Jumat, Desember 4, 2020

Pendidikan di Era Disrupsi (Catatan Karya Yudi Latif)

Jokowi Dibutuhkan untuk Kemajuan Indonesia Timur

Kiranya tidak berlebihan kalau saya sebut pemerintahan Jokowi-JK telah memberi pertumbuhan ekonomi signifikan di Sulawesi. Daerah saya, Sulawesi Tengah misalnya, mendapatkan pertumbuhan ekonomi sampai...

Membela Ahok, untuk (Si)Apa?

Ratusan ribu massa hadir pada aksi protes 411 dan 212 di Jakarta. Mereka menuntut Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok dihukum atas dugaan tindakan penodaan...

Satu Tahun Kepemimpinan KPK Jilid Keempat

Waktu begitu cepat bergulir hingga kadang segala sesuatunya tidak terasa telah berlalu. Demikian halnya dengan masa tugas kepemimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) jilid keempat....

Surat Terbuka untuk Donny Gahral

Semoga Bung Donny selalu dalam keadaan semangat dengan akal sehat! Saya dan jutaan warga biasa di Indonesia, tentu memiliki banyak harapan yang luar biasa terhadap...
Fachry Ali
Fachry Ali
Kolumnis/Pengamat Sosial Politik

Yudi Latif lebih muda 10 tahun dari saya. Dan walau saya, tentunya, lebih awal menulis, Yudi jelas jauh lebih produktif.

Dua bulan lalu, saya diminta membahas bukunya tentang Pancasila. Sistem gagasannya dalam buku Pancasila itu menarik, terutama ketika ia membahas aspek ‘civil religion’-nya ideologi negara itu.

Dalam hal ini, Yudi sangat terbantu drngan pemikiran sosiolog Robert Bellah.
Semalam, saya juga diminta membahas buku terbarunya, ‘Pendidikan yang Berkebudayaan’. Seperti buku sebelumnya, Yudi mengungkapkan keseriusannya dalam berpikir tentang bangsa ini.

Sumbangan terbesarnya dalam buku ‘Pendidikan’ ini adalah susunan argumentasinya yang ‘kokoh’ tentang dasar kebudayaan bangsa. Salah satu yang saya tangkap adalah frasa menariknya tentang Nusantara dan laut yang melingkunginya.

‘Nusantara’, kata Yudi, ‘adalah file tentang ingatan kosmopolitanisme.’ Sementara lautan adalah ‘sarana atau media globalisme kuno.’ Ini tentunya bukan redaksi persis Yudi, tentunya. Melainkan, parafrase yg saya buat.

Saya suka dengan frasa itu karena bisa meringkas (dan menyederhanakan) konsep kebudayaan Yudi di dalam buku ini. Dengan ini, Yudi ingin mengatakan bahwa kebudayaan nasional, di samping yang telah berkembang pada tingkat domestik, adalah hasil dialog dengan pihak luar —yang distrukturkan oleh corak geografis bersifat Nusantara dan dikelilingi lautan itu. Dari sini pula, Yudi mendapat perspektif meletakkan pengertian ‘puncak-puncak kebudayaan daerah’ yang menjadi dasar ‘kebudayaan nasional’.

Mengambil frasa Sukarno tentang pengertian ‘suku’ (untuk suku bangsa) sebagai ‘kaki’ —menurut pengertian Jawa— maka, etnik-etnik yang bergabung ke dalam bangsa (Indonesia) menjadi landasan kokoh penyangga bangsa.

Mengapa? Karena ‘suku bangsa’ dengan sendirinya menjadi aneka ‘kaki’ kokoh menyangga struktur bangsa secara keseluruhan. Kekokohan ini terlihat pada pandangannya bahwa ‘puncak-puncak’ kebudayaan daerah adalah ekspresi cita rasa dan tradisi lokal, yang sudah pasti beragam itu, yang hidup dan secara efektif membimbing sistem tindakan masing-masing masyarakatnya.

Efektivitas ini dalam kehidupan sehari-hari telah membuat tak ada alasan bagi masyarakat mencari alternatifnya. Maka, kekokohan bangsa terletak pada daya hidup ekspresi cita rasa dan tradisi masing-masing ‘kaki’-nya itu.

Dalam konteks inilah Yudi bicara tentang pendidikan. Baginya, secara konseptual dan ideal, pendidikan tidak bisa direduksi kepad usaha menciptakan kemampuan teknikal belaka. Dengan terus terang, sikap ini diproyeksikan kepada ‘kesibukan’ pengambil keputusan tentang teknologi 4.0.

Baginya, sesuai dengan sifat teknologi yang berkembang pesat, para pengambil keputusan akan cenderung menangkap gejala pada tingkat permukaan dan secara terus menerus akan berhadapan dengan ‘disrupsi’ —karena teknologi akan terus berkembang, bahkan dalam wujud yg kian cepat.

Dengna mengatakan ini, Yudi ingin menyampaikan bahwa yang dibutuhkan dalam proses pendidikan adalah menciptakan metode pengajaran untuk mereproduksi manusia-manusia otonom dan kreatif. Seperti juga kebudayaan nasional yang mampu sintas (survive), arah utama pendidikan pada esensinya adalah menciptakan manusia-manusia kreatif dan otonom. Dengan itu, betapa pun ia harus berhadapan dengan serangkaian disrupsi (akibat perkembangan teknologi) secara terus-menerus, bangsa ini akan selalu siap.

Fachry Ali
Fachry Ali
Kolumnis/Pengamat Sosial Politik
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pilkada yang Demokratis

Tidak terasa pergelaran pemilihan kepada daerah yang akan dilaksankan pada 9 Desember mendatang sebentar lagi akan dijalankan. Pilkada serentak dilaksanakan di 270 daerah di...

DPRD DKI; Kembalilah Menjadi Wakil Rakyat!

Saya terhenyak ketika mendapat informasi perihal naiknya pendapatan langsung dan tidak langsung anggota DPRD DKI Jakarta tahun anggaran 2021. Berdasarkan dokumen Rencana Kerja Tahunan...

Meneguhkan Keindonesiaan di Tengah Pandemi

Sejak diumumkannya kasus pertama covid 19 di Indonesia pada bulan Maret 2019 silam, perjalanan kasus ini tidak pernah surut. Memasuki bulan Oktober 2020 justru...

Upah Minimum atau Upah Maksimum?

Belakangan ini demo buruh tentang upah minimum mulai sering terdengar. Kenaikan upah minimum memang selalu menjadi topik panas di akhir tahun. Kini menjadi semakin...

Menjatuhkan Ganjar-Jokowi dengan Satu Batu

Saya sebenarnya kasihan dengan Jokowi. Sejak beberapa hari yang lalu organ di bawahnya terlihat tidak bisa kerja. Misalnya soal kasus teroris di Sigi, tim...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Luasnya Kekuasaan Eksekutif Menurut Undang-Undang

Proses demokrasi di Indonesia telah memasuki tahap perkembangan yang sangat penting. Perkembangan itu ditandai dengan berbagai perubahan dan pembentukan institusi atau lembaga baru dalam...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Menjatuhkan Ganjar-Jokowi dengan Satu Batu

Saya sebenarnya kasihan dengan Jokowi. Sejak beberapa hari yang lalu organ di bawahnya terlihat tidak bisa kerja. Misalnya soal kasus teroris di Sigi, tim...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.