Kamis, Januari 21, 2021

Maaf Afi dan Kesombongan Intelektual

Stockholm Syndrome dalam Cubitan Samhudi

Hingga saat ini saya masih diselimuti kabut pertanyaan menyangkut sikap tidak sedikit teman dalam kasus Samhudi, guru terdakwa pencubit Arif, siswanya. Kegundahan saya cukup...

Hari Pendidikan Nasional yang Suram Tanpa Dilan

Saya betul-betul menyesal karena terlambat menyimak berita, dan lebih terlambat lagi dalam menuliskan tanggapan. Andai lebih cepat sedikit, tentu saya bisa menyelamatkan dunia, menghindarkan...

Kivlan Zen, Isu PKI, dan Bangunan Persepsi Kesejarahan

Mengapa ada sosok seperti Jenderal Kivlan Zein yang percaya isu PKI bisa dikelola dalam ranah politik nasional di era keterbukaan seperti sekarang? Tidakkah masyarakat,...

Meninjau Ulang Sistem Zonasi Sekolah

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tiba-tiba memberlakukan sistem zonasi dalam Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun ajaran 2017/2018. Kebijakan tersebut diteken di dalam Peraturan Menteri...
Avatar
Maman Suratman
Mahasiswa Filsafat Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

Afi Nihaya Faradisa dan Presiden Joko Widodo swafoto seusai upacara Hari Lahir Pancasila di Gedung Pancasila, Kementerian Luar Negeri, Kamis (1/2/2017). [Agus Suparto/Fotografer Kepresidenan]
Ada yang teramat fatal dari lontaran “maaf” Afi Nihaya Faradisa. Yang harusnya menjadi medium pembebasan dirinya sebagai yang hidup, lontaran “maaf”-nya justru dipelintir sedemikian rupa menjadi medium penyombongan diri. Kesombongan intelektual, itu yang menonjol dari “maaf”-nya.

 

Awalnya saya menyambut bangga seketika mendengar informasi bahwa Afi, secara pribadi, akhirnya mau meminta maaf atas salah yang telah ia perbuat. Melalui akun Facebook-nya, Afi mengakui bahwa tudingan plagiarisme itu benar. Ia mengaku salah karena sudah mengklaim Agama Kasih Mita Handayani sebagai tulisannya—hanya mengganti, Belas Kasih dalam Agama Kita.

Sayangnya, ketulusan meminta maaf kepada publik itu tidak tampak dari lontaran “maaf” Afi. Sekali lagi, yang justru menonjol adalah kesombongan intelektual. Lantas, pembebasan diri yang seperti apa yang hendak Afi capai dari lontaran “maaf”-nya yang tidak jelas nan bertele-tele itu?

Kita memang harus mengakui, pinjam paham dari Hannah Arendt, bahwa hanya melalui saling maaf-memaafkanlah, saling bebas-membebaskan dari apa yang telah terjadi, salah yang telah dilakukan, baik sengaja ataupun tidak, manusia menjadi manusia bebas. Dengan kalimat lain, melalui maaf, manusia membuka lembaran baru dan menjadi manusia baru—meski sebenarnya tak sesederhana itu.

Tapi pada Afi, apakah dirinya hendak membuka lembaran baru untuk kemudian menjadi manusia baru itu? Simaklah kata-katanya ini:

“Apakah aku pernah melakukan plagiasi? Ya. Kita semua pernah. Siapa yang tidak pernah melakukannya? Mulai dari tugas sekolah sejak SD, makalah kuliah, ujian, sampai caption foto di media sosial. Kalaupun kita mengklaim punya hak cipta atas suatu gagasan yang brilian, maka gagasan tersebut tetaplah akumulasi dari segala hal yang berhasil kita serap sehari-hari. Tak ada gagasan yang benar-benar murni, asli.” (Afi, 3/6/2017).

Maaf-maaf saja, saya geram membaca untaian kata-kata manis penuh duri itu. Afi memang mengakui salah yang diperbuatnya. Tapi salah yang diakuinya itu kembali diredam dengan menembak siapa saja yang berada di luar selain dirinya.

Apa maksudnya “kita semua pernah” dan “siapa yang tidak pernah melakukannya?” kalau bukan satu bentuk penyerangan Afi ke pihak lain? Dengan kata-kata semacam itu, jelas Afi tak hendak mengakui kesalahan dirinya sendiri. Hematnya, tak ada permintaan maaf dari dirinya. Justru Afi tetap ngotot bahwa dirinya sebenarnya tak bersalah dalam kasus plagiarisme itu.

Ditambah lagi dengan yang ini:
“Tanpa mengesampingkan apa-apa, SATU kelemahan yang tidak menyakiti siapa pun kemudian menjadi masalah besar yang lebih penting untuk diurusi daripada memperbaiki hidup mereka sendiri. Tapi, terlepas dari semuanya, Afi tetaplah Afi, anak yang sudah menulis diary sejak SD, menulis artikel dan berbicara di depan publik sejak SMP, dan tidak hanya suka membaca buku-buku pelajaran saja.”

“Saya tak plagiat lho,” kurang lebih begitu yang ingin Afi sampaikan kepada publik pembacanya.

