OUR NETWORK

Ustaz Somad, Jangan Nodai Pendidikan Kami

Abdus Somad adalah seorang ustaz atau guru. Guru adalah cermin masa depan bangsa dan agama. Bayangan dalam cermin seperti murid yang selalu mengikuti gerakan sesungguhnya. Namun, jika kita memecahkan cermin karena ketidakhati-hatian kita…

Ini masih tentang Ustaz Abdus Somad. Saya masih penuh tanda tanya ketika mendengar ceramah dari Ustaz Abdus Somad tentang sogok syari’ah yang beredar dalam video yang viral itu. Saya rasa unsur kehati-hatian tidak diperhatikan oleh Ustaz Abdus Somad. Para kiai, guru, dan ustaz harus memiliki sifat wira’i atau kehati-hatian dalam menyampaikan ilmunya. Karena bisa menjadi referensi utama dari kami para murid atau jamaah.

“Sogok dibagi menjadi dua, sogok yang pertama penerimaan guru PNS. Syarat satu honorer 5 tahun, dua ijazah IKIP, tiga IPK 3,7. Ketika dia datang ke diknas, orang Diknas bilang wani piro, dia meminta 50 juta, lalu orang ini bayar 50 juta maka dia tidak makan uang haram, kenapa? Karena dia cukup syarat, hanya saja si penerima ini yang dzolim,” ujar Ustaz Somad dalam Videonya.

Dalam hal ini perlu ada catatan penting terkait penyataannya. Pertama, kenapa contoh yang dibawakannya adalah praktik suap seorang calon guru PNS. Guru merupakan ujung tombak paling utama dalam pendidikan, baik itu PNS maupun honorer. Kualitas siswa bisa dilihat dari kualitas para guru yang mengajarnya. Karena guru, selain memberikan materi pelajaran, juga bertugas memberikan keteladanan siswa dalam menyerap nilai pelajaran yang diajarkan.

Keteladanan guru menjadi poin paling besar, karena meresapkan nilai keilmuan dalam kehidupan nyata. Apakah ujaran dari Ustaz Somad tentang sogok halal dan sogok haram ini mencerminkan keteladanan yang baik? Kemudian pantaskah ditiru seluruh murid-muridnya?

Kedua, guru adalah pemegang mahkota pengetahuan yang akan disandangkan kepada murid-muridnya. Karena itu, guru mesti mempunyai etika yang jauh melebihi muridnya. Seperti yang diajarkan oleh ulama kita KH KH Hasyim As’ari dan KH Ahmad Dahlan tentang etika menjadi seorang Guru.

Menurut KH Hasyim Asy’ari, ada dua puluh etika yang harus dipenuhi guru dan calon guru. Di antaranya adalah mempunyai rasa takut kepada Allah, takut atau khauf dalam keadaan apa pun baik dalam gerak, diam, perkataan maupun dalam perbuatan. Melakukan praktik suap oleh guru, apa pun alasannya, apakah itu wujud rasa takut kepada Allah Swt.

Etika selanjutnya adalah tidak menggunakan ilmunya hanya untuk tujuan duniawi semata dan tidak rendah diri di hadapan pemuja dunia. Bukankah menyuap itu perbuatan rendah yang tujuannya hanya duniawi saja?

Ada lagi etika yang disampaiakan KH Hasyim Asy’ari dalam kitab Adabu ta’lim wa muta’alim, yakni menghindarai pekerjaan yang menjatuhkan martabatnya. Guru memang pekerjaan mulia namun jika mendapatkan pekerjaan itu dengan melakukan praktik suap, maka jatuh pula martabatnya sebagai guru.

Menurut KH Ahmad Dahlan, etika menjadi guru salah satunya adalah menggunakan referensi yang tepat dalam proses belajar- mengajar. Proses berdakwah sama saja dengan proses mengajar, karena ada guru (si penceramah) dan murid (jamaah pengajian). Sudah sepatutnya seorang guru atau penceramah ketika menyampaikan ilmunya untuk selalu menyampaikan pula referensi yang benar dan tepat. Jika referensi sudah benar, maka apakah sudah tepat?

Ketiga, penyampain hukum harus pada tempatnya. Menurut KH Henry Sutopo, apabila ada seseorang ingin menyampaikan sebuah dalil atau hukum maka ia harus hati-hati; harus sesuai dengan kaidah fiqih, yakni harus ditempatkan pada mu’tadhol hal-nya. Bukan asal memberi dalil atau hukum.

Misal, hukum membaca al-Qur’an itu baik atau tidak? Tentu jawabannya baik. Lalu, jika membaca al-Qur’an dalam waktu yang lama, semakin baik atau tidak? Tentu saja hukumnya semakin baik. Akan tetapi jika membaca al-Qur’an pada saat mengiringi jenazah dan waktu sudah sore menjelang magrib, apakah tetap baik dibaca dengan waktu lama. Sedangkan orang yang mengangkat jenazah sudah berdiri lama, dan sudah hampir gelap. Lalu, yang demikian apakah hukumnya tetap baik?

Cermin Masa Depan

Abdus Somad adalah ustaz yang dalam bahasa Indonesia adalah seorang guru. Guru adalah cermin masa depan bangsa dan agama. Bayangan dalam cermin seperti murid yang selalu mengikuti gerakan sesungguhnya. Namun, jika kita memecahkan cermin karena ketidakhati-hatian kita, maka bayangan yang ada akan pecah dan berantakan tanpa arah.

Memang, kita boleh menuntut hak kita, akan tetapi bukan dengan cara menutup hak orang lain. Kita semua tahu bahwa guru honorer yang sudah mengabdi bertahun-tahun dengan hati ikhlas jumlahnya tidak sedikit.

Kita semua tahu calon guru yang memiliki IPK 3,7 jumlahnya ribuan bahkan jutaan. Kita juga tahu setiap tahun Fakultas Pendidikan atau Tarbiyah meluluskan ribuan mahasiswa calon guru. Jika hanya dengan alasan menuntut hak kita untuk mendapatkan kerja adalah halal dengan praktik suap, bisa dibayangkan berapa hak orang lain yang kita abaikan?

Jadi, mohon Ustaz Somad jangan ajarkan kami korupsi! Jangan  nodai pendidikan kami! Pendidikan adalah tempat lahirnya pemimpin masa depan.

Apa pun alasannya, korupsi adalah dosa besar. Guru adalah ujung tombak bangsa ini dalam memberantas korupsi. Iya, karena guru menangkal korupsi dari sumbernya, yakni anak-anak yang dididiknya. Dari guru yang jujur akan lahir para pemimpin yang siap menyudahi korupsi. Dari guru yang tidak menyuap akan lahir anak bangsa yang bertanggung jawab.

Kolom terkait:

Ulama Sejati dan Ulama Penebar Kebencian

Dari Suap Syariah sampai Naturalisasi

Doyan Suap Menyuap di Pengadilan, Quo Vadis?

Menyambut Novel Baswedan, Mendefinisikan Korupsi [I]

Semangat Novel Baswedan, Mendefinisikan Korupsi (II)

Siti Muyassarotul Hafidzoh
Aktif di Litbang PW Fatayat NU DIY. Alumni Australia Award Indonesia (AAI) Progam Shortcourse Leadership Development Course for Islamic Women Leader, Deakin University, Melbourne, 2017.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.