in

Mengapa Masyarakat Kita Tidak Akrab dengan Sains?


Sebagian warga Amerika Serikat meramaikan Hari Bumi pada 22 April waktu setempat dengan melakukan aksi March for Science di beberapa daerah, termasuk Park City, Utah. [Sumber: www.parkrecord.com]
Pada 22 April 2017, beberapa daerah di Amerika Serikat serempak melaksanakan “March for Science”, yakni sebuah gerakan yang dilakukan oleh para saintis, aktivis sains, dan orang-orang yang menaruh kepedulian kepada sains untuk menyuarakan urgensi sains bagi kehidupan. Mereka menegaskan bahwa sains telah memberikan sumbangsih besar bagi kehidupan manusia, dan bagaimana pemerintah telah mengabaikan peran sains dalam pembuatan kebijakan.

 

Yang menarik, protes ini (sebagian) diinisiasi oleh pihak oposisi Trump, karena Trump telah memotong anggaran untuk pendanaan penelitian. Di luar kepentingan politik pihak oposisi Trump, gerakan seperti ini menarik ditelusuri, karena sesungguhnya mereka ini mungkin asik bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, termasuk saya.

Amerika Serikat (AS) dan Inggris (UK) adalah dua negara yang selalu menekankan peran sains dalam pembuatan kebijakan. Bila di AS ada “March for Science”, maka di UK, melalui media sosial London School of Economics (LSE), berkembang sebuah platform bertajuk “LSE Impact Blog” dan “LSE Policy and Politics”, di mana seluruh netizen dapat melihat upaya-upaya yang dilakukan agar kajian akademis dapat memberikan peran dan menjadi poin penting dalam penentuan kebijakan.

Di UK, keakraban masyarakatnya dengan sains juga dapat dilihat dari munculnya salah satu komunitas tertua dan bergengsi di UK, Royal Society, yang terus memberi perhatian pada dunia sains.

Selain kondisi sosial masyarakat di AS dan UK, peran media untuk sains juga tidak kalah besar. Media di AS dan UK memiliki program khusus sains dalam saluran  televisi dan media cetak yang beredar di publik. Tidak melulu dalam bentuk serius, sains juga dilibatkan dalam konten-konten yang bersifat lebih ringan dan populer.

Serial televisi the Big Bang Theory secara jelas mengemas kehidupan mereka yang dicirikan sebagai nerds dengan gaya komedi dan bagaimana persaingan serta komunikasi di antara kelompok nerds tersebut berlangsung. Sementara serial seperti NCIS, CSI, Bones, dan Criminal Minds memperlihatkan bagaimana sains dipakai dalam penyelidikan dan menjadi dasar kuat dalam mengambil keputusan berdasarkan bukti-bukti yang telah diuji.

Stasiun televisi di AS dan Inggris tampak sudah “santai” dalam menyajikan program berkonten sains. Sains ditunjukkan tidak hanya secara minor seperti dalam contoh serial TV di atas, namun banyak program (bahkan saluran televisi) secara terang-terangan mendedikasikan dirinya untuk membuat konten khusus sains.

Salah satu saluran sains yang terkenal adalah National Geographic (NatGeo) dengan beberapa program andalan, seperti Brain Games, Crowd Control, Food History, dan the Science of the Fool. NatGeo tidak berdiri sendiri. Banyak saluran lain yang berkecimpung dalam konten sains seperti Discovery Channel dan BBC Science and Nature.

Perlakuan baik terhadap sains di media tidak hanya berhenti dalam pembuatan saluran dan program televisi saja. Negara seperti UK bahkan memiliki “Science Media Center” yang kini juga tersebar di Australia, Selandia Baru, dan Jerman.

Our ultimate goal is to facilitate more scientists to engage with the media, in the hope that the public will have improved access to accurate, evidence-based scientific information about the stories of the day.Science Media Center


Baca Juga :   Jumlah Huruf Han Zi dan Kecerdasan Bangsa China

Dengan mengacu pada visi dan misi “Science Media Center” beserta konsistensi dengan program-program yang diusung pada praktiknya, UK memang melihat urgensi sains untuk bisa diterima oleh publik dan menggandeng media sebagai salah satu pilar penting dalam penyebaran informasi dan konstruksi kebenaran.

Perhatian media di UK dan AS terhadap sains bukan tanpa alasan. Dengan mengesampingkan sejenak logika kapitalisme tentang keuntungan, kolaborasi sains dan media memiliki tujuan pemberian informasi kepada publik mengenai perkembangan sains, termasuk teknologi, agar masyarakat mengetahui fungsi sains bagi kesejahteraan publik.

Universitas dan pendana riset juga percaya bahwa media mampu memberikan amplifikasi dampak hasil penelitian, sehingga mereka mendorong para peneliti untuk berkolaborasi—bahkan berkonsultasi—dengan beberapa media.

Royal Society University Research Fellow di Inggris bahkan menjalin hubungan yang baik dengan BBC Science Center (ya, BBC memiliki divisi sendiri untuk bagian ini). Jadi, kolaborasi antara sains dan media adalah salah satu bagian yang menjadi kebutuhan dan bagian tersendiri dalam program televisi di Inggris dan AS.

