Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama, Pangkostrad Letjen TNI Edy Rahmayadi (kedua kiri), Pangdam Jaya Mayjen TNI Teddy Lhaksmana (kiri), Danjen Kopassus Mayjen TNI...

Jokowi, Ahok, dan Media Baru

Seorang relawan menunjukkan aplikasi GoAhokPSI saat peluncurannya di Jakarta, Kamis (31/3). ANTARA FOTO/Rosa Panggabean. Twitwar antar politisi, transaksi jasa transportasi online, dan menjual barang/jasa melalui...

Kota: Reklamasi (Belajar dari Reklamasi Teluk Manado)

Para penyelam se-Sulawesi Utara memprotes kebijakan Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara terkait reklamasi pantai Malalayang, Manado (2009). ANTARA FOTO “Kita membutuhkan keindahan, keteraturan dan kenyamanan.” —...

Perlukah Memberi Pelajaran pada Koalisi Agar Tak Semena-mena?

Tulisan saya beberapa waktu yang lalu: Perlukah Jokowi Kita Beri Pelajaran Sakitnya Kekecewaan Dan Kekalahan? Dihujat sebagian kalangan, tapi juga tak sedikit yang menyenanginya. Sebagaimana saya...
Avatar
Dave Laksono
Juru Bicara TKN Jokowi-Ma'ruf, Anggota DPR RI.

Penyebaran hoaks dan fitnah terhadap Pak Jokowi oleh tiga orang anggota Partai Emak-Emak Pendukung Prabowo-Sandiaga (PEPES) di Karawang, Jawa Barat, beberapa waktu lalu patut disayangkan. Karena kontennya yang menyebut jika Pak Jokowi terpilih tidak ada lagi azan berkumandang, pernikahan sejenis dilegalkan, dan ulama akan dikriminalisasi, bisa menjadi minyak untuk membakar kemarahan masyarakat dan berakibat pada perpecahan. Merusak pemilu yang aman lagi damai.

Padahal, saat memulai masa kampanye September lalu, seluruh peserta pemilu telah mendeklarasikan kampanye damai, di Monas, disaksikan seluruh rakyat Indonesia. Tidak terkecuali pasangan Prabowo-Sandiaga dan seluruh partai pengusungnya. Sudah semestinya mereka tetap menjaga komitmen tersebut. Bukannya membiarkan konten fitnah dan hoaks terus direproduksi di akar rumput untuk menyudutkan Pak Jokowi.

Harus diakui, saya dan kawan-kawan di Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf sangat marah dan kecewa atas peristiwa tersebut. Kami sudah mati-matian mengondisikan setiap relawan, simpatisan, dan kader selurut partai pengusung agar tidak melakukan kampanye hitam dan kampanye negatif. Meskipun yang terakhir diperbolehkan oleh Undang-Undang, tapi kami berupaya menghindarinya semata agar masyarakat tidak semakin terfragmentasi dan kedamaian pemilu sirna.

Untuk itulah kami memutuskan melaporkan peristiwa tersebut kepada Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) sebagai institusi yang berwenang menindak seluruh pelanggaran selama pemilu. Kami mengapreasiasi kinerja Bawaslu yang bekerja sama dengan kepolisian dalam mengusut kasus ini secara cepat. Ketiga anggota PEPES tersebut ditangkap dalam waktu singkat dan kini sedang menjalani proses hukum.

Harapannya, proses hukum juga berlanjut sampai menemukan dalang di balik operasi tiga ibu-ibu tersebut. Karena kami yakin pola seperti ini dilakukan secara terstruktur dan bukan hanya mereka yang sedang bekerja menyebarkan hoaks dan fitnah terhadap Pak Jokowi. Tidak tertutup kemungkinan pola sama juga dilakukan di wilayah lain di Indonesia. Maka, alangkah baiknya jika dalangnya bisa ditangkap dan bisa turut bertanggung jawab. Agar pola kampanye hitam semacam ini bisa dihentikan sama sekali dan pemilu tetap menjadi pesta demokrasi yang damai.

Kubu Prabowo-Sandiaga Panik di Jabar

Dalam hal ini, secara pribadi, saya menilai penggunaan kampanye hitam di Jawa Barat (Jabar) merupakan wujud kepanikan dari kubu Prabowo-Sandiaga. Mereka takut kehilangan wilayah yang selama ini digembar-gemborkan sebagai basis utama pendukung Prabowo. Karena, masyarakat Jabar saat ini sudah semakin mengerti capai-capaian Pak Jokowi selama 4,5 tahun ke belakang. Seperti pembangunan infrastruktur yang berkaitan dengan hajat hidup mereka secara langsung.

Masyarakat Jabar juga telah melihat bukti bahwa pribadi Pak Jokowi tidak seburuk yang selama ini diasumsikan kubu penantang sebagai anti-Islam, anti-ulama, komunis, dan lain sebagainya. Karena, pada kenyataanya Pak Jokowi cukup dekat dengan ulama. Menjadikan KH Ma’ruf Amin yang merupakan ulama terkemuka di Indonesia sebagai wakilnya. Ia pun adalah sosok yang sangat taat beribadah.

Survei Indopolling periode Januari 2019 dengan 1200 responden dan margin of error lebih kurang 2,8 persen menunjukkan: kepuasan masyarakat Jabar terhadap kinerja Pak Jokowi sebesar 60 persen. Paling besar adalah kepuasan di bidang infrastruktur, sebesar 76,3 persen.

