OUR NETWORK

Lima “Penantang” Recep Tayyip Erdoğan di Pilpres Turki

Tepat pada 24 Juni 2018 nanti, Republik Turki akan menyelenggarakan pesta demokrasi secara langsung untuk memilih presiden. Sebelumnya, pada April 2017 juga telah dilaksanakan referendum untuk menentukan perubahan sistem pemerintahan yang ada saat ini, untuk selanjutnya beralih ke sistem presidensial. Hasilnya, 51.41% suara menyatakan ‘Evet’ (Iya), sedangakan 48.59% suara menyatakan ‘Hayır (Tidak).

Sebenarnya, pemilu di Turki akan digelar pada November 2019. Akan tetapi, sebulan yang lalu muncul wacana untuk menghelat pemilu lebih awal sebagai upaya untuk menjaga stabilitas dalam negeri. Dan usulan itu mendapat persetujuan dari pemerintah dan parlemen Turki.

Presiden Turki saat ini, Recep Tayyip Erdoğan masuk dalam daftar kandidat yang akan meramaikan pemilu bulan depan. Sebagai petahana, peluangnya tentu saja lebih besar. Meski demikian, para kontestan lain telah siap “menantang” Erdoğan untuk meraih kursi nomor satu di negeri bekas Kesultanan Utsmani tersebut.

Sebanyak enam orang calon presiden (Cumhurbaşkanı adayı) secara resmi telah mendaftar dan siap berkompetisi untuk memenangkan pemilu. Berikut ini profil singkat keenam calon presiden Turki untuk pemilu 2018 (“2018 Türkiye Genel Seçimleri”)

Daftar nama diurut berdasarkan huruf depan nama kandidat.

  1. Doğu Perinçek

Sosok Perinçek sering diidentikan sebagai pengikut ajaran Mao, yang memiliki kecenderungan pada ideologi berhaluan komunis dan sosialis. Saat ini, dirinya menjabat sebagai ketua Partai Patriotik (Vatan Partisi-Patriotic Party).

Pria kelahiran 17 Juni 1942 ini memiliki reputasi akademik di bidang Hukum yang diraihnya dari Universitas Ankara. Pada 1970-an, ia merupakan pendiri Partai TIIKP (Türkiye İhtilalci İşçi Köylü Partisi/Revolutionary Workers’ and Peasants’ Party of Turkey).

Dalam catatan sejarah politik Turki, Perinçek sempat divonis 20 tahun penjara setelah peristiwa kudeta militer 1971. Namun, dirinya mendapatkan pengampunan dan dibebaskan pada 1974. Perinçek kembali terjerat dan ditangkap pada kudeta tahun 1980. Kemudian ia bebas lima tahun setelahnya.

Kiprah dan hasrat Perinçek di jalur politik seolah tak kenal batas. Hal ini dibuktikan, pada tahun 1990 ia bergabung dengan Partai Sosialis sebelum akhirnya partai tersebut dilarang di Turki. Setelah itu, ia memilih berlabuh bersama Partai Pekerja (İşçi Partisi-Worker’ Party). Sejak saat itu, İşçi Partisi mengalami dinamika yang serius, partai ini berubah nama menjadi Partai Patriotik (Vatan Partisi/Patriotic Party) dan Perinçek pun duduk sebagai ketua partai.

Riwayat politisi ini mungkin saja terbilang tak pernah mulus. Pada 2008, dirinya kembali ditangkap sebagai bagian dari persidangan organisasi Ergenekon, di mana sejumlah besar perwira militer tingkat tinggi dan beberapa warga sipil yang dikenal memiliki pandangan sekuler dituduh merencanakan kudeta terhadap partai pemerintah, Partai AKP.

Tak berhenti sampai di sini, pada 2013 Perinçek mendapat vonis hukuman seumur hidup. Namun, lagi-lagi, ia dibebaskan pada 2014. Putusan tersebut dikeluarkan ketika pengadilan yang lebih tinggi menuntut pembebasan sebagian besar tahanan Ergenekon.

Dengan sepak terjang karier politik yang sangat berliku, Perinçek telah siap menghadapi pemilu Juni mendatang melalui jalur Independen.

Syarat administrasi sebagai calon presiden telah Ia kantongi, yakni berhasil mengumpulkan lebih dari 110 ribu tanda tangan. Dengan begitu, dirinya telah resmi masuk dalam kompetisi demokrasi terbesar di Turki.

  1. Meral Akşener

Sebelum mendirikan ‘Partai Baik’ (İyi Partisi-Good Party) pada 25 Oktober 2017, karier Meral Akşener telah dimulai sebagai perempuan pertama yang menjabat Menteri Dalam Negeri Turki. Dengan latar belakang ideologi seorang nasionalis, ia kemudian bergabung bersama partai MHP, yang dipimpin oleh Devlet Bahçeli ditahun 2001.

