Banner Uhamka
Kamis, Oktober 1, 2020
Banner Uhamka

Pelajaran dari Tiga Peristiwa Politik

Heboh Teluk Benoa (1)

Proyek senilai Rp 30 triliun yang memicu kontroversi. Dua perahu kayu yang panjangnya tak lebih dari tiga meter mengapung di perairan Teluk Benoa. Di setiap...

Tauhid dan Trinitas: Jangan Dipertentangkan!

"Dipertentangkan" bukan kebalikan dari "dipersamakan." Tujuan tulisan ini tidak untuk mempersamakan doktrin tauhid dalam Islam dan trinitas dalam Kristen. Keduanya jelas berbeda. Yang pertama...

Tidak Ada Penumpang Gelap Selama Ada RUU PKS

Gerakan mahasiswa yang menuntut pembatalan revisi UU KPK dan menolak sejumlah pengesahan RUU, dituduh membawa penumpang gelap yang menyuarakan tuntutan turunkan Jokowi. Penumpang gelap...

Pendidikan Keadaban Lailatur Qadar

Tak dapat disangkal, pendidikan adalah kebutuhan subtansial umat manusia. Melalui pendidikan, seseorang akan menjadi terdidik dan tercerahkan. Maka, memiliki modal besar untuk mengetahui dan...

Stuntman atau pemeran pengganti dalam pembukaan Asian Games, ibadah haji yang diwarnai gerakan politik #2019GantiPresiden, dan (tragedi) penolakan kehadiran Neno Warisman di beberapa tempat, adalah tiga peristiwa politik yang belakangan ini menjadi trending topic di berbagai media. Ketiganya patut kita cermati dan ambil pelajaran.

Aksi Presiden Joko Widodo dalam scene film pendek dengan mengendarai motor yang atraktif untuk mengawali pembukaan Asian Games mengundang decak kagum bukan hanya dari para pendukungnya, tapi juga dari masyarakat yang “netral” termasuk dari para tamu dari mancanegara –sebagaimana yang tergambar dalam liputan media, termasuk media asing.

Tapi, di mata para pembencinya (para oposan), Jokwi dianggap telah melakukan tiga kesalahan besar: pertama, melakukan penipuan karena berakting dengan pemeran pengganti (stuntman); kedua, memanfaatkan pembukaan Asian Games untuk panggung pencitraan (kampanye); dan ketiga, karena stuntman yang disewanya berkebangsaan asing, maka Jokowi dianggap benar-benar pro-asing!

Pembukaan Asian Games merupakan panggung hiburan yang berisi ragam kreativitas anak negeri. Jika untuk adegan yang membahayakan ada yang mengecamnya karena menggunakan pemeran pengganti, apalagi untuk seorang presiden, mungkin karena yang bersangkutan kurang paham dunia hiburan.

Pemeran pengganti untuk tindakan yang membahayakan adalah hal yang lumrah, bahkan wajib. Bintang-bintang besar di panggung hiburan seperti film atau yang sejenisnya sudah biasa memanfaatkan pemeran pengganti yang profesional untuk adegan-adegan ekstrem yang membahayakan.

Mungkin ada yang masih ingat dengan cerita nabi Muhammad SAW pada saat diancam mau dibunuh oleh musuh-musuhnya. Untuk mengecoh para pembunuh, Nabi meminta agar sepupunya, Ali Bin Abi Thalib, menjadi stuntman yang menempati tempat tidurnya sehingga beliau selamat dari ancaman pembunuhan.

Juga tentang ibadah kurban pada setiap Idul Adha, yang berawal dari kisah Nabi Ibrahim AS yang diperintahkan Allah (melalui tiga kali mimpi) untuk menyembelih anak yang disayanginya, Nabi Ismail AS, sebagai tanda kesetiaan dan ketaatan pada Allah. Apa yang terjadi seandainya Allah tidak menjadikan kambing sebagai pemeran pengganti? Nabi Ismail akan mati di tangan ayahnya sendiri.

