Banner Uhamka
Minggu, September 27, 2020
Banner Uhamka

“Mukjizat” Kartini dan Bahasa

Komunitas Akademik dan Dunia Riset Indonesia (1)

Pada tanggal 25 Mei 2017, Kementerian Riset dan Pendidikan Tinggi menerbitkan peringatan untuk berhati-hati memilih Konferensi Internasional dan/atau Jurnal Ilmiah. Pasalnya, banyak seminar internasional yang diikuti...

Alienasi Guru dalam Ideologi Kompetisi

“Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan.” John Tylor Gatto memutuskan untuk menyudahi karier cemerlangnya sebagai guru pada tahun 1991. Ironis, di tahun ke-30 pengabdiannya sebagai...

Kontroversi Sertifikasi Profesi untuk Sejarawan

Entah apa yang terjadi di dalam internal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, tepatnya pasca reshuffle kabinet dan pergantian pucuk pimpinan instansi dari Anies...

Setelah Jokowi Membatalkan Full Day School

Kebijakan Penguatan Pendidikan Karakter atau yang lebih dikenal dengan Full Day School yang digagas Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy akhirnya dibatalkan oleh Presiden Joko...
Bandung Mawardi
Kuncen Bilik Literasi

Pada 1979, Sutan Takdir Alisjahbana menganggap Kartini adalah “mukjizat”. Perempuan Jawa itu mengerti pesona Barat. Pesona direngkuh dengan bahasa Belanda, jarang dengan bahasa Jawa atau Melayu. Buku-buku berbahasa Belanda jadi santapan harian. Ia pun menulis surat-surat berbahasa Belanda.

Di Jawa, perempuan itu bergerak jauh dengan bahasa Belanda. Ia fasih dan memuja bahasa Belanda, tak terbujuk melakukan semaian bahasa Jawa dan Melayu. Sebutan “mukjizat” oleh Sutan Takdir Alisjahbana mengesankan Kartini terasa “asing”, meski lahir dan besar di Jawa. “Asing” itu terbentuk oleh bahasa Belanda. Pada masa lalu, “mukjizat” sering berbahasa Belanda.

Di tanah jajahan, pembaca Kartini diharuskan menguasai bahasa Belanda. Bahasa itu terlalu menentukan dan mendefinisikan. Puluhan tahun orang menunggu untuk berjumpa dan membaca Kartini dalam bahasa Indonesia, setelah melampaui mufakat-bersumpah 1928.

Pada masa orang-orang menggandrungi ide-imajinasi “baroe”, Armijn Pane (1938) menerjemahkan tulisan Kartini, dari bahasa Belanda ke bahasa Indonesia. Penerjemahan “terlambat” tapi mengesankan kemauan mengisahkan Kartini dalam bahasa revolusioner, bahasa demi kemuliaan Indonesia.

Ikhtiar Armijn Pane agar Kartini tak “asing” lagi telah didahului oleh Empat Saoedara melalui penerbit milik pemerintah kolonial, Balai Poestaka, 1922. Tulisan-tulisan Kartini “dimelajoekan” alias diterjemahkan ke bahasa Melayu. Buku tak sempat laris atau cetak ulang puluhan kali untuk memenuhi hasrat bumiputra memberi pujian ke Kartini.

Urusan bahasa telah menimbulkan rumit mengartikan peran dan warisan Kartini bagi Indonesia di zaman “kemadjoean.” Sejak tulisan-tulisan Kartini tersaji ke bahasa Indonesia, orang-orang semakin mengerti dan mengenali sampai ke penokohan politis. Buku terjemahan Armijn Pane terbukti mengesankan Kartini terpahamkan dalam bahasa Indonesia.

Buku terjemahan berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang terbit pada 1938 mengalami cetak ulang ke-12 pada 1987. Pembaca mungkin lega mendapatkan Kartini seolah berbahasa Indonesia.

Keterlambatan masih mengandung penasaran. Kartini gampang dituduh tak memuliakan bahasa Jawa? Kemunculan segala tulisan berbahasa Belanda dan penerjemahan ke bahasa Indonesia menyisakan keraguan Kartini fasih berbahasa Jawa: lisan dan tulisan.

Pada 1918, terbit buku berjudul Lajang Panoentoen Bab Olah-Olah susunan Kardinah. Ia saudara Kartini. Buku terbit berbahasa Jawa, menggunakan aksara Jawa dan Latin. Buku itu ingin mengingatkan bahwa Kartini sering berbahasa Jawa di keluarga dan mengajar para bocah perempuan.

Kartini memang menguasai bahasa Belanda tapi tak “meremehkan” bahasa Jawa. Kita menduga Kartini memilih bahasa Belanda dalam membesarkan ide-imajinasi ketimbang bahasa Jawa. Ia memang menulis untuk orang-orang Belanda atau Eropa, bukan untuk pembaca di Jawa. Pilihan itu mengakibatkan orang-orang jarang menganggap Kartini adalah “pendekar” bahasa Jawa atau Melayu.

