Rabu, Januari 27, 2021

Mengapa Menulis

Moratorium Ujian Nasional

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy mengusulkan perlunya moratorium ujian nasional (UN) dengan sejumlah alasan. Pertama, mutu pendidikan yang belum merata, baru 30% sekolah...

Full Day School: Pendidikan dalam Kalkulator Penjumlahan

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Prof. Dr. Muhadjir Effendy pekan ini mulai mensosialisasi konsep sekolah sehari penuh (full-day school). Konsep itu sendiri belum dituangkan dalam...

Pak Menteri, Yuk Full Day-Night Learning Saja!

PAK Menteri, yuk full day-night learning saja, jangan full-day school. Kita ternyata masih belum bisa membedakan antara bersekolah dan belajar. Jika bersekolah dibatasi hanya di sekolah,...

Selamat, Kamu Menjadi Beban Negara!

Ketika masa pendidikan berakhir, setiap orang akan masuk ke dalam pasar tenaga kerja. Mau tidak mau dan siap tidak siap mereka harus memperkaya diri...
Zaim Rofiqi
Menulis cerpen, puisi, esai, dan menerjemahkan buku. Buku kumpulan cerpennya, "Matinya Seorang Atheis" (Koekoesan, 2011); Buku kumpulan puisi: "Lagu Cinta Para Pendosa" (2009) dan "Seperti Mencintaimu" (2014). zrofiqi@hotmail.com

“Mengapa menulis?”

Setiap orang yang karena satu dan lain hal “dipaksa sejarah” untuk menjadi penulis—apa pun jenis tulisannya: puisi, cerpen, novel, naskah drama, esai, tulisan ilmiah, travel writing, dan seterusnya—tentu pernah sesekali terantuk dengan pertanyaan ini pada suatu waktu tertentu dalam rentang masa kepenulisannya.

Entah ia kemudian mencari jawab terhadap pertanyaan ini atau membiarkan pertanyaan ini berlalu begitu saja, hal itu tentu merupakan persoalan yang sepenuhnya pribadi.

Memang, tak setiap penulis harus menjelas-jelaskan alasan mengapa ia menulis, mengapa ia menghasilkan karya-karya tulis yang, kadang, begitu banyak jumlahnya. Namun, bagi saya pribadi, pertanyaan ini cukup mendesak untuk ditemukan jawabnya, terutama agar aktivitas yang cukup lama saya geluti ini punya dasar atau alasan untuk terus dilakukan.

Pertanyaan ini mungkin pada awalnya terdengar sederhana dan setiap penulis saya kira bisa segera memberikan jawaban cepat bahwa ia menulis karena suka (atau hobi), menulis untuk mengisi waktu luang, atau untuk “membunuh” waktu. Pendeknya, setiap penulis pada mulanya menulis karena “iseng” belaka, apa pun definisi “iseng” di sana.

Memang, bisa dipastikan bahwa semua penulis semula menulis karena “iseng”. Namun, ketika kita disadarkan oleh ke-“iseng”-an itu bahwa kita memiliki bakat, ketika jumlah tulisan yang kita hasilkan semakin banyak, dan ketika secara bertahap kita mulai menekuni “profesi” ini secara lebih serius, jawaban-jawaban sederhana (atau sekenanya) di atas mulai terasa tidak memadai.

Benarkah kita menuliskan karya-karya kita karena “iseng” belaka? Hanya karena “coba-coba”, atau hobi, atau mengisi waktu luang, atau “membunuh” waktu belaka? Atau ada sesuatu yang lain yang secara sadar atau tak-sadar (biasanya yang kedua ini yang lazim terjadi) sedang kita kejar, sedang kita perjuangkan dengan menulis, melalui tulisan?

Tampaknya kita harus mencari jawaban lain bagi akitivitas yang menyita begitu banyak waktu dan menguras sebagian besar energi kita ini, namun yang sebenarnya kurang “menjanjikan” sebagai sandaran hidup.

Sekali lagi, mengapa kita menulis? Mengapa kita terus menulis? Mengapa kita terus menggoreskan huruf demi huruf di sebuah negeri di mana menulis kurang bisa dijadikan sebagai mata pencaharian dan pada sebuah masa ketika apa yang bisa ditonton (baca: budaya visual) lebih digandrungi ketimbang apa yang dituliskan (baca: budaya tulis)?

Jawaban yang cukup layak diperhitungkan, dan bagi saya cukup memuaskan, bisa didapatkan dari negeri seberang.

Nietzsche, filosof Jerman abad ke-19 itu, pernah mengatakan, kurang lebih, bahwa setiap penyair (sesungguhnya: setiap penulis) tidak pernah merasa puas dengan realitas. Dan karena ia tidak puas dengan realitas, ia berusaha mengubah realitas, menjadikannya lebih tertahankan, lebih bisa diterima, dan lebih memuaskan baginya—dan mungkin bagi setiap orang yang lain.