Jadi, pemeran pengganti itu, bukan hanya terjadi dalam adegan film atau aksi sulap ekstrem yang dilakukan Demian Aditya, bahkan para Nabi pun ada yang sudah merasakan manfaat adanya pemeran pengganti. Kalau ada cerita tindakan membahayakan yang tidak memakai pemeran pengganti, itulah kisah Nabi Ibrahim yang dihukum bakar oleh Raja Namrud. Tapi yang diganti Tuhan bukan sosok Ibrahimnya, melainkan zat apinya, dari panas diganti dingin sehingga Ibrahim tetap selamat.

Lalu tentang ibadah haji yang disertai gerakan politik #2019GantiPresiden. Ya, haji dan politik memang sangat erat kaitannya. Pada tahun ke-7 Hijriyah, Nabi Muhammad dan para sahabatnya pernah menunaikan haji dengan penuh semangat (lari-lari kecil) padahal mereka dalam kondisi kelelahan. Itulah cara haji Nabi untuk menunjukkan kekuatan bagi lawan-lawannya. Ini jelas haji politik. Apakah hajinya sah? Tentu saja, karena yang melakukan adalah Nabi yang senantiasa berada dalam bimbingan-Nya.

Menurut Aqib Suminto (1991), pada tahun 1927, Pemerintah Kolonial Belanda mengeluarkan ordonansi haji untuk lebih memperketat pengawasan terhadap jemaah  haji  yang diikuti pula dengan surat  edaran  pemerintah  tentang pengketatan paspor  jemaah  dan pengawasan ketat terhadap  mereka  yang  baru kembali dari tanah suci. Mengapa demikian? Karena haji dianggap sebagai sarana yang paling efektif untuk menggalang kekuatan politik untuk melawan penjajahan.

Mungkin, dengan menyertakan gerakan politik #2019GantiPresiden, ada yang berharap hajinya seperti yang dilakukan Nabi, atau seperti haji para pemimpin negeri ini di jaman kolonial. Wallahu ‘alam! Allah yang maha mengetahui apa maksud dari gerakan haji politik dari para oposan Presiden Jokowi ini. Yang pasti, mereka ini memang sangat gemar menjadikan agama sebagai alat politik. Beragama untuk politik, bukan politik untuk agama.

Kemudian, mengapa ada orang-orang yang berusaha menolak kehadiran Neno Warisman untuk mendeklarasikan gerakan #2019GantiPresiden? Bagi para pendukung Neno, mereka dianggap barbar, tidak paham arti kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengemukakan pendapat yang dijamin oleh konstitusi. Bisa jadi. Tapi bagaimana jika pertanyaannya dibalik, mengapa tidak boleh menolak gerakan politik?

Pada hakikatnya, menolak gerakan politik juga bagian dari hak berpolitik warga negara. Apalagi menolak gerakan yang disertai ujaran-ujaran kebencian. Aparat keamanan (kepolisian) punya alasan yang kuat untuk mencegah gerakan ini karena dianggap potensial menimbulkan kericuhan atau bahkan kerusuhan.

Karena proses Pemilu sudah dimulai, seharusnya Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) juga punya kewajiban untuk melarang gerakan ini karena jelas-jelas bermuatan materi kampanye dini.

Setelah kita cermati, lantas pelajaran apa yang bisa kita ambil dari ketiga peristiwa politik ini?

Pertama, sungguh benar pepatah Arab mengatakan, “wa ainur-ridha an kulli aibin kalilah, kamaa anna aina as-sukhti tubdi al-masawiya” yang artinya kira-kira, “mata yang diliputi rasa cinta akan melihat kebaikan dalam setiap keburukan, seperti juga mata yang diliputi rasa benci akan melihat keburukan pada setiap kebaikan.” Seburuk apa pun kondisi psikologis seorang calon presiden akan tetap baik di mata para pemujanya. Bahkan tidak pernah shalat pun tetap dianggap saleh. Sebaliknya, sebagus apa pun hasil kerja presiden, akan buruk semua di mata para pembencinya.

Kedua, dalam menghadapi Pemilu, setiap kelompok pasti akan berupaya meraih kemenangan. Bagaimana caranya? Ada yang melakukannya dengan elegan, ada yang tidak. Ada yang menempuh cara-cara yang rasional, ada yang irasional atau bahkan seperti kehilangan akal. Silakan Anda menilai, termasuk yang manakah ketiga gerakan itu.

Ketiga, pada setiap kompetisi, selalu ada pemenang dan pecundang. Para pemenang akan fokus pada bagaimana memacu diri untuk meraih prestasi sehingga akan mudah sampai pada titik yang dituju, sementara para pecundang biasanya lebih fokus mencari kelemahan-kelemahan lawan sehingga melupakan kelemahan-kelemahan dirinya.

Akhirnya, semua terpulang pada diri kita masing-masing, mau bersikap rasional dan objektif ataukah irasional dan subjektif. Kita bebas menentukan pilihan, akan berada di barisan para pemenang atau pecundang.

Berita sebelumnyaMerdeka Ala Medsos
Berita berikutnyaCantik Fisik Perempuan Milenial
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pilkada dan Jerat Klientelisme

Perhelatan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2020 mulai semarak. Kurang lebih 270 daerah (Kota/Kabupaten dan Provinsi) akan menyelenggarakan pesta demokrasi elektoral ini. Tentunya Pilkada tahun...

Pancasila dan Demokrasi Kita Hari Ini

Perjalanan demokrasi di Indonesia tidak selamanya sejalan dengan ideologi negara kita, Pancasila. Legitimasi Pancasila secara tegas tercermin dalam Undang-Undang Dasar 1945, dan difungsikan sebagai...

PKI, HMI, dan NU

Saya pernah membuka kliping koran Kedaulatan Rakyat (KR) tahun 1965-an, dari Januari sampai 30 September di Perpus DIY, Malioboro, tahun 2018. Waktu itu saya...

Dua Perwira di Bawah Pohon Pisang (Kenangan Kekejaman PKI di Yogya)

Yogya menangis. Langit di atas Kentungan muram. Nyanyian burung kutilang di sepanjang selokan Mataram terdengar sedih. What's wrong? Ono opo kui? Rakyat Ngayogyakarta risau, karena sudah...

Pilkada dan Pergulatan Idealisme

Invasi Covid-19 memang tak henti-hentinya memborbardir aspek kehidupan manusia secara komprehensif. Belum usai kegamangan pemerintah terkait preferensi mitigasi utama yang harus didahulukan antara keselamatan...

ARTIKEL TERPOPULER

Lebih Baik Dituduh PKI daripada PKS

Ini sebenarnya pilihan yang konyol. Tetapi, ketika harus memilih antara dituduh sebagai (kader, pendukung/simpatisan) Partai Komunis Indonesia (PKI) atau Partai Keadilan Sejahtera (PKS), maka...

Pengakuan Pak Harto: Malam Jahanam itu Bernama Kudeta

RAUT wajah Presiden Sukarno tampak menahan kesal teramat sangat. Sambil duduk, ia dihadapkan pada selembar kertas yang harus ditandatangani. Di sisi kanan Bung Besar,...

PKI, HMI, dan NU

Saya pernah membuka kliping koran Kedaulatan Rakyat (KR) tahun 1965-an, dari Januari sampai 30 September di Perpus DIY, Malioboro, tahun 2018. Waktu itu saya...

Narasi – Narasi Seputar G-30S 1965

Hingga hari ini, masih banyak masyarakat awam yang percaya bahwa dalang utama dibalik peristiwa G30S adalah PKI. Kepercayaan tersebut tidak bisa dilepaskan dari kampanye...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.