Kartini tampil sebagai tokoh tetap dalam pesona bahasa Belanda, bukan bahasa Jawa atau Indonesia. Orang-orang ingin mengakrabi Kartini harus menunggu dulu edisi terjemahan ke bahasa Indonesia. Edisi terjemahan ke bahasa Jawa malah jarang.

Pada 1950, terbit buku berjudul Kartini: Wanita Indonesia garapan Hurustiati Subandrio. Buku tipis terbitan Djambatan mengawali pengenalan biografi Kartini ke para pembaca berbahasa Indonesia. Hurustiati mengakui Kartini adalah “Ibu Wanita Indonesia”, menggenapi pujian WR Soepratman melalui lagu berjudul “Ibu Kita Kartini.”

Buku itu dikerjakan dengan “ketergantungan” pada sumber-sumber bacaan berbahasa Belanda. Pengecualian adalah hasil terjemahan Armijn Pane. Kartini masih terkesan dikenalkan dari “jauh” akibat kepustakaan melimpah dalam bahasa Belanda. Hurustiati menerangkan: “Buku dalam bahasa Belanda Door duisternis tot licht dipergunakan pula untuk mengenal buah pikiran Kartini dalam bentuknja jang asli.”

Kartini tak mengalami zaman berbahasa Indonesia dalam terang revolusi. Ia memberikan warisan-warisan berbahasa Belanda. Kehidupan keseharian di Jawa pun masih menimbulkan ragu atas pemuliaan bahasa Jawa. Pada abad XXI, kita beruntung mendapatkan puluhan terjemahan mengenai Kartini. Perempuan tenar dan berpengaruh “terbahasakan” ke kita dalam nuansa berbeda, setelah diterjemahkan dari bahasa Belanda.

Keinginan mengerti Kartini pun mulai mengikutkan bahasa Inggris. Pada 2004, terbit buku berjudul Aku Mau: Feminisme dan Nasionalisme (Surat-Surat Kartini Kepada Stella Zeehandelaar). Semula, buku terbit dalam bahasa Inggris di Australia. Pembaca mungkin semakin bingung mengetahui perumitan mengerti Kartini mulai diperantarai bahasa Inggris. Buku itu mungkin berada di seberang anggapan Hurustiati saat mengerjakan buku Kartini: Wanita Indonesia.

Setahun lalu, berita mengejutkan malah bersumber dari garapan film berjudul Kartini dengan sutradara Hanung Bramantyo. Kartini diperankan oleh Dian Sastrowardoyo. Konon, si artis cantik itu “harus bekerja keras melatih kepiawaian berbahasa Jawa.” Dian mengaku lahir dan besar di Jakarta, tak lancar bertutur dalam bahasa Jawa (Kompas, 20 April 2017).

Di film, Kartini harus tampil sebagai perempuan Jawa. Di keseharian, ia berbahasa Jawa dan Belanda tapi untuk menulis pelbagai ide-imajinasi ia memilih bahasa Belanda. Pengakuan Dian harus piawai berbahasa Jawa tentu agak mengejutkan ketimbang sibuk belajar bahasa Belanda.

Film itu tersaji dengan penguatan ke bahasa Indonesia. Penonton tak bisa berbahasa Jawa dan Belanda jangan cemas dan bersedih. Kartini memang telah memberi kita rumit bahasa untuk mengenali biografi dan membaca tulisan-tulisan dari masa silam. Dia memang “mukjizat”.

Kolom terkait:

Kartini Kendeng dan Dian Sastro Tak Perlu Kembali ke Dapur

Kartini dan Perjuangan Melawan Buta Huruf

Kartini dan Kemerdekaan Berekspresi bagi Perempuan

Kartini, Perempuan, dan Perdamaian

Kartini-Kartini Muhammadiyah

Bandung Mawardi
Kuncen Bilik Literasi
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Janji Manis Penyelesaian HAM

Setiap memasuki bulan September, negeri ini selalu dibangkitkan dengan memori tentang sebuah tragedi kelam yang terjadi sekiranya 55 tahun silam. Peristiwa diawali dengan terbunuhnya enam...

Dra-Kor dan K-POP itu Islami

Produk seni Korea Selatan, terutama dalam bentuk Drakor dan K-POP sudah lama melanda negeri kita. K-POP dan Dra-Kor bahkan kini menjadi kesukaan orang Indonesia....

Ada Hantu Komunisme di Indonesia

Ketika Youtube dipenuhi konten misteri. Mengangkat konsep “perhantuan” lantaran tema inilah yang ramai ditonton masyarakat kita. Tentu saja para youtuber mengangkat tema “perhantuan” tujuan utamanya...

Mengenal Beberapa Khazanah dan Pemikir Islam

Abad ke-14 dunia Islam mengalami kelesuan, akan tetapi dari Tunisia lahirlah seorang pemikir besar yaitu Ibn Khaldun (Abdurrahman ibn Khaldun, w. 808 H/1406 M)...

Seharusnya Perempuan Merdeka Sejak Usia Dini

Gender memberikan dampak yang berarti sepanjang jalan kehidupan seorang manusia. Tetapi karena diskriminasi atas dasar jenis kelamin dalam awal kehidupan, konsep kesetaraan bahkan pengetahuannya...

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.