Sebagai syarat untuk ikut dalam kontestasi pemilu 2018, Akşener bersama kader İyi Parti harus mengumpulkan minimal seratus ribu tanda tangan. Hal ini sebagai syarat untuk menjadi calon presiden. Dan syarat hal tersebut terwujud dengan raihan 250 ribu tanda tangan, sehingga mengantarkannya sebagai salah satu kontestan dalam pemilu Turki.

Akşener memiliki latar belakang pendidikan di bidang Sejarah yang sangat kuat sejak bangku sarjana. Hal ini dibuktikan dengan pencapaian karier akademiknya hingga jenjang Ph.D dan sempat mengabdi sebagai dosen di beberapa universitas di Turki.

Bahkan perempuan kelahiran 18 Juli 1956 ini tercatat sebagai anggota parlemen pada tahun 2007, 2011, dan 2015 dengan kendaraan politik partai MHP.

Para pengikut İyi Parti memberikan julukan ‘Asena’, Serigala Betina dalam mitologi Turki, kepada Akşener.

  1. Muharrem İnce

Dalam arena politik di Turki, nama Muharrem İnce sangat kental dengan narasi pidato-pidatonya yang kritis dan pedas.

Sebanyak dua kali, dirinya pernah menjadi kandidat untuk ketua partai CHP (Cumhuriyet Halk Partisi-Partai Rakyat Republik) yang dihelat pada 2014 dan 2018. Namun, semua hasilnya tak berbuah manis. Ia tak sekali pun terpilih sebagai ketua partai.

İnce sebenarnya memiliki latar belakang akademik yang baik. Lahir pada Mei 1964 di kota kecil Yalova, ia berhasil menyelesaikan kuliahnya di jurusan Fisika dan Kimia. Keduanya diraih di Universitas Balıkesir.

Sebagai kader partai CHP yang sangat militan, İnce tercatat sebagai anggota parlemen di tahun 2002. Kemudian, dirinya kembali terpilih sebanyak tiga kali, yakni pada tahun 2007, 2011, dan 2015.

Popularitas İnce dalam partai yang dibentuk oleh Mustafa Kemal Atatürk ini tak diragukan lagi. Dalam dua pemilu parlemen terakhir, dirinya selalu mendapatkan suara terbanyak. Situasi ini terus melambungkan namanya dalam lingkaran politik Turki. Tak pelak, İnce diperkirakan menjadi salah satu saingan terberat Erdoğan dalam pemilu Juni 2018.

  1. Recep Tayyip Erdoğan

Jamak diketahui, nama Erdoğan sangat populer baik di dalam negeri Turki maupun di kawasan internasional. Kiprahnya sebagai politisi telah tercatat membawa angin segar bagi pemerintahan di Turki.

Pada 14 Agustus 2001, ia secara resmi mendirikan partai AKP (Adalet ve Kalkınma Partisi/Partai Keadilan dan Pembangunan). Secara mengejutkan Erdoğan bersama Partai Partai AKP berhasil meraih kemenangan dalam lima kali pemilu, tiga pemilu lokal, dan 3 kali referendum dan sekali untuk pemilu presiden pada 2002.

Dengan prestasi tersebut, Erdoğan dan AKP mencatat sejarah dalam rentang sejarah politik modern Turki.

Erdoğan lahir pada 26 Februari 1954 di Istanbul. Kiprah politiknya dimulai saat usia 22 tahun dengan posisi sebagai ketua cabang pemuda untuk partai yang didirikan oleh Necmettin Erbakan, National Salvation Party (MSP/Milli Selamet Partisi). Selanjutnya, pada tahun 1984, Erdoğan bergabung dengan Partai Kesejahteraan (Welfare Party/RP-Refah Partisi) yang juga adalah suksesor dari partai MSP.

Setelah peristiwa kudeta 1980, partai MSP dilarang dan akhirnya ditutup. Setahun setelah bergabung di Partai RP, Erdoğan menjadi ketua umum partai untuk provinsi Istanbul. Sejak itu, namanya semakin banyak dikenal oleh publik Turki. Hingga akhirnya Ia menjabat sebagai Walikota Istanbul pada tahun 1994.

Kiprah politiknnya pun tak lepas dari kontroversial. Erdoğan sempat dipenjara pada 1997 karena membacakan sebuah puisi karya Ziya Gökalp saat berada di kota Siirt. Puisi yang dimaksud berbunyi, “masjid-masjid adalah barak kami/kubah-kubah adalah helm (topi baja) kami/menara-menara adalah bayonet kami dan para prajurit yang setia.