Tapi tak masalah. Meski saya, mungkin juga kita, benar-benar geram dibuatnya, kita tetap harus bisa memaklumi sikap dangkal semacam ini dari Afi. Mengutip komentar Abdul Gaffar Karim, pemandu Talkshow Kebangsaan Afi di UGM beberapa waktu lalu, yang menyetir kata-kata temannya, Ashari Cahyo Edi:

“Kalaupun ada bayi berani belajar berjalan sebelum umurnya, harusnya kita sudah punya cukup alasan berbahagia; kalaupun ia belajar jalannya keliru-keliru, ya itu wajar. Yang kecil, yang mencoba lalu mungkin dicap keliru, harusnya tetap didorong dan dibina. Kultur membinasakan—naming, shaming—atas kekeliruan dalam budaya belajar kita jangan diteruskan.”

Atau kata-kata Dekan Fisipol UGM yang juga ia kutip dalam tulisannya di FB, Afi: Sebuah Proxy?:

“Afi, bagaimanapun hanya seorang anak SMA, yang mungkin belum diajari oleh guru-gurunya tentang apa itu plagiarisme. Jangan sampai karena perbedaan politik, persoalan itu digunakan sebagai alat oleh orang-orang yang tak suka untuk membunuh potensinya.”

Meski dua kutipan kata-kata itu bisa dijadikan alasan pemakluman kita pada Afi, bagi saya sendiri, toleransi pada plagiarisme tak boleh pandang bulu. Mau kecil ataupun besar, muda ataupun tua, jongos ataupun bos, semua tak ada pengecualian.

Tak ada memang di antara kita yang tak pernah luput dari salah. Seperti kata Afi, “I’m not perfect, and I will never be.” Benar. Itu benar sekali. Tapi apakah hanya dengan berkata seperti itu lalu semua harus sudah selesai? Tidak.

Untuk menyelesaikan ini, jika benar Afi mau membuka lembaran baru dan menjadi manusia baru seperti seru Arendt, maka lontaran maaf tanpa apologi-lah yang Afi butuhkan. Afi harus meminta maaf, bukan dalam konteks kasus plagiarisme lagi, melainkan meminta maaf atas maafnya sendiri.

Dengan begitu, Afi tak hanya akan terbebas dari kasus plagiarisme yang melilitnya sebelumnya, tapi maaf tanpa apologi itu juga akan membebaskan Afi dari kesombongan intelektual, sebuah penyakit kronis yang punya daya mematikan cukup hebat.

Dan untuk yang lain, termasuk juga bagi saya secara pribadi, fenomena Afi ini cukup berharga. Pengalamannya bisa kita jadikan sebagai bahan ajar. Apalagi sebagai penulis, kasus Afi menyadarkan kita akan satu hal: “menulis butuh proses, tak ada yang instan.”

Terimakasih, Afi. Mari bersama kita bangun bangsa ini tanpa mengembelinya dengan kesombongan intelektual.

Avatar
Maman Suratman
Mahasiswa Filsafat Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Apa Itu Teo Demokrasi dan Nasionalisme?

Apa itu Konsep Teo Demokrasi? Teo demokrasi terdiri dari gabungan kata yaitu teologi yang berarti agama dan demokrasi yang terdiri dari kata demos berarti rakyat dan...

Menilik Superioritas Ras dalam Film Imperium

Film Imperium yang ditulis dan disutradarai oleh Daniel Ragussis adalah sebuah film thriller yang menampilkan usaha seorang karakter utama yang mencoba untuk “masuk” ke...

Pandangan Mochtar Lubis Terhadap Kemunafikan Manusia Indonesia

Pernyataan Mochtar Lubis dalam naskah pidato Manusia Indonesia (kemudian diterbitkan menjadi buku) sampai sekarang pidato ini masih relevan untuk dibahas, baik kalangan awam maupun...

Revolusi Mental Saat Pandemi

Vaksin Sinovac memang belum banyak terbukti secara klinis efektifitas dan efek sampingnya. Tercatat baru dua negara yang telah melakukan uji klinis vaksin ini, yakni...

Bencana Alam: Paradigma Ekologi dan Aktivisme

Ekologi sebagai kajian ilmiah tentang hubungan antara makhluk hidup dengan makhluk tidak hidup telah memberikan perspektif baru tentang sistem keterkaitan. Namun, sebagian besar pemerhati...

ARTIKEL TERPOPULER

Pandangan Mochtar Lubis Terhadap Kemunafikan Manusia Indonesia

Pernyataan Mochtar Lubis dalam naskah pidato Manusia Indonesia (kemudian diterbitkan menjadi buku) sampai sekarang pidato ini masih relevan untuk dibahas, baik kalangan awam maupun...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Bencana Alam: Paradigma Ekologi dan Aktivisme

Ekologi sebagai kajian ilmiah tentang hubungan antara makhluk hidup dengan makhluk tidak hidup telah memberikan perspektif baru tentang sistem keterkaitan. Namun, sebagian besar pemerhati...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Bagaimana Masa Depan Islam Mazhab Ciputat?

Sejak tahun 80-an Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jakarta dikenal "angker" oleh sebagian masyarakat, pasalnya mereka menduga IAIN Jakarta adalah sarangnya orang-orang Islam liberal,...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.