OUR NETWORK

Jadilah Guru Progresif!

Guru dalam proses pembelajaran memegang posisi krusial sebagai pendamping peserta didik dalam menumbuhkan potensi alamiahnya. Mengacu pada undang-undang, guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik.

Namun, dewasa ini para guru cenderung berfokus pada pengajaran yang berbasis pada aspek intelektual semata, dan mengabaikan aspek emosional maupun sosial. Menuntut muridnya untuk mereproduksi semua materi dari buku ke dalam otaknya. Guru tidak mendidik anak menjadi inovator namun plagiator. Tujuannya sederhana supaya muridnya bisa lulus Ujian Nasional (UN), Ujian Akhir Nasional (UAS), serta lulus 100% dan tepat waktu.

Alhasil, produk dari “sekolah” tidak lain ialah manusia-manusia yang “hafal” segudang teori, tapi tidak mampu mengimplementasikannya ke dalam problem realitas sosial. Siswa STM tidak bisa memperbaiki sepeda motor; dia mahasiswa sosiologi namun tidak mampu memahami dan mencarikan solusi bagi problema masyarakat; dia mahasiswa pertanian tapi tidak pernah turun ke sawah, dan dia mahasiswa bisnis tapi tidak cakap berwirausaha.

Sekolah juga menjadi ajang generalisasi, tidak berbasis pada spesialisasi bakat/kemampuan. Semua siswa diperlakukan sama, standar yang sama. Contohnya, guru menuntut semua siswanya bisa memiliki nilai fisika yang tinggi padahal tidak semua siswa cakap berfisika, dan lain sebagainya.

Akhirnya bakat alamiah anak yang tidak masuk dalam kurikulum akan terpendam dan tidak berkembang. Pun dengan anak dengan ranking terendah akan dicap sebagai orang bodoh dan dikucilkan.

Di ruang kelas, peserta didik terjerembab ke dalam jurang “alienasi” dan ketidaksadaran sehingga merasa terasing dari persoalan dunia yang sejatinya. Singkatnya, konservatisme pendidikan membuat murid mengalami gagap sosial. Realitas inilah yang pada akhirnya memecut Ivan Illich melahirkan konsep descholarize (pendidikan tanpa sekolah) sebagai alternatif untuk bisa maju menuju perubahan revolusioner dan mengeluarkan manusia dari nihilisme pendidikan.

Paulo Freire, pemikir Brazil, juga turut mengkritik pola tersebut dengan menggagas konsep pendidikan progresif. Menurutnya, guru harus secara konsisten menemukan dan terus mencari cara-cara yang memudahkan peserta didik melihat objek yang harus diketahui dan akhirnya dipelajari, sebagai sebuah masalah. Bukan guru yang mengungkung kreativitas peserta didik dengan mempraktikkan model pendidikan “gaya bank” yang membatasi tugas peserta didik sekadar menerima, mencatat, dan menyimpan.

Konsep pendidikan “gaya bank” menganggap peserta didik sebagai manusia bodoh yang tidak mengetahui apa-apa. Guru mengisi “tabungan” pengetahuan dan menuntut peserta didik untuk menerima begitu saja (taken for granted) tanpa celah sedikit pun memberikan ruang dialogis.

Guru dituntut menyalib pola yang membasis pada hubungan patron klien. Hubungan patriarki yang memposisikan guru sebagai raja, guna menghapus jarak antara guru dan murid. Sehingga keduanya menjadi subjek, bisa saling berbagi pengalamannya, interaktif, tidak dominatif, dan saling menghormati.

Freire menekankan pada pendidikan berbasis pada dialog. Maksudnya sebagai pendidik, guru dituntut untuk merangsang daya kritis peserta didik dengan memaparkan permasalahan tentang kondisi keterbaruan, kemudian memberikan kesempatan kepada mereka untuk memecahkannya melalui dialog multiarah (antar peserta didik dan dengan guru). Pendekatan yang digunakan oleh guru bukanlah memorization (sekadar mengingat-ingat apa yang dibacanya), tetapi pedagogy of knowing (pendidikan sebagai usaha mendapatkan pengetahuan).