Babak baru pun dimulai setelah Erdoğan bebas setelah dipenjara selama empat bulan. Ia mendirikan partai AKP pada 2001 yang eksis hingga hari ini.

Karier politiknya semakin moncer setelah menjabat Perdana Menteri pada tahun 2003. Kemudian dirinya terpilih menjadi Presiden dalam pemilu 10 Agustus 2014. Dan untuk memantapkan langkah politiknya pada pemilu 2018 ini, Partai AKP telah berkoalisi dengan MHP (Milliyetçi Hareket Partisi/Partai Gerakan Nasionalis) untuk meraih kemenangan.

  1. Selahattin Demirtaş

Pada medio 2013, nama Demirtaş dikenal oleh publik ketika ia menjabat sebagai ketua organisasi sayap kiri partai BDP (Barış ve Demokrasi Partisi/Peace and Democracy Party). Dalam prosesnya, partai ini berganti nama dengan HDP (Halkların Demokratik Partisi/People’s Democratic Party), dan masih eksis hingga hari ini.

Perjalanan partai HDP terbilang gemilang. Terbukti, dalam hajatan pemilu 2015, partai ini berhasil melewati ambang batas 10 persen (electoral threshold) dengan meraup 13% suara nasional. Hasil ini adalah sejarah yang patut diingat dan menjadi amunisi partai HDP untuk menghadapi pemilu 2018.

Karir politik Demirtaş sempat tersandung saat partainya dituduh memiliki hubungan dengan PKK (Partiya Karkeren Kurdistane/Kurdistan Workers’ Party), partai pekerja orang-orang Kurdi. Dalam situasi tersebut, pada 2016 Demirtaş dijebloskan ke dalam penjara. Ia akan menjalani sidang lanjutan yang akan dilaksanakan pada 8 Juni 2018.

Demirtaş memiliki latar belakang akademik di bidang Hukum yang diperolehnya dari Universitas Ankara. Ia sempat bekerja sebagai pengacara dan menjadi anggota parlemen pada tahun 2007 dari partai DTP (Demokratik Toplum Partisi-Democratic Society Party). Partai DTP telah ditutup melalui putusan pengadilan atas tuduhan memiliki keterkaitan dengan jaringan terorisme. Dalam perkembangannya, partai ini mereformasi dirinya menjadi partai BDP.

Selain nama Muharrem İnce dari partai CHP, sosok Demirtaş kemungkinan akan menjadi pesaing terberat petahana saat ini, Presiden Erdoğan.

  1. Temel Karamollaoğlu

Politisi senior ini memiliki jalur akademik yang memukau. Ia berhasil meraih gelar Master di bidang Teknologi Tekstil dari Universitas Manchester pada tahun 1964. Kemudian dirinya memilih terjun di kancah politik sebagai anggota parlemen dan terpilih pada tahun 1977 dari partai MSP (Milli Selamet Partisi/National Salvation Party).

Saat ini, Karamollaoğlu menjabat sebagai ketua partai SP (Saadet Partisi-Felicity Party) yang berideologi Islamis. Catatan karir politiknya pernah tersendat ketika dirinya ditangkap saat peristiwa kudeta tahun 1980. Pria kelahirn 1941 ini, selanjutnya terpilih sebagai Walikota Sivas sebanyak dua kali yakni pada tahun 1989 dan 1994.

Kiprah politiknya yang lain, dirinya pernah bekerja dengan Erdoğan ketika aktif di partai RP (Refah Partisi/Welfare Party). Karamollaoğlu yang juga pernah terpilih sebagai anggota parlemen di tahun 1995 dari partai yang sama.

Sejak tahun 2016, Karamollaoğlu menjabat sebagai ketua umu partai SP. Dengan modal pengalaman politik yang dimilikinya, Ia cukup percaya diri dalam menghadapi lima kandidat lainnya.

Dalam tahapan pemilu 2018, Karamollaoğlu telah berhasil mengumpulkan sebanyak 160 ribu tanda tangan sebagai syarat untuk ikut berkontestasi.

Demikianlah profil singkat enam calon presiden Turki untuk pemilu tahun ini. Dengan latar belakang partai politik dan ideologi yang sangat beragam dari para kandidat, masa depan demokrasi Turki akan ditentukan pada tangal 24 Juni 2018. Publik Turki tentunya telah siap menyambut pesta demokrasi terbesar dalam sejarah Republiknya nanti.

Sekitar 80 juta rakyat Turki berharap hasil yang terbaik, yang akan menjadi pemenang dalam kontestasi nanti adalah pilihan publik yang telah sesuai dengan prosedural demokrasi.

Yaşasın Türkiye Cumhuriyeti!

Didid Haryadi
Meraih Master Sosiologi di Istanbul University, Turki. Penggila sepak bola.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…