Senin, April 12, 2021

Pemerintah Lembek Berhadapan dengan Simpatisan ISIS

TNI dan Penegakan Hak Asasi Manusia [71 Tahun TNI]

Menginjak usianya yang ke-71 tahun, 5 Oktober 2016, Tentara Nasional Indonesia masih menghadapi tantangan dalam menegakkan hak asasi manusia. Selain menjalankan fungsi pokok sebagai...

Nasib PLN, Maju Kena Mundur Kena

Hidup di kota besar yang semrawut seperti Jakarta memang penuh kekhawatiran. Jika datang musim penghujan, selain ancaman banjir, listrik byar-pet sudah langganan. Info terbaru yang...

Keberagamaan Basuki

Menjelang akhir tahun, soal kehidupan beragama menjadi perbincangan hangat antara lain karena dua peringatan “kelahiran”, Maulid yang diperingati umat Islam dan Natal yang diperingati...

Tauhid dan Trinitas: Jangan Dipertentangkan!

"Dipertentangkan" bukan kebalikan dari "dipersamakan." Tujuan tulisan ini tidak untuk mempersamakan doktrin tauhid dalam Islam dan trinitas dalam Kristen. Keduanya jelas berbeda. Yang pertama...
Kajitow Elkayeni
Kajitow Elkayeni
Novelis, esais

Hari ini, kita tahu batas kesungguhan Kemenag, BNPT, dan pihak terkait, dalam menanggulangi terorisme. Semuanya sebatas hangat-hangat tai ayam.

Dengan mudah mereka mewacanakan kepulangan simpatisan ISIS. Radikalis di dalam negeri saja tak mampu mereka urus. Sekarang berlagak menundukkan kanker ideologi ganas dari luar.

Simpatisan ISIS itu telah menolak kewarganegaran Indonesia. Mereka membakar pasport. Mengharamkan tanah kelahiran sendiri. Batas itu telah mereka lampaui.

Sekarang hidup mereka terkatung-katung di Suriah sana. Stateles. Dan kenyataan pahit harus mereka telan. Ternyata ISIS yang sempat membuat dunia tercekam itu telah tamat. Surga dambaan mereka di muka bumi ikut musnah. Di titik keterputus-asaan itu mereka ingin kembali ke Indonesia lagi.

Gayung bersambut. Pemerintah kita menyediakan diri. Pintu untuk menyambut mereka sedikit demi sedikit mulai dibuka. Kegarangan mereka tempo hari, setelah bom meledug itu, tidak ada lagi.

Pemerintah memang memiliki kelemahan dalam menghadapi radikalisme. Mereka cenderung lembek dan mudah lupa. Pemerintah kita, siapapun presidennya, tak kuasa menolak bujukan mayoritas.

Celakanya, nyaris semua teroris yang kita temui akhir-akhir ini beragama Islam. Suka atau tidak, diakui atau tidak, ada problem keagamaan di sana.

Saya tidak mengatakan agamanya bermasalah. Tapi ada proses pengajaran menyimpang yang dibiarkan. Ada banyak tempat pendidikan, pengajian, perumahan islam, dan ormas berbahaya dibiarkan tumbuh. Kalau eskalasinya memuncak, baru mereka ditindak.

Para teroris betul-betul dimanusiakan. Meskipun nalar yang mereka pakai sudah bukan lagi sebagai manusia normal.

Dalam hal ini, BNPT lebih mirip Sekolah Taman Kanak-kanak. Tujuan utama mereka deradikalisasi. Itu artinya merangkul pelaku teroris layaknya teman.

Mereka diajarkan benyanyi Padamu Negeri. Dilatih arti kata mencintai. Dituntun untuk hormat pada bendera setiap Senin pagi. Itu baik. Itu manusiawi. Tetapi itu tidak cukup.

BNPT mestinya fokus pada pencegahan. Bukan serius pasca kejadian saja. Dalam beberapa tanggapannya di media massa, BNPT cenderung terlihat lembek. Padahal selaku bumper untuk menghalau paham terorisme, mereka harus keras.

Kalau perlu ada slogan, “Persetan dengan kemanusiaan teroris. Siapapun yang membuat teror di Indonesia, akan kami tumpas sampai ke akar-akarnya!”

Meskipun pelaksanaannya tetap mengedepankan kemanusiaan. Tapi ini kan tidak begitu. Mereka hanya bisa ngomong deradikalisasi, deradikalisasi, deradikalisasi.

