OUR NETWORK

Daoed Joesoef, Muslim Substantif yang Rasional

Kebijakan Daoed yang juga kontroversial adalah tidak meliburkan sekolah pada bulan Ramadhan sehingga dituduh sebagai menteri yang anti-Islam. Padahal, menurutnya, justru Islam yang memerintahkan kita tetap beraktivitas secara konstruktif

Selain membaca buku-bukunya, saya beberapa kali mendengarkan secara langsung ceramah Menteri Pendidikan dan Kebudayaan periode 1978-1983, Prof Dr Daoed Joesoef. Dari situ saya berkesimpulan, beliau adalah seorang Muslim substantif yang mempraktikkan apa yang diajarkan Islam, terutama tentang kedisiplinan dan komitmen untuk menggunakan nalar yang objektif dan konstruktif bagi kehidupan bersama.

Dalam buku Emak, Penuntunku dari Kampong Darat sampai Sorbonne (2003), Daoed Joesoef memaparkan dengan jelas bagaimana ajaran-ajaran orisinal Islam ia praktikkan dengan bimbingan emak, Siti Jasiah, orang kampung yang buta huruf, tidak berpendidikan non-agama secara formal, namun fasih membaca al-Qur’an.

Tanpa mengabaikan peran ayahnya, Muhammad Joesoef, Daoed menganggap ibunya sebagai inspirator bersahaja yang sulit dicari tandingannya di era modern. Di mata Daoed, sosok emak merupakan perempuan yang lemah lembut, feminim, dan santun, namun bersikap tegas dalam mempertahankan prinsip hidup.

Berkat bimbingan ibunya yang memegang teguh falsafah kehidupan Islami dan sangat menghayati pesan Rasulullah agar setiap manusia menuntut ilmu sepanjang hayat, Daoed bisa mengenyam pendidikan terbaik di Sorbonne, Prancis, dengan meraih dua gelar doktor bidang ilmu keuangan internasional dan hubungan internasional (1967) dan bidang ekonomi (1973) dengan predikat cum laude. Ia menjadi orang Indonesia pertama di Lembaga Pendidikan Tinggi Prancis yang dianugerahi gelar doktor tertinggi, Doctorat d’Etat atau doktor-negara, yang orang Prancis sendiri tidak semuanya mampu sampai ke tahap itu.

Dalam buku Dia dan Aku: Memoar Pencari Kebenaran, Daoed memaparkan sejumlah argumen yang tidak saja menarik, tapi juga bisa mengubah persepsi kita tentang siapa Daoed yang sebenarnya. Ia, misalnya, menjelaskan mengenai kebijakan-kebijkan pendidikan yang dibuatnya sebagai upaya membangkitkan kembali esensi manusia yang bernalar. Pada eranya, segenap mahasiswa dituntut untuk kembali pada jati dirinya sebagai “man of analysis”, bukan sebagai “manusia rapat umum”.

Seperti kita ketahui, sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Daoed merupakan tokoh paling kontroversial pada masanya. Kebijakannya mengenai NKK/BKK (Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan) mendapat protes keras dari sejumlah ilmuwan dan mahasiswa dari seluruh Indonesia. Analisis tentang NKK/BKK yang tersebar di koran dan jurnal ilmiah hampir semuanya mengkritik keras kebijakan ini.

Saya kira, pada saat NKK/BKK diberlakukan, mungkin tak ada satu pun mahasiswa yang mendukungnya. Gelombang protes dilakukan hampir di semua kampus. Kebijakan NKK/BKK dinilai membungkam kritisisme dan mematikan kreativitas mahasiswa. Organisasi-organisasi tempat mengasah bakat kepemimpinan mahasiswa dilarang berada di kampus, dan sejak saat itulah muncul dikotomi antara organisasi intra dan ekstra kampus.

