in

Gagasan: Sentuhan Hati Seorang Penulis


Dari mana datangnya cinta? Pujangga berkata dari mata turun ke hati. Tapi kalau ditanya dari mana datangnya sebuah gagasan, seorang penulis boleh jadi akan menjawab: dari hati naik ke otak dan turun lagi ke hati.

Penulis tidak semata menulis dengan pena. Ia menulis dengan hati. Apa yang datang dari hati akan menyentuh pula hati pembaca. Tapi bukankah penulis harus merujuk ke sejumlah kutipan dalam literatur?

Saya bocorkan satu rahasia penting: menulis dengan sejumlah kutipan itu hanya sekadar ‘excuse’ seandainya kelak ada akademisi lain, yang tidak punya hati dan melulu mengandalkan isi otaknya, tiba-tiba protes dengan isi tulisan kita. Jadi, kutipan, footnote, dan bibliografi adalah semacam tameng belaka.


Yang paling utama dalam sebuah tulisan tentu bukan panjangnya kutipan, tapi gagasan yang hendak kita sampaikan. Gagasan yang membuat orang manggut-manggut membacanya. Gagasan yang membuat mulut orang lain membentuk huruf O besar. Gagasan yang membuat para pembaca fokus pada apa yang dibaca, sehingga saat model/aktris cantik Raline Shah lewat pun Anda tidak mempedulikannya.

Tapi bukankah gagasan itu seringkali datang dan pergi sesukanya, bahkan kadang pada waktu yang tidak tepat? Ya, kadang gagasan itu datang saat Anda sedang menonton film, atau saat sedang ‘bersemedi’ di toilet, atau di saat lain, tiba-tiba berkelebat sejumput gagasan saat Anda sedang menyeruput caramel latte di kedai kopi.

Baca Juga :   Meninjau Ulang Sistem Zonasi Sekolah

Di mana pun Anda tengah berada, tangkaplah gagasan itu pertama-tama dengan hati Anda, resapi dan nikmati keindahannya, endapkan di hati Anda biar tidak mudah pergi. Kemudian uji-lah gagasan tersebut dengan pengetahuan yang Anda miliki. Ini saatnya gagasan dari hati naik ke otak. Di sini Anda bisa memutuskan sejauhmana gagasan tersebut memang layak untuk diteruskan.

Bacalah literatur, berdiskusilah dengan kolega, dan mulailah mencoret-coret hal-hal yang Anda rasa penting. Gagasan itu kemudian Anda akan turunkan lagi ke hati. Endapkan sekali lagi. Tenanglah, jangan terburu-buru. Gagasan itu telah menjadi milik Anda. Anda hanya butuh melepaskannya.

Setiap gagasan yang telah terpenjara dalam hati dan pikiran, harus kita lepaskan dalam bentuk tulisan. Proses melepaskan sebuah gagasan yang dahsyat ini biasanya membuat penulis uring-uringan.

Mirip orang sedang patah hati. Gelisah dan galau karena tubuh tidak lagi mampu menyangga dan menampung gagasan besar ini. Tidur menjadi tidak enak. Makan pun tidak terasa nikmat. Dan pada saat yang tepat, energi yang sudah terendapkan dan gagasan yang sudah terpenjara itu kemudian dituliskan…mengalir…tidak akan bisa berhenti sehingga tuntas selesai.

Jangan coba-coba menginterupsi kalau tidak kuat terkena limpahan energi dahsyat ini. Begitu selesai, maka penulis mengalami semacam orgasme intelektual. Kepuasan yang tak bisa dijelaskan. Setelah itu lemas dan semua kelelahan berhari-hari baru terasa kini. Dan begitu seterusnya.

Baca Juga :   Jokowi, Literasi, dan Proyek Besar Buku

Gagasan itu ditangkap oleh hati, dicerna oleh otak, dan kemudian dituliskan dari hati. Karena itu, setiap Anda membeli sebuah buku, Anda tidak sedang membeli kertas dan tinta, tapi yang anda dapatkan adalah jiwa sang penulis.

*Buku Tafsir al-Qur’an di Medsos karya Nadirsyah Hosen akan dilaunching pada 24 September 2017 di Pondok Pesantren Asshiddiqiyah, Kebon Jeruk, Jakarta, pukul 19.00 WIB (terbuka untuk umum)

Kolom terkait:

Kiat Sukses Belajar di Luar Negeri

Senjakala Literasi Kita

Guyonan Gus Dur dan Etos Literasi


Written by Nadirsyah Hosen

Nadirsyah Hosen

Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia – New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School, Australia.

Tinggalkan Balasan

Loading…

TINGGALKAN KOMENTAR