Elektabilitas Jokowi-Ma’ruf Amin berdasar survei yang sama, juga telah mengungguli Prabowo-Sandiaga di Jabar. 41,7 persen melawan 37,9 persen. Angka tersebut tidak jauh berbeda dari hasil survei yang dilakukan internal kami di periode sama.

Sementara, menurut saya, Prabowo-Sandiaga tidak memiliki amunisi lain untuk menghalau peningkatan dukungan masyarakat Jabar kepada Jokowi-Ma’ruf. Visi-misi mereka tidak tajam dan tidak inovatif. Terlihat dalam dua debat terakhir mereka masih gagap menawarkan solusi terhadap persoalan-perosalan yang menjadi tema dan cenderung mengandalkan spin doctor di media sosial seusai perdebatan.

Oleh karena itu, tidak ada pilihan selain menggunakan hoaks dan fitnah guna memojokkan pribadi Pak Jokowi. Seperti halnya yang mereka lakukan pada Pilpres 2014 lalu melalui tabloid Obor Rakyat yang menuding Pak Jokowi sebagai keturunan PKI. Padahal jelas-jelas keluarga Pak Jokowi tidak ada sangkut pautnya dengan partai tersebut.

Justru Jadi Bumerang

Namun toh, strategi yang sama tidak bisa berlaku dua kali. Masyarakat saat ini sudah semakin cerdas dan memahami pola-pola kampanye hitam tim Prabowo. Mereka tidak bisa ditipu untuk dua kali. Sebaliknya, seperti di video saat tiga ibu-ibu tersebut menyebarkan hoaks, warga membantah isu yang menyudutkan Pak Jokow tersebut dengan argumentasi logis dan waras.

Hemat saya, jika kubu Prabowo-Sandiaga terus menjalankan strategi hoaks dan fitnah kepada pribadi Pak Jokowi, justru akan menjadi boomerang kepada mereka. Masyarakat bisa semakin tidak percaya dengan apa pun pernyataan mereka. Dukungan kepada Jokowi-Ma’ruf semakin meningkat. Akhirnya Jabar dengan lebih dari 30 juta warganya akan menjadi penentu kemenangan pasangan nomor urut 01.

Tentu saja kami pun tidak akan tinggal diam atas hoaks dan fitnah tersebut. Kami akan semakin memperkuat basis-basis masyarakat yang saat ini sudah mendukung Jokowi-Ma’ruf. Di samping terus menggerakkan relawan untuk mengampanyekan capaian Pak Jokowi dan visi-misi beliau ke depannya kepada masyarakat yang belum menentukan dukunga dan yang masih mendukung Prabowo-Sandiaga.

Saat ini, setelah peristiwa di Karawang terjadi, para relawan, simpatisan dan kader partai pengusung Jokowi-Ma’ruf menjadi semakin giat bekerja. Bukan hanya untuk memenangkan pasangan tersebut. Lebih dari itu adalah untuk menghindarkan perpecahan di kalangan masyarakat akar rumput akibat hoaks dan fitnah yang diluncurkan kubu Prabowo-Sandiaga.

Pada akhirnya, saya tetap optimis Pak Jokowi akan kembali memimpin Indonesia untuk periode 2019-2024. Karena, Pak Jokowi adalah orang baik. Dan, sampai kapan pun saya yakin kebaikan akan menang di dunia ini.

Avatar
Dave Laksono
Juru Bicara TKN Jokowi-Ma'ruf, Anggota DPR RI.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

KDRT Saat Pandemi

Severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) atau yang lebih dikenal dengan nama COVID-19 adalah jenis baru dari coronavirus yang menular ke manusia. Virus ini...

Politik dan Monopoli Media Sosial

Saat ini, kita hidup di era cyberspace (dunia maya). Era yang pertama kali diperkenalkan oleh William Gibson dalam buku Neuromancer itu, dimaknai sebagai suatu...

Candu Media Sosial, Kajian Filosofis dan Psikologis

Bermain ria di “alam medsos” terkadang meng-asyikkan. Tapi akhirnya menganggap dunia nyata jadi tak menarik untuk bersosialisasi dan mengemban hidup secara hakiki. Untuk melihat...

Membendung Hegemoni China di Asia Tenggara

Lima hari sudah Menteri Luar Negeri (Menlu) China Wang Yi berkunjung ke empat negara di Asia Tenggara (15-18 Oktober 2020). Dalam kunjungan ke Kamboja,...

Reformasi Kewenangan Legislasi DPD

Dewan Perwakilan Daerah (DPD) sebagai anak kandung reformasi telah berusia 16 tahun. Lembaga negara buah amandemen ketiga UUD 1945 mengalami banyak goncangan. Isu pembubaran...

ARTIKEL TERPOPULER

Pemuda Pancasila Selalu Ada Karena Banyak yang Memeliharanya

Mengapa organisasi ini masih boleh terus memakai nama Pancasila? Inikah tingkah laku yang dicerminkan oleh nama yang diusungnya itu? Itulah pertanyaan saya ketika membaca...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Tamansiswa, Ki Hadjar Dewantara, dan Sistem Pendidikan Kolonial

Setiap 2 Mei kita dihadapkan pada kesibukan rutin memperingati Hari Pendidikan Nasional. 2 Mei itu merupakan tanggal kelahiran tokoh pendidikan nasional, Ki Hadjar Dewantara,...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Mengenal Dua Tokoh Ateisme: Feuerbach dan Marx

Ludwid Feuerbach (1804-1872) dan Karl Marx (1818-1883) menjadi dua tokoh besar ateisme dalam sejarah peradaban manusia. Keduanya digolongkan filsuf materialistis karena bagi mereka pemikiran...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.