Kamis, Oktober 29, 2020

Pengkhianatan Cinta

Staf Ahli dan Penguatan BUMN

Selama periode pertama pemerintahan Presiden Jokowi, keberadaan BUMN menjadi ujung tombak percepatan pembangunan, khususnya infrastruktur. Di antaranya, tuntasnya jalan tol TransJawa yang tersambung hingga...

Tawaran Lain Memandang HMI

Ini tulisan ketiga saya tentang Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) setelah setahun lalu saya menulis untuk komisariat yang merupakan rahim tempat saya dilahirkan bertepatan dengan...

Tragedi Orlando, Gun Culture, dan Gun Control

Dunia sekali lagi dikejutkan dengan kasus penembakan massal. Kali ini terjadi di Orlando, Florida. Klub Pulse diserbu oleh Omar Mateen, yang bersenjata api AR-15....

Menghapus Diksi Bolos

Dulu, orang-orang sempat mengandaikan keberadaan birokrasi bakal membuat tata kehidupan berbangsa dan bernegara jadi rapi, beres, dan membahagiakan. Para pelamun itu tentu membaca khatam...
Syaefudin Simon
Syaefudin Simon
Freelance Columnist

”Pernahkah Anda melihat orang yang berbuat jahat terhadap orang yang amat dicintainya?” seseorang bertanya pada Abu Dzar al-Ghiffari, sahabat Rasulullah SAW. ”Pernah, bahkan sering,” jawab Abu Dzar.

Lo kok bisa? ”Dirimu sendiri itu adalah orang yang paling kamu cintai. Dan kamu berbuat jahat terhadap dirimu bila durhaka kepada Allah,” jelas Abu Dzar. Itulah pengkhianatan cinta yang sesungguhnya, tambahnya.

Dengan mengacu pada pendapat Abu Dzar tadi, sebenarnya banyak di antara kita yang tega berbuat jahat terhadap ‘orang’ yang amat dicintainya. Tapi anehnya, kita — yang gemar berbuat dosa — lupa bahwa apa yang kita lakukan sesungguhnya merupakan perwujudan kebencian terhadap diri sendiri.

Cinta adalah fitrah yang diberikan Allah untuk semua makhluk guna mempertahankan eksistensinya. Manusia berkembang biak karena cinta. Kelestarian lingkungan menjadi kepedulian manusia karena cinta. Dan yang lebih penting, cinta — ini yang perlu kita sadari — merupakan refleksi keberadaan alam malakut yang abadi.

Itulah sebabnya, bila dua sejoli sedang dimabuk cinta, maka apa yang terbayangkan dan diangankannya, cinta mereka akan abadi. Ya, karena keabadian adalah hakikat cinta.

Tapi sayang, keabadian cinta yang diangankannya hanya terbatas pada hal-hal yang bersifat duniawi, yang justru menghambat cinta malakuti. Salah satu unsur penting yang menghambat perjalanan cinta malakuti adalah cinta dunia (hubb al-dunya). Cinta dunia, dilukiskan oleh Sayyidina Ali, sebagai biang dari segala bencana. Bila hati manusia sudah terperosok dalam cinta dunia, maka logika-logika aneh pun muncul dari pikirannya.

Dalam pengajian sorogan “Al Munkiz Minad Dholal” karya Imam Ghazali tadi malam (24/9/020) di Zoom, Mursyid Ulil Abshar Abdallah menyatakan, ilmu atau logika apa pun yang ujugnya tidak mendekatkan manusia kepada Allah, adalah batil atau palsu. Ilmu hakiki atau ilmu yang sebenarnya, pasti berujung pada ‘kecintaan” terhadap Allah.

Salah satu logika batil, kata Abu Dzar, manusia amat berharap mendapat rahmat (cinta sejati) dan ampunan dari Allah. Padahal dalam hidup sehari-hari, ia amat jauh denganNya.

