Jumat, Februari 26, 2021

Pendidikan di Era Disrupsi (Catatan Karya Yudi Latif)

Mengetuk Pintu Hati Presiden

Ada baiknya kita mundur kurang lebih satu dekade. Masih segar dalam ingatan kita, seorang perempuan hebat bernama Sri Mulyani Indrawati kala itu menjabat sebagai Menteri...

Kitab Babon, Akademisi Barat dan Islam Nusantara: Bercermin pada Tahqiq al-Risalah Imam Syafi’i-Joseph Lowry

Saya sudah beberapa kali membaca dengan seksama kitab al-Risalah terutama yang berbahasa Arab karena kitab ini merupakan sumber penting dalam tradisi madzhab Syafii. Julukan...

Jokerisme

"Kematianku lebih masuk akal ketimbang kehidupanku", mungkin frase paling tepat yang bisa diambil untuk memadatkan keseluruhan kelam hidup Joker. Sejak kecil ia tumbuh sebagai...

Jokowi dan Problem Regulasi Ekonomi Berbagi

Wakil Ketua Umum KADIN Bidang UMKM, Koperasi, dan Industri Kreatif Sandiaga Uno (tengah) disambut Founder & CEO GO-JEK Nadiem Makarim (kiri) usai menggunakan layanan...
Fachry Ali
Fachry Ali
Kolumnis/Pengamat Sosial Politik

Yudi Latif lebih muda 10 tahun dari saya. Dan walau saya, tentunya, lebih awal menulis, Yudi jelas jauh lebih produktif.

Dua bulan lalu, saya diminta membahas bukunya tentang Pancasila. Sistem gagasannya dalam buku Pancasila itu menarik, terutama ketika ia membahas aspek ‘civil religion’-nya ideologi negara itu.

Dalam hal ini, Yudi sangat terbantu drngan pemikiran sosiolog Robert Bellah.
Semalam, saya juga diminta membahas buku terbarunya, ‘Pendidikan yang Berkebudayaan’. Seperti buku sebelumnya, Yudi mengungkapkan keseriusannya dalam berpikir tentang bangsa ini.

Sumbangan terbesarnya dalam buku ‘Pendidikan’ ini adalah susunan argumentasinya yang ‘kokoh’ tentang dasar kebudayaan bangsa. Salah satu yang saya tangkap adalah frasa menariknya tentang Nusantara dan laut yang melingkunginya.

‘Nusantara’, kata Yudi, ‘adalah file tentang ingatan kosmopolitanisme.’ Sementara lautan adalah ‘sarana atau media globalisme kuno.’ Ini tentunya bukan redaksi persis Yudi, tentunya. Melainkan, parafrase yg saya buat.

Saya suka dengan frasa itu karena bisa meringkas (dan menyederhanakan) konsep kebudayaan Yudi di dalam buku ini. Dengan ini, Yudi ingin mengatakan bahwa kebudayaan nasional, di samping yang telah berkembang pada tingkat domestik, adalah hasil dialog dengan pihak luar —yang distrukturkan oleh corak geografis bersifat Nusantara dan dikelilingi lautan itu. Dari sini pula, Yudi mendapat perspektif meletakkan pengertian ‘puncak-puncak kebudayaan daerah’ yang menjadi dasar ‘kebudayaan nasional’.

Mengambil frasa Sukarno tentang pengertian ‘suku’ (untuk suku bangsa) sebagai ‘kaki’ —menurut pengertian Jawa— maka, etnik-etnik yang bergabung ke dalam bangsa (Indonesia) menjadi landasan kokoh penyangga bangsa.

Mengapa? Karena ‘suku bangsa’ dengan sendirinya menjadi aneka ‘kaki’ kokoh menyangga struktur bangsa secara keseluruhan. Kekokohan ini terlihat pada pandangannya bahwa ‘puncak-puncak’ kebudayaan daerah adalah ekspresi cita rasa dan tradisi lokal, yang sudah pasti beragam itu, yang hidup dan secara efektif membimbing sistem tindakan masing-masing masyarakatnya.

Efektivitas ini dalam kehidupan sehari-hari telah membuat tak ada alasan bagi masyarakat mencari alternatifnya. Maka, kekokohan bangsa terletak pada daya hidup ekspresi cita rasa dan tradisi masing-masing ‘kaki’-nya itu.

Dalam konteks inilah Yudi bicara tentang pendidikan. Baginya, secara konseptual dan ideal, pendidikan tidak bisa direduksi kepad usaha menciptakan kemampuan teknikal belaka. Dengan terus terang, sikap ini diproyeksikan kepada ‘kesibukan’ pengambil keputusan tentang teknologi 4.0.

Baginya, sesuai dengan sifat teknologi yang berkembang pesat, para pengambil keputusan akan cenderung menangkap gejala pada tingkat permukaan dan secara terus menerus akan berhadapan dengan ‘disrupsi’ —karena teknologi akan terus berkembang, bahkan dalam wujud yg kian cepat.

Dengna mengatakan ini, Yudi ingin menyampaikan bahwa yang dibutuhkan dalam proses pendidikan adalah menciptakan metode pengajaran untuk mereproduksi manusia-manusia otonom dan kreatif. Seperti juga kebudayaan nasional yang mampu sintas (survive), arah utama pendidikan pada esensinya adalah menciptakan manusia-manusia kreatif dan otonom. Dengan itu, betapa pun ia harus berhadapan dengan serangkaian disrupsi (akibat perkembangan teknologi) secara terus-menerus, bangsa ini akan selalu siap.

Fachry Ali
Fachry Ali
Kolumnis/Pengamat Sosial Politik
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Kenapa Saya Mengkritik Mas Anies?

Dua hari yang lalu saya mengkritik Gubernur DKI Jakarta Mas Anies Baswedan melalui unggahan akun Instagram. Soalnya Mas Anies melempar kesalahan pada curah hujan dan...

Berpegangan Tangan dengan Leluhur

Oleh: Arlita Dea Indrianty, SMAN 36 Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Bicara tentang Indonesia tidak akan membawa seseorang pada titik...

Penguatan Kultur Demokrasi di Indonesia

Sebagian persoalan dalam praktik demokrasi di Indonesia muncul dari kalangan elite yang membajak sistem. Masyarakat sebagai pemilik sah kedaulatan tertinggi dalam demokrasi hanya dijadikan...

Buntara Kalis

Oleh: Queen Vega Latiefah, SMAN 76 Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Seperti cahaya rembulan di malam hari, seperti itu bayangan orang orang...

Sejarah Palestina dan Hubungannya dengan Kita

Usai Kekalahan Ottoman pada perang dunia 1 yakni pada (1914 - 1918) wilayah Palestina - Israel sejak 1922 berada di bawah mandat Inggris. Peluang...

ARTIKEL TERPOPULER

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Menilik Pencekalan Panglima Gatot

Insiden diplomatik antara Amerika Serikat dan Indonesia terjadi hari Sabtu lalu, (21/10/2017) di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Kejadiannya, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dicekal untuk...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Sejarah Palestina dan Hubungannya dengan Kita

Usai Kekalahan Ottoman pada perang dunia 1 yakni pada (1914 - 1918) wilayah Palestina - Israel sejak 1922 berada di bawah mandat Inggris. Peluang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.