Kembali ke Tanah Air, mari kita melihat relasi masyarakat dan sains di sini. Pertama, hubungan media dan sains belum cair, bahkan sepertinya minat untuk mengenal satu sama lain masih kurang.

Tanpa bermaksud sengaja berat sebelah, saya hendak menyampaikan bahwa program-program yang menyertakan sains di TV kita—meskipun belum seserius di AS dan UK—sudah ada. Program seperti “Doctor Oz”, pengecekan kadar gizi makanan, dan beberapa bagian dalam program televisi sudah mulai mempromosikan konten ilmiah.

Tetapi, pertunjukan berhenti di sana. Mungkin masyarakat Indonesia memang bersifat lebih praktis—acara yang mengandung unsur sains cenderung dikemas dalam acara kesehatan dan kecantikan. AS dan UK jelas memperlakukan sains lebih daripada hanya menjawab obat asam urat dan gaya peeling masa kini dengan laser. Lama kelamaan, panggung lebih diberikan kepada lifestyle ketimbang sains.

Untuk melihat dengan lebih imbang, ada upaya yang lebih relevan yang telah dilakukan, yaitu dengan penyertaan program Brain Games dari NatGeo yang tayang tiap Minggu di salah satu stasiun televisi swasta. Selain itu, TVRI juga membuat program tentang pelajaran sains dan siswa sekolah dalam acaranya. Namun konten-konten ini belum menjanjikan secara rating dan sharing, dalam artian, memang belum ada yang benar-benar senang menonton acara seperti ini.

Kedua, jika muncul suatu gerakan, terlebih jika gerakan itu sudah sampai di jalan dan mendapatkan banyak perhatian dari publik, dapat diartikan bahwa ada sekelompok orang (yang bisa jadi mewakili suara banyak orang) menyuarakan adanya urgensi untuk segera memberi perhatian pada sains, seperti “March for Science” di atas. Saya berpendapat bahwa gerakan ini asing untuk saya karena saya baru melihat kepedulian terhadap sains hingga—sekali lagi, di luar kepentingan politik—berhasil menurunkan massa ke jalan.

Saya tidak menuntut harus ada kelompok masyarakat di Indonesia yang melaksanakan gerakan protes serupa. Bagaimana bisa sampai pada tahap protes jika dinamikanya dari awal tidak ada atau tidak ketahuan.

Posisi sains di Indonesia masih samar-samar. Belum ada gebrakan dari lembaga, institusi, atau komunitas sains untuk mempromosikan sains secara konsisten. Tidak heran jika sebagian besar publik merasa asing dengan sains. Dan oleh karena itu, saya pun merasa asing dengan gerakan bersuara untuk sains seperti di AS.

Ketiga, sains sudah diposisikan secara eksklusif dan asing sejak masa sekolah. Saya tidak paham bagaimana kondisi sekolah saat ini, tetapi pada masa saya bersekolah, science for fun itu jarang sekali diterapkan. Yang mengkhawatirkan justru semakin rumit penyelesaian masalah dalam suatu disiplin ilmu, maka institusi pendidikan semakin bangga. Pemikiran yang diambil adalah jika seorang anak semakin cepat menyelesaikan soal-soal sains yang rumit, maka anak tersebut pasti pintar dan berbakat di bidang sains.

Padahal, menyukai dan memahami sains itu sama sekali bukan bawaan lahir. Belajar dengan membaca, berdiskusi, bereksperimen, dan bereksplorasi adalah cara memahami sains—bukan dengan mendiamkan dan menunggu mana yang pintar menurut standar. Cara seperti ini lama kelamaan akan semakin mengasingkan lebih banyak lagi orang untuk bisa tahu apa itu sains.

Di sisi lain, orang-orang yang masuk ke bidang sains akan membentuk kelompok sendiri dan berbicara dalam bahasa sendiri, membuat sains semakin terasa eksklusif.

Sains memang bukan ‘budaya’’Indonesia,” kata beberapa tulisan di internet yang berusaha saya tampik habis-habisan dalam hati. Jadi, siapa yang sebenarnya harus mulai duluan untuk membuat sains tak lagi asing untuk Indonesia?

Sementara kita ribut di sini, komunitas sains di Indonesia makin asyik dengan dunia sendiri, informasi berkedok ilmiah di media sosial makin beredar secara luas, dan inovasi-inovasi akan berakhir di dalam pikiran saja.

Masyarakat Indonesia masih akan terus ribut soal bumi datar versus bumi bulat di halaman Facebook mereka tanpa mendapatkan konfirmasi, dan informasi simpang siur mengenai cerita ilmiah tak jelas juga akan terus merebak karena klik terus berdatangan. Haruskah sekarang kita katakan pada sains, bahwa panggung telah ditutup dan habis terjual?


Baca Juga :   Ketika Pajak dan Api Memadamkan Literasi

S1 Ilmu Komunikasi UI, peminatan Kajian Media. Bekerja sebagai konsultan di bidang public affairs dan strategic communication. Aktif dalam kegiatan kerelawanan terutama di bidang politik dan pendidikan.

Tinggalkan Balasan

Loading…

TINGGALKAN KOMENTAR