Di era reformasi, ketika kebebasan ilmuwan dan mahasiswa berada di titik kulminasi, kita baru “menyadari” betapa pentingnya kebijakan Daoed Joeseof itu. Karena itu, mafhum pula jika ada yang mengusulkan agar NKK/BKK atau yang sejenisnya diberlakukan kembali di Indonesia mengingat di era kebebasan politik ini kehidupan kemahasiswaan begitu liberal. Yang masuk ke arena kampus tak hanya kritisisme kekirian, tapi juga ideologi kanan yang cenderung radikal. Bahkan, ideologi kekerasan yang dipraktikkan militan ISIS pun ditengarai telah memasuki bilik-bilik kampus.

Saya teringat pepatah Arab yang kira-kira artinya, “cintailah kekasihmu sekadarnya saja karena bisa jadi suatu saat kamu akan membencinya, bencilah musuhmu sekadarnya saja karena bisa jadi suatu saat kamu akan mencintainya.” Di era Orde Baru kita begitu membenci kebijakan NKK/BKK sehingga bersikap apriori dengan penjelasan-penjelasan Daoed Josoef saat itu. Tapi kini tak sedikit yang merindukan kebijakan serupa.

Pada saat mengisi pengajian di Gedung Dakwah Pimpinan Pusat Muhammadiyah dengan tema “Problematika Pendidikan Nasional dan Solusinya” tahun 2013 silam, Daoed Joesoef kembali menjelaskan alasan-alasan objektif dan rasional mengapa dulu ia mengeluarkan kebijakan NKK/BKK. Peserta pengajian tak hanya menerima penjelasannya, malah pada umumnya terkesima dan berkali-kali memberikan tepuk tangan.

Selain NKK/BKK, kebijakan Daoed yang juga kontroversial adalah tidak meliburkan sekolah pada bulan Ramadhan sehingga dituduh sebagai menteri yang anti-Islam. Padahal, menurutnya, justru Islam yang memerintahkan kita tetap beraktivitas secara konstruktif pada saat kita menjalankan puasa. Puasa bukan untuk tidur dan bermalas-malasan.

Menurut Daoed, dunia Islam pernah mengalami kejayaan di bidang ilmu pengetahuan pada Abad Pertengahan. Kejayaan Islam tak hanya di dunia Arab, tapi juga di Eropa. Namun demikian, di saat Eropa terus memperbaiki diri dengan mengembangkan ilmu pengetahuan, umat Islam justru banyak yang meninggalkan al-Qur’an. Ayat-ayat yang menganjurkan menuntut ilmu diabaikan. Padahal, menurutnya, tak kurang 44 kali kata “akal” diulang dalam al-Qur’an. Ini menjadi bukti bahwa Islam sangat mencintai pengetahuan dan menjunjung tinggi rasionalitas.

Daoed Joesoef sangat mengharapkan organisasi seperti Muhammadiyah yang disebutnya modern bisa mengembangkan ilmu pengetahuan sebagaimana yang diperintahkan al-Qur’an. Harapan itu muncul karena ia merasa dididik dalam keluarga Muhammadiyah yang memiliki etos berpikir dan bekerja yang relevan dengan ajaran al-Qur’an. Apakah harapan itu sudah terwujud? Bisa ya bisa tidak. Ya dalam batas yang minimal, tidak—atau belum—pada tahap yang maksimal.

Kini, saat Daoed Joesoef sudah tidak ada, harapan itu terasa menjadi cambuk yang menyadarkan tak hanya warga Muhammadiyah tapi juga siapa pun yang beriman dengan kebenaran al-Qur’an. Selamat jalan Daoed Joesoef…

Kolom terkait:

Kiat Sukses Belajar di Luar Negeri

Ali Audah dan Gerakan Kembali ke Kemurnian Al-Qur’an 

Ali Audah: Menulis Sejarah, Ditulis Sejarah

Abd. Rohim Ghazali
Sekretaris Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik PP Muhammadiyah

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…