OUR NETWORK

Penting dan Urgen: Menyehatkan Udara yang Kita Hirup

Catatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2019

Indeks Kualitas Udara sedang menunjukkan angka 210 untuk wilayah Jakarta ketika tulisan ini dibuat, sehari sebelum Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2019 yang jatuh pada hari ini, 5 Juni. Angka itu sedemikian buruknya, sehingga warnanya tidak lagi dibuat merah oleh AirVisual, melainkan ungu. Jakarta juga nangkring di peringkat pertama kota paling kotor sedunia, jauh meninggalkan Chengdu (171), Dubai (166), Santiago (159) dan Beijing (156).

Data itu menunjukkan bahwa tema Hari Lingkungan Hidup Sedunia kali ini, polusi udara, tak bisa lebih urgen lagi buat kita di Indonesia, khususnya yang hidup di Jakarta dan kota-kota besar lainnya. Tahun lalu, Jakarta sudah dinobatkan sebagai kota paling tercemar di Asia, dan Asia adalah benua paling tercemar udaranya sejagat. Data AirVisual itu menunjukkan bahwa di dua puluh besar kota paling tercemar, Santiago adalah satu-satunya yang tak berada di benua ini.

UN Environment menyatakan bahwa dari 7 juta orang yang meninggal secara prematur akibat pencemaran udara setiap tahunnya, 4 juta orang tinggal di Asia-Pasifik—demikian pernyataan resmi terkait dengan tema Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2019. Tetapi, angka kematian global tersebut sesungguhnya baru saja diralat. Sebuah lembaga penelitian di Jerman menyatakan bahwa kematian prematur itu kini mencapai lebih dari 8,8 juta orang. Tentu saja jumlah yang meninggal di kawasan ini juga akan meningkat.

Data terbaru tersebut menunjukkan bahwa sekarang pencemaran udara sudah menjadi pembunuh yang paling banyak korbannya, mengalahkan rokok. Menurut data Tobacco Atlas 2018, kematian prematur akibat rokok di tahun 2018 adalah 7 juta orang. Sumber data tersebut menyatakan bahwa di Indonesia perkiraan kematian akibat rokok dinyatakan sebanyak 225.720 jiwa tahun lalu; sementara kematian akibat pencemaran udara diperkirakan oleh Breathelife Network mencapai 211.916 jiwa. Tentu saja di sini rokok masih membunuh lebih banyak karena proporsi pria dewasa perokok Indonesia adalah yang nomor wahid sedunia.

Perbedaan mendasarnya, kematian prematur akibat rokok bisa dihindari dengan tidak merokok dan tidak menjadi perokok pasif, tetapi kematian prematur akibat pencemaran udara hanya bisa dihindari bila pindah dari tempat yang tercemar tersebut. Masalahnya, kini sekitar 92% warga dunia, yang tinggal di perkotaan, menghisap udara yang kualitasnya tidak baik—walau tentu tidak seburuk Jakarta dan kota-kota lain yang menjadi langganan peringkat puncak.

Ilmu pengetahuan mutakhir kini sudah bisa menghitung secara presisi berapa persentase kematian akibat penyakit tertentu yang bisa diatribusikan ke pencemaran udara. Kanker paru-paru memang masih didominasi penyebabnya oleh konsumsi rokok, tetapi udara yang kotor menyumbang 7% kematian lewat kanker paru-paru. Kematian melalui Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD) sekitar 18%-nya lantaran pencemaran udara; demikian juga 20% kematian melalui stroke, dan 34% kematian melalui penyakit jantung.

Namun, kematian bukanlah cerita lengkapnya, lantaran itu hanyalah puncak dari gunung es masalah kesehatan akibat pencemaran udara. Jumlah orang yang dirawat di RS karena sakit yang diakibatkannya jumlahnya jauh lebih banyak. Di bawahnya, ada lebih banyak lagi orang yang “sekadar” dirawat jalan. Dan, pada lapisan terbawah adalah mereka yang tidak masuk kerja dan sekolah lantaran sakit.