”Rahmat dan ampunan Allah,” tegas Abu Dzar, ”tak dihambur-hamburkan begitu saja hingga setiap orang akan mendapatkannya tanpa usaha.”

Kata Abu Dzar, setan punya senjata pamungkas, berupa godaan pada manusia untuk mengharap rahmat Allah, sementara ia terus berusaha menjauhkannya dari ibadah dan amal saleh. Korban senjata pamungkas setan ini paling suka memaafkan dirinya sendiri. Ia suka berkata: ”Rahmat Allah Mahaluas. Dosaku pasti dimaafkanNya.” Dan ia terus melakukan ma’siyat dan dosa.

Orang yang berbuat dosa, tulis Imam Ghazali dalam Ihya Ulum al-Din, bukan hanya mencelakakan dirinya, tapi juga menghina Allah, karena ia menyelewengkan amanah yang telah diberikan kepadanya. Lidah dan tangan yang Allah berikan kepada manusia untuk dipakai berzikir serta beramal saleh, misalnya, ia selewengkan untuk mengumpat dan mengambil hak orang lain.

Orang macam ini, jelas mengkhianati amanat yang diberikan Allah kepadanya. Itu pengkhiantan besar kepada Sang Pencipta, kata Abu Dzar.

Tapi, jangan putus asa jika anda sampai detik ini masih mengkhianati Allah. Bertobatlah secara konsisten dan bertanggungjawab. Pasti Allah menerima tobat anda. Ampunan Allah lebih luas dari murkanya, bila manusia benar-benar taubat nasuha.

Tuhan berfirman: wahai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar [39] : 53). Subhanallah!

Syaefudin Simon
Syaefudin Simon
Freelance Columnist
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pendidikan di Era Disrupsi (Catatan Karya Yudi Latif)

Yudi Latif lebih muda 10 tahun dari saya. Dan walau saya, tentunya, lebih awal menulis, Yudi jelas jauh lebih produktif. Dua bulan lalu, saya diminta...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Kelamnya Dunia Politik di Thailand

Apa yang kalian bayangkan tentang negara Thaiand? Ya, negara gajah putih tersebut sangat dikenal dengan keindahannya. Apalagi keindahan pantai yang berada di Krabi dan...

Anak Muda dan Partai Politik

Tak dapat disangkal, gelombang demokratisasi seiring dengan gerakan reformasi 1998 telah mengantarkan kita pada suatu elan kehidupan publik yang terbuka, egaliter, dan demokratis. Reformasi...

Machiavelli: Pemikir yang Banyak Disalah Pahami

Dalam kajian Ilmu Politik, nama Nicollo Machiavelli dipandang sebagai penggagas teori politik modern. Tentu hal tersebut sangat beralasan, mengingat posisi Machiavelli yang secara tegas...

ARTIKEL TERPOPULER

Sandiwara Dibalik Pernikahan Raja Majapahit Bali

Belakangan di Bali ramai pemberitaan mengenai acara pertunangan Raja Majapahit Bali bernama lengkap Abhiseka Ratu Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Dialog Sang Penyemangat

Ketika Sang Penyemangat datang kepadaku untuk memberikan tausiyah yang membarakan kalbu, Jiwaku begitu menggebu-gebu. Setiap kudengar tausiyah suci itu rangkai katanya merona dikalbu dan...

Pandangan 2 Mazhab Hukum Terhadap Putusan MA Soal Eks Napi Koruptor

Pertengahan tahun 2018 ini publik dikagetkan dengan hadirnya PKPU No. 20/2018 yang dalam Pasal 4 ayat (3) menyatakan bahwa Pengajuan daftar bakal calon anggota...

Machiavelli: Pemikir yang Banyak Disalah Pahami

Dalam kajian Ilmu Politik, nama Nicollo Machiavelli dipandang sebagai penggagas teori politik modern. Tentu hal tersebut sangat beralasan, mengingat posisi Machiavelli yang secara tegas...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.