Demikianlah, menurut saya, sejatinya setiap penulis menulis untuk membuat realitas lebih tertahankan, lebih bisa diterima, dan lebih memuaskan, paling tidak bagi dirinya sendiri. Dengan kata lain, menulis berarti memanipulasi realitas.

Saya menggunakan kata memanipulasi karena, menurut saya, menulis berarti mendramatisasi realitas, memasukkan elemen-elemen yang kita anggap seharusnya ada dalam realitas, membuang elemen-elemen yang kita anggap seharusnya tidak ada dalam realitas, memperlihatkan kepada para pembaca kita bahwa ada sesuatu yang salah dalam realitas.

Dan, dengan melakukan semua ini, kita secara langsung atau tidak langsung ikut terlibat dalam menjadikan dunia ini tempat yang lebih baik, tempat yang lebih layak.

Bagi saya, ketika seorang penulis menulis sebuah karya (apa pun bentuk karya itu), ia hendaknya secara sadar berusaha melihat karya-karyanya sebagai sebuah medium untuk memperjuangkan sesuatu, misalnya suatu pandangan dunia tertentu.

Dengan melakukan hal ini, ia diandaikan memiliki peran atau andil dalam—memakai istilah yang sedikit hiperbolis—“mengubah dunia” menjadi lebih baik atau lebih adil melalui karya-karyanya. Ada sebuah ungkapan menarik, entah dari siapa asal ungkapan ini, yang selalu teringat kapan pun saya menulis: “Kau mungkin tak punya harta dan tahta, namun kau punya pena.”

Ya, saya percaya dengan sebuah pena setiap penulis bisa melibatkan dirinya dalam sebuah perjuangan melawan ketidakadilan atau kediktatoran, misalnya, dan terlibat dalam sebuah upaya untuk menjadikan dunia ini lebih baik dan lebih adil.

Baca juga:

Pengarang “Mati”, Pembaca Lahir

Ketika Pajak dan Api Memadamkan Literasi

Jokowi, Literasi, dan Proyek Besar Buku

Sumbu Pendek Sastra dan Historiografi Zaman Now

Menakar Narasi Pembaca Sastra Era Milenial

Zaim Rofiqi
Menulis cerpen, puisi, esai, dan menerjemahkan buku. Buku kumpulan cerpennya, "Matinya Seorang Atheis" (Koekoesan, 2011); Buku kumpulan puisi: "Lagu Cinta Para Pendosa" (2009) dan "Seperti Mencintaimu" (2014). zrofiqi@hotmail.com
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Roman Abramovich, Alexei Navalny, dan Premier League

Industri olahraga, khususnya sepakbola, telah mengalami perkembangan pesat. Mulai dari segi teknis maupun non-teknis. Mulai dari aktor dalam lapangan hingga pemain-pemain di belakang layar....

Perempuan dan Politik

Politik selalu identik dengan dunia laki-laki, dengan dunia kotor, tidak pantas untuk perempuan masuk kedalam ranah tersebut. Politik selalu identik dengan sesuatu yang aneh...

Karakteristik Milenial di Era Disrupsi

Dewasa ini, pemakaian istilah Disrupsi masih terdengar asing oleh kaum muda atau generasi milenial sekarang. Lalu apa sebenarnya yang dimaksud dengan disrupsi?. Jika kita...

Hak Cipta dan Perlindungan Kekayaan Intelektual

Hak atas Kekayaan Intelektual (HAKI) merupakan terjemahan dari Intellectual Property Right (IPR), sebagaimana diatur dalam undang-undang No. 7 Tahun 1994 tentang pengesahan Agreement Establishing...

Pengalaman Mantan Pasien Wisma Atlet

Ibu Mawar ingin memberi cerita pengalamannya yang dialami ia dan keluarga dalam menghadapi karena mengidap Covid 19 yang sempat dirawat di Wisma Atlet serta...

ARTIKEL TERPOPULER

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Larry King, Wawancara dengan Sejarah

Oriana Fallaci beruntung. Ia seakan mendapat wangsit mendadak untuk menjuduli bukunya dengan cemerlang, "Intervista con la storia", himpunan interviunya dengan para pemimpin dunia yang...

Pandji yang Sedikit Tahu, tapi Sudah Sok Tahu

Siniar (podcast) komedian Pandji Pragiwaksono kian menegaskan bahwa budaya kita adalah sedikit tahu, tapi sudah merasa sok tahu. Sedikit saja tahu tentang gambaran FPI...

Towards Success: Re-evaluating Indonesia Ecological Development

Indonesia has long been an active participant of the environmental policy formation and promotion. Ever since 1970, as Dr Emil Salim appointed as the...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.