Kamis, Maret 4, 2021

Pelajaran dari Tiga Peristiwa Politik

Jokowi dan Kontradiksi Akhir Tahun

Penutup tahun 2015 ini, buat saya, sedikit agak menyebalkan. Di waktu yang hampir bersamaan, terjadi dua kejadian yang sungguh kontradiktif. Mungkin bagi sebagian kalangan...

Pemimpin Sebagai Inspirator

Franklin Delano Roosevelt adalah satu-satunya Presiden Amerika Serikat (AS) yang memangku jabatan hingga empat periode berturut-turut, dari 1933 hingga 1945. Selain masa jabatannya yang...

PSI Itu Baru, Muda, dan Kita

Kalimat apa yang rutin kita ucapkan di setiap momen atau peringatan yang bernuansa "baru"? "Semoga dapat momongan, ya", misalnya, kala memberi selamat pada pengantin...

Menguatkan Kembali Komitmen Membela Bangsa

Penangkapan tiga terduga teroris di dalam kampus Universitas Riau baru-baru ini mengonfirmasi temuan sejumlah survei yang menunjukkan tumbuh dan berkembangnya radikalisme di lembaga-lembaga pendidikan....

Stuntman atau pemeran pengganti dalam pembukaan Asian Games, ibadah haji yang diwarnai gerakan politik #2019GantiPresiden, dan (tragedi) penolakan kehadiran Neno Warisman di beberapa tempat, adalah tiga peristiwa politik yang belakangan ini menjadi trending topic di berbagai media. Ketiganya patut kita cermati dan ambil pelajaran.

Aksi Presiden Joko Widodo dalam scene film pendek dengan mengendarai motor yang atraktif untuk mengawali pembukaan Asian Games mengundang decak kagum bukan hanya dari para pendukungnya, tapi juga dari masyarakat yang “netral” termasuk dari para tamu dari mancanegara –sebagaimana yang tergambar dalam liputan media, termasuk media asing.

Tapi, di mata para pembencinya (para oposan), Jokwi dianggap telah melakukan tiga kesalahan besar: pertama, melakukan penipuan karena berakting dengan pemeran pengganti (stuntman); kedua, memanfaatkan pembukaan Asian Games untuk panggung pencitraan (kampanye); dan ketiga, karena stuntman yang disewanya berkebangsaan asing, maka Jokowi dianggap benar-benar pro-asing!

Pembukaan Asian Games merupakan panggung hiburan yang berisi ragam kreativitas anak negeri. Jika untuk adegan yang membahayakan ada yang mengecamnya karena menggunakan pemeran pengganti, apalagi untuk seorang presiden, mungkin karena yang bersangkutan kurang paham dunia hiburan.

Pemeran pengganti untuk tindakan yang membahayakan adalah hal yang lumrah, bahkan wajib. Bintang-bintang besar di panggung hiburan seperti film atau yang sejenisnya sudah biasa memanfaatkan pemeran pengganti yang profesional untuk adegan-adegan ekstrem yang membahayakan.

Mungkin ada yang masih ingat dengan cerita nabi Muhammad SAW pada saat diancam mau dibunuh oleh musuh-musuhnya. Untuk mengecoh para pembunuh, Nabi meminta agar sepupunya, Ali Bin Abi Thalib, menjadi stuntman yang menempati tempat tidurnya sehingga beliau selamat dari ancaman pembunuhan.

Juga tentang ibadah kurban pada setiap Idul Adha, yang berawal dari kisah Nabi Ibrahim AS yang diperintahkan Allah (melalui tiga kali mimpi) untuk menyembelih anak yang disayanginya, Nabi Ismail AS, sebagai tanda kesetiaan dan ketaatan pada Allah. Apa yang terjadi seandainya Allah tidak menjadikan kambing sebagai pemeran pengganti? Nabi Ismail akan mati di tangan ayahnya sendiri.

Jadi, pemeran pengganti itu, bukan hanya terjadi dalam adegan film atau aksi sulap ekstrem yang dilakukan Demian Aditya, bahkan para Nabi pun ada yang sudah merasakan manfaat adanya pemeran pengganti. Kalau ada cerita tindakan membahayakan yang tidak memakai pemeran pengganti, itulah kisah Nabi Ibrahim yang dihukum bakar oleh Raja Namrud. Tapi yang diganti Tuhan bukan sosok Ibrahimnya, melainkan zat apinya, dari panas diganti dingin sehingga Ibrahim tetap selamat.

Lalu tentang ibadah haji yang disertai gerakan politik #2019GantiPresiden. Ya, haji dan politik memang sangat erat kaitannya. Pada tahun ke-7 Hijriyah, Nabi Muhammad dan para sahabatnya pernah menunaikan haji dengan penuh semangat (lari-lari kecil) padahal mereka dalam kondisi kelelahan. Itulah cara haji Nabi untuk menunjukkan kekuatan bagi lawan-lawannya. Ini jelas haji politik. Apakah hajinya sah? Tentu saja, karena yang melakukan adalah Nabi yang senantiasa berada dalam bimbingan-Nya.