Biaya kesehatan yang timbul dan hilangnya produktivitas lantaran pencemaran udara dipastikan mencapai ratusan triliun per tahunnya. Hal ini sangat mengkhawatirkan karena pencemaran udara jelas menggerogoti seluruh jenis modal—modal insani, finansial, infratruktur, sosial, dan natural—yang dimiliki bangsa ini.

Tiga Pencemar Utama 

Di antara pencemar-pencemar udara yang utama, sebagaimana yang dicatat oleh Breathelife Network adalah karbon hitam, ozon pada ketinggian rendah, dan metana. Karbon hitam adalah hasil dari pembakaran mesin diesel, sampah, batubara, minyak tanah, dan biomassa. Pencemar ini ukurannya sangat halus, dan karenanya bisa menembus paru-paru hingga dalam, masuk ke aliran darah, jantung dan otak manusia. “Untungnya”, pencemar ini hanya bertahan di udara selama maksimal 10 hari. Bila sumber-sumbernya dikurangi atau dihilangkan, karbon hitam bisa segera hilang dari udara.

Ozon yang berada pada ketinggian rendah, bukan berada di atmosfer, adalah pencemar yang tak kalah berbahaya. Ia merupakan hasil dari emisi metana, nitrogen oksida, dan beragam pencemar lain dari industri, lalu lintas, sampah, dan produksi energi yang berinteraksi ketika siang hari, dengan keberadaan sinar matahari. Ozon ini jelas membuat sakit pernafasan, tetapi punya dampak buruk lain bagi manusia lantaran berkontribusi pada penurunan hasil panen, sehingga dapat membahayakan keamanan pangan serta menimbulkan masalah gizi buruk. Ia juga berada di udara lebih lama, yaitu hingga masa 2 bulan.

Metana dihasilkan terutama oleh pertanian padi dan peternakan, namun juga berasal dari pembuangan limbah padat dan cair, selain produksi minyak dan gas. Metana, sebagaimana telah dinyatakan, berkontribusi pada pembuatan ozon. Asma dan penyakit pernafasan kronis lainnya adalah hasil dari pencemar ini. Bagi anak-anak, perkembangan paru-paru mereka juga bisa terhambat. Dan, di antara ketiga pencemar utama, metana adalah yang paling lama masa hidupnya di udara, yaitu sekitar satu dekade.

Solusi Sudah Tersedia

Ilmu pengetahuan sudah memetakan seluruh sumber pencemaran udara dan dampaknya. Ilmu pengetahuan juga sudah memberikan beragam solusi yang bisa diambil. Tentu solusi di tingkat individu sangat penting, tetapi kebijakan publiklah yang sesungguhnya sangat berperan dalam menyelesaikan masalah pencemaran udara ini. Transportasi, pengelolaan limbah, polusi di tingkat rumah tangga, pasokan energi, industri, serta pertanian dan pangan adalah sektor-sektor yang perlu disasar oleh kebijakan publik apabila benar ingin menyelesaikan masalah ini. Dan, seluruh sektor itu harus diperbaiki.

Di sektor transportasi, salah satu pekerjaan terbesarnya adalah memastikan jalur pejalan kaki dan pesepeda yang tersedia dengan baik. Dengan demikian, kebutuhan untuk menggunakan kendaraan bermotor bisa ditekan, terutama untuk jarak-jarak yang relatif pendek. Untuk memotong jumlah kendaraan dalam jarak yang lebih jauh, dibutuhkan transportasi massal yang efisien, baik itu berbasiskan rel ataupun jalan. Bagi seluruh kendaraan harus dikenakan standar emisi yang memastikan pencemarannya menjadi lebih dan semakin rendah. Emisi itu bisa ditekan serendah mungkin hingga kendaraan mencapai status soot-free atau tanpa jelaga sama sekali, yang sekarang setara dengan Euro VI.

