Senin, Januari 18, 2021

Ustaz Somad, Jangan Nodai Pendidikan Kami

Haruskah HMI Bubar? [Renungan 70 Tahun HMI]

Hari ini, 5 Februari 2017, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) menginjak usia ke-70 tahun. Maka, menjadi sah bila berdirinya salah satu organisasi mahasiswa tertua di...

Anggaran Bimbel Anggaran Salah Arah

Gubernur Jakarta terpilih Anis Baswedan menambah anggaran program pendidikan secara signifikan, sebesar Rp 46 miliar. Dia ingin siswa sekolah menengah kurang mampu yang selama...

Komunitas Akademik dan Dunia Riset Indonesia (1)

Pada tanggal 25 Mei 2017, Kementerian Riset dan Pendidikan Tinggi menerbitkan peringatan untuk berhati-hati memilih Konferensi Internasional dan/atau Jurnal Ilmiah. Pasalnya, banyak seminar internasional yang diikuti...

Kiat Sukses Belajar di Luar Negeri

"Bukan lembaga pendidikan yang menjadikan kamu sukses, tapi diri kamu sendiri." Itulah kalimat yang diucapkan bapak saat saya utarakan niat kuliah di luar negeri....
Avatar
Siti Muyassarotul Hafidzoh
Aktif di Litbang PW Fatayat NU DIY. Alumni Australia Award Indonesia (AAI) Progam Shortcourse Leadership Development Course for Islamic Women Leader, Deakin University, Melbourne, 2017.

Ini masih tentang Ustaz Abdus Somad. Saya masih penuh tanda tanya ketika mendengar ceramah dari Ustaz Abdus Somad tentang sogok syari’ah yang beredar dalam video yang viral itu. Saya rasa unsur kehati-hatian tidak diperhatikan oleh Ustaz Abdus Somad. Para kiai, guru, dan ustaz harus memiliki sifat wira’i atau kehati-hatian dalam menyampaikan ilmunya. Karena bisa menjadi referensi utama dari kami para murid atau jamaah.

“Sogok dibagi menjadi dua, sogok yang pertama penerimaan guru PNS. Syarat satu honorer 5 tahun, dua ijazah IKIP, tiga IPK 3,7. Ketika dia datang ke diknas, orang Diknas bilang wani piro, dia meminta 50 juta, lalu orang ini bayar 50 juta maka dia tidak makan uang haram, kenapa? Karena dia cukup syarat, hanya saja si penerima ini yang dzolim,” ujar Ustaz Somad dalam Videonya.

Dalam hal ini perlu ada catatan penting terkait penyataannya. Pertama, kenapa contoh yang dibawakannya adalah praktik suap seorang calon guru PNS. Guru merupakan ujung tombak paling utama dalam pendidikan, baik itu PNS maupun honorer. Kualitas siswa bisa dilihat dari kualitas para guru yang mengajarnya. Karena guru, selain memberikan materi pelajaran, juga bertugas memberikan keteladanan siswa dalam menyerap nilai pelajaran yang diajarkan.

Keteladanan guru menjadi poin paling besar, karena meresapkan nilai keilmuan dalam kehidupan nyata. Apakah ujaran dari Ustaz Somad tentang sogok halal dan sogok haram ini mencerminkan keteladanan yang baik? Kemudian pantaskah ditiru seluruh murid-muridnya?

Kedua, guru adalah pemegang mahkota pengetahuan yang akan disandangkan kepada murid-muridnya. Karena itu, guru mesti mempunyai etika yang jauh melebihi muridnya. Seperti yang diajarkan oleh ulama kita KH KH Hasyim As’ari dan KH Ahmad Dahlan tentang etika menjadi seorang Guru.

Menurut KH Hasyim Asy’ari, ada dua puluh etika yang harus dipenuhi guru dan calon guru. Di antaranya adalah mempunyai rasa takut kepada Allah, takut atau khauf dalam keadaan apa pun baik dalam gerak, diam, perkataan maupun dalam perbuatan. Melakukan praktik suap oleh guru, apa pun alasannya, apakah itu wujud rasa takut kepada Allah Swt.

Etika selanjutnya adalah tidak menggunakan ilmunya hanya untuk tujuan duniawi semata dan tidak rendah diri di hadapan pemuja dunia. Bukankah menyuap itu perbuatan rendah yang tujuannya hanya duniawi saja?

Ada lagi etika yang disampaiakan KH Hasyim Asy’ari dalam kitab Adabu ta’lim wa muta’alim, yakni menghindarai pekerjaan yang menjatuhkan martabatnya. Guru memang pekerjaan mulia namun jika mendapatkan pekerjaan itu dengan melakukan praktik suap, maka jatuh pula martabatnya sebagai guru.

Menurut KH Ahmad Dahlan, etika menjadi guru salah satunya adalah menggunakan referensi yang tepat dalam proses belajar- mengajar. Proses berdakwah sama saja dengan proses mengajar, karena ada guru (si penceramah) dan murid (jamaah pengajian). Sudah sepatutnya seorang guru atau penceramah ketika menyampaikan ilmunya untuk selalu menyampaikan pula referensi yang benar dan tepat. Jika referensi sudah benar, maka apakah sudah tepat?

Ketiga, penyampain hukum harus pada tempatnya. Menurut KH Henry Sutopo, apabila ada seseorang ingin menyampaikan sebuah dalil atau hukum maka ia harus hati-hati; harus sesuai dengan kaidah fiqih, yakni harus ditempatkan pada mu’tadhol hal-nya. Bukan asal memberi dalil atau hukum.