Ok, deradikalisasi sudah dilakukan. Lalu untungnya apa? Apakah tindakan teror berkurang? Ataukah korban bom itu lantas mendapatkan keadilan?

Tapi itu memang bukan hanya salah BNPT. Menag kita ternyata juga lamban. Presiden kita mungkin sudah memberi ultimatum. Namun tidak ada progres luar biasa.

Apa kata Jokowi, tidak demikian pelaksanaannya. Saya tidak tahu, apakah kata-kata Jokowi masih dianggap perintah bagi bawahannya?

Semua berjalan seperti sebelumnya. Bila ada ancaman bom mledug, aparat bertindak. Kemudian para teroris dimasukkan program deradikalisasi.

Besok begitu lagi. Ada ancaman bom mledug mereka bertindak lagi. Deradikalisasi lagi. Ini negara seperti main-main dengan teror.

Saya akhirnya paham, negara ternyata takut dengan desakan ormas keagamaan. Negara tak berani menghadapi kritik tokoh-tokoh agama besar.

Oleh sebab itu mereka menebalkan muka. Aparat kroco disuruh bertaruh nyawa di lapangan. Sementara para petinggi leha-leha membangun opini menyejukkan.

Maka tak mengejutkan jika Kemenag kita akhirnya ikut mlempem. Di belakang perubahan sikapnya, yang awalnya mengaum jadi mengeong itu, barangkali karena ada desakan ormas dan tokoh keagamaan.

Ya maaf kata bagi minoritas, akhirnya kita harus sampai pada kesimpulan, negara tak mampu melindungi kalian.

Simpatisan ISIS yang hendak pulang itu adalah bom waktu. Atas nama kemanusiaan, kita boleh saja menerima mereka kembali. Tetapi, sebaiknya diisolasi di pulau terpencil. Diberikan hukuman sepadan. Atau tidak sama sekali.

Ini sebagai efek jera bagi yang lainnya. Sekali mencampakkan Indonesia, tidak ada peluang untuk kembali seperti sedia kala.

Pemerintah tak boleh lembek menghadapi terorisme. Tidak boleh asal bunyi dan membuat kekhawatiran berkembang. Karena tidak ada gunanya bernegara, jika tak menjamin ketenangan dan keselamatan warganya.

Pak Jokowi, biduk pemerintahanmu mulai oleng. Jika tidak cepat diselamatkan, kerja keras selama ini akan sirna. Dan namamu tidak akan pernah dikenang. Tidak sebagai seorang negarawan.

Kajitow Elkayeni
Kajitow Elkayeni
Novelis, esais
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Bertahan Disegala Kondisi

Pandemi COVID-19 membawa beragam nilai positif. Bagi dunia pendidikan, selain orangtua mengetahui betapa susahnya Pendidik (guru/dosen) mengajar anak didik, pendidik juga bisa belajar secara...

Bagaimana Cara Mengatasi Limbah di Sekitar Lahan Pertanian?

Indonesia merupakan negara agraris yang mayoritas warganya bermata pencaharian sebagai petani. Pada bidang pertanian terutama pertanian konvensional terdapat banyak proses dari penanaman hingga pemanenan,...

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Kebebasan Berpendapat Masih Rancu

Kebebasan berpendapat merupakan sebuah bentuk kebebasan yang mutlak bagi setiap manusia. Tapi belakangan ini kebebasan itu sering menjadi penyebab perpecahan. Bagaimana bisa kebebasan yang...

Laporan Keuangan? Basi?

Berbicara soal laporan keuangan, tentu sudah tidak asing lagi di telinga orang ekonomi, apalagi yang bergelut dalam dunia akuntansi. Secara singkat, laporan keuangan adalah...

ARTIKEL TERPOPULER

Jihad Versi Kristen?

Kamus Besar Bahasa Indonesia menuliskan arti kata jihad sebagai usaha dengan segala upaya untuk mencapai kebaikan. Mengamati definisi ini paling tidak kita memiliki pengertian...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Umat Kristiani Bukan Nashara [Kaum Nasrani]

Dalam bahasa Arab, kata "nashara" merupakan bentuk jamak dari "nashrani". Sebutan "umat Nasrani" secara salah-kaprah digunakan untuk merujuk pada umat Kristiani, penganut agama Kristen....

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Mengenang Hans Küng (1928-2021), Tokoh Dialog Antar Agama

Bagi para pegiat dialog antar agama, sosok dan pemikiran Hans Küng tak asing lagi. Namanya kerap disebut seiring dengan pemikirannya tentang upaya mewujudkan perdamaian...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.