Pengelolaan limbah sangatlah penting, terutama untuk menekan metana. Sekitar 11% metana dihasilkan oleh tumpukan sampah perkotaan, yang dalam enam tahun ke depan diperkirakan jumlahnya bisa mencapai dua kali lipat. Oleh karena itu, salah satu teknologi paling penting yang harus dipergunakan adalah landfill gas recovery, yang menangkap gas yang diproduksi oleh tumpukan sampah menjadi energi listrik atau gas, alih-alih melepaskannya ke atmosfer lalu menyengsarakan paru-paru kita. Pengolahan air buangan dari rumah tangga dan industri akan sangat bermanfaat untuk menekan risiko beragam penyakit.

Penggunaan kayu bakar, batubara, dan minyak tanah sudah lama diketahui sebagai penyebab sekitar 60% kematian dini di kalangan ibu dan anak. Karbon hitam yang disebabkannya memang banyak menelan korban domestik. Oleh karena itu, kompor yang dapat membakar biomassa dengan lebih bersih, serta teknologi lain yang bisa menekan emisi di dalam rumah sangat diperlukan untuk menggantikannya.

Lampu minyak tanah juga perlu digantikan dengan penerangan listrik, dan sebaiknya berasal dari energi terbarukan, khususnya panel surya. Bangunan yang lebih bisa memanfaatkan panas matahari dan memastikan aliran udara yang sehat juga diperlukan untuk membuat masyarakat menjadi lebih sehat.

Pasokan energi sangat penting untuk dibersihkan. Minyak dan gas memroduksi sekitar 25% emisi metana. Flaring, atau pembakaran gas yang lolos ke udara, sangat banyak menghasilkan karbon hitam. Solusi jangka pendeknya adalah memastikan pengelolaan emisi dari produksi migas. Dalam jangka menengah, menghentikan seluruh pemanfaatan mesin diesel yang menghasilkan partikel halus dan karbon hitam adalah keniscayaan. Tetapi, dalam jangka panjang solusi satu-satunya adalah peralihan ke energi bersih dan terbarukan.

Industri masih banyak yang memanfaatkan proses pembakaran dan akibatnya adalah mereka melepaskan emisi yang besar ke udara. Pada teknologi lama, kiln yang dipergunakan dalam pembakaran jelas-jelas membuat karbon hitam, dan membahayakan para pekerja dan masyarakat yang tinggal di sekitar pabrik. Kiln yang baru diperkirakan bisa memotong pencemar hingga separuhnya saja. Proses peleburan logam juga sangat membahayakan karena menghasilkan pencemar yang bersifat karsinogenik. Seharusnya emisi dan panas yang dihasilkan dari proses pembakaran itu ditangkap lalu dipergunakan sebagai sumber energi. Hal yang sama herus dilakukan untuk seluruh industri yang menghasilkan emisi gas buang.

Terakhir, perubahan besar juga harus dilakukan di sektor pertanian dan pangan. Pertanian padi yang biasanya menggunakan air dalam jumlah banyak untuk merendam batang padi seharusnya tidak perlu dilakukan sepanjang tahun. Ketika air bisa dikurangi, itu akan memotong emisi metana. Metana juga dihasilkan dari kotoran hewan ternak. Bila kotoran ini dikumpulkan dan diubah menjadi energi dan pupuk, produksi metana juga bisa ditekan.

Pembakaran lahan dan sisa-sisa pemanenan juga penting utnuk ditekan. Seluruh solusi tersebut ada di dalam sistem pertanian yang berkelanjutan. Di sisi konsumen, pembuangan makanan juga harus dihindari, atau apabila terpaksa dilakukan, maka pengolahannya harus dipastikan agar emisi metana bisa ditekan.

Tunggu Apa Lagi? 