Misal, hukum membaca al-Qur’an itu baik atau tidak? Tentu jawabannya baik. Lalu, jika membaca al-Qur’an dalam waktu yang lama, semakin baik atau tidak? Tentu saja hukumnya semakin baik. Akan tetapi jika membaca al-Qur’an pada saat mengiringi jenazah dan waktu sudah sore menjelang magrib, apakah tetap baik dibaca dengan waktu lama. Sedangkan orang yang mengangkat jenazah sudah berdiri lama, dan sudah hampir gelap. Lalu, yang demikian apakah hukumnya tetap baik?

Cermin Masa Depan

Abdus Somad adalah ustaz yang dalam bahasa Indonesia adalah seorang guru. Guru adalah cermin masa depan bangsa dan agama. Bayangan dalam cermin seperti murid yang selalu mengikuti gerakan sesungguhnya. Namun, jika kita memecahkan cermin karena ketidakhati-hatian kita, maka bayangan yang ada akan pecah dan berantakan tanpa arah.

Memang, kita boleh menuntut hak kita, akan tetapi bukan dengan cara menutup hak orang lain. Kita semua tahu bahwa guru honorer yang sudah mengabdi bertahun-tahun dengan hati ikhlas jumlahnya tidak sedikit.

Kita semua tahu calon guru yang memiliki IPK 3,7 jumlahnya ribuan bahkan jutaan. Kita juga tahu setiap tahun Fakultas Pendidikan atau Tarbiyah meluluskan ribuan mahasiswa calon guru. Jika hanya dengan alasan menuntut hak kita untuk mendapatkan kerja adalah halal dengan praktik suap, bisa dibayangkan berapa hak orang lain yang kita abaikan?

Jadi, mohon Ustaz Somad jangan ajarkan kami korupsi! Jangan  nodai pendidikan kami! Pendidikan adalah tempat lahirnya pemimpin masa depan.

Apa pun alasannya, korupsi adalah dosa besar. Guru adalah ujung tombak bangsa ini dalam memberantas korupsi. Iya, karena guru menangkal korupsi dari sumbernya, yakni anak-anak yang dididiknya. Dari guru yang jujur akan lahir para pemimpin yang siap menyudahi korupsi. Dari guru yang tidak menyuap akan lahir anak bangsa yang bertanggung jawab.

Kolom terkait:

Ulama Sejati dan Ulama Penebar Kebencian

Dari Suap Syariah sampai Naturalisasi

Doyan Suap Menyuap di Pengadilan, Quo Vadis?

Menyambut Novel Baswedan, Mendefinisikan Korupsi [I]

Semangat Novel Baswedan, Mendefinisikan Korupsi (II)

Avatar
Siti Muyassarotul Hafidzoh
Aktif di Litbang PW Fatayat NU DIY. Alumni Australia Award Indonesia (AAI) Progam Shortcourse Leadership Development Course for Islamic Women Leader, Deakin University, Melbourne, 2017.
Berita sebelumnyaJangan Meremehkan Politik
Berita berikutnyaPengaruh Muhammad Abduh
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

China-Indonesia, Lahir dari Rahim Bulutangkis

Olahraga bukan sekedar cara untuk menjaga kesehatan, juga bukan sebagai hobi yang dinikmati dan sebuah kewajiban rutinitas untuk mencegah berbagai penyakit. Lebih dari itu,...

Penguatan Kebijakan Pelaksanaan Akreditasi RS di Masa Covid-19

Kasus Pandemik Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) kian meningkat dan telah memengaruhi berbagai aspek kesehatan termasuk memengaruhi upaya dalam meningkatkan kualitas layanan fasilitas kesehatan....

Memaknai Syair Lagu Jika Surga dan Neraka Tak Pernah Ada

Lagu yang diciptakan oleh musisi terkenal di Indonesia yaitu Ahmad Dhani, melahirkan Sebuah mahakarya lagu yang begitu indah dan memiliki makna yang dalam. Lagu...

Soe Hok Gie, Perihal PKI dan Humanity

Soe Hok Gie sendiri adalah salah satu tokoh kunci dalam gerakan anak muda yang kemudian berujung dengan kejatuhan Orde Lama. Ia memainkan peran yang...

Ihwal Teori Keadilan John Rawls

Keadilan merupakan salah satu diskursus dalam filsafat yang paling banyak dibahas, bahkan menjadi topik utama dalam dunia global saat ini. Para filsuf sejak zaman...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Mengapa Banyak Abdi Negara Muda Pamer di Media Sosial?

Apakah kamu pengguna Twitter yang aktif? Jika iya, pasti kamu pernah melihat akun @txtdrberseragam berseliweran di timeline kamu. Sebagaimana tercantum di bio akun ini,...

Narkoba Menghantui Generasi Muda

Narkoba telah merajalela di Indonesia .Hampir semua kalangan masyarakat positif menggunakan Narkoba. Bahkan lebih parahnya lagi adalah narkoba juga telah merasuki para penegak hukum...

Ihwal Teori Keadilan John Rawls

Keadilan merupakan salah satu diskursus dalam filsafat yang paling banyak dibahas, bahkan menjadi topik utama dalam dunia global saat ini. Para filsuf sejak zaman...

Soe Hok Gie, Perihal PKI dan Humanity

Soe Hok Gie sendiri adalah salah satu tokoh kunci dalam gerakan anak muda yang kemudian berujung dengan kejatuhan Orde Lama. Ia memainkan peran yang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.