Mengamini Freire, John Dewey menyatakan guru progresif, yaitu guru yang kritis dalam merespons situasi dan kondisi dunia pendidikan nasional dan lokal, seraya aktif dalam berbagai program pemberdayaan masyarakat. Dalam progresivisme, guru berjuang mendidik agar murid bisa menyelesaikan permasalahan yang selalu berkembang mengikuti zaman yang semakin dinamis, dan juga mengajarkan murid terhadap permasalahan nyata di sekitarnya, sehingga murid tidak terperangkap dalam pemikiran yang kolot.

Dalam progresivisme, guru harus mengajarkan bagaimana mengembangkan kreativitasnya untuk memecahkan suatu permasalahan, bukan hanya menjejali murid dengan hafalan-hafalan yang dapat mengekang murid, menghambat kreativitas, dan potensi yang ada dalam diri murid untuk berkembang. Di sini guru hanya sebagai tutor dan fasilitator dalam membimbing murid dalam pemecahan masalah mereka.

Misalnya, ketika ada murid yang mengalami masalah dalam pembiayaan, maka guru dan siswanya mendiskusikan solusi apa yang memungkinkah untuk menyelesaikan masalah tersebut dan apa konsekuensi ketika solusi tersebut dipilih. Maka, benarlah adagium “School is the preparation of life”.

Untuk itu, menurut Dewey, sekolah menjadi makrokosmos dari dunia sosial yang sebenarnya. Dalam artian, materi-materi yang diajarkan di sekolah harus menggambarkan bagaimana kehidupan sosial anak yang sebenarnya. Guru, sekolah, dan materi dituntut untuk menyatu dengan realitas para siswanya.

Misalnya, ceramah guru yang menyatakan bahwa keluarga adalah sebuah unit yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak kini sudah tidak relevan lagi. Karena, dalam perkembangannya, banyak anak yang yatim-piatu. Kalau materi tidak relevan dengan realitas, maka akan terjadi kesenjangan antara realitas hidup para murid dengan teori-teori yang mereka pelajari di sekolah.

Mengaktualisasikan pemikiran Freire dan Dewey, saya teringat dengan Bapak Sudarusman, seorang guru di SMP Muhamadiyah 2 Surabaya, ketika menjadi pembicara di Padepokan Tjokroaminoto pada 2016 silam. Dalam diskusi tersebut beliau menyampaikan bahwa siswa bersekolah bukan untuk ujian (bukan sekadar kecerdasan dinamis), namun untuk belajar menyelesaikan masalah hidupnya (kecakapan hidup). Baginya, kemampuan intelektual (semisal matematika) bisa dibentuk dalam waktu singkat, namun kemampuan statis (semisal attitude) harus dibentuk sejak dini.

Di samping itu, pendidikan harus berbasis pada keberbakatan. Artinya, siswa yang ingin menjadi pengusaha, harus dilatih menjadi berbisnis (berjualan) sejak dini. Pun demikian dengan pengajarnya harus merupakan kaum profesional, sehingga siswa yang bercita-cita menjadi dokter akan dididik jadi dokter sejak dini, bukan setelah di perguruan tinggi.

Intinya, pengajaran ala guru harus memegang prinsip dari, oleh, dan untuk siswanya. Guru harus membiarkan murid-muridnya merdeka dan punya ruang mengembangkan potensinya (selama itu positif). Dengan demikian, mereka merasa bahagia, bukan malah membenci sekolah.

Selamat Hari Guru. Terima kasih Guruku.

Kolom terkait:

Moratorium Ujian Nasional

Hei Orangtua, Anak Bukan Samsak Tinju! [Hari Anak Nasional]

Anak, Pendidikan, dan Kebinekaan

Mahasiswa Sosiologi USU Stambuk 2013, Pegiat Literasi di Toba Writers Forum.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

    Processing files…