Kalau semua sumber, pencemar, dampak, dan solusi sudah diketahui, lalu apa lagi yang dibutuhkan? Dalam dunia ideal, tak ada lagi. Tetapi, Indonesia bukanlah negeri ideal. Banyak penduduk Indonesia yang menyangkal tentang bahaya rokok, dengan segala dalihnya yang tak masuk akal. Baru-baru ini, Indonesia juga ditunjuk sebagai negeri dengan jumlah pendusta perubahan iklim tertinggi di dunia. Dua kasus itu menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan bukanlah hal yang cukup dihargai di Indonesia. Secara umum, dari tahun ke tahun, negeri kita memang dinyatakan sebagai salah satu dari 10 besar negara dengan tingkat ignoransi tertinggi.

Lebih dari sekadar ignoransi, vested interest juga mencengkeram bangsa ini. Kalau melihat keenam sektor yang harus diubah praktiknya melalui kebijakan publik, sebagian besar terkait dengan praktik perusahaan. Apakah perusahaan-perusahaan di Indonesia akan berubah secara sukarela untuk memastikan udara Jakarta dan kota-kota lainnya menjadi tidak mematikan? Selama mereka menganggap bahwa tujuan pendirian perusahaan adalah memaksimalkan keuntungan untuk pemilik modal—bukan mengoptimalkan kesejahteraan seluruh pemangku kepentingannya—mereka akan cenderung mempengaruhi kebijakan publik untuk kepentingan mereka itu.

Lalu, apakah para birokrat dan pengambil keputusan akan bisa mengambil keputusan terbaik untuk seluruh warga Indonesia dengan menghindari upaya state capture oleh para pemilik modal raksasa yang ingin melestarikan business as usual-nya? Mungkin saja, tetapi kita harus ingat bahwa perselingkuhan antara modal dan kuasa politik di Indonesia bukan isapan jempol. Sudah semakin banyak kasus operasi tangkap tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang pelakunya adalah birokrat/politisi dan pengusaha/petinggi perusahaan secara bersama-sama. Suap, atau pemerasan, untuk tujuan memastikan kebijakan, regulasi, atau izin yang menguntungkan pemilik modal itu sedemikian jamaknya.

Jadi, yang perlu ditunggu sesungguhnya masih banyak. Kita menunggu seluruh pemangku kepentingan mau melihat ilmu pengetahuan sebagai petunjuk yang penting, kalau bukan malah yang paling penting. Dialog antarpemangku kepentingan untuk menyepakati urgensi dan langkah-langkah yang perlu diambil adalah hal berikutnya. Perubahan praktik tata kelola perusahaan juga diperlukan untuk memastikan mereka tidak menghamba pada pencarian keuntungan yang membabi buta, termasuk dengan melakukan tindakan koruptif.

Demikian juga diperlukan perubahan pada birokrat dan politisi agar tidak sekadar memanfaatkan kekuasaannya untuk kepentingan jangka pendek dan untuk diri/kelompok mereka sendiri.

Demikianlah. Sesungguhnya pencemaran udara, yang menjadi tema Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2019, punya banyak sekali pertautan dengan hal-hal lain—termasuk dan tidak terbatas pada sikap kita terhadap ilmu pengetahuan, praktik tata kelola perusahaan, serta bagaimana dan untuk siapa kebijakan publik dibuat.

Mereka yang menyadari bahwa kualitas udara sesungguhnya sudah sangat membahayakan dan bertekad menyehatkan udara yang kita hirup agaknya perlu bekerja keras untuk memperbaiki sikap dan tindakan masyarakat sipil, perusahaan, dan pemerintah. Sekaligus.

Jalal
Provokator Keberlanjutan. Reader on Corporate Governance and Political Ecology Thamrin School of Climate Change and Sustainability, Jakarta. Bukunya berjudul "Mengurai Benang Kusut Indonesia" akan segera terbit.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…