Menurut Aqib Suminto (1991), pada tahun 1927, Pemerintah Kolonial Belanda mengeluarkan ordonansi haji untuk lebih memperketat pengawasan terhadap jemaah  haji  yang diikuti pula dengan surat  edaran  pemerintah  tentang pengketatan paspor  jemaah  dan pengawasan ketat terhadap  mereka  yang  baru kembali dari tanah suci. Mengapa demikian? Karena haji dianggap sebagai sarana yang paling efektif untuk menggalang kekuatan politik untuk melawan penjajahan.

Mungkin, dengan menyertakan gerakan politik #2019GantiPresiden, ada yang berharap hajinya seperti yang dilakukan Nabi, atau seperti haji para pemimpin negeri ini di jaman kolonial. Wallahu ‘alam! Allah yang maha mengetahui apa maksud dari gerakan haji politik dari para oposan Presiden Jokowi ini. Yang pasti, mereka ini memang sangat gemar menjadikan agama sebagai alat politik. Beragama untuk politik, bukan politik untuk agama.

Kemudian, mengapa ada orang-orang yang berusaha menolak kehadiran Neno Warisman untuk mendeklarasikan gerakan #2019GantiPresiden? Bagi para pendukung Neno, mereka dianggap barbar, tidak paham arti kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengemukakan pendapat yang dijamin oleh konstitusi. Bisa jadi. Tapi bagaimana jika pertanyaannya dibalik, mengapa tidak boleh menolak gerakan politik?

Pada hakikatnya, menolak gerakan politik juga bagian dari hak berpolitik warga negara. Apalagi menolak gerakan yang disertai ujaran-ujaran kebencian. Aparat keamanan (kepolisian) punya alasan yang kuat untuk mencegah gerakan ini karena dianggap potensial menimbulkan kericuhan atau bahkan kerusuhan.

Karena proses Pemilu sudah dimulai, seharusnya Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) juga punya kewajiban untuk melarang gerakan ini karena jelas-jelas bermuatan materi kampanye dini.

Setelah kita cermati, lantas pelajaran apa yang bisa kita ambil dari ketiga peristiwa politik ini?

Pertama, sungguh benar pepatah Arab mengatakan, “wa ainur-ridha an kulli aibin kalilah, kamaa anna aina as-sukhti tubdi al-masawiya” yang artinya kira-kira, “mata yang diliputi rasa cinta akan melihat kebaikan dalam setiap keburukan, seperti juga mata yang diliputi rasa benci akan melihat keburukan pada setiap kebaikan.” Seburuk apa pun kondisi psikologis seorang calon presiden akan tetap baik di mata para pemujanya. Bahkan tidak pernah shalat pun tetap dianggap saleh. Sebaliknya, sebagus apa pun hasil kerja presiden, akan buruk semua di mata para pembencinya.

Kedua, dalam menghadapi Pemilu, setiap kelompok pasti akan berupaya meraih kemenangan. Bagaimana caranya? Ada yang melakukannya dengan elegan, ada yang tidak. Ada yang menempuh cara-cara yang rasional, ada yang irasional atau bahkan seperti kehilangan akal. Silakan Anda menilai, termasuk yang manakah ketiga gerakan itu.

Ketiga, pada setiap kompetisi, selalu ada pemenang dan pecundang. Para pemenang akan fokus pada bagaimana memacu diri untuk meraih prestasi sehingga akan mudah sampai pada titik yang dituju, sementara para pecundang biasanya lebih fokus mencari kelemahan-kelemahan lawan sehingga melupakan kelemahan-kelemahan dirinya.

Akhirnya, semua terpulang pada diri kita masing-masing, mau bersikap rasional dan objektif ataukah irasional dan subjektif. Kita bebas menentukan pilihan, akan berada di barisan para pemenang atau pecundang.

Berita sebelumnyaMerdeka Ala Medsos
Berita berikutnyaCantik Fisik Perempuan Milenial
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Tanah dan Transmigrasi

Peliknya urusan pertanahan dipadukan dengan samarnya transmigrasi di Indonesia menjadikan perpaduan masalah yang sulit diurai. Pasalnya permasalahan terkait tanah bukan sekedar konflik kepemilikan dan...

Idealisme Mati Sejak Mahasiswa, Apa Jadinya Bangsa?

Hidup mahasiswa! Hidup rakyat Indonesia! Tampaknya sudah sangat sering mahasiswa mendengar slogan perjuangan tersebut. Apalagi mahasiswa dengan cap "organisatoris" dan "aktivis". Organisatoris dan aktivis adalah...

Demitologisasi SO 1 Maret

Menarik bahwa ada kesaksian dari Prof. George Kahin tentang SO 1 Maret 1949. Menurutnya, SO 1 Maret bukanlah serangan balasan pertama dan terbesar dari...

Polwan Yuni Purwanti yang Terjebak Mafia Narkoba

Publik terkejut. Jagad maya pun ribut. Ini gegara Kapolsek Astana Anyar, Kota Bandung, Kompol Yuni Purwanti Kusuma Dewi terciduk tim reserse antinarkoba Polda Jabar....

Stop Provokasi, Pelegalan Miras? Mbahmu!

Lampiran Perpres yang memuat izin investasi miras di daerah tertentu, baru saja dicabut oleh Presiden. Ini disebabkan karena banyak pihak merasa keberatan. Daripada ribut...

ARTIKEL